Friday, July 27, 2007

Sate Ponorogo Memang Tidak Ada Duanya








Gang yang satu ini memang sudah tersohor ke mana-mana, sebab di
Gang Lawu- di Kota Ponorogo ini hampir semua penduduknya berjualan sate ayam. Ada satu nama yang terkenal yaitu Sobikun. Inilah pelopor sate Ponorogo di gang ini. Ketiga anaknya kini yang meneruskan yaitu, Tukri, Selamet dan Nandi.

Sate ayam Ponorogo, rasanya gurih dan manis. Potongan dagingnya besar-besar, dan bebas lemak. Setiap irisan dipotong memanjang, dan inilah yang membedakan sate Ponorogo dengan daerah lain. Tidak cuma menyajikan bagian daging ayam saja, biasanya sate ayam Ponorogo, menyediakan kulit ayam, jeroan, dan telur. Sebelum dibakar, daging ayam ini dibumbui lebih dulu. Dan selama proses pembakaran, sate ayam ini dicelupkan dalam larutan gula merah dan kecap berulang-ulang kali sehingga rasanya meresap.

“Sate ayam Ponorogo bisa langsung disantap, rasanya gurih dan manis. Inilah yang membedakan dengan sate-sate lainnya,” jelas Selamet Sodikun.

Jika disantap bersama bumbu kacang, rasanya jelas tambah nikmat. Karena tidak ingin kehabisan, dan berharap dapat bonus hehehe..saya dan Anton pagi-pagi ke kampung ini. Semua penghuni kampung sibuk, ada yang asik merajang sate, memasukkan daging ayam ke tusukan. Sementara laki-lakinya membakar. Melihat saya yang bengong, Pak Selamet menyuruh saya mencicipi sate yang baru saja diangkat dari bakaran.
“Coba aja Mbak, kalau makan di sini gratis,” ujarnya.

Wah, nggak salah neh saya ditawarin …saya tak kuasa menolak (halah..halah),

“Saya ambil dua tusuk, kulit dan jeroan. Ya ampun,
wenak tenan. Pak Slamet turut tersenyum, ketika saya bilang rasanya mantap. “Coba lagi Mbak ?” tawarnya. Aiih…saya mengangguk cepat. Kali ini sate yang daging saja, dua tusuk. Huaah…dagingnya empuk sekali. Bumbunya meresap sampai di dalam daging, terasa sekali manis dan gurih. Sebenarnya saya berharap sate lagi, tapi apa daya nggak ditawarin lagi. Hehehe…
Saya akhirnya membeli satu besek, beserta lontongnya. Niatnya buat oleh-oleh pulang ke Surabaya, tapi nggak jadi, karena akhirnya saya habisin sendiri ..(Foto oleh : An. Berondong )

Sate Ayam Ponorogo
H. Tukri Sobikun
Jl. Lawu I/43 K
Gang Sate
Ponorogo
Telp. (0352) 482362

Sunday, July 22, 2007

Jago Makan di Femina


Setelah diberi kesempatan tampil di Indosiar dalam acara Bango Citarasa Nusantara, dan menjadi moderator milis Bango. Wah saya tampil di majalah Femina No 30 Edisi 26 Juli- 1 Agustus. (Ini majalah sudah saya kenal pas SD, maklum Embah Putri saya langganan Femina, Embah Kakung langganan Intisari, dan saya koleksi Nina)
Back to topic … *sambil jingkrak-jingkrak
Meskipun profesi saya seorang jurnalis, tapi beda rasanya, ketika saya ganti diwawancarai. (terakhir saya diwawancarai satpam di Goci Mal di bawah pentungan. Gara-garanya, asik mencatat tempat makan yang ngasih diskon hihihi…). Wawancara dengan reporter Femina sangat menyenangkan, karena yang ditanyakan adalah seputar hobi makan, dan soal berburu tempat makan enak.
Judulnya “ Sebagian Gaji Habis Untuk Makan” Wadoh ketahuan kalau saya boros, baik dalam segi duit maupun fisik hehehe.
NB: Oh iya, foto saya yang ndutz, sengaja dikaburin.. biasa-lah takut ada yang pingsan hehehe..

Friday, July 06, 2007

PECEL TERONG MAU DOONG !

Nyari tempat makan di Malang, dengan atmosfir yang berbeda ? Mampir aja ke Inggil lokasinya, di jalan Gajah Mada 4- Malang (Sebelah Timur Balai Kota) Inggil memang menghadirkan atmosfir berbeda dengan rumah makan lainnya, foto-foto malang Tempoe Doloe, terpajang rapi.

Masuk ke ruang tengah bagaik
an dipindah ke mesin waktu di jaman kerajaan. Ada wayang yang usianya 100 tahun, cetakan kayu batik cap yang dibuat tahun 1920. Artefak kuno jaman Majapahit yang berusia 700 tahun. Ada juga sejarah peninggalan benda-benda purbakala di Trowulan, Jawa Timur. Tempat makan yang asri, makin prima dengan suguhkan makanan khas tradisional yang lezat. Satu yang spesial yaitu PECEL TERONG, dalam penyajian tidak hanya terong, tetapi juga disertai tempe dan telur ayam rebus. "Rasanya sedap sekali, karena terasa betul bumbunya yang kaya rempah berpadu dengan santan kelapa. Pecel terong ini disajikan di atas cobek….ah benar-benar eksotik !"

Dan Surprise…aku ketemu MENDOL,. Ya, Mendol, olahan dari tempe diremet, diberi bumbu dan dibentuk bulat. Soal nama Mendol yang kusandang ini, juga ada kaitannya. Jadi Mendol ini makanan favorit embahku. Nah, Mendol buatan embahku ini guedeee –guedee kepelannya, dan sangat padat. Ceritanya, pas aku baru lahir, melihat badanku yang metekel, bulet super padet dan sawo mateng ini. Eyang kakungku keprucut bilang, ”Lho, arek iki kok koyok Mendol !” Dan… semenjak itulah aku dipanggil Mendol. Hihihi…

Sebuah catatan, buat Rey, yang mau ke Malang. Buat Mas Inos orang Ngalam yang belum pernah ke sini, dan buat Mas ini yang sering order pecel terong buatanku .

Sunday, July 01, 2007

Aneh Tapi Nyata

Ketiban PR dari Sandy neh….tentang 6 keanehan diri saya ?

1. Yang pertama..Ehmm..sttt….khusus 17 tahun ke atas
2. Bakso Forever : Hampir tiap hari saya makan bakso(Aneh nggak seh ???)
3. Bebek Forever : Duh gusti, menu yang satu ini tak kuat diri ini berpaling. Tapi untunglah nggak separah seperti bakso, cukup seminggu sekali tak apalah. Bebek goreng renyah, sedep apalagi ada siraman kaldunya. Hmmm.. mantaffff.

4. Duren Mania : Jangan...jangan sungkan, jika ingin menyenangkan hati saya, sediakan duren jenis apa saja maka dengan senang hati, saya akan menghabiskan.

5. Gemuk Terus : Dari kecil sampai sekarang ini, nggak pernah ada sejarahnya saya kurus. Di kelas selalu paling besar, kadang di urutan 2 tau 3. Setiap lomba Agustusan selalu ikutan tarik tambang dan posisinya juru kunci alias paling belakang. Jadi kalau mo dah kalah, tali tambangnya tinggal iket ke badanku…aman deh.

6. Rebonding Terus : Rambut ..! Ya, saya benci rambut. Aslinya bergelombang gitu, tapi susah nyisirnya sehingga sejak duduk di bangku kuliah, diriku selalu rajin rebonding. Nah, masalahnya obat rebonding ini cuman nahan 6 bulan paling lama, padahal sekali rebonding menghabiskan waktu sampai 5 jam buat ngelurusinnya. Kebayang khan gimana pegelnya.
Capek rebonding, saya pernah nekat motong rambut ala Kowal, pendek banget. Ngga nyangka gara-gara rambut cepak ini, teman saya Si Munib langsung masuk rumah sakit 3 hari gara-gara nggak bisa berhenti ketawa. (Ini benar-benar terjadi kalau tidak percaya konfirmasi saja ke Mas ini dan Bos-ku ini ). Mulai sejak itu, kalau mau potong rambut harus ijin temen-temen sekantor dulu…biar ngga pingsan katanya. Aneh khan...


Oh iya, sebenarnya mau cerita acara makan-makan pas kopdaran sama si Fahmi, Syahwinda, Anton, Sugeng, dan Mbak Dena. Tapi Fahmi ama Mbak Dena, sudah menceritakan detail. Lengkap dengan foto-fotonya. Tapi, buat yang penasaran ama dengkul saya bisa liat di blog ini .