Friday, December 22, 2006

Kampung Jajan

Sebuah features tentang kampung jajan

Saat kebanyakan orang tengah bersiap-siap bergelung di bawah kehangatan selimut. Warga sebuah gang kecil di Keputran Panjungan gang 33 no 66, malah menjadikan malam hari sebagai waktunya mengais nafkah.

Gang kecil yang tak pernah tidur di malam hari, selalu ramai dengan suara-suara bocah kecil berlarian. Inilah sebuah kampung di di tengah kota Surabaya. Sebuah kampung di mana, kaum perempuan membuat jajan pasar, dan kaum laki-laki bekerja sebagai kuli bangunan, buruh pabrik, tukang parkir dan tukang becak.

Keluarga Lepet
Tidak ada yang menjelaskan mulai kapan warga Keputran Panjungan memiliki profesi sebagai pembuat jajan pasar. Seperti cerita keluarga ini, hampir lima belas tahun Bu Umi, bersama suami dan empat orang anaknya melakoni malam dengan berkutat di depan sebuah baskom besar berisi beras ketan, kacang merah dan parutan kelapa. Tangan-tangan mungil anaknya kebagian tugas memasukkan campuran beras ketan ke dalam janur.
Sang suami sibuk memisahan daun janur dari batang lidinya.

Sesekali, wanita ini beranjak dari duduknya, mengambil janur yang telah terisi beras ketan lalu memasukkannya ke dalam panci. Wuss…, uap panas lalu menyembur keluar begitu tutup panci dibuka. Tinggal menunggu lima jam sampai akhirnya lepet itu matang.Rumah kecil ini terasa begitu pengap dan panas karena harus berbagi dengan lima kompor minyak tanah untuk mengukus lepet.

Mendadar Gulung
Kaum perempuan pembuat jajan pasar pasrah dengan nasib yang menggiring mereka bekerja larut malam hingga dini hari. Sepeti nasib Jumaa’ti membuat dadar gulung. Ibu satu anak ini duduk di lorong gang, duduk di atas dingklik, sebelah kanannya baskom besar berisi adonan dadar gulung.
Di depannya dua kompor menyala dengan api sedang, sambil menuang adonan ke wajan teflon mata wanita ini sesekali membagi perhatian ke layar televisi. Adonan yang telah digoreng lalu ditelungkupkan ke dalam piring ceper, kemudian diisi parutan kelapa yang telah diberi gula.Lalu di gulung.
Dalam semalam Ia meyelesaikan sekitar 600 buah dadar gulung. Dadar gulung ini dijual perbuah Rp 250 sampai di pasar harga jualnya menjadi Rp 300. “Untungnya paling banyak dua puluh lima ribu,” kata Jumaa’ti. Keuntungan yang tidak seberapa ini, diakui ibu satu anak tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi sang suami hanya bekerja sebagai tukang parkir di Gramedia.

Hidup dari hari ke hari bertambah berat, minyak tanah langka dan harga-harga terus merangkak membuat beban kian saat dirasakan ibu-ibu pembuat jajan pasar ini. “Saya bekerja pagi, siang dan malam. Mulai subuh berangkat ke pasar, setelah itu menyiapkan adonan. Siang hari, membuat apem, dan perut ayam. Malam hari menggoreng cucur. Saya bekerja terus, tapi kebutuhan tetap saja tidak mencukupi,” keluh Jumaa’ti. Keluhan demi keluhan, yang lebih mirip keputusasaan itu kemudian mengalir, mempersalahkan si pembuat kebijakan atas melambungnya harga-harga sekarang ini. “Mbak titip pesan kalau bisa harga-harga jangan naik, yang menderita orang kecil kayak kita ini,” ucap pilu seorang ibu.

Foto dibingkai cantik oleh Muk's






Thursday, December 14, 2006

Pesugihan Lupis Gunung Kawi

Iya, kalau mau nyari pesugihan ke Gunung Kawi aja !”
Huhh…selalu saja berasumsi seperti itu. Padahal siapa sih yang nyari pesugihan ? Aku khan datang niatnya mo liputan makanan ! Eh… tapi kalau dikutuk jadi sugih ya nggak bakal nolak seh… tul nggak ?

Wisata ziarah ! Itulah kata yang tepat menggambarkan mengapa orang berbondong-bondong ke Gunung Kawi. Gunung Kawi yang tingginya 2.860 m dari permukaan laut terletak di Kabupaten Malang - Jawa Timur, Yang didatangi orang adalah sebuah kompleks pemakaman keramat yang berada di lereng selatan gunung ini. Alih-alih mo wisata ziarah, saya dan juru jepret Anton malah wisata kuliner.

Setelah menempuh perjalanan mendaki sepanjang 3 kilometer sampailah kita pusat kegiatan di gunung ini.
Meski istilahnya naik gunung, jangan bayangkan kalau saya mendaki-nya susah pakai acara panjat –panjatan, dan ber-helm gunung. Wah… jauh deh !
Lha jalannya aja sudah di semen halus, sepeda motor pun bisa lewat. Dan di kanan-kiri perjalanan nggak ada semak atau pohon besar menyeramkan. Yang ada malah warung makan, penjual souvenir, losmen, penjual buah dan gorengan…cihuiiii !

Lupis
Di kaki Gunung Kawi ini, jika hari libur dan hari besar banyak sekali penjual goreng-gorengan. Ada tahu, tempe kacang, tempe menjes, ubi, dan masih banyak lagi.
Adapula jajanan tradisional yang sudah dikenal secara umum, seperti lupis dan tetel. Keduanya menggunakan bahan dasar beras ketan.
Rasa lupisnya kenyal, pedagang lupisnya juga menjamin, lupisnya tidak basi meski sudah dua hari. Rasanya lebih kenyal, karena bahan yang digunakan beras ketan yang punel. Jika ingin disantap di tempat maka, dengan sigap, ia mengiris lupis menggunakan senar, ditata di atas pincuk daun pisang, diberi gendis atau larutan gula jawa, lalu diberi parutan kelapa.


Telo Gunung Kawi


Hasil bumi yang satu ini, sangat mudah dijumpai sepanjang perjalanan menuju ke pesarehan.
Selain dijual mentah, telo Gunung Kawi juga dijajakan dalam keadaan matang.Telo yang telah dikukus, diletakkan dalam wadah baskom dan ditutup dengan daun pisang.
Ketika menawarkan ke pengunjung, biasanya penjaja membuka sedikit daun pisang, sehingga tampak kepulan asap dari telo hangat tersebut.
Untuk menjaga tetap mengepul, penjaja biasa membungkus rapat-rapat baskom dengan tumpukkan daun pisang. Kulit telo terlihat segar mengkilap, menggoda mata untuk mencicipi.

Telo Gunung Kawi, memang terkenal manis rasanya, warna daging dalamnya berwarna kehijauan.. Jika Anda membeli telo matang seharga seribu rupiah, Anda akan menikmati tiga potong telo hangat.

NB : Sebenarnya banyak cerita mistik tentang Gunung Kawi ini tapi berhubung di blognya tukang makan. Maka cerita itu nanti diposting sendiri. (Judulnya : Dunia lainnya…Si Jagomakan..hi..hi).


Sunday, December 10, 2006

Ronde Anget Bikin Kemringet

Dingin ? Duh… Paling pas kalau ada yang hangat-hangat. Gimana kalau coba ronde saja ? Ini minuman tradisional yang berkhasiat bikin seger buger kinyis-kinyis.
Ahh… Benar-benar mengoda. Ssstt….Mestinya Yahya Zaini “dihangatin” ini aja daripada Maria Eva. He..he.he.


Yah, inilah teman halal di malam hari. Tidak berlebihan sebab ronde (bukan rondo lho!) berfungsi menghangatkan dan menyegarkan tubuh. Ronde merupakan adonan dari tepung ketan yang diuleni dengan diberi air panas sedikit demi sedikit hingga adonan bisa dibentuk bulat-bulat seperti biji kelereng. Agar lebih menarik biasanya diberi pewarna. Bulatan-bulatan ketan kemudian dimasak di atas air mendidih sampai mengapung ini pertanda sudah matang. Untuk membuat kuah jahe, dengan merebus air dengan gula. Untuk penyajian hidangkan air jahe dalam mangkuk bersama beberapa bulatan ronde, kolang-kaling dan taburi dengan kacang goreng.


Ronde Made in Jember.
Untuk satu porsi, berisi lima bulatan ronde, irisan kelapa muda kemudian kacang goreng lalu diberi rebusan air jahe. Jumlah ronde tersebut sudah paten, sebab jika lebih terlalu banyak malah membuat perut kenyang. Kacang gorengnya sewaktu digoreng tidak menggunakan minyak tapi cukup disangrai.

Ondomohen – Surabaya
Ronde tanpa Ronde

Minuman hangat yang disebut ronde, karena ada bulatan-bulatan putih yang berisi kacang namun justru di warung ini tidak ada ronde yang dimaksud. Isiannya hanya kolang kaling merah utuh, kacang goreng, kelapa muda disajikan bersama kuah jahe hangat. Ditanya mengenai bulatan sebesar kelereng yang disebut ronde, penjualnya menjelaskan bahwa rondenya khas Surabaya, dan isian ronde sejak dulu hanya itu saja. “Dari pertama kali jualan memang tidak ada rondenya,” jelasnya. Meski tidak ada bulatan berisi kacang, rondenya tetap enak disantap. Satu porsi ronde disajikan di mangkok dengan kuah jahe hangat yang masih mengebul. Sang penjual percaya, yang bikin hangat itu air jahe-nya bukan rondenya.

Ronde khas Jogya
Satu porsi ronde hangat, isiannya berupa kolang-kaling yang dipotong tipis, tiga bulatan ronde dan kacang goreng. kuah jahe yang segar dan pedas karena menggunakan jahe jenis emprit yang berukuran kecil, sedangkan jahe kebo atau jahe yang berukuran lebih besar kurang mengigit pedasnya.


Sunday, November 05, 2006

Lika Liku Jago Makan

Ket : (-) Jago Makan (+) Lawan Bicara

Sesama Temen Liputan
+ Mbak, wartawan juga ya ?
- Iya
+ Baru ya ?
- Ah, nggak
+ Kok, jarang ketemu di lapangan sich ?
- Ooo… Saya megang rubrik kuliner
+ Ooo… Pantes ! (Sambil melirik diriku yang lemu ginuk-ginuk)

Di kantor
- Sorry, telat dateng Bos
+ Hmm…
- Soalnya lagi iseng praktek bikin kue nih.
+ Wah, ngowo opo ?
- Hari ini praktek bikin martabak manis.
( Lalu, seperti biasa, aku beredar, searah jam pasir. Pertama ke meja dua tukang lay-out, dua fotografer, dua editor, satu editor cewek yang selalu minta lebih dari satu, dan berakhir di meja bos).
- Waduh ...bos, sorry tinggal yang gosong. He..he..he


Ketemu Klien
+ Mbak, datang ya aku promosi menu baru nih. Harus datang lho, awas
kalau nggak (Nada mengancam, tapi nggak jelas konsekuensinya apa kalau nekat nggak datang )
- Promo menu apa ? (Sambil senyum genit mentralisir keadaan, dengan pembicaraan yang mulai sarat kepentingan).
+ Ada peking Duck, nasi ayam hainan, Appetizer-nya, lumpia sayur ala
Szechuan, cumi-cumi renyah saos manis pedas ala Thailand. Cobain juga menu seafoodnya, ada abalone, sea cucumber. Eh ..sup-nya juga enak banget.
+ Mbak harus nyobain semua lho !
…. *#$&$###* (Gremeng dalam hati) "Gagal lagi niat mo diet "


Wednesday, October 18, 2006

Kacang Goreng Lorjuk..Dahsyat Men


Sebelum daku mudik ke Malang nih, mo posting satu cemilan yang lainnya plus fotonya Mamuk

Kalau ada kacang goreng ayam ala Masako, ada satu resep kacang yang ngga kalah dahsyat, yaitu KACANG GORENG LORJUK.
L
orjuk sejenis kerang yang biasa hidup di pantai pasir ini, biasanya kalau digoreng berwarna kecoklatan, rasanya gurih campur manis.Inilah salah satu makanan khas madura yang menjadi idola banyak orang. Menjelang hari Raya, lorjuk menjadi incaran ibu-ibu rumah tangga untuk disajikan sebagai hidangan. Lorjuk sangat disukai karena tidak saja rasanya gurih dan enak tetapi gizinya juga tinggi.

Selain digoreng lorjuk juga bisa di masak dengan aneka menu, bisa dibuat sambal goreng atau bothok. Lorjuk siap saji dijual dengan harga Rp 50 –Rp. 70 ribu. Lorjuk asli Madura bentuknya lebih kecil dibandingkan lorjuk dari Kenjeran. Lorjuk asal Madura sering dicari konsumen karena lebih gurih.

Bahan Kacang Goreng Lorjuk khas Madura.
-Lorjuk kering (siap beli), di Pasar Genteng, kalau mo murah lagi ya ke Kenjeran.
style="COLOR: rgb(153,0,0)">- Bawang putih iris tipis secukupnya. (Banyak sih tambah mantap)
Caranya : Kacang tanah goreng garing. Bawang putih goreng garing juga. Lalu di opyok bersama dengan lorjuk. Sederhana banget sih, tapi rasanya dahyattttt Men….. .


Wednesday, October 11, 2006

Empuknya Pohong Keju



Makanan yang satu ini, memang tidak sesuai kenyataan, lebih populer dengan sebutan POHONG KEJU, tapi begitu melihat tidak ada kejunya. Maksud keju di sini, kata penjualnya, bukan parutan dari produk susu olahan tersebut, tapi menggambarkan bagaimana empuk dan gurihnya singkong ini serasa seperti keju.
Rahasia membuatnya empuk dan gurih, yaitu diungkep dalam waktu lama bersama bumbunya, sehingga rasa asinnya meresap sampai ke dalam. Setelah diungkep lalu digoreng, karena empuknya, pohong ini merekah begitu digoreng. Begitu dimakan pohong langsung terasa kepyurrr...... di mulut.
Selain pohong keju, adapula pohong pedas, lagi-lagi kenyataanya agak meleset dari perkiraan, karena bukan pohong yang diungkep dengan bumbu pedas, tapi pohong goreng biasa disajikan bersama sambal sachet. Rasa sih biasa, namun cukup kreatif, dan patut dicoba bagi yang ingin variasi lain dari pohong goreng biasa.

Monday, October 02, 2006

Minuman Mak GRENG !!


Duh panasnya ? Giliran tiba buka puasa, paling sip, menikmati yang segar-segar. Gara- gara Dena jadi inget resep di Radio GIGA -spesial dari Hanata Catering dan untungnya lagi, ada fotonya Mamuk. Minuman satu ini bukan sembarangan. Karena, rasanya nggak hanya seger, tapi juga bikin GRENG !. Wow...!
Yaitu Selasih Siap Action. Apa sih istimewanya ? Bahannya memang sederhana tapi menggunakan campuran minuman ber-energi, bisa Hemaviton, Kratingdeng, atau Extra Joss. Wis tah, Monggo dicobi.
Bahan : Sirup Merah 2 sendok teh, Selasih (Biji kemangi ) secukupnya, Hemaviton 2 sachet, es Batu.
Caranya : Siapkan gelas berleher tinggi, masukkan dua sendok syrup merah. Tempat terpisah, siapkan dua sachet Hemaviton aduk dengan air matang. Lalu, masukkan ke dalam gelas, beri es lalu selasih.

Nb: Jika tahapan ini diikuti, maka tampak gradasi warna yang cantik di gelas, jangan diaduk deh, diliat aja ya. Rasanya, kecut, seger asliii bikin merem melek !

Tuesday, September 19, 2006

Di Sini Ada (Rawon) Setan









Menanggapi email Mamuk soal, Mana yang rawon setan beneran ? Ok, deh. Rawon Embong Malang sudah ada sejak 1953. Dirintis pertama kali oleh Musiyah. Sekarang ada dua orang pengelola rawon setan. Yaitu Bu Mulyadi (Bu Sup) dan Mbak Endang. Musyiah ini adalah nenek dari Mbak Endang, dan Bu Mul adalah mantunya. (dadi tasih sedulur ). Sejarah rawon Embong Malang, ternyata sudah ada sebelum dibangun hotel Marriott yang letaknya bersebrangan. Trus kenapa disebut Rawon Setan ? Jangan-jangan setannya itu yang bikin laris ? Ternyata bukan itu lho !. Sebelum berstatus setan, nih rawon malah dijuluki rawon Hostes !
“Jaman nenek, yang beli adalah pengunjung kafe dan bar-bar yang banyak bertebaran di daerah ini," jelas Endang. Kini julukannya berbeda karena bukan tengah malam maka orang menyebut rawon setan
.
Padahal si Anton moto-in rawonnya juga tengah malam, jadi he..he masa sama seh ?
Yang lagi seru nih, dua sedulur ini ternyata berseteru, dan membuka sendiri rawon setan versinya masing-masing. Mbak Endang, setahuku ada, di Jalan HR Mohhamad dan Genteng Kali, kalau Bu Mul buka di Jemursari ( pas pembukaan sebenarnya diundang sih, tapi sayang nggak bisa datang). Mereka jelas berdua jelas-jelas perang terbuka lho, di spanduknya aja tertulis “RAWON SETAN ASLI , RAWON SETAN TIDAK BUKA CABANG dll….
Jadi, Anda pilih setan (rawon ) yang mana ?


Monday, September 18, 2006

Hidangan Negeri Aladin dari Chef Amjad


Mo… puasa khan ? Nah, bertepatan dengan itu Shangri-La Surabaya punya event khusus yaitu promosi hidangan Timur Tengah dengan menghadirkan Chef Amjad (yang cakep banget), asal Jordania dan ditemani Mbak Patricia PR gress..Shangri-La.

Puding Aroma Mawar
Layaknya masakan dari Timur Tengah, maka daging sapi dan kambing pun tersedia lengkap pada setiap menu. Dan hidangan ayam pun ada. Rasa yang paling mendominasi pada masakannya adalah mint, bawang putih dan jeruk nipis. Makanan utama Libanon didominasi oleh roti bernama pitta bread seperti chappati di India.
Amjad yang mempunyai mata indah, dalam kesempatan ini dengan piawai menampilkan aneka Salad, Tabbouleh, Hummous, Chicken Shawarma, Ami Psito – Roast Lamb, Beef Kofta Shish Kebab, Dijaj ala Timman – Roasted Stuffed Chicken..


Appetizer menggunakan minyak zaitun, seperti Tabula, berwarna hijau segar, karena menggunakan daun paterseli yang dirajang kecil-kecil, ditambah potongan, bawang , tomat, burgul, daun mint,dan air jeruk. “Untuk jenis cool appetizer paling cocok dinikmati dengan pitta bread,” sarannya.Menu unik lainnya yaitu, Muntabel, berbahan dasar terong yang dibakar, dicampur dengan seledri, yoghurt, dan lemon juice. Benar-benar unik, karena ketika dicampur selai wijen, warnanya berubah menjadi putih.



Ini Lho Um Ali



Sebagai hidangan penutup ada Um Ali, semacam puding dari roti susu dan kismis yang dipanggang ada puding susu, yang diberi sari dari bunga mawar. Rasa dan aroma wanginya tercium kuat. Soal nama Um Ali, ternyata mengisahkan perjuangan seorang Ibu, yang harus menghidupi anak-anaknya setelah suaminya meningal, akhirnya dia membuat puding ini dan dijual di pinggir jalan. Nah, kebiasaan orang Timur Tengah selalu memangil nama ibu berdasar nama anak pertamanya, dan si Ali adalah nama anak mbarepnya, jadilah Um Ali ( artinya pudingnya ibunya Ali ).

Nb : Untunglah nama anaknya Ali, lha kalau Johny, khan jadinya Oom Jhony (wihhh gombal banget…)

Thursday, September 14, 2006

Rengginang ku Suka


Makanan tradisional satu ini, cenderung dianggap makanan kelas kampung dan sudah cukup terdesak oleh berbagai makanan modern. Tapi, rengginang masih mendapat tempat di hati masyarakat. (Apalagi neh, di kantorku kalau liat rengginang wuahhh …, dalam sekian detik langsung ludesss..bahkan remahan aja nggak tersisa lho !) Bentuk, rasa, serta aroma yang unik dan khas dari kerupuk ketan ini enak untuk dinikmati.

Nah, pas jalan-jalan ke Madura sama si Mamuk (tuh, makanya fotoku apik tenan). Lagi-lagi aku liat rengginang, tapi bentuknya lebih cantik warna hijau ama kuning. Rasa rengginangnya juga “nendang” bangettt…soalnya, ada campuran lorjuknya. Pas iseng-iseng, aku praktekin buat rengginang, wow..renyah banget, ngga kalah ama made in Madura, kunci-nya, asal dijemurnya lama. Lha, nggak percaya .. ya monggo kalau mo pesen, he..he…

NB : Believe or not, tiap lebaran biar ada kue nastar ama kastengel… tapi namanya rengginang di toples selalu duluan habis… iya tokh ? Kriukk..kriukk

Thursday, September 07, 2006

Bakso Malang Paling TOP

Nggak cuman pentol aja lho ! Ada Kikil, paru, usus, tahu, gorengan dan siomay mantappp tenan untuk disantap. Mak ... clemm.

Bakso Stasiun Dulmanan :
Gorengan Rebung Muda
Singgah di stasiun kota Malang, rugi rasanya jika tidak singgah ke bakso stasiun yang terletak hanya 100 meter dari stasiun kereta api di jalan Trunojoyo. Berdiri sejak 1960 tidak heran bakso ini menjadi sasaran bagi penggemar bakso. Lokasinya yang strategis dekat stasiun membuat warung bakso ini tidak pernah sepi pembeli terutama masyarakat pengguna kereta api yang turun di stasiun kota.
Keistimewaan bakso stasiun dibanding bakso lainnya, penjualnya langung menunjukkan gorengan, dinilai istimewa karena di dalam diisi rebung
.


Bakso President
“Sedia Kikil, Tulang muda”
Lokasinya ‘nyempil’ dibelakang Mitra II, dengan sedikit berjalan melalui gang kecil tepat dipojokkan jalan tampak depot bakso president. Pemiliknya adalah H, Abdul Goni (47), memulai usaha tahun 1983, dari berjualan keliling. Yang membuat beda bakso ini dari jenis yang ditawarkan, mulai bakso udang, rempelo, urat, paru kikil, bakso tim, tahu siomay basah dan kering, gorengan kembang dan bunder sampai tulang muda. Harga bakso spesial satu porsinya Rp. 11.500.

Bakso Bakar Pak Man
“Gara-gara Kecemplung Anglo”
Bakso Malang yang tidak kalah terkenal adalah bakso bakar Pak Man. Pertama kali berjualan tepatnya di jalan Comboran tahun 1965, lalu membuka cabang tepat disebelah radio Mas FM, sejak 2002. Cara penyajian bakso satu ini cukup unik, jika biasanya bakso bisa langsung dimakan, tapi tidak untuk bakso bakar Pak Man sebab harus dibakar dulu.
Ide membakar bakso ini kata Rudi awalnya tidak sengaja, suatu hari ketika hendak selesai berjualan seperti biasa anglo atau alat pemanas berisi arang ini hendak dibuang, namun tiba-tiba tercium bau yang gurih dan harum , setelah dicari asal muasal bau tersebut ternyata adalah bakso yang tercebur di dalam anglo. Bukannya dibuang, iseng- iseng pak Man malah menambahkan kecap di bakso tersebut. Tak diyana dari keisengan tadi malah justru menjadi ciri khasnya selama ini dan mendorong Pak Man mulai mengenalkan bakso bakar ini.

Bakso Kota Cak Man
“Kegedean ? Digunting Dulu”
Coba tengok etalase kaca, bakso kota Cak Man. Ternyata makan bakso tidak hanya pentol saja tapi jenis lain yang menemani banyak macamnya. Gorengannya saja ada tiga jenis, bentuknya panjang, mekar dan bulat. Ditambah jeroannya, ada usus, rempelo, ati, limpa, paru. Ada pula siomay, tahu bakso kasar dan halus. Untuk penyajiannya jika Anda memesan satu porsi lengkap maka pegawainya terlebih dulu memotong gorengan, jeroan, kikil menggunakan gunting menjadi empat bagian.

Bakso Malang di sini Tempatnya :
Bakso Bakar Pak Man : Jl Dr. Cipto 18 Sebelah Radio Mas FM
Bakso Kota : Jl Letjen S. Parman No. 77
Bakso Stasiun : Jl Trunojoyo ( Stasiun Kereta Api)
Bakso President : JL Letjen Sutoyo 32-34
Belakang Mitra II dept
Bakso Duro : Jl Raya Kepanjen
Bakso Solo : Jl Sawahan sebelah Pom Bensin Kasin

NB : Coba perhatiin serius, nggak di Surabaya nggak di Malang, kenapa seh tukang bakso selalu pake nama PAK MAN ? Emanggg kawinnya ama Bu Man....Da !!Hhueueeue !!!!.

Thursday, August 03, 2006

Ngincipi Sari Apel Yuk !.


Hai…, kali ini Si JM mengadakan perjalanan di luar kota Surabaya, soalnya si JM, mo mendatangi langsung gudangnya Apel yaitu kota Batu- Malang. Saking sukanya minum Sari Apel, si Jaem bener-bener penasaran gimana buatnya, ternyata keinginan itu terlaksana juga, karena Indah Maretnowati manajer Agro Industri dan Pak Gudo Ribowo, asisten marketing manager Agro Industri, dengan superrr..ramah menyambut dan menjamu JM dan

Mendatangi kandang Kusuma Agrowisata asliii bikin mata dan badan jadi betah, Seneng banget di sini, bisa melihat kawasan agrowisata seluas sekitar 25 hektar yang terdiri atas perkebunan apel, jeruk, stroberi, sayur-sayuran dan Ademmm lagi !
Sebenarnya, “Ngga sembarangan orang, boleh melihat proses pembuatan Sari Apel,…!” Kata Owner-nya. He..he..he, tapi JM memang luar biasa, soalnya malah bisa masuk lelauasa, mungkin ngga tega lihat tampang JM yang aslii kelaperan ( maksudnya kelaparan informasi gitu …! Lagian ada istilah haus informasi, jadi wajar dong kalau ada lapar informasi, tullll khan …! )




Sari apel merupakan produk primadona Agroindustri. Sari apel yang mulai diproduksi tahun 2000 dengan skala home industry mendapat sambutan yang sangat baik dari konsumen. Peralatannya juga sudah modern. Di lokasi ini wisatawan juga dapat menyaksikan langsung produksi sari buah apel. Mulai proses pemilahan buah, pencucian, pemprosesan sampai pengepakan. “Ini menunjukkan kalau kami benar-benar menggunakan bahan baku apel segar,” kata Mbak Indah Maretnowati yang milih dipanggil dengan nama Retno.

Proses produksi dilakukan setiap hari mulai pukul enam pagi hingga pukul empat sore. Sekali produksi mampu menghasilkan 2000 dus sari buah, dan siap dilempar ke pasaran.Foto By : An Kusnanto. ( Thank You so much Mrs Retno & Mr Gudo ..…)


Thursday, July 27, 2006

Makan Kerang Mentah (Oyster)



Reputasi negara Perancis sebagai "dewa-nya" kuliner, bukan isapan jempol saja, beruntung aku bisa mencicipi kreasi chef kelas dunia di Sheraton Hotel dengan hidangan yang super... mahal ! Yaitu si Oyster.

Hmm..., sekedar mengingat-ingat pernah ngga ngeliat episode, Mr. Bean, ngambil berbagai hidangan, karena ngga mau kalah sama orang lain, yang akhirnya malah muntah-muntah, karena ternyata setelah dikonfirmasi ke Chef-nya ternyata, barangnya dah busuk (adegannya, si chef mencium nampan isi oyster, dan tangannya dikibaskan ke hidung). Nah, intinya oyster yang disajikan harus bener-bener fresh, ini yang membuat hidangan ini istimewa dan tentunya mahal, karena masih diimport.

Meski sama-sama bercangkang dan berjenis kerang, tapi berbeda dengan kerang umumnya, dagingnya "bener-bener beda", tipis dan lembuttt banget. Dan, dalam penyajiannya, oyster hanya disajikan di atas es batu, dan disajikan mentah.
Pas acara makan, agak sedikit ragu-ragu juga... wajar dong, khan masih hidup ! Pas mau makan oyster, chef-nya bilang kalau paling sip tambah jeruk,merica atau tobascho. Antara mau dan doyan, akhirnya sampai juga ke mulutku, yemm...yemmm (dijamin ngilerrr deh ). "Rasanya mak klenyerr..." Oyster memang menu istimewa, tapi untuk ukuran si jago makan neh, menu ini sama sekali ngga mengenyangkan apalagi harganya Rp 180 ribu untuk lima cangkang-nya !.Foto by : An. Kusnanto