Tuesday, December 02, 2014

Burger !Bigger is Better



Tahukan kalau burger yang goceng itu… sekali bite dah habis. Nah sekarang saya dihadapkan burger yang gede, dan gedenya ngga kopong. Tapi bener-bener full, bun-nya empyuk, dagingnya  tuebeel. Urusan dengan burger yang satu ini ternyata ngga cukup one, or two bite!  Because Its big giant juicy burger 
 


Ini dia, Carl’s Jr, Burger premium burger asal Amerika. Seneng dong, saya diundang di acara pembukaan gerai baru mereka di Surabaya, tepatnya di Kertajaya. Tempatnya keren, modern. Di lantai dua, lebih lapang lagi, karena ada permainan untuk anak-anak, ada meja yang dilengkapi computer, sipp…bisa internetan puas. 



Tidak seperti restoran burger lainya, Carl’s Jr. baru menyiapkan burger setelah menerima pesanan dari pelanggan alias made-to- order burger, jadinya pas burger di tangan kita dalam kondisi , hangat, segar, dan lezat. Selain itu  mereka menggunakan metode spesial “charbroiled grill”, yaitu teknik memasak burger dengan memanggang kedua sisi daging burger secara bersamaan, menggunakan api atas dan bawah, sehingga menghasilkan panggangan yang sempurna dan juicy. Hmm….mbayangin wis ngiler. 



Saya sih ngga nyoba banyak, satu potong sudah puas bangets. Yang saya inget sih, saya makan yang ada teriyakinya gitu. Hmm.. weenak pollll. Dagingnya gedee, dan asli daging, ngga ada tuh yang namanya ngendal ngendal tepung atau campuran daging lain. Setiap layernya menghadirkan sensasi beda di mulut, mulai dari rotinya, sayurnya yang segar, potongan bombaynya dan dressingnya.  It's Like A Party In My Mouth!


Selain itu, ada juga Western BeefBac Cheeseburger, yaitu juicy beef burger yang berpadu dengan kelezatan irisan beef bac, keju dan bawang bombay goreng renyah. Atau cobain juga  Portobello Mushroom yang merupakan kombinasi lezat beef burger dengan jamur portobello dan keju. Sebenarnya masih banyak lagi jenis burgernya, sambil nyatet yang belum dicicipi….hihihi!

Saya suka sekali sama French fries nya, kalau biasanya kentangnya langsing-langsing, eh di sini montok, dan masih ada rasa real dari kentangnya karena ada sisa kulit kentangnya yang masih nempel. Jadi ngga kayak kentang goreng lain yang sepah sehingga harus banyak-banyak ditaburi garam.

Tidak melulu burger yang gitu-gitu aja, untuk menu sarapan ,ada Breakfast Burger, Sunrise Croissant Egg and Cheese, Hash Brown, Italian Premium Coffee, Premium Quality Tea. Huaaah….luengkap bangets!
Carl’s Jr tempat pas buat nongkrong dan bebas rasa khawatir soalnya karena dilengkapi sertifikat halal, satu lagi yang bikin happy…di sini  free refill drinks. Huaahhh….. puasss  mengisi ulang  minuman mulai  seperti ice tea, lemon tea dan soft drinks.  Cucok dah  buat saya yang tergolong suka nglonggong …hihiih.. dasar sapi sonok!Senangnya pas pembukaan, ketemuan sama pasangan serasi si Fahmi ama si Vicky,  ditambah si dion, kenalan juga sama si cantik laura angel dan albert.

Monday, November 17, 2014

Onde -Mendol

Kenapa kota Mojokerto identik dengan Onde –Onde Bo Liem Jr. Hmm.. ngelus ngelus weteng.



Ternyata saya pernah berkunjung ke tempat penjual onde-onde legendaris di Mojokerto. Sudah lama sih..tapi gpp, masih berkesan sekali. Awalnya, saya  mbatin, Onde-onde iku lak gitu aja, isiannya kacang ijo, trus luarnya ditaburi wijen. Trus opo bedane?


 Soal onde-onde saya punya memori, jadi ingat mbahkung saya yang mbois itu. Dulu jaman saya masih SD. Mbahkung saya masih seger bugar dan sering mengunjungi saya. Dari Malang ke Surabaya naik bis. Kalau naik bis, harus bis Tentrem! Lain itu katanya, “mending ngga budal, timbang atiku ngga tentrem”. Duuh..mbah..mbah, masio jenenge Tentrem lek nyetir, yo banter…hadehhh!

Hmm..bukan bermaksud jelek-jelekin mbah yaaa.. tapi mbahkung ini sangat perhitungan, hmm, kalau dalam bahasa halusnya medit… upsst! Lah gimeno, tuh adik saya dua, tapi bawa onde-ondenya cuman satu. Ini yang sering membawa perpecahan antar saudara. Adik saya pada ngalah semua, daripada tak piting siji-siji, wani ngalah ae...  

                           sekali- sekali narsis gpp yaa.
 
Mbahkung juga klop, yang dicariin pasti putune sing lemu dewe. “Ndol..sini tak bawain onde-onde!” wuih senengnya. Soalnya onde-onde yang dibawa mbahkung itu pasti masih anget. Dulu, saya pikir panasnya karena baru diangkat dari wajan, eh ngeletek. Mbakung bilang, “Ndol onde-onde sik panas kenek srengege!”  *jiahh..raupp wijen.

Onde-onde versi mbahkung belinya di Bungurasih. Guedeee, tapi isine kopong. Beda bangets sama onde-onde Bo Liem, isiannya banyak  dan tidak terlalu menggelembung. Soal rasa, kacang hijau dalam bulatan kulit onde-onde pun terasa lembut, dan sama sekali tidak berminyak. Keunggulan lainnya, onde-onde Bo Liem Jr, empuknya bertahan hingga 24 jam, beda….. bingits sama onde-onde bungurasih, yang baru setengah hari rasanya wis kayak karet kolor. Haduhh!.
 



Berkunjung ke onde-onde Bo Liem, serasa de javu, jaman saya mitingin adik eh..maksudnya jaman onde-onde begitu super istimewa bagi saya, dibawain mbahkung dari Malang, tapi beli di Bungurasih cuman satu pulak…*nangis gregeten.

Saya seneng, karena bisa melihat langung prosesnya, dari nguleni, ngunder-ngunder, taburi wijen, sampai dicemplungi ke wajan. Yang jelas di sini saya akhirnya bisa menikmati onde-onde asli anget dari kompor, bukan anget kena srengege…hihihihihii!

Tuesday, October 07, 2014

Food Disaster



 Suka bangets ketika sebuah restoran fine –dining di Surabaya mengundang buat food taster. Yang diundang ada ibu-ibu socialite, pengusaha frozen food, pengusaha butik, pokoknya kalangan elite. 

Saya minder pastine. Dari penampilan kalah telak. Mereka , cantik, mulus, tas branded, sepatu high hells. Lah saya, kucel, ginuk-ginuk, tas model emak-emak ke pasar blauran, sepatu …hmm lumayanlah buccheri, beli pas sale 70 persen. huehehehe.
 

Saya awalnya kaku, tapi mereka ternyata asyik bangets diajak ngobrol. Kesimpulan awal, kalau membahas kuliner bisa meruntuhkan batasan cantik dan si kucel, tas branded versus tas bakul brambang..hihihii.


Pas yang mengundang memperkenalkan saya sebagai jurnalis kuliner, mereka takjub loh. Malah nanya-nanya restoran yang lagi happening di Surabaya. Aiih…Tapi hanya sekali itu aja mereka kagum, selebihnya saya yang ganti domblong kayak macan ompong. 


 Foto diambil dari sini

Pas menu pertama keluar, mulailah obrolan mengandung bullying


“Saya pernah makan ini pas di Perancis,” katanya.
“Oh iya, resto itu, saya juga,” timpal ibu yang satu lagi.

Yang enak di resto itu mashed potatoesnya!” kata ibu sebelahnya

Iya..iya, mashed potatoesnya eeeenak,” kompor ibu sebelahnya lagi.


Huiik..mbahas resto mewah di Perancis kok kentang tumbuknya? Batin saya. Mbok yao mbahas dessertnya atau steaknya. Hihihi.



Bullyingnya berlanjut …
“Mbak..tau ngga resto baru di Surabaya, itu loh yang jual kepiting Alaska!”

“Hmm.. be..be..be..lum, bu!” jawab saya minder

“Loh yo opo seeeh mbak iki, jurnalis kuliner jarene, kok blom ke situ !” bernada prihatin.



Saya jadi mati khutuk …*nyokot taplak



Apalagi ketika mereka mulai ngobrolin, resto class atas, yang lagi rame di Surabaya, yang steaknya seporsi nyaris Rp 400 ribuan, ngopi secangkir  yang katanya cuman Rp 250 ribuan.. aiii cumaan. *langsung raup kobokan



Saya benernya kepancing juga, tapi saya cuman ngedumel plus mbatin. “Aku loh bisa sehari 3 kali makan di hotel  karena diundang liputan,  Keluar masuk resto mewah gretoong, karena diundang sama ownernya. Kalau mau liputan sendiri, tinggal  nunjuk ini –itu langsung tinggal rembours ke kantor!”  Upsssttt

 

Tapi ngga mungkin saya ngomong kayak gitu. Ibaratnya  perbandingannya  bukan apple to apple , tapi apple to kesemek … *nyungsep


Pembicaraan makin ngga imbang. Lah saya cuman jago kandang, jagoan di Surabaya doank. Kalah telak wis sama ibu-ibu socialite. Tapi gpp wis, hikmahnya wawasan saya tambah luas, setidaknya kalau ditanya mashed potato paling enak di Perancis saya tau…. hihihiii

Thursday, August 21, 2014

Have a Rice Day Depot 369


 Menyasar segmen yang lebih luas, depot 369  Delta Plaza menghilangkan  pork di daftar menunya.



Undangan lunch kali ini dari Mbak Nuril, dari depot 369. Katanya, ada promo baru, yaitu Have a Rice Day. Jadi menu murah serba nasi. Pas saya datang langsung dikeluarin tuh semua. Ck..ck..mentang-mentang yang datang  lemu! 


Ada Nasi Ayam Saos Hoisin, Nasi Ayam Lada Hitam, Nasi Ayam Cincang, Nasi Kakap Saos Maggi, Nasi Udang Saos Spicy. Dan Allhamdulilah saya ngincipin semua. 

Lah saya dipaksa Mbak Nuril, You Know –lah , saya itu kalau dipaksa ngabisin paling seneng, Anton yang seneb. Hihihi… , biasalah Anton kebagian Udang Saos Spicy, kan  saya sirikan sama udang.



Terus bagaimana rasanya….Hmm. Sajian ini yang bikin istimewa itu saosnya, seperti saus Hoisin, kelihatan pedas, kelihatan dari minyaknya berwarna merah. Dan pas dicocol dengan daging ayam yang crispy, wuik wuik..wuik cucok bok. Kalau saya seneng saos Maggi, hmm.. ngga pedas tapi manis, gurih dan sekelebat rasa asin. Enak dituwil sama kakap gorengnya.



Harganya juga terjangkau bangets untuk resto berkelas cuman Rp 30 ribu-an, trus kalau nambah Rp 10 ribu, kita dapat herbal tea, lah yang satu ini harus dicoba ini merupakan inovasi resep leluhur tapi tetap bisa mengikuti selera generasi muda masa kini. 

 
Ada banyak pilihan di antaranya, Tamarin Tea, Rosella Tea, Alang-lang Tea, Ginger Tea. 

Rosella Tea pilihan saya,soalnya mampu menurunkan kolesterol dan tekanan darah tinggi. Ciee ..cieee, mungkin kalau ngabisinnya sak drum ya. 

Kata Mbak Nuril ke depan akan ada 45 menu baru di resto ini, semuanya serba nasi. “Pokoe, dirimu ngga bakal bosen deh, Mbak. Ke sini tinggal nyobain yang baru, tinggal nunjuk wis,” katanya menggoda.


Hahahaa.. sip-lah. Wong sekali datang saya bisa nyobain 5 sekaligus, ya tinggal nelateni ae sampai 45 macem.. wus..wuss.. ayo siapa yang tertarik nemenin? Skip Anton…



Thursday, August 14, 2014

Batam with Love


Alasan saya mencetat ke Batam dan meninggalkan rombongan yang ada di Singapura semua karena rindu…


 Sup Ikan Batam


Iya, saya kangen luar biasa sama adik saya yang ganteng, Toniro. Kangen ketemu istrinya dan anaknya Rora.Si Rora ini kalau manggil saya, Bude Ndut ..wakakaka, biarpun sudah saya bujuk supaya manggil bude cantik..ngga mau...huehuhee..suseh mbujui arek cilik.

Saya diajak ke Sup Ikan Batam. Hmm… di Surabaya, resto Sup Ikan Batam ini sepi, dan akhirnya TUTUP. Makanya, saya penasaran Sup Ikan Batam yang di Batam gimana rasanya. Ternyata rasanya sueger..bumbunya ngga macem-macem. Tapi kok dikit ya isinya.hayooo..mosok aku sing manganane akeh?

Di Batam lagi musim duren. Sebenarnya saya sudah janji  ngga bakal nyentuh namanya duren. Tapi adik saya nggodain terus. “Wis tah mbak, sak dulit ae!” akhirnya bobol juga nih pertahanan.

Nah, saya baru ngerti nih kalau di Batam beli durennya ditimbang. Lah susah nih, gimana caranya tau, dagingnya tebal tapi kulitnya tipis. Saya jadi bingung, akhirnya saya milih dua yang ukurannya tidak terlalu besar, total harganya Rp 65.000,-. Dan bener-bener apes tuh...bijine guede sak lawang, dagingya tipis kayak kulit arinya brambang. Yah, akhirnya puas ngelamuti bijine.
                                                                                                                                                                           Timbang bengong saya jalan jalan sendiri keliling kompleks rumah adik saya yang ada di kompleks Marbela. Eh ada penjual Epok-epok.

Epok-epok aka mbujui..soale isinya dikit

Epok-epok itu kalau boso Jowo lak pura-pura, alias bujuk-bujukan. Ternyata di batam jadi sebutan kue yang mirip pastel, tapi isiannya macem-macem, ada tuna, ayam dan ikan. Murah sih tapi biasalah rasanya. lah isine dikit trus kopong. Dookah ngelakno wis.

Seneng sih bisa ke Batam, biar panasnya very hot potatoes (panas ngentang-ngentang), tapi bisa ketemu  keluarga adik  tercinta, dikasih sangu, dan dipinjami mobilnya, kayaknya mau deh balik lage...hihi Tuman!


NB: Mbak Diah..wis update aku..hihii

Sunday, July 06, 2014

Steak Ngenes

Cuman di Singapor, pesan steak, eh...malah di siram

Tiap tahun, kantor saya ngasih reward ke karyawannya jalan-jalan ke Singapor. Dan tiap tahun,setiap ada teman yang kepilih, saya ngiriii setengah hidup. Arep-arep, kapan yo giliranku? Dan...setelah sebelas tahun… ahahaha…akhirnya tibalah giliran saya.


 
Sebelum berangkat kita dipanggil sama teman bagian keuangan, ternyata kita dikasih bonus lagi. “Iya buat jalan-jalan ke Universal Studio!” Huah…seneng bangets, soalnya baru yang tahun ini destinasinya ditambah ke Universal. Hihihi..ada untung juga selama 10 taon ngga diajak…wakakakak.

 Total dari kantor yang berangkat 15 orang.Hari pertama, kita semua macak rapi karena ke Pemeran  Marina Bay Broadcast Asia. Jalan-jalan ini langsung dikawal sama Pak Errol Jonathans, bos saya.Haduh…ampun saya kepontal-pontal diajak jalan, apalagi pas di stasiun MRT, saya pasti paling belakang. 


Pernah saking keselnya, saya ndoprok… bilang ke rombongan, "Saya ditinggal ae wis timbang menghambat yang lain!” tapi yang lain pada ngga tega, “eh, Ndol jangan deprok gitu, entar kena denda, dikira kotoran! …asemmmm


Saya pun sarapan model  a la orang singapor. Makan kaya toast sama teh tarik.. enak sih.. biar habis empat potong, yang namanya roti ya tetep slilit toh ya… hahahaha! 

 
Puncaknya, si bos ngasih surprise, yaitu ngajak all crew dinner steak di Aston- Cathay. Ada kejadian ngenes  pas sudah pesan, dan duduk. Ada dua pelayan yang datang membawa minuman. Satu pelayan di sebelah kanan dan satu sebelah kiri. 

Tiba-tiba minuman yang dibawa oleh pelayan sebelah kanan jatuh ke meja tumpah.. byaaar… pelayan sebelah kiri kaget, ngga sadar nampannya melorot dan minuman yang tepat di atas kepala saya jatuh…byurrrrr membasahi saya, dan Demian teman sebelah saya. Hah!!! 
 
Hmmm… apa reaksi saya dan Demian yang basah kuyup sodara-sodara??? Kita tertawa… iya ketawa ngakak, sumpah!!! Pas liat mukanya si pelayan yang pucet kayak cat emco no 39. Beneran ngga tega buat marah, malah ketawa. 


Memang tidak ada permohonan maaf dari manajer apalagi ganti untung …padahal ngarep..hihihi.

Nah setelah seminggu di Singapor…saya pun berpisah dengan teman-teman, mereka balik ke Surabaya dan saya lanjut ke Batam sendirian. Ada apa ya di Batam? Sabar..ya.


Thursday, June 26, 2014

Telor Buntel


Bicara soal telor, saya punya pengalaman ajaib tak terlupakan.

Sejak kecil saya terbiasa sarapan. Apalagi emak saya pinter masak, karena emak saya PNS, jam setengah 7 sudah berangkat, jadi sejak subuh ke pasar, lalu masak.Pokoknya anaknya harus sarapan! Biasanya sekali masak lumayan banyak, bisa dimakan lagi kalau pas pulang sekolah. 


Nah, sore kadang masak lagi kalau sempat. Emak saya heran godek-godek karena bolak-balik masak, tapi anaknya yang gembul ini ngga kenyang-kenyang “Itu perut atau box culvert” *mbatin.

Hingga timbul ide, ikut-ikut ibu-ibu di kompleks saya, yaitu langganan catering. Pas jaman itu harganya Rp 5 ribu. Kirimnya jam 4 sore.Karena pengalaman pertama, begitu  datang saya sudah lonjak-lonjak, saya sudah ngga sabar, penasaran sama isinya. 

Pakai rantang  blerek tiga susun, rantang pertama dibuka, menunya Bali Telor. Jadi ada empat butir telor rebus dibalut bumbu merah. Hmm.. okelah. Rantang kedua dibuka, hah! Ternyata  Telor Dadar, jadi telurnya terlihat daun prei ijo bercampur irisan bawang merah.

Berhubung dua rantang menunya telor, pastinya yang bawah adalah sayur, dan ketika membuka rantang paling bawah…taraaaaaa…  dues, isinya Telor Ceplok, alias telor mata sapi, jumlahnya tiga buah. 

Hari berikutnya menunya kare, semur, lodeh, soto semuaaaa… isinya telor! Hahahaha…saya sama ibu saya nguekekk… “Lah iyes, ini kateringnya punya peternakan ayam kale ya, kok royal amat sama telor!”  

Hari pertama, kedua, hingga seminggu menunya utamanya telor mulu. Sampai  mbelenger. “Wis, seminggu aja kateringnya, kalau dibiarkan makan telor mulu  anakku lak bisa kayak iwak buntel !” sambat emak saya. Hihihi..

Nah, soal telor ini, saya jadi ingat pas ke Thailand. Tour guide saya, yang namanya Saifuloh,begitu tahu saya doyan makan, dia langsung ngasih tebakan.
"Tau ngga menu internasional, yang pasti ketemu di seluruh dunia?”  Ternyata simple, jawabannya telor dadar.  Eh bener aja tuh si Saiful, selama  di Thailand, dan gonta ganti  hotel, tiap pagi tuh telor dadar ada di menu breakfast.

Tapi, saya biasanya melewatkan menu yang satu ini,  soalnya setiap mau ngambil telor saya kok merasa jadi ikan buntel. Hihihi…. 

Monday, May 19, 2014

Super Thailand

Di Thailand makanan murah.. dan bencongnya juga super murahnya. 

 Pattaya Floating Market   - Hualompong

Jalan-jalan kali ini ke Thailand. Tapi ngga berasa jauh. Soalnya, pedagang di Thailand rata-rata bisa bahasa Indonesia. “Seratus ribu ..dapat dua!” begitu sering saya dengar kalau pas di pasar.

Saya keturutan makan Manggo Sticky Rice, yang  kesohor  di  Pattaya Floating Market   - Hualompong.  Begitu masuk saya sudah disuguhi tumpukan mangga ranum.
Dan tersajilah mango sticky rice. Sederhananya,, mango sticky rice adalah, makan mangga ranum bersama ketan yang sudah diguyur kuah santan, harganya 50 bath. Ealah tibae ngene tok..hihihi.

 

Di floating market, saya juga menikmati menu yang rada aneh, seperti mulut bebek goreng,  gurih bangets.. cuman isinya tulang doank ngga ada dagingnya. Lanjut gurita panggang yang empuk. Ada juga udang gede-gede, tapi saya khan sudah kena kutuk ngga bisa akan udang ame lobster, jadinya menu yang mengadung itu saya tutup mata, termasuk sup tom yam yang kesohor itu.

Perjalanan Bangkok – Pattaya, sering mampir juga ke toko oleh-oleh, saya sih gelap mata ngincipin testernya, apalagi pas di Thai- Chocolate…semua rasa coklat saya incipin, cuman coklat rasa tom yam yang ngga.Coklat masa pedes. Maleseee.

 
Yang berkesan malah saat saya makan nasi Hainan di pinggir jalan, only 50 baht. Yang pertama datang kuah besar, mikirnya pasti kobokan, tapi kok ada sawi asin di dalamnya, untunglah belon saya obok-obok. Karena satu mangkok itu adalah kuah. Pas dimakan, duh rasa nasinya gurih, ayamnya lembut nah pas makan kuah, duarrrr…kuahnya bener-bener nikmat, suedep bangets. 

Pas lagi makan, orangnya ngelempar gelas plastik. Onok opo yo bapak iki? Mungkin dia pegel liat wong lemu? Ooo… bukan, ternyata itu minuman, dan free loh, pas dicicipi teh tawar.


Pattaya, malamnya saya nonton pertunjukan lady boy. Untung saya ke Thailand  ngga sama my sharuhkan, bisa stres saya. Bencongnya Thailand KW Superrr, mulus, sexy lagi. Saya aja sampek domblong, kalah wis dari rambut sampai kaki. Wis kayak golekan. Saya Cuma menang di berat badan doank …hikss.  



Dan urusan pegang-pegangan bencong KW Super ini ada tarifnya.Mau foto berdua ongkosnya 40 bath. Hhmm..masih mahalan harga mangga irisan. Pegang payudaranya cuman suruh bayar 100 bath. Hiii..setara dengan dua porsi nasi hainan ck..ck.  murah amirrr. 

Ya maklum..masio cantik tapi bonus kolomenjing...hiyek!

Tuesday, April 22, 2014

Krawu Bonus Gendong


 Foto dari   sini  

         Makan di sini,  penjualnya ngasih bonus gendong
          

My sharuhkan sukanya makan otak otak bandeng Pak Elan I, yang ada di Gresik. Mumpung libur, yo wislah kita berangkat ke Gresik, ngga jauh-jauh amat lewat tol cuman 20 menit dari rumah saya.Pas parkir di Pak Elan, kok saya lihat sebelahnya ada yang jual nasi krawu. Mampirlah di situ, order nasi krawu sama es legen.
 

Berhubung saya gendong si mungil Mala, ritual makannya ngga bisa barengan, jadi my sharuhkan makan duluan, saya gendong sambil ngeliatin. Hikss.. sebel juga, kalau dia makannya pake gaya  slow motion gitu. Eh, ngga lama, si ibu penjual itu mendatangi saya,  "sini bu, anaknya saya gendong!" katanya ramah.
 

Ah, serius nih. Saya pun lalu dengan senang hati mengoper Mala. Ah..senangnya, ibunya baik mau gendongin Mala. Sebagai balasan terima kasih saya pun nambah sampai 3 piring. Ciahhh…My Shahruhkan dah geleng-geleng aja liat bojonya kalap. Saya pun seperti biasa mengeluarkan jurus andalan, “Loh aku lak menyusui jadi nafsu makannya buanyakkk!”  Hihihihihi….

Saya pun makan dengan tenang, soalnya Mala digendong, ngga pake rewel lagi. Ngguya ngguyu terus. Nasi krawunya enak, sedep. Sambalnya mautt jeee, saya cuman habis sak dulit.


Sudah makan plus nambah, selesai membayar saya sama sharuhkan pamit sebentar ke Pak Elan yang tepat  di sebelahnya. Mbungkus otak-otak buat dibawa pulang. Eh, tepat di depan Pak Elan, juga banyak penjual kerupuk yang berjejeran, saya pun beli cemilan buat pulang.

Tangan kiri –kanan dah full makanan, pas ke mobil, saya merasa ada yang lupa. Mikir.. apa ya? Ya Olloh si Mala masih di warung nasi Krawuuu !! Duess…..gara gara ngendong  bandeng saya lupa  sama anak!!! *jiahhh…nguncal bandeng.

Friday, March 28, 2014

Mendol Junior


 Kadang ngga enak juga kalau ketemu teman tanya, “kok ngga update?” Hmm .. maaf ya.


Maaf ya, soalnya saya lagi happy bangets, karena setelah menunggu lamaaaaa. Akhirnya saya dianugrahi bayi mungil yang cantik. Gimana ngga cantik, paduan antara sharuhkhan dan kajool, ceilee…


Penuh perjuangan, bayangkan saja, waktu kantor ngadain family gathering di Malang, saya tendem makan duren dan habis 15 buah.Dan saat itu saya tidak tahu kalau sedang hamil dua bulan. (maklum saja, saya nunggu bertahun-tahun jadi ngga nyadar kalau isi) Hikss….

Allhamdulilah ternyata baby-nya kuat. Padahal saya wis ketakutan. Menginjak bulan ketiga, saya harus bed rest, karena ada flek. Dan ngga boleh naik motor. Dan saat masuk bulan ke-7 lewat beberapa hari, bayi saya harus segera dilahirkan karena tensi saya tinggi.


Dan Agustus, lahirlah bayi premature yang besarnya cuman sak botol kecap. Iya, cuman 1 kilo,7 ons. Ngeliatnya aja ngga tega ..sak ipet gitu. Dan sekarang  usianya 8 bulan, mungil, tapi sehat, matanya bening, rambutnya keriting kaku. *ini mak-nya bangets deh!.  
 Ini Kepala apa Pot Bunga, ya? Hihii

Si mungil yang cantik ini, namanya Malaeka Roos Aqilah. Mala –Eka, kalau Malika, itu khan nama anaknya kedele. *jiahh kecap bango sekali.
 

Saya pengennya dipanggil leka, tapi my sharuhkan ngga setuju. Alasannya, ntar bisa mbleset jadi kayak panggilan laki-laki, Lek- San, Lek Jo, Lek Mad. Hihii…masuk akal sih masak cantik-cantik panggilannya Pak Lek. Busyet


Jadi inilah alasan saya jarang update, ninggal sebentar saja kangennya luar biasa, kalau malam emaknya sudah teplas kecapekan, eh…dia ngajak main sambil mencucu. Duh siapa bisa menolak.

Pokoknya lagi  seneng-senengnya liatin Malaeka, sedihnya saya cuman satu sih, saya kan sudah melahirkan, tapi kenapa ketemu orang selalu dikira masih hamil ya? Hadeeeeh...*nyari slang buat sedot lemak.

Monday, February 10, 2014

Risoles Jadul

 Foto diambil di sini


Saya diundang oleh seorang pemilik Toko Roti, kebetulan dia ahlinya di kue-kue basah. Terus dia bilang,”Risoles sama kroket buatanku paling laris, enak dan tiada duanya!”

 OMG … RES- SOL –LES! Uh..doyan bangets. Pas dia bilang risolesnya the best…Pikiran saya langsung melayang ke risolesnya Toko Oen Malang, jaman saya kuliah bela-belain ke sana cuman beli risolesnya doank.Cuma sekali makan risoles di toko oen dan selalu terpatri di hatiku….tshaaaah.

Satu lagi yang nurut saya risoles sama kroketnya jempol 2. Yaitu Toko Roti Andalas – Malang.  Yang jadi favorit eyang putri saya, roti tawarnya yang empyukk, kalau Mbah Kung sukanya kroket sama risoles. Jadi kroketnya cuman sebiji, tapi bumbunya yang berwarna kuning itu kalau ngasih hampir ¼ plastik. 

Bumbunya kental kayak ada campuran custardnya, ada irisan timun sama wortelnya. Rasanya suegerrr bangets. Bumbunya memang lezat, kental, manis gurih asem.  Ngga seperti bumbu risoles di terminal yang rasanya ngga jelas.

Oh iya back ke soal icip-icip tadi. Ndalalah, rasane kok jomplang yooo. Enak memang enak, tebel juga isinya. Tapiii jauhhh! Karena saya sudah punya standart risoles yang paling enak ya, Toko Oen sama Andalas susah kalau suruh nilai risoles yang se-levelnya. Hikss… maaf ya, biarpun saya habis 4 biji! Hikss.

Hmm.. yang jelas saya bukan PR-nya Toko Oen ya…, saya juga cuman makan sekali, itu pun jaman saya masih kuliah dan berat badan masih 60 kilo. *itu berat saya paling ideal huiikk.


Trus…saya juga ngga jamin, apakah rasa risoles ama kroketnya masih sama dengan jaman saya dulu. Moga-moga tetap ya. Kalau ada waktu saya mau mampir ke Toko Oen, sama My Sharuhkhan supaya bisa dulang-dulangan makan kroket. Ihiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….

Tuesday, January 28, 2014

Soto Koyah Cak Bruno



foto: Anton 
 
Soto ayam itu identik dengan koyah. Kalau ngga ada koyah itu namae sop.Hihihi..


Setiap liat soto ayam yang di atasnya bertabur koyah, saya langsung kemecer..cer..cer. Pas makan siang, saya, Anton dan Lukito sudah niat mau nyari soto ayam. Kebetulan lagi di luar kantor liat warung soto yang ruamee poll. Penasaran donk, mampirlah kami bertiga. Begitu masuk, yang menarik perhatian saya justru tulisan di dindingnya. 


Dunia perkoyahan yang dikomersilkan membetot perhatian saya. Toh bahannya cuman kerupuk udang dihalusin. Masa mahal ya? Ngga ah, saya loh sering liat kerupuk udang yang pecah dan remukan sering dibeli penjual soto buat koyah.



 
Saya sama anton rasan-rasan, “wuikk..nambah koyah aja segitunya!”


Ya maklum aja kalau sambat, soalnya selama ini, saya taunya tuh koyah gratis. Di soto Pak Sadi yang TOP, dan Cak To- Undaan yang termasyur, itu namanya koyah malah disediakan di meja dan ngambil sesukanya. Pak Djo, penjual soto di depan kantor saya, malah menyerahkan sekaleng koyahnya buat pembelinya biar puas ambil sendiri.  


Memang koyah yang gurih itu menguatkan aroma dan kuah soto. Jadi inget adik saya, Toniro. Kalau makan bukannya nasi soto malah nasi koyah, lah koyahnya ditumplek blek di mangkok kayak makan bubur. Hadeh...


Btw, ngomong soal koyah…ternyata sudah go internasional. Bahkan  Bruno Mars, sampai membuat lagu khusus tentang koyah. Itu looh lagu Granade, coba denger liriknya…

I'd catch a grenade koyah ..…
Throw my hand on the blade  koyah …

I'd jump in front of a train koyah..
You know I'd do anything koyah …


OMG, ngga nyangka bangets ya ..Cak Bruno ternyata pecinta koyah. Hehehehe. 

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...