Wednesday, September 24, 2008

Menu Siang-Malam

Makanan khas Suroboyo di satu lokasi

Referensi tempat makan di Surabaya, bertambah satu lagi. Yaitu, Food Court Urip Sumoharjo.Berada di pinggir jalan. Pusat makanan ini terletak di depan rumah susun Urip Sumoharjo. Pusat makanan ini dibuka secara resmi oleh walikota pada 29 Desember 2007 lalu. Dan resmi beroperasional sejak tanggal 1 Januari2008. Tempat ini mampu menampung para PKL binaan Dinas Koperasi Pemerintah Kota Surabaya yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Sebelum memesan menu, pastikan Anda membaca daftar menu yang terpampang di papan nama, tepat di pintu masuk.Ada dua papan yang menunjukkan daftar menu siang, dan menu malam. Perbedaan jenis menu ini karena sistem berjualannya pun terbagi menjadi 2 shift, yaitu pagi dan sore,dengan total waktu buka mulai jam 6 pagi hingga jam 11 malam.

Setidaknya tak kurang dari 60 pedagang makanan, yang
menempati area foodcourt Urip Sumoharjo ini. Pengaturan shift ini di-handle oleh Paguyuban Pedagang Urip Sumoharjo.

Untuk menu malam siang; rujak cingur, bakso granat, lontong cap gomek, semanggi, soto madura, nasi rawon, nasi goreng, gado-gado dan lontong mie.

Malam berbeda lagi. Ada jajanan Suroboyo, ayam panggang, lontong sop, ayam goreng, soto ayam, soto kikil, tahu campur,soto daging, nasi pecel, sate kelapa, sate kambing / ayam, nasi sambal penyet, pangsit bakso dan aneka jajanan a la café seperti roti bakar dan banana crispy.

Untuk sajian minuman, ada banyak pilihan. Mulai jus buah, es campur, soft drink, dan STMJ. Soal harga pun sangat terjangkau. Saya awalnya ragu makan di sini. Maklum takut kalau kelewat mahal. Ternyata harganya murah, mulai Rp 6 ribuan.


Keistimewaan tempat ini, selain terletak strategis di tengah kota, memiliki area parkir luas untuk menampung mobil, dan sepeda motor. Lingkungannya juga bersih. Hampir di setiap sudut, tersedia tempat sampah ukuran kecil, yang tertulis Dinas Koperasi dan Sektor Informal Kota Surabaya.

Nah, kalau pedagangnya tertib, tempatnya bersih dan nyaman, pengunjung pun pasti senang untuk datang. Ayoo Serbuuuuuuuuuu…!!!!


Food Court Urip Sumoharjo
Jl Urip Sumoharjo (Depan Rusun)
Foto Tahu Campur By Anton

Friday, September 19, 2008

Dilempar Martabak

Enak dimakan dimakan selagi hangat ditambah acar timun dan cabe.

Berbahagialah jika kita bisa membeli martabak. Sedikit terlalu berlebihan ya ? Hahaha…, alasannya, karena dua hal, pertama karena mendapat martabak dengan pesanan khusus (dagingnya yang banyak, ya Bang… ), kedua kita dihibur langsung dengan gaya atraktif penjualnya.

Yah, melihat gaya penjual martabak memang paling asyik, bulatan tepung yang gemuk itu, dipipihkan di alas yang licin, ditarik ujung-ujungnya, lalu setelah agar mekar, adonan yang sudah tipis ini diangkat, lalu dilempar memutar, sehingga adonan bertambah tipis dan melebar.

Di kawasan Ampel, mudah ditemui rombong penjual martabak, ciri khasnya apalagi kalau bukan papan bertuliskan urutan harga, dari yang biasa sampai istimewa. Ahmad, seorang penjual martabak mengatakan perbedaan harga hanya masalah telur dan bumbu.

“Martabak istimewa berarti jumlah telur, daging, dan sayurannya lebih banyak. Belum lagi tambahan daging kambing, atau daging lain sesuai keinginan pemesan,” jelasnya.


Untuk membuat martabak, harus dipersiapan 20 macam bahan baku rempah-rempah, terdiri atas tumbar, merica, kapulogo, cengkih, jinten, miri, polo, manis jingga, kunir, jahe, garam, lombok, jimpit merah, minyak murni, minyak samin, telur, daging, dan beberapa macam rempah lain. Khusus isian, yaitu irisan bawang prei, telur, dan cacahan daging berpadu bumbu gule.

Rasa gurih sajian ini terletak pada minyak samin. Minyak ini, terbuat dari gajih sapi, dicampur dengan langit-langit susu. ''Martabak, yang digoreng dengan minyak samin aromanya gurih, dan tidak mengendal walaupun sudah dingin, dan tahan sampai satu hari, '' kata Bang Ahmad, yang wajahnya mirip Amitha Bacem..hihihii. .

Catt: Aduuuh….teman maafkan saya, menggodamu di bulan puasa ini dengan sengaja posting martabak….huehueue *dibuang ke recycle bin.

Martabak di Sini Tempatnya ;
Bang Ahmad Cs - Jl KH Mas Mansyur
Pintu Masuk Pasar Blauran
PK5 Jl Kusuma Bangsa
Bang Amat – Jagalan Pojok
Martabak Abdullah Jl Kapasari
PK5 Jl Indrapura
PK5 Jl Kapas Krampung
PK5 Jl Dharmahusada
Pusat Makanan - Taman Bungkul

Wednesday, September 10, 2008

Tayangan Imajiner

Setting : Sebuah dapur dengan kitchen set terbaru.


Presenter : “Kita panggilkan bintang tamu kita, La Mendol !”

Audience sekitar 30 ribu orang, tampak antusias memberikan applaus. Plok…plok…plok

Presenter : “Hari ini mau presentasi masakan apa ?”

Mendol : Saya membawa menu Ayam Tulang Lunak. Silahkan dicicipi."

Presenter : “Wow…amazing. Rasanya empyuuuuuk …..
bangets !”


30 ribu Audience ngeces seketika, sambil berlinang air mata haru.

Presenter : “Pasti daging ayam ini dipresto dulu, ya ?”
Mendol : “Nggak tuh !”
Presenter : “Wah, pasti diungkep dengan daun pepaya !” *bergaya a la Ira Kusno.

Mendol : “Hmm… nggak juga !” *pasang tampang Cumi

Presenter : “Bagi tipsnya Mbak Mendol !Setuju khan pemirsa ?

30 ribu Audience serentak ; Iyaaaaaa…… *Penasaran akut

Mendol : “ Daging ayamnya empuk, karena saya duduki selama seperempat jam !”

“Apaaaa…!!!! Hueeekkkkk….. !!!!!”
* gemuruh suara 30 ribu Audience dan satu orang presenter yang mual.

Hiyaaa…… * diposting dalam keadaan dehidrasi (baca : kepengen es teler)

Friday, September 05, 2008

Kugadaikan di Blauran


Di Pasar Blauran saya mengobati kerinduan dibalik jajanan tradisonal tempoe doloe.

Doloe, waktu saya masih SD, sehabis mengantarkan ibu menggadaikan emas di toko Emas Enam Djaja (buat bayar sekolah...) , ibu selalu mampir ngajak ke penjual jajan pasar di Blauran.

Jaman segitu Blauran beceknya luar biasa, masuk ke pasar blauran ibarat main ke sawah, soalnya sandal saya penuh dengan ledhok. Sebenernya pengen rasanya digendong, tapi nggak mungkin. Lha bobot tubuh saya pas kelas enam SD itu sudah menyamai bobot ibu saya. *GuEdE Tenan Pokok'e


Segala makanan tradisional seperti klanting, putu, rujak cingur, lontong balap, tahu campur, tahu tek, rujak gobet, jenang grendul, bubur sum-sum, jajan pasar siap tersedia. Bila dahaga tinggal coba saja dawet, es degan atau es campur dijamin segar.

Ibu saya paling suka berkunjung di atas jam 8 malam, ssttt... bukan malu ketahuan tetangga kalau menggadaikan emas hehehehe… tapi jam segitu jajan pasarnya diobral setengah harga.

Apalagi jajan yang ada unsur parutan kelapanya,
ya kalau beruntung memang dapat yang nggak basi, tapi kalau dapat yang basi yo jangan protes.

Namanya juga beli jajan obral, jajan sisa tadi pagi. Ini khan, artinya berani menerima risiko kue lapis setengah kecut, atau lemper ayam yang ada ilernya…yeeeeeekkk.


Sekarang, Pasar Blauran sudah tertata rapi. Lantainya pun keramik. Saya masih sering datang ke sini, apalagi menjelang tanggal tua. Bukan nyari jajan pasar buat sajen lho, tapi saya sedang menyekolahkan kalung biar pinterrr, di toko Emas Enam Djaja…. Huheuheueuee….

Monday, September 01, 2008

Blog Ini Haram


Intinya, Saya tidak mau menambah dosa …

Saya nggak tahu apa jadinya jika selama dua belas bulan, gaya makan saya dibiarkan ugal-ugalan.
Ngemil di sini, jajan di situ, andok di pinggir jalan, ngedim-sum di resto, ngopi di mal, makan bebek seminggu dua kali, bakso tiap hari, belum lagi kalau pas perjalanan pulang ke rumah pas-pasan sama yang jual siomay, bakul sate kelapa, tolat-tolet rujak manis di jalan Dr. Soetomo, yang membuat saya segera menepikan sepeda motor.
Di luar rutinitas (makan) yang tidak terduga itu… hmm Saya sudah punya jadwal khusus, memenuhi undangan promo makanan dari hotel, resto dan café, yang merupakan kewajiban saya untuk datang (dan makan !).

Tapi, di bulan Ramadhan saya benar-benar tobat. Iya benerr !

(Setidaknya sampai menjelang magrib, hehehe...)

Di meja kerja saya tidak adalagi klethikan. Di laci juga tidak ada snack momogi, ring, dan potato chips. Dalam tas kerja, juga nggak ada Sari Roti rasa Coklat.
Peralatan perang, seperti mangkok, piring, sendok , garpu. Tersusun rapi di laci nomor 2. Tinggal laci nomor 3, yang masih menyimpan Pop Mie rasa Bakso dan Soto, untuk persediaan musim semi... yaelah segitunya.

Upaya resik-resik ini juga berlaku untuk blog ini. Saya nggak mau posting makanan dulu khusus di bulan puasa ini, Haram …!. Gantinya, ada features tentang tempat wisata belanja dan makan yang layak dikunjungi di Surabaya. Semoga bermanfaat.

Nb: Jujur saja, saya sendiri ya nggak kuat, kalau harus menulis tentang pengalaman makan saya yang blingsatan, ditambah posting foto yang bikin kemecer. Huh !! *Sambil membayangkan teh botol kemringet.

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...