Monday, September 26, 2016

Mari Jo Ka Manado (2)



Ini Lanjutannya …..


Diantar  tante, kami berdua blusukan di Pasar dekat rumah. Mulai milih-milih kue tradisional..yang rata- rata mirip kayak di Jawa. Ada apem, cucur, dadar gulung. 

Bedanya, di Manado rasanya lebih kuat, dan ada beberapa bahan yang mungkin tidak ditemukan dengan di Jawa.
Satu lagi,…gula merahnya itu. Hmm… lebih pekat, cenderung ke coklat tua. Nah, inilah mengapa cucurnya, apemnya, enten-entennya kok coklat tua bangets.. ..ya karena gula merah..eh gula coklatnya ini.  

 Trus..di Manado ini banyak sekali yang jual nasi kuning. Heraan…soalnya nasi kuning itu khan wong Jowo bangetslah, kalau ada syukuran, bancaan, biasanya pakai tumpeng nasi kuning. Penasaran donk, ternyata nasi kuningnya bolehlah mirip…tapi lauknya beda. 


Bedanya nasi kuning di sini ada suwiran ikan cakalangnya… trus, ngga ada tuh mie kuning, di sini pakai bihun. Tempe kering masih ada sih, tapi bergedel kentang ngga ada, gantinya kayak suwiran kentang..tapi kata tanteku itu ubi..dibuat kayak kering tempe. Rasanya…. Weeenak puolll…sambal dan ikan cakalang suwirnya itu loh bikin…lidah ajeb-ajeb!

Oh iya..mumpung di rumah tante, dan ketemu Oma Eva, saya belajar masak. Tahapannya, saya bantu iris-iris bumbu, trus bersihkan ikan, barulah dipercaya ngulek dan numis bumbu. Hahahaha..ada level-levelan..ternyata. Hadew... 

Wow…soal bumbu, di sini lebih gampang. Banyak ngandalin jahe, daun salam, kunir, sere,  tomat, sama cabe rawit. Pokoknya pedes nyelekit. Kalau saya hitung-hitung..iItu dua kali masakan, kayaknya ngabisin lombok sekilo. Padahal ..kalau di rumah, saya kalau beli lombok campur rong ewu…seminggu juga ngga habis (laaah….ngga tau masak gimana mau habis yaaa???) wakakakaka…. 

Yang jelas, happy bangtes saya bisa berkunjung lagi ke Manado. Makanannya enak-enak, pedes gila. Dan saya makan tanpa rasa bersalah. Lah setiap habis makan trus ke belakang…gara-gara ngga kuat pedesnya ...hahahah!!!

Wednesday, August 31, 2016

Mari Jo Ka Manado (1)



Saya akhirnya ke kota ini lagi…. Manado! Dulu jaman kuliah pernah ke sini, ketampul –tampul naik kapal 4 hari 3 malam, dapat tiket kelas ekonomi, paling kerasa pas diterjang ombak gede. Puuueh..mumet..muneg-muneg puoll!. Trus menu pagi, siang , malam...ransumnya ikan mulu. Hadew I really miss pecel that moment. Jiaah ..


 

Dan saya kembali ke sini. Lonjak-lonjak. Manado . Saya tuh kagum sama keramahan mereka. Iya,kalau berpas-pasan selalu menyapa, “Selamat Pagi” awalnya saya cuek, lah ngga kenal. Eeeeh…kata tante saya, orang Manado memang gitu, saling sapa. Aiiihh..esok harinya, saya semangat menyapa mereka duluan. “Pagi Om, Pagi Tante, Selamat pagi semuaaa …!”

Satu lagi yang paling berkesan pastinya selera makan orang Manado yang sukanya pedas gilaaaa! Levelnya wis ngga karu-karuan. Herannya, saya yang ngga doyan pedes, lah kok jadi tebel lidahnya. Tuh, sambal apa saja, saya sikat. Meski hasil akhirnya perut saya yang ngga kuat. Hiyaaaaa…

Wednesday, July 27, 2016

Kopi, Memikat Suami



Kopi Simbol Lelaki? Ah, ngga juga.  Banyak perempuan suka, dan tidak kehilangan sifat feminimnya.


Kapan Anda menikmati kopi? Meski ritualnya banyak yang minum di pagi dan sore hari,  tapi kopi bisa dinikmati kapan saja. Kalau lelaki, pilihan kopi, selalu disandingkan dengan rokok. Ngobrol gayeng, dari sore hingga larut, asalkan ada kopi pasti semangat. Kalau saya, secangkir kopi, harus ditemani cemilan. Pisang goreng, rondo royal, gethuk,  kepok rebus, atau kalau mau praktis tinggal beli biskuit, atau cookies. Meski akhirnya komposisinya ngga imbang.  Lah segelas kopi, cemilannya sepiring penuh pisang goreng. 


Bersama suami tercinta, menyeduh kopi bisa menjadi momen yang bahagia. Bahagia? Iya, ini bukan gombal. Coba bayangin, daripada diajak ngopi ke mall, khan mending di rumah. Dompet aman, suami pun aman ngga dilirak-lirik pramuniaga yang langsing dan lencir. Duh!


Kopi favorit suami saya. Pilihannya, satu sendok kopi hitam, dua sendok kecil gula, plus satu sendok creamer.  Sebagai pecandu kopi, jika komposisinya melenceng dikit, dia tahu loh. “Ini kemanisan!” katanya tempo hari. Maklum, karena keburu-buru disambi ngulek sambel.

Pernah juga dia mengeluh, “Kok kelewat pahit, sih?” protesnya. Yah, lagi-lagi karena buatin kopi sekalian masker sama luluran, jadi nuang bubuk kopinya kebanyakan.   

Hmm.. . biar sudah rutinitas, tapi kok selalu mbleset takarannya.   Hiks.. rada sedih juga, khawatir jika kopinya ngga cocok terus nyari kopi di warung janda cantik, bisa bahaya ini! *nyiapin pentungan.


Tapi, sekarang  suami saya ngga pernah protes soal kopi. Ini bukan karena dia takut sama istrinya yang punya bodi kayak Hulk ini. Tapi sudah ada kopi instan yang komposisinya pas. Kopi Gus Ipul ini memang pas dengan selera suami saya. Ya, kopinya, susunya, gulanya. Keahlian saya cuma merebus air panas, dan ngundek aja. Praktis bangtes, bahkan isok disambi nggolek Pokemon. Ihiii.

Kearifan di Balik Sebiji Kopi



Meneruskan Tradisi Mantap Rasanya….
Setiap butir biji kopi ada kisah yang tersembunyi tentang kearifan lokal.


 Kopi tidak memandang gender. Pria dan wanita pasti banyak yang suka ngopi. Lihat saja, coffe shop selalu ramai pengunjung sekedar untuk ngopi. Mereka rela merogoh kocek dalam untuk mendapat secangkir kopi hangat. Yah, kopi memang istimewa. Coba perhatikan, di Surabaya, bertebaran gerai kopi, sayangnya banyak didominasi brand luar. Budaya ngopi, yang dulu identik dengan ‘warungan’ pinggir embong sudah bergeser jadi life style.


Apa yang diharapkan dari secangkir kopi? Tak sekedar gaya, namun kenikmatan secangkir kopi (tanpa sianida) memang luar biasa. Perlakuannya saja beda, bukan hanya karena varietas bibitnya berasal dari bibit yang unggul, kopi harus ditanam di ketinggian tertentu. Level ketinggian ini akan berpengaruh langsung dari kopi yang dihasilkan, baik dari ukuran, bentuk, dan pastinya terhadap rasa dan karakter kopi. 

Tanaman kopi juga membutuhkan perawatan dan pemupukan secara teratur, di Lampung, di Aceh, masyarakat di sana memperlakukan tanaman mereka dengan kearifkan lokal, sehingga tanaman kopi memiliki rasa nikmat dan khas. Usai panen, masih ada serangkaian proses pengolahan mulai pemetikan buah, penyortiran buah, pengupasan kulit, penjemuran biji, dan penggilingan biji kopi dan akhirnya buah kopi menjadi serbuk kopi yang siap diseduh

Tak heran jika para penikmat kopi, selalu harus punya waktu untuk menikmatinya, menyeruputnya sedikit demi sedikit, sembari menikmati semerbak aroma. Menghela nafas panjang, sambil sedikit memejam mata. Seakan untuk menebus proses pengolahan biji kopi yang panjang.

Jika kenikmatan itu yang dicari, tidak harus ditebus dengan harga mahal. Sebungkus kopi instan, dengan proses yang benar, akan menghadirkan kopi a la kafe. Begini caranya, pertama, perhatikan kualitas air, saran saya, gunakan air galon. Rebus hingga air benar-benar mendidih. Kedua, ambil satu sachet kopi susu, atau white coffee, kopi Gus Ipul, tuangkan ke cangkir. Kemudian, tuang air mendidih ke dalam cangkir, lalu aduk sebanyak 30 kali searah jarum jam. Dan… Kopi Gus Ipul siap dinikmati. 

            

 Sebagai warga Surabaya, rasanya bangga jika ada produk lokal muncul, karena pastinya akan mendukung perekonomian produsen lokal. Jadi, mari kita tunggu kiprah Gus Ipul, untuk Kopi di Indonesia ... Semoga kopi kebanggaan warga Surabaya ini, bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Tuesday, July 26, 2016

Iwak Jemblung



Saya memang jagoan kalau ditanya soal Pasar Tradisional di Surabaya. Bukan apa-apa, karena  di pasar tradisional lebih murah plus bisa tawar menawar. Namanya juga emak-emak gendut, ... kalau ada selisih harga seratus rupiah aja, saya bela-belain deh ke pasar itu, biarpun bengkak di ongkos bensin. Hehehehe… itung-itungan yang aneh,ya?

 Hiburan juga, ngeliat polah si penjual kadang lucu, mayak, sampai megelno. Seperti pas saya ke Pasar Pabean buat nyari ikan. Pas asyik lihat-lihat ikan. Tiba-tiba ada yang nyolek saya.“Ndut….genduttt!! Nggak mampir, tah? Iki loh iwak lemu koyok awakmu!” teriaknya.


Busyet, si penjual ini nggak ngaca apa. Wong badannya lebih lebar, dan lipatan perutnya lebih banyak dari diriku, kok manggil aku gendut! "Huh…dasar jemblung!” *muthung wis ngga sido masak iwak.