Friday, September 30, 2011

Pertanyaan SARA

Berdiri di depan meja, untuk register undangan Food Panel

foto: sijagomakan

“Atas nama siapa mbak?”
“Manda”

“Beratnya?”
“Hah...apa!!”

“Oooh… ma...maaf. Maksud saya, umurnya?”* dengan wajah ketakutan

Giliran saya kok ditanya berat badan. Grhhh... * Kalap, pengen ngerakoti mbaknya!

Monday, September 26, 2011

Nasi Campur Korea

Liputan kali ini membuat saya histeris…!!!!

Ambil nafas… Puehhhh. Saya kena virus demam Korea nih. Sekarang hobi banget nyari DVD Korea. Deman korea, ini juga kebawa-bawa di kantor. Wallpaper yang dulunya, gambar Mas Matthew Belammy, saya ganti sama Lek Min Hoo.. Hehehe… biar nggak diolok-olok saya pasang gambarnya yang resolusinya kuecillll biar saya aja yang bisa lihat.foto : ayub

Susah juga kene virus ini. Pernah mata saya bengkak, gara-gara mantengin serial drama korea 24 episode sehari semalam.Hu..hu ..hu. Soalnya penasaran. Dan saya itu punya kebiasaan dari dulu, kalau baca buku, harus urut. Nggak ada namanya baca depan terus melompat-lompat ke halaman terakhir. Ini berlaku pula nonton DVD, biar episodenya sampai puluhan, dan penasaran hampir mampus, saya tekun ngikutin episodenya.

Saya sering bingung lihat aktor korea, wajahnya mirip semua, bodynya lencir, kayak nyiur melambai. Tapi yang bikin saya ngga kuattttt duh….lihat model rambutnya. Kiyutttttttt. Duh Lek..lek MinHoo..situ pake shampo apa, ya? Pake shampo nomor berapa di dunia?

Isi kepala ini rasanya Korea mulu. Pas rapat redaksi, saya ngusulin buat liputan resto Korea. Dan bahagianya ternyata usulan saya diterima. Yess!!

Setiap lihat serial drama korea, selain mantengin bintangnya yang cakep-cakep, saya paling suka adegan makan. Saya catat tuh, bahannya, penyajiannya, cara makannya. Misalnya, Pas Kim Nana yang main di City Hunter, mabuk minum Soju, minuman alkohol khas Korea. Atau salah satu adegan di Princess Hour, yang menceritakan mengapa makanan Korea memiliki banyak unsur warna. Atau Han Ji En, di Full House, masak bulgogi. Jadi, kalau adik saya termehek-mehek karena adegan romatisnya, saya malah nangis, pas lihat adegan makan. Lha kepengen soale.

Saya berangkat liputan bersama si Ayub, mahasiswa Petra yang lagi magang. Kali ini ke resto Djangheum. Disodorin buku menu mata saya jelalatan nyari makanan yang enak. Soalnya, ini liputan khan inisiatif, bukan undangan, jadi ya, bayar sendiri dong.


Terinsipirasi adegan makan di salah satu serial korea, saya akhirnya pesan nasi campur Korea, yang disebut Bibimbap. Menu nasi campur Korea ini terdiri, semangkuk nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur, sayuran, taburan wijen.Sebelum dimakan, nasi dan lauk diaduk menjadi satu. Bibimbap yang dihidangkan dalam mangkuk dari batu yang sudah dipanaskan disebut Dolsot Bibimbap (dolsot berarti mangkuk batu).

Saya sempet nggak selera lihat telor mata sapi yang setengah matang. Ternyata kata mbaknya, panas dari mangkuk batu akan mematangkan telur mentah. Oooh…

Jika Anda memesan menu ini di restoran Korea, sebelum menyantap hidangan ini, biasanya akan disediakan Namul sebagai hidangan pembuka. Berbagai jenis namul dapat dihidangkan dalam satu kesempatan diletakkan dalam mangkok dalam porsi kecil. Jadi inget nasi padang.

Biar porsinya kecil. Tapi kenyang karena banyak macemnya. Salah satu ciri khas makanan Korea, selalu disediakan kimchi. Itu..sayuran yang mirip asinan Betawi.
Ternyata, nasi campur korea, nggak cucok sama selera saya. Aneh. Soalnya diaduk-aduk. Kita aja kalau makan nasi campur nggak dicampur baur gitu. Yang benar-benar enak Bulgogi sama Sup Ayam Ginseng.

Sambil makan, saya sempet ngayal, seandainya saya di Korea beneran, dan makan sama Lek Min Hoo, ah pasti seru. Hmm… Lek Min Hoo makan bareng sama Bulek Mendol, yuuuk!. Ihiiii……. Biar harus ngabisin kimchi satu drum ane jabanin dah!

---------------------
Nb: Peluk erat buat sepupuku Dini yang sedang menempuh S2 di Busan-Korea. Annyeong Haseo

Thursday, September 22, 2011

Jatuh Bangun Penjual Kupang

U and Me …..End!

Setelah tiga tahun berjualan di Dapur Nusantara -Food Court lt 3 ITC Surabaya. Kontraknya habis. Tepatnya pada bulan Ramadhan lalu dan tidak diperpanjang. Banyak suka duka berjualan selama tiga tahun.

Waktu pertama kali buka, jadi kami penjual makanan tradisional, untuk mengisi stand yang kosong, diberi wadah mengisi Dapur Nusanara. Letaknya kurang srategis, Karena jarang sekali orang yang lewat. Saya masih ingat, awal buka hampir seminggu nggak ada yang beli. Bayangkan…
Tiga dari enam penjual langsung mengundurkan diri, karena merasa rugi. Saya tetap bertahan, karena prinsipnya saya mau merasakan
merintis usaha dari nol.

Menginjak minggu kedua, dalam sehari paling banyak laku 2 porsi. Melihat kondisi ini, agar bahan tidak mubazir, ada ide berjualan di depan rumah. Ide ini justru datang dari simbok saya. Langkah pertama yang saya lakukan, membagikan kupang gratis kepada tetangga sekitar. Niat awalnya, agar menghabiskan bahan, daripada
dibuang. Tapi dipikir-pikir bisa juga sekalian promosi.

Cara lainnya, sa
ya juga jualan di kantor. Promosi sama temen-temen siapa yang mau pesen. Dan ini sangat ampuh, karena sebelum saya berangkat selalu ada sms pesan kupang atau lontong mie.


Jadi, meskipun yang di food court sepi, tapi dagangan saya tetap jalan. Langkah berikutnya, saya undang temen-temen wartawan ngeliput dagangan saya…hehehehe. Kebetulan sebagai jurnalis kuliner temen-temen sering minta rekomendasi tempat makan. Yah, saya undang saja.

Support temen-temen wartawan ini luar biasa. Mereka ikutan bangga loh, punya temen model kayak saya ini. Mulai muncul, di rubrik kuliner, profil saya muncul juga deh. Lucunya, temen- temen males wawancara, malah saya disuruh wawancara diri saya sendiri. Hihihii….


Nama Kupang Lontong Tanjung Perak mulai dikenal. Pegawai saya ikutan senang, soalnya tampangnya ikutan nongol di liputan. Bahkan, cuman gambar tangannya yang kelihatan dia sudah seneng banget, dia belain beli dua edisi Tabloid Lezat untuk dikirimkan ke rumah ortunya di Madura.
Pelan-pelan usaha saya mulai kelihatan hasil. Pesanan lancar, aktif ikutan bazaar, dan diundang festival makanan. Allhamdulilah.

Dan setelah tiga tahun, setelah omzetnya lumayan, bahkan sampai menambah pegawai. Kerjasama ini diputus sepihak. Tepatnya di bulan Ramadhan menjelang Hari Raya. * duh pas harus nyiapin THR-an.

Sabar. .. selalu berpikir positip, pasti Gusti Allah, ada rencana lain.Dan sekarang harus bangkit lagi. Karena saya punya pegawai, kasihan nasib mereka. Saya memutuskan untuk berjualan di rumah saja. Rencananya selain kupang, niatnya mau nambah pangsit mie ayam.

Pengalaman tiga tahun lalu, dimana tiga bulan pertama saya harus jatuh bangun, bahkan tekor dulu, gara-gara nggak sumbut buat mbayar gaji pegawai merupakan pengalaman berharga. Rasanya, sekarang saya harus lebih siap.

Bersama my sharuhkhan saya yakin bisa mengembangkan usaha ini. Bismillah, dengan niat baik, dan didukung doa tulus dari pegawai saya yang tak pernah putus, saya yakin Allah akan memberi jalan.


Monggo...Kupang…kupang….sini kupangku Anget …!

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...