Friday, April 27, 2018

Susahnya Bilang BASI


Diundang untuk icip-icip kadang punya risiko loh. Suatu hari saya diundang pemilik sebuah kedai makan. Sudah bertahan setahun, namun usahanya hanya jalan di tempat. Tempatnya luas, nyaman, kami pun asyik ngobrol. Kemudian keluarlah makanan  (ngga saya sebut jenis makanannya, soalnya kalau kesebut ntar ketahuan orangnya). Pokoknya sejenis cemilan tradisional. Dan, Si teman ini berinovasi dengan memberi isian keju. 

Mungkin, karena tempatnya sepi, makanan ini kelamaan di kulkas, lalu disuguhkan ke saya. Pas nyium aromanya saja sudah basin, tapi demi menghormati Si Pemiliknya, saya tetap makan. Tapi sayangnya nih makanan ngga mau kerjasama. Si Otak bilang .."udah telen aja" ... namun mulut berkendak lain, cuman sampai tahapan ..'kemuh' tak surung ke tenggorokan aja ngga mau! Duh. 

Bingung! Mau nelen ngga bisa. Kepalaku glinyeng. Akhirnya saya pura pura batuk, lalu pueeeh..saya lepeh. Saya kekep di tangan. Legooo rasane. Saya sedih sebenarnya, saya ngga bisa jujur saat itu, ngga tega. Masa bilang, "makananmu ngga enak, puehhh. pengen muntah!" Sadisss itu namanya. 

Sementara, dia mengaku sedang mati-matian mencoba bertahan. Well, saya akhirnya mengerti kenapa tempatnya sepi, karena quality control produknya lemah. Makanan terlalu lama disimpen, dengan isian keju terlalu berisiko. Basi! Pas dia nanya ke saya gimana makanannya. Saya bilang, "nanti aku WA ya, detail, kurangnya dimana!" janji saya. 

Pas giliran pulang, saya mati-matian memaksa untuk membayar, minuman dan cemilan. Biar dia menolak sekuat tenaga, saya lebih kuat lagi memaksa. Sungguh, gratisan memang enak, tapi lihat kondisi dulu, kalau kedainya sepi njempimping, sementara dia harus bayar sewa dan pegawai tiap bulannya. Masa saya tega, ngga bayar! Akhirnya karena kalah fisik ...hadeww.. dia pun mengalah. Saya berharap saran saya by WA  bisa di terima, Will See!

No comments:

Post a Comment