Friday, June 18, 2010

Klenger di D'Kampoeng

Ya ginilah kelakuan saya kalau dikasih form makan sepuasnya. Haduh… serasa mau mbledossss !

Foto: Mendol

Bertempat di sebuah mall resto ini mempunyai konsep tata ruang yang unik. Mengadopsi konsep sebuah pasar malam lengkap dengan ornamen dan pernak-pernik seperti hiasan ukiran , lampu minyak, sangkar burung bahkan penjaja makanan hadir lengkap dengan pikulan.

Meski menghadirkan konsep makanan serba ndeso, tapi untuk pembayaran mereka mengadopsi konsep modern, serba praktis dan cepat. Yaitu, masing-masing pengunjung diberi kartu
, yang nantinya di stempel, sesuai makanan dan minuman yang dipesan.

Khusus untuk pembukaan para wartawan dikasih form untuk makan sepuasnya. Dan Free !!! Asoy …. Saya langsung joget-joget kesenengan. Lalu saya atur strategi dengan Anton, seperti biasa saya menerapkan aturan khusus buat Anton.

1. Jangan pesan menu yang sama
2. Pesan porsi Large biar bisa dimakan berdua
3. Kalau pesen menu sambelnya dipisah, soalnya saya ng
gak doyan pedes
4. Jangan pesen menu yang ada udangnya, soalnya saya alergi
5. Kalau makan nggak habis harus segera laporkan pada saya.* bergaya seperti ikan sakarmut

Syukurlah, selama ini Anton tidak pernah protes dengan peraturan ini. Mana berani dia… sekali keprek bisa jadi pecel lodeh !

Akhirnya saya pesan Jus Durian dan Soto
Madura. Hihihihi…. Benar-benar kelas berat ya! Anton cuman bisa godhek-godhek. “Mbak Mendol, nggak salah? Ntar kalau semaput siapa yang kuat gendong!” Huh !! Asem.

Aslinya saya cuman makan soto, tapi temen-temen wartawan yang kebangetan. Jadi mereka foto taking macam-macam menu. Selesai di
foto, itu makanan langsung disodorin ke saya. “Mbak Mendol, habisin ngiih, mie kluntung sama nasi goreng Jawanya. Aku mau makan yang lain!” kata Somad, fotograger Surya.

Baru makan setengah porsi, eh Nina dari Kompas. Datang mbawain Sop Buntut. “Eh, makan berdua yuk. Aku nggak habis!”Eh, bukannya makan berdua itu sop buntut saya habisin sendiri.

Saya jadinya makan banyak, mulai sate ayam, batagor, soto banjar, bebek goreng. Padahal nggak ikutan mesen cuman dalam rangka memeriahkan teman yang pesen trus saya ikutan. * Hihihi…alasan yang sulit dicerna.

Dan endingnya, kayaknya si ownernya mulai kepegelen lihat wartawan makan mulu nggak ada yang pulang-pulang. Lha, masak undangan pukul 10 sampai jam 3, belum ada yang bergeser. Wakakaakaka…..


Tiba-tiba ada pengumuman. “Maaf, resto ini ditutup pukul 15 menit lagi, dan semua form makan gratis sudah tidak berlaku setelah itu!”


Hiya..hiyaaa, berhamburlah teman-teman buat pamitan. Sedang saya masih bertahan di pojokkan karena nggak kuat berdiri. …..0alaa abote urip iki *ratapan wong lemu.



D’Kampoeng
Plaza Level P 17-19 A
Town Square Surabaya

Jl Adityawarman No 55 Surabaya

Monday, June 07, 2010

Buntut Djatilegi

Makan tidak habis bisa menyakiti tukang cucinya.

foto: anton

Kalau selama ini kita hanya mengenal buntut bakar dan sop buntut, sepertinya harus mampir Djatilegi Terrace and Resto yang menempati lokasi di Galaxi Mall. Di sini menu andalannya adalah serba buntut. Buntut Model apa saja bisa ditemukan di sini. Mulai Buntut Bakar, Buntut Balado, Buntut Balacan dan Buntut Goreng. Yang mengundang saya, Mas Wiwid malah tidak ada. Gantinya saya bertemu Pak Toyo dan Mas Ray pemiliknya.


Ada cerita menarik, pas saya lagi makan. Saya lihat laki-laki berkulit bersih dan masih muda. Saya pikir pasti salah satu pegawai resto ini. Rajin sekali, keluar masuk angkat piring, membersihkan meja. Dan tidak itu saja, mulai dekorasi dinding yang menceng, lantai yang licin nggak luput dari sasaran. Hmm….

Nah, pas saya kelar makan, saya dihampiri sama orang ini.


“Gimana Mbak, cocok nggak rasanya?”

Wah, saya kaget ditanya begitu. Dia lalu memperkenalkan diri, kalau dia adalah RAY. Yah…owner Djatilegi yang asalnya dari Semarang.

Ternyata Mas Ray, orangnya sangat ramah. Dan berceritalah tentang bisnisnya yang kini sudah memiliki sekitar 5 cabang.


”Semua resep saya ciptain sendiri, lho!” akunya.

Dan tidak hanya itu, desain café sampai interiornya semua dikerjakan sendiri. Hebatnya lagi, dia selalu menjadi tukang cuci piring kalau restonya lagi rame.

Tiba-tiba dia melihat ke arah piring saya.“Lho kenapa kok nggak dihabisin buntut bakarnya?”

Wadoh, susah njawabnya. Soalnya kalau makan buntut bakar pake pisau dan garpu khan sulit. Nah, kebetulan hari itu saya rada jaim, jadi malas eker-eker pake tangan. Jadinya, beberpa daging yang nempel dan sulit digapai garpu saya biarin.

“Duh, saya suka sedih kalau ada orang nggak ngabisin. Saya selalu bertanya-tanya kenapa tidak di makan?” katanya.


Lalu dia menuturkan, jika kebagian tugas cuci piring dia selalu mengelus dada jika melihat makanan sisa yang jumlahnya cukup banyak. “Makanan sampai ke meja itu prosesnya panjang. Mulai belanja, pemilihan bahan, proses pengolahan, sampai menemukan rasa yang pas hingga di antar ke meja. Nah kalau lihat disia-siakan gini. Sedih rasanya!” katanya prihatin.


Lalu dia ganti melihat piring Anton. Licin dan bersih. Yang tersisa cuman daun selada sama tomat garnish.

Lek aku, kebiasaan makan selalu habis dan bersih. Soalnya, kalau sisa ibuku nesu !” kata Anton seperti membaca pikiran saya.


Duh, ndak enak hati saya. Eh, tapi tunggu, lihat dessert saya. Ice in The Box.. Vanilla ice cream yang disajikan di atas roti dan disiram cokelat di sekelilingnya. Wuah… lihat bersih dan licin. Dan tinggal secuil rotinya (yang langsung saya emplok, begitu Mas Ray membelakangi).


Berbincang dengan Mas Ray, saya jadi menyadari betapa hancurnya hati mereka jika melihat makanan tersisa. Saya benar-benar malu karena sering pesan makanan sak karepe dewe, tapi kemudian tidak dihabiskan.


Saya seringkali lapar mata, mentang-mentang diundang dan nggak bayar, saya sering makan ugal-ugalan. Ambil mie sak umbruk, ambil ayam lima potong, masih tambah sate sepuluh tusuk, Cap cay dicampur sapi lada hitam, rasanya ndak ada puasnya, akhirnya malah sisa dipiring numpuk.


Duh, ternyata kebiasaan ini bisa menyakiti banyak orang. Mulai dari ownernya, tukang masaknya, sampai tukang cuci piring.


Okelah, saya nyadar sekarang, nah kalau kucing di rumah saya sudah tidak segendut orangnya, harap maklum. Berarti dia nggak pernah lagi dapat sisa makanan. Dan dia tidak berhak lagi menyandang nama sebagai kucing garong, dan nama penggantinya adalah Kucing Garing….*sambil geol ala Lia Trio MACAN.


Djatilegi Terrace & Resto

Galaxi Mall Lt 4 No 405

Jl Dharmahusada Indah Timur 35-37

Telp. 031 –591 5608

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...