Friday, August 31, 2007

Ribetnya Lobster


Nggak terasa, puasa mo deket. Kalau sudah begini beberapa resto, dan café harus menghabiskan jatah promosi F&B sebelum Ramadhan tiba. Dalam seminggu ini, saya ada tiga undangan di tempat berbeda, tapi menu yang sama yaitu Lobster !

Menu mahal, pastinya. Dan tidak terjangkau, tapi berhubung demi tugas saya tentu tidak melewatkan undangan ini, lagian saya khan cuman disuruh datang, dan ngincipin. Dan yang penting gratis…(jelaslah nggak terjangkau buat ukuran saya, dan ngeman banget kalau suruh beli menu ini mengingat porsinya yang sedikitttt banget).


Saya pun memenuhi undangan, Shangri-La menawarkan sesuatu yang istimewa bagi penggemar seafood dengan menggelar promo “Lobster: Emperor of the Sea” di 3 outlet restoran sekaligus mulai bulan Agustus. Di Portofino, lobster dihidangkan dalam gaya Eropa. Di restoran Jepang Nishimura, mempersembahkan Lobster Sashimi, Teppanyaki atau Teriyaki. Di Desperados dapat menikmati Lobster Bisque dan Loster Mango salad a la Amerika Latin


Akhirnya disuguhi…
Ada satu yang membuat saya tidak buru-buru makan tampilan garnis-nya cantik. Penampilannya memikat. Penataannya pun nyeni. Terbengong lama, karena sayang kalau buru-buru saya mutilasi.
Sekitar limabelas menit saya terkagum-kagum. Memikirkan bagaimana cara motong, memasak dan yang membuat saya berpikir lebih keras adalah cara makannya yang ribet.
Udah dagingnya dikit, mau makan pun sulit. Meski disediakan garpu, pisau tetap saja ada acara “turun tangan” . Duh mahal kok ribet ya !

Tuesday, August 21, 2007

Kompyang Bikin Kepayang

Foto : Anton

Pernahkah Anda merasa ngilu gara-gara melihat sepotong roti ?
Itu yang saya rasakan ketika melihat roti kompyang. Roti jaman bahuela yang membawa saya pada kenangan masa kecil, ketika masih tinggal bersama Eyang Kakung dan Eyang Putri di Malang.
Setiap sore, Eyang kakung saya seperti biasa membawa roti kompyang ini di teras depan.Bersama satu cangkir teh hangat. Roti kompyang itu lalu dicelup, sampai terasa lembek, kemudian dinikmati. Terlihat cukup nyaman untuk orang yang mulai kehilangan gigi depan.

Satu-satunya alasan eyang tetap menyantap roti aneh ini. Karena, makan roti kompyang gampang membuat kenyang. Benar-benar aneh !


Roti ini di mata saya benar-benar tidak ada istimewanya. Komposisinya sangat sederhana, terdiri dari campuran tepung terigu, garam, gula dan air. Rotinya keras, rasa pun tawar. Roti yang keras ini sempat membuat saya trauma. Dulu karena penasaran, saya mengigitnya kuat-kuat. Aduh…gigi saya sampai ngilu semua. Rasanya senut-senut, tapi roti ini gupil saja tidak. Hebat sekali.


Di sebuah festival makanan, saya menemui lagi roti ini. Kaget sekali, karena pembelinya lumayan banyak. Penjualnya mengatakan, “kompyang sudah dimodifikasi, dan disesuaikan dengan selera masyarakat,” jelasnya. Takut dibohongin, saya cuil sedikit rotinya, ternyata teksturnya lebih lembut dan empuk.

Ini menggugah saya membeli roti kompyang.

Ada pilihan rasa seperti daging ayam, daging sapi, salad tuna dan rumput laut.Di atasnya, ada taburan wijen yang generous. Rasanya gurih, isi daging di dalamnya juga sedap.
Saya menyantap dua buah kompyang, perut saya lumayan kenyang. Sambil menyantap, saya ingat kembali kenangan bersama eyang putri di sebuah teras depan. Dan hebatnya lagi, aihhh..gigi saya nggak ngilu lagi !”



Friday, August 10, 2007

Nasionalisme Segelas Punch



Memasuki bulan Agustus, berbagai undangan juga membanjir di meja saya. Isinya sama. “Promo F &B Menyambut HUT RI 62” yang ada di benak saya, hidangan serba merah putih ; Puding, jajan pasar, bubur sum-sum, cake, nasi goreng, dan steak. Belum lagi minuman; Ice cream, jus, punch yang semuanya bernuansa kemerdekaan. Bisa ditebak, dua warna ini, dijamin laris di toko bahan makanan. Itu juga kalau pengusaha sadar akan bahaya pewarna makanan, takutnya kalau mereka ingin “merubah biasa, menjadi luar biasa “ alias pakai cat EMCO buat olahan makanannya. Wah bisa bahaya !

Dengan semangat 45, saya pun menghadiri undangan promo ini. Baru datang, saya sudah disambut Puding Merah Putih. Aihh... cantiknya, nikmat juga rasanya. Rasa merah strawberry, dan putihnya rasa Leci.


Masuk ke menu utama. Nasi Goreng Merah Putih. Buang jauh-jauh bayangan Anda, jika warna merah-nya menyala bak obat merah. Merahnya tergolong sopan, karena menggunakan warna dari cabe merah besar dan sedikit kecap. Ada hiasan irisan cabe merah dan irisan mentimun. Mungkin maksudnya merah putih. Ssstt...kalau yang ini, cuma tebakan iseng saya.


Sebagai penutup saya sudah ditunggu dengan Ice Cream Merah Putih , ada hiasan cherry centil di pinggiran gelas. Saya pikir cukup sampai di sini saja dessertnya. Tapi saya salah. Mbak, mau coba punch merah putih ?” tawaran menarik, yang sulit ditampik. Boleh, deh Mbak ” jawab saya cepat.

Dalam hitungan detik, sebuah punch, di gelas berleher tinggi di depan saya. Tampilannya cantik.
Bagaimana rasanya ?

Saya menarik nafas dalam-dalam, lalu pelan-pelan ambil sedotan. Sengaja tidak saya aduk dulu. Sekedar ingin menebak, taste apa yang ada di dalam dua warna tersebut. Amazing, ternyata putihnya bukan susu, leci apalagi santan kelapa. Tapi, dari buah sirsak. Tentunya sudah bebas dari bijinya. Rasanya segar sedikit asam. Kini, giliran menebak rasa merahnya, dan merah menggoda itu bukan dari tomat, strawberry, apalagi darah ayam (alias dedeh, yang kata Guru ngaji saya haram). Warna merah diambil dari semangka tanpa biji. Wuah..segar sekali.


Bukan berarti saya tidak hormat kepada founding father negeri ini, atau tidak punya rasa nasionalisme, jika akhirnya dua warna cantik saya aduk dan mencampurnya dengan gula. Warnanya pun berubah keruh dan tampak buram, seolah menggambarkan kondisi negara kita di usia ke 62 ini.

Saturday, August 04, 2007

Digoyang Bakso Bakar

Foto: Anton

Jika Anda terbiasa menikmati bakso dengan kuahnya. Saatnya melirik variasi lain dari bakso Malang, yaitu bakso bakar. Bulatan daging ini ditata seperti sate, lalu dioles bumbu dan kecap.
Aroma gurih dari bakaran dijamin membuat Anda tak sabar untuk segera menikmatinya. Di Festival Jajanan Bango di Surabaya, tanggal 5 Mei lalu, sebuah stand bakso bakar terlihat ramai dipadati pengunjung.
Stand bernama Bakwan Bromo Bakar, ini membuat penasaran, sehingga mereka rela berdesak-desakan untuk antri membeli. Sebuah alat pemanggang terlihat di depan etalasenya, harum aroma sate bakso ini, benar-benar menggoda. “Saya penasaran, gimana sih rasanya bakso kalau dibakar,” kata Ria


Satu tusuknya terdiri dari tiga buah bakso, atau dua bakso dengan satu potong siomay.
Para pembeli juga harus sabar, sebab memanggangnya relatif lama, dioles bumbu berulang kali, sambil dibolak- balik. “Harus sering dibalik, kalau tidak mau cepat gosong, jelas pria yang memanggang. Api yang digunakan juga tidak terlalu besar. Ketika warnanya berubah kecokelatan, bakso ini siap disantap.
Olesan kecap yang diracik bersama bumbu ini, membuat citarasa bakso menjadi lebih spesial. Seorang pengunjung yang sedang menikmati berkomentar, jika bakso bakar ini sangat lezat. “Ada gosong-gosongnya, bikin rasanya mantap, ujarnya.

Bakso yang selesai ini dibakar, bisa dinikmati bersama kuah, atau dimakan langsung. Enak, soalnya sudah berbumbu,” kata seorang pembeli.
Bakso bakar lain yang juga tampil di acara festival ini, milik Agus Prasetyo. Ia menuturkan, bakso bakarnya diadopsi dari Bakso Bakar Malang. “Saya belajar langsung dari Malang,” jelasnya. Warung yang buka tahun 2005 ini, tidak mengkhususkan diri bakso bakar, sebab tersedia pula bakso ikan, tahu goreng dan siomay.

Note :
Kenikmatan bakso bakar, sebenarnya dari bumbu pencelupnya, bumbu berwarna hitam pekat ini, mengandalkan kecap bercitarasa prima, gula merah dan bawang putih yang sudah dihaluskan. Bumbu ini lalu berpadu dengan bulatan daging sapi yang dibakar. Ah… kalau sudah begini, siapa yang bisa kuat menahan godaan bakso bakar.

Bakso Bakar di Surabaya

Bakso Bakar Malang - Jl Arief Rahmat Hakim (Sebelah SMP Negeri 19)
Bakwan Bromo Bakar - Jl Bendul Merisi 93 A