Monday, August 22, 2011

Wong Lemu Mati Gaya

Suerrrr... saya jarang norak kalau ketemu sama Idola

Ceritanya memang sudah lama, ada undangan preskon tempatnya di SUTOS. Yang ngadain Flexi. Nah, yang membuat saya bela-belain datang, pertama karen
a tempatnya di De Boliva.. ihiii..makan ice cream dong! * njoget- joget.


Dan yang kedua ada SID … itu loh Superman Is Dead

Saya tergolong fans berat (dalam arti berat di badan), meskipun cuma tahu beberapa lagu mereka, itu pun numpang denger dari komputernya Anton, tapi saya suka. Bahkan ketika dikompori Anton, untuk milih mereka sebagai Band Indi terbaik lewat polling ICEMA, saya ikutan. Pokoknya kategori apa saja saya milihnya SID, Saking gelap mata, kategori dangdut saya milih SID juga * lebayyy…


Setiap ada kesempatan jumpa artis, saya hampir tidak pernah mau foto bareng. Hemm.. kecuali foto sama Surya Saputra, itu pun karena dia mengiba-iba minta foto sama saya * bo’ong ding. Hihihi…


Kadang temen wartawan juga kebangetan noraknya, foto-fotoan heboh ama artis juga. Saya nggak tuh… nggak ikutan. Saya lebih milih mlipir ngabisin makanan yang ada. * ya iyalah keboooooo…

Nah, pas ketemu SID, saya antusias sekali. Bolak-balik motoin pake kamera Hp. Sampai Anton, godhek-godhek menahan malu, lah saya belain naik ke meja, sementara Anton megangin, supaya mejanya nggak jumpalik.

“Mbak Mendol…eling umur! Eh, eling bobotmu, ini meja bisa juklek!” teriaknya histeris.


Atraksi maut itu akhirnya saya hentikan, karena banyak orang kesurupan melihat tingkah saya.*sambil ngunyah beling


Giliran sesi tanya jawab, saya bersemangat angkat tangan tinggi-tinggi. Dan langsung dijawab. MC-pun mempersilahkan para jurnalis lain, untuk mengajukan pertanyaan. Eh, nggak ada yang nanya. Saya beraksi lagi, nanya lagi. Dan aksi ini berulang …hehehe!


Saya nanya sampai tiga kali, Hahahaha… sampai si Jerinx, drumernya nervous, gara-gara pertanyaan saya.


Mbak, punya korek api nggak? Pertanyaan sulit, harus pake merokok dulu!” katanya

Hahahaha..gila
, saya dimintain korek. Ada juga kompor gas di rumah!
Sebelum kelakuan saya makin norak, dan minta foto dengan anggota SID, Anton sudah nyeret saya ke luar ruangan.

“Emoh aku moto sampeyan sama SID!”

“Opo’o, Ton?”

“Isin, mosok Groupies kok lemu!” katanya sambil buru-buru lari

“APAAA… Awas koen. Tak dadikno, A.I.D, alias Anton Is Dead !”*ngejar sambil ngelempar Pacul.


Wednesday, August 10, 2011

Kena Azab


Siapa bilang pekerjaan saya nggak ada risikonya. Nih buktinya …

Jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan. Saya ngebut ngumpulin bahan liputan. Soalnya liputan makanan pas bulan puasa nggak bisa makan. Berhubung bulan puasa dah mepet. Saya sepakat sama Anton, bakal liputan enam tempat dalam satu hari. Dan mulailah misi mulia ini

Anton & Me

Pertama Sebuah resto mewah, dengan hiburan live musicnya. Kami disambut hangat sama ownernya, setelah wawancara, kami lalu diajak makan. Menunya, Rawon campur, Ayam Panggang, Iga Bakar, Urap-Urap dan minuman 5 macam.

“Mbak Mendol, ini masih pertama lho, makannya jangan banyak-banyak!” ingat Anton.


“Ah..tenang, Ton. Ibarate iki pemanasan, santai ae jeeee… !” sok yakin.

Tibalah Tempat kedua. Restoran seafood. Kami disuguhi gurami bakar, gurami goreng, lodeh, nasi sebakul dan es puding ya
ng jadi andalannya. Wuih.. lihat makanan itu, saya sudah lemes. Kok akeh men yoooo… padahal saya cuma berdua. Mencoba bersikap sopan, saya ngomong sama yang ownernya.

“Mbak… sebelumnya saya minta maaf ya, mungkin nanti makannya nggak maksimal. Soalnya kami masih harus liputan empat temp
at lagi!”

“Oh..iya. gpp. Nyantai saja mbak!” kata si pemilik.

Pas makan, ternyata, gurami bakarnya weeenak seka
li. Bumbu pedas yang mengkaramel di kulit ikan membuat saya bolak-balik nambah nasi. Gilee… Sementara gurami gorengnya disikat sama Anton. Tapi Anton pinter makannya nggak pakai nasi.

“Ealahh.. Mbak, Katanya nggak maksimal. Guraminya kok, mbok habisin sendiri!” protes Anton.


Weeeeh… iyo. Kok tak entekno,yo!” nada tak percaya.

Di tempat kedua ini saya menghabiskan gurami bakar dan nasi setengah bakul. Glekkk!

Pindah ke tempat ketiga Kali ini tempat penjual makanan ringan. Yaitu Ketan bubuk. Porsinya kecil, semangkok kecil. Kami cuma pesen satu porsi.
“Ton, aku nyicip doank, ya. Ntar kamu yang menghabiskan!” perintah saya

Saya pun mencicipi ketan bubuk ini. W
ih.. enak tibak’e. Ketannya pulen, trus bubuk delenya gurih, paduan asin, manisnya pas. Saya jadi nyesel menyuruh Anton makan. Soalnya enak sih. Hmm.. daripada nggak enak hati. Disepakati ketan bubuknya dibagi dua. Sip!

Tempat Keempat Sebuah tempat makan di tengah sawah. Makanannya ayam goreng dan udang goreng. Apesnya, pas acara makan, ownernya malah bersikeras nungguin kami. Dia ikutan makan, celakanya, setiap piring saya kosong langsung ditambah nasi sama lauknya. Ampuuuun … bener-bener susah dah nolaknya.


Kalau si Anton pinter ngelesnya. Pas mau ditambahin nasi, dia buru-buru berdiri. Sambil ngomong, “sudah..pak. saya mau motoin suasana restonya dulu yaa..!” katanya sambil ngacir.


Tinggalah saya jadi tumbal, untuk menghabiskan satu bakul nasi dan setengah ayam goreng. Hadeww!


Tempat Kelima
Singgahlah kami ke warung Bebek! Oh My God. Everbody Knew kalau saya adalah PEMUJA BEBEK! Biar bumi berguncang, tak mungkin daku berpaling dari Bebek Goreng. Tanpa ba..bi..bu. Kita langsung disuruh makan. Adooh… saya yang kenyang, kok tiba-tiba seperti habis sedot lemak. Perut saya kok jadi terasa ringan pas lihat potongan daging bebek.

Saya pun bermain cantik di sini. Makan bebeknya nggak pake nasi. Jadi saya towal-towel dagingnya sama sambel.


“Wah… makan nggak pakai nasi, kalau habis empat potong, yo podo aeee mbak! Protes Anton.Hihihi


Tempat keenam
Dalam perjalanan ke tempat keenam. Saya sudah kekeyangan. Perut saya atos. Tiba-tiba kepala saya berat sekali. Mata saya ngabur. Susah bernafas. Ya Allah… saya dikasih cobaan apa nih! Bathin saya

Perut saya mual. Tiba..tiba… Byarrrrrrrrrrrrr!!!! Saya muntah dalam perjalanan ke resto yang keenam. Dipinggir jalan saya Hoek....Hoek Byurrrrrr!

Sementara si Anton nggak ada empati sama sekali. Dia malah ketawa-tawa. Setiap ada orang yang ngeliatin saya, eh…si Anton malah teriak.

“Maaaf yaa…lagi hamil muda!!!” katanya sambil ketawa ngakak


“Woiii..Ton. Hamil gundulmu! Wong aku iki lemu permanen kok!” asem tenan Anton.

Setelah menenangkan diri. Dan mengatur nafas. Saya geleng-geleng sendiri, sambil mbatin, inilah ganjaran orang yang murko, mangan nggak aturan akhirnya dikasih azab muntah dipinggir jalan. Duuuuh..


“Jadi gimana, lanjut liputan, opo muleh ae, mbak?” tanya Anton, jongos saya.


Hmm.. saya bimbang. Saya kepalkan kedua tangan, lalu dengan semangat bak kompor komatsu, saya teriak.


“Demi profesionalisme, dan tanggung jawab sebagai redaktur kuliner. Mari kita teruskan perjuangan kita, Ton. Jangan menyerah, dan putus asa, apalagi sampai nggak mau makan!. Ingat. Kita ada jurnalis kuliner sejati, tak akan patah arang cuma gara-gara kelenger kebanyakan makan. Ayo kita teruskan liputan, dan makan lagi!”


Anton memandang saya, lalu …… Hoekkkkk!!! Ganti Anton yang muntah……
Hahahahahahaha…Kapok Koen!

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...