Tuesday, June 21, 2011

Sapi Tanpa Hidung

Beginilah akhir dari Sapi Hidung Belang

Pegawai saya yang njaga di ITC, minta libur buat nemenin anaknya. Berhubung hari Minggu, saya ganti yang jualan. Allhamdulilah ... kupang sama sate kerang laris. Pas lagi mengantarkan pesanan sate kerang, tiba-tiba saya dipanggil sama seorang ibu-ibu.

Sate kerang, Kupang Lontong Tanjung Perak
foto by : Anton


“Apa yang kamu bawa itu?” tanyanya ke saya
“Ini kerang,
Bu!”
“Apa itu kerang ?"
“Kerang, Bu. Keeeee…raaaanggg!” Sambil mangap

Si ibu ini kelihatan masih bingung

“Makannya sama apa?”
“Makannya ya, sama Kupang, Bu?”
“Apa itu Kupang?” tanya si ibu ini lagi
“Kupang, Bu. Kuuuuu….Paaaaang!" *mangap lage deeh

*Wis embuh..kok saya malah njawabnya jadi molorr gethuu!

Si ibu dengan dua temannya masih tolah-toleh. Tambah bingung kayaknya.

“Oke. Bolehlah saye cuba!”
“Nyoba yang mana, Bu?”
“Itu..loh. Keeeee….raaaaaang!" sambil mangappp juga

Hahahaha… dia ganti niruin gaya saya

Akhirnya saya menyajikan pesanan satu porsi kerang yang berisi 10 tusuk. Dicocol sambal petis yang yahud. Lalu Ibu ini
njawil saya.


Rujak Nose Cow hehehe...


“Apa itu Rojak Cengur!” katanya sambil menunjuk ke papan menu

Feeling saya, mulai menebak-nebak. Pasti orang ini dari luar Jawa karena nggak tahu rujak cingur.

“Ibu dari mana, kok nggak tahu rujak cingur?” tanya saya
“Oh, saye nih bertige orang Singapor!”
“Oh… begitu. I see!” *berlagak kemingris


“Cuba jelaskan, apa itu Rojak Cenguur?” katanya meminta

“Rujak is like salad, but use petis for dressing!”
“Kalo Cengur?”
“Cengur…is Nose Cow!” jawab saya spontan

Pas denger ini muka si ibu langsung mingsrut

“Idung sapi! Becanda kau nih!”sambil megang meja saking shocknya
“I’m not kidding, tastenya kenyal-kenyul, lho!”
*Hadeh..kenyal-kenyul bahasa Inggrisnya opo yo? Bingung aku!

“Saye tak suke ada nose-nya. Tapi saye suka petis!”
“Lho, bisa kok nggak pake cingur, mau saya orderin, Bu?”
“Tak..tak usah. Ngeri saya liat Cengur!” *sambil gidhik-gidhik

Menyelami perasaan sang ibu. Tiba-tiba, saya kok membayangkan barisan sapi tanpa hidung, gara-garanya hidungnya dibuat rujak cingur. Hiiii……

Sunday, June 05, 2011

Pak Bondan & Me

Ketemu Pak Bondan, saya pun dinasehatin kalau makan jangan berlebihan. Upst..

Ada tempat makan baru di Surabaya. Namanya Eat and Eat. Tempatnya keren, dengan konsep ChinaTown. Nuansanya benar-benar jadul, dekornya juga. Yang paling membuat saya kepingkel-pingkel pas lihat interiornya ada Panci Blerek. Duh jadi ingat jaman kuliah, ada teman yang ngadaikan Panci Blerek di pegadaian. Huahahaa……..


Pas acara pembukaan saya diundang, dan berkesempatan bertemu dengan Pak Bondan, dan Pak Iwan Tjandra, yang memiliki profesi sebagai Food Artist. ( Ternyata food artist ini, mirip seperti food stylist, tapi jauh lebih kompleks, nggak sekedar menentukan makanan, tapi termasuk desain ruangan).

Ssst… padahal saya kira, food artist itu, tukang ngasih makan artis gethuuu…hihihi.

Duh seneng sekali ketemu Pak Bondan, a
palagi saya duduk berdua, dan mengobrol akrab. Tapi sesekali, ada aja yang mengusik, apalagi kalau para tamu yang kepingin foto sama Pak Bondan.

“Ehmm… mbak minggir ya, mending mbak ngadep belakang aja. Nah, punggungnya lumayan buat dijadikan keber!” kata seorang pengunjung yang menyamakan geger saya, dengan kuade manten. Jambuuu..! Tapi, enak juga duduk sama Pak Bondan. Dikit-dikit ada yang nyuguhin makanan. Syukurlah saya selalu kecipratan.* apa saya dikira centengnya Pak Bondan, ya!


Saya lalu ngobrol gayeng :

“Hmm.. Pak Bondan, bener yang ditayangin tuh benar-benar enak? Ntar kalau nggak enak tetep dibilang, mak nyus!” *selidik saya bernada investigasi.

“Kalau saya bilang enak, itu benar-benar enak. Kalau tidak enak, tidak ditayangkan!” tegas Pak Bondan

“Hah! Serius! Masa sich Pak Bon?” *lho kok serasa sama tukang kebon, hehehe.


“Iya, bener! Pernah kok ada restoran dengan menu yang biasa-biasa, akhirnya tidak ditayangkan!” katanya serius.


Catatan menarik lainnya, Pak Bondan bilang, Indonesia kalah jauh sama Thailand soal promosi kuliner. Bahkan pemerintah Thailand memiliki target membuka 10 ribu resto Thailand dalam kurun waktu 3 tahun di seluruh dunia. Dan ini sudah terwujud, bahkan melebihi target. “Support pemerintah kita sangat kurang, padahal kuliner bisa dijadikan daya tarik wisata!”tegasnya.


Ngobrol sama Pak Bondan memang menyenangkan, ditemani es palu butung sebaskom, sedangkan Pak Bondan sepertinya hanya menikmati tiga-empat suapan saja. *Saya habis dua mangkok setengah, yang setengah punya teman saya nggak habis. Hihihi..

Note buat Pak Bondan:
Pak… Pak Bondan. Jujur saja, sebenarnya kalau ketemu Pak Bondan, pengennya saya malah tidak membahas makanan. Karena saya mengagumi Pak Bondan jauh sebelum tenar sebagai pakar kuliner. Saya ingat, pas masih baru jadi wartawan, dan ikut pelatihan jurnalistik bersama rekan-rekan AJI –Surabaya, bahwa Investigasi Pak Bondan dalam kasus skandal Busang selalu dijadikan contoh, sebagai investigasi jurnalistik terbaik sepanjang masa.

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...