Wednesday, May 30, 2012

Rujak Uleg Rasa Iwak Peyek




                                              Foto by :  Manda La Mendol

Tiap tahun tambah rame, tambah kreatif. Inilah agenda tahunan menyambut Ultah Kota Surabaya, tahun ini paling heboh, soalnya yang ikut seribu peserta. Semuanya bawa cobek dan mengulek bersamaan diiringi dengan lagu iwak peyek.

Acara ini diawali dengan mengulek rujak di atas cobek raksasa.

Untuk menguleknya membutuhkan  10 orang.  Yang didaulat mengulek adalah Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini. Setelah bumbunya siap, ditumplek blek-lah segala macam irisan buah-buahan. Dalam hitungan detik, itu rujak di atas cobek raksasa habis bersih. Ganas, dah warga kalau kena gratisan.


Yang nggak kalah menarik adalah aksi para fotografer.  *Ngiler liat kamera Nikon D 7000


Buat para fotografer disiapkan scaffolding. Enak kayaknya, moto dari ketinggian 10 meter.  Saya jadi pengen ikutan naik ke panggung itu. Pas mau naik, tiba-tiba ada yang teriak dari atas. “Woiii…jangan naik. Masih di tangga saja panggungnya sudah bergetar nih, kalo nekat ya bisa ambruk!” teriaknya histeris.

Beberapa temen wartawan juga menahan  tangan saya supaya nggak nekad. Huh! Dasar teloooo. Karena ditolak mentah-mentah buat naik scaffolding, saya akhirnya malah ganti motion temen-temen yang asyik nangkring di sana. Oalaa..nasib!



Oh ya, Pasti penasaran yah, bagaimana penilaian lomba rujak uleg ini. Pesertanya aja seribu, jurinya bisa-bisa mules kalau disuruh ngincipin rujak seribu porsi..hehehehe. Jangan ditanya bagaimana rasa rujaknya, soalnya penilaian utama dari performance, jadi harus dandan yang heboh.
Team saya kali ini niat banget loh. Ceritanya yang cewek pakai baju  a la Cleopatra dan yang laki, kostum Firaun. Cleopatra dilengkapi sayap bidadari.

Rencananya saya ikutan pakai kostum ini, sayangnya pas dicoba lah kok nggak cukup. Hiks…. Akhirnya batal pakai kostum Cleopatra, sebagai gantinya, saya berdiri di pojok macak jadi pyramid. Hu..hu..hu.

HUT SURABAYA 719
Rujak Uleg Festival

Tuesday, May 01, 2012

Tahu Campur Investigasi

Menguak tabir Tahu Campur Pak Sugeng

Foto :Anton
 Setiap pulang kantor, tepatnya pertigaan arah Banyu Urip yang mau ke Dolly, Kedungdoro, dan Diponegoro, kawasan ini memang super macet, karena sedang dibangun jalan tol. Belum lagi Pasar Kupang dipadati oleh orang jualan burung , ini  burung yang beneran loh. Yang kadang membludak sampai ke pinggir jalan.

Giliran di traffic light, perhatian saya tertuju pada deretan motor di depan pedagang Tahu Campur. Saya selalu gummun dengan penjual Tahu Campur  ini. Ramai sekali yang beli, dan setelah saya perhatikan dengan teliti, yang beli kelihatan kakinya semua loh. Lah ini berarti mereka orang beneran khan! *maklum pas pulang mesti magrib, hehehe…


Sebagai jurnalis kuliner, saya mulai mengendus sesuatu. Insting saya seolah dibangkitkan untuk menguak rahasia dibalik tabir kain kuning bertulis Tahu Campur Pak Sugeng. *sambil ngelus weteng.

Seperti biasa, saya langsung ajak Anton. Janjian nanti malam pas pulang mau sidak ke lokasi. Aha! Anton setuju. Hipotesa saya, Nih Tahu Campur pasti ada apa-apanya deh, yang beli rame, trus napa buka-nya mulai sore. Aha! Ada Sesuatu *Syahrini style.
 

Pulang kantor, saya sama Anton datang. 
Saya macak jadi orang lemu! *hihihihi… Anton macak jadi orang yang belum pernah makan tahu campur selama 100 tahun! Whatsssss!!! *highlander  kalee

Sebagai bagaian dari aksi penyelidikan saya langsung pesan dua porsi! *Anton gedhek-gedhek. 


Saya menempati posisi persis di depan yang jual. Saya perhatikan, semuanya terekam di perut… eh, di otak. Tibalah  barang buktinya di depan saya. Kuah panas mengepul, kerupuknya menutupi permukaan piring, petisnya sedikit mengintip di pinggir piring.  

Segera saya melakukan aksi, menyeruput kuah, menggigit daging dan lemaknya yang kenyul-kenyul, disundul dengan daun selada, mie kuningnya. Ehem….
 

Keistimewaan tahu campur terletak pada kuahnya.Kuahnya keruh karena banyak bumbunya. Inilah yang membuat rasanya sedap, apalagi ada petis udang dioleskan di piring. Wadooh, enak bener!

Kuahnya memang enak, tapi uratnya juga ada yang sedikit melawan, kerupuknya juga biasa. Tapi kuahnya sekali lagi memang lezat! Dan tau nggak, yang bikin shock …ternyata harganya cuma Rp 7500!!! Halah, murah bangets ya…

Soal porsi, saya sama Anton sepakat. Satu nggak cukup!* tumben saya sama Anton akur. Sebagai tanda berakhirnya kuliner investigasi, saya pun malakin Anton buat mbayarin. Hehehehe….suksessss!!!!

Tahu Campur Pak Sugeng
Jl Diponogoro
Buka mulai pukul 17.00

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...