Wednesday, July 27, 2016

Kopi, Memikat Suami



Kopi Simbol Lelaki? Ah, ngga juga.  Banyak perempuan suka, dan tidak kehilangan sifat feminimnya.


Kapan Anda menikmati kopi? Meski ritualnya banyak yang minum di pagi dan sore hari,  tapi kopi bisa dinikmati kapan saja. Kalau lelaki, pilihan kopi, selalu disandingkan dengan rokok. Ngobrol gayeng, dari sore hingga larut, asalkan ada kopi pasti semangat. Kalau saya, secangkir kopi, harus ditemani cemilan. Pisang goreng, rondo royal, gethuk,  kepok rebus, atau kalau mau praktis tinggal beli biskuit, atau cookies. Meski akhirnya komposisinya ngga imbang.  Lah segelas kopi, cemilannya sepiring penuh pisang goreng. 


Bersama suami tercinta, menyeduh kopi bisa menjadi momen yang bahagia. Bahagia? Iya, ini bukan gombal. Coba bayangin, daripada diajak ngopi ke mall, khan mending di rumah. Dompet aman, suami pun aman ngga dilirak-lirik pramuniaga yang langsing dan lencir. Duh!


Kopi favorit suami saya. Pilihannya, satu sendok kopi hitam, dua sendok kecil gula, plus satu sendok creamer.  Sebagai pecandu kopi, jika komposisinya melenceng dikit, dia tahu loh. “Ini kemanisan!” katanya tempo hari. Maklum, karena keburu-buru disambi ngulek sambel.

Pernah juga dia mengeluh, “Kok kelewat pahit, sih?” protesnya. Yah, lagi-lagi karena buatin kopi sekalian masker sama luluran, jadi nuang bubuk kopinya kebanyakan.   

Hmm.. . biar sudah rutinitas, tapi kok selalu mbleset takarannya.   Hiks.. rada sedih juga, khawatir jika kopinya ngga cocok terus nyari kopi di warung janda cantik, bisa bahaya ini! *nyiapin pentungan.


Tapi, sekarang  suami saya ngga pernah protes soal kopi. Ini bukan karena dia takut sama istrinya yang punya bodi kayak Hulk ini. Tapi sudah ada kopi instan yang komposisinya pas. Kopi Gus Ipul ini memang pas dengan selera suami saya. Ya, kopinya, susunya, gulanya. Keahlian saya cuma merebus air panas, dan ngundek aja. Praktis bangtes, bahkan isok disambi nggolek Pokemon. Ihiii.

Kearifan di Balik Sebiji Kopi



Meneruskan Tradisi Mantap Rasanya….
Setiap butir biji kopi ada kisah yang tersembunyi tentang kearifan lokal.


 Kopi tidak memandang gender. Pria dan wanita pasti banyak yang suka ngopi. Lihat saja, coffe shop selalu ramai pengunjung sekedar untuk ngopi. Mereka rela merogoh kocek dalam untuk mendapat secangkir kopi hangat. Yah, kopi memang istimewa. Coba perhatikan, di Surabaya, bertebaran gerai kopi, sayangnya banyak didominasi brand luar. Budaya ngopi, yang dulu identik dengan ‘warungan’ pinggir embong sudah bergeser jadi life style.


Apa yang diharapkan dari secangkir kopi? Tak sekedar gaya, namun kenikmatan secangkir kopi (tanpa sianida) memang luar biasa. Perlakuannya saja beda, bukan hanya karena varietas bibitnya berasal dari bibit yang unggul, kopi harus ditanam di ketinggian tertentu. Level ketinggian ini akan berpengaruh langsung dari kopi yang dihasilkan, baik dari ukuran, bentuk, dan pastinya terhadap rasa dan karakter kopi. 

Tanaman kopi juga membutuhkan perawatan dan pemupukan secara teratur, di Lampung, di Aceh, masyarakat di sana memperlakukan tanaman mereka dengan kearifkan lokal, sehingga tanaman kopi memiliki rasa nikmat dan khas. Usai panen, masih ada serangkaian proses pengolahan mulai pemetikan buah, penyortiran buah, pengupasan kulit, penjemuran biji, dan penggilingan biji kopi dan akhirnya buah kopi menjadi serbuk kopi yang siap diseduh

Tak heran jika para penikmat kopi, selalu harus punya waktu untuk menikmatinya, menyeruputnya sedikit demi sedikit, sembari menikmati semerbak aroma. Menghela nafas panjang, sambil sedikit memejam mata. Seakan untuk menebus proses pengolahan biji kopi yang panjang.

Jika kenikmatan itu yang dicari, tidak harus ditebus dengan harga mahal. Sebungkus kopi instan, dengan proses yang benar, akan menghadirkan kopi a la kafe. Begini caranya, pertama, perhatikan kualitas air, saran saya, gunakan air galon. Rebus hingga air benar-benar mendidih. Kedua, ambil satu sachet kopi susu, atau white coffee, kopi Gus Ipul, tuangkan ke cangkir. Kemudian, tuang air mendidih ke dalam cangkir, lalu aduk sebanyak 30 kali searah jarum jam. Dan… Kopi Gus Ipul siap dinikmati. 

            

 Sebagai warga Surabaya, rasanya bangga jika ada produk lokal muncul, karena pastinya akan mendukung perekonomian produsen lokal. Jadi, mari kita tunggu kiprah Gus Ipul, untuk Kopi di Indonesia ... Semoga kopi kebanggaan warga Surabaya ini, bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Tuesday, July 26, 2016

Iwak Jemblung



Saya memang jagoan kalau ditanya soal Pasar Tradisional di Surabaya. Bukan apa-apa, karena  di pasar tradisional lebih murah plus bisa tawar menawar. Namanya juga emak-emak gendut, ... kalau ada selisih harga seratus rupiah aja, saya bela-belain deh ke pasar itu, biarpun bengkak di ongkos bensin. Hehehehe… itung-itungan yang aneh,ya?

 Hiburan juga, ngeliat polah si penjual kadang lucu, mayak, sampai megelno. Seperti pas saya ke Pasar Pabean buat nyari ikan. Pas asyik lihat-lihat ikan. Tiba-tiba ada yang nyolek saya.“Ndut….genduttt!! Nggak mampir, tah? Iki loh iwak lemu koyok awakmu!” teriaknya.


Busyet, si penjual ini nggak ngaca apa. Wong badannya lebih lebar, dan lipatan perutnya lebih banyak dari diriku, kok manggil aku gendut! "Huh…dasar jemblung!” *muthung wis ngga sido masak iwak.

Tuesday, June 14, 2016

Tobat Ngga Pake Lombok!


Assalamualaikum,
Ketemu ramadhan lagi, Allhamdulilah.  Tahun ini banyak yang berubah, lah kalau bulan puasa sebelumnya, saya gampang sekali mokel. Lihat teh botol kemringet mokel, liat orang jual es degan mokel, liat orang mblender jus..mokel. Liat orang ganteng mokel…eh ngga ding! *elus-elus my sharuhkhan

Terus yang paling parah, khan kalau perempuan tuh dapat jatah buat ngga puasa, maksimal seminggu khan. Lah saya malah manjang-manjangin dah. Ssst.. habis sudah keenakan liburnya. Hahahaha. Satu lagi kebiasaan saya tuh, kalau yang lain pada puasa, saya sengaja pamer bawa es-lah, bakso-lah, pokoe yang aromanya bikin satu ruangan semerbak. Tapi..temen-temen saya sudah kebal dengan kebiasaan saya ini. Mereka maklum….paling banter teriak ..”Dasar jin Gendut!!!!” wakakaka….

Tapi sekarang…
Saya malu kalau mokel. Malu sama anak saya, yang puasanya full. Saya malu, sudah tambah umur kelakuan kok ya ngga nambah bijak. Ditambah lagi, lihat kenakalan anak-anak jaman sekarang, saya bener-bener prihatin. Jadi penting buat saya ngasih contoh baik, ngga cuman nyuruh dan bentak-bentak.

Trus….
Saya saya jarang turun ke lapangan.Posisi saya sekarang lebih banyak dibalik meja (makan), eh meja kantor kok. Dulu, undangan buka puasa bisa full sebulan, sekarang  hanya satu-dua, itu pun karena mereka memohon-mohon untuk datang. Atas nama persahabatan dan ijin my sharuhkhan, baru saya datang.

Satu lagi yang membuat saya harus berubah!!! Karena saya berhijab. Masio gayaku masih petakilan, ngomong masih cuwawakan, dan awal dari keterpaksaan. Tapi, saya bersyukur, ada yang mengingatkan. Sedihnya luar biasa kalau ingat kelakuan saya dulu. Pelan-pelan mulai dibenahi, nomor satu Sholat! Kadang suka ngulur-ngulur, mentingin kerjaan, asik facebookan, Insha Allah mulai jangkep sholatnya. Sebenernya masih banyak catatan hati seorang istri…lah kok dadi sinetron toh! 
  
Jadi, anugrah luar biasa ramadhan tahun ini. Dapat hidayah, dan ehemmm..saya dapat rejeki luar biasa. Sebenarnya ngga mau pamer sich…*ucek-ucek gombal. Tapi  jabatan naik, dapat fasilitas oke dari kantor, dapat team baru yang solid, dapat tantangan baru, pengetahuan baru, Ya Allah… bener-bener diluar ekspetasi. Tapi dari semua itu, hal yang sangat berarti adalah, keluarga selalu diberi kesehatan. Biar kantor kasih jaminan Sinar Mas, dan dipotong tiap bulan, saya bener-bener berdoa, semoga kami sekeluarga ngga bakal pake tuh kartu, lain kalau voucher makan all u can eat, atau makan sak mbledose, waaahhhh...pasti ngga nolak! Hihihi..Nah, loh pancet ae tibae.