Thursday, April 14, 2011

Jeruk Grebek

Gara-gara menawar jeruk petaka kudapat




Sebagai p
edagang Kupang, jeruk memegang peranan penting. Kupang lontong tanpa dikecruti jeruk, ibarat orang pacaran nggak grepe-grepe. Halah... halah...

Karena persediaan di rumah habis, saya pun ke pasar mo kulakan jeruk nipis. Sampailah ke seorang
bakul sayur yang kebetulan jualan jeruk. Setelah tawar menawar akhirnya disepakati sekilonya Rp 10 ribu. Pas saya ongkrek-ongkrek, ketahuan dah, kalau jeruknya banyak yang busuk. Saya jadi urung mo beli. Setelah lihat-lihat, saya pun bilang,

“Bok, nggak jadi. Akeh sing bosok!” kata saya sa
mbil berlalu.
Saya pikir sudah selesai. Ternyata TIDAK!. Saya dikejar, sambil diteriakin.

“Woiiiii….mau pergii kemana … Woiiiiii!”

Saya bener-bener nggak ngeh, kalau si penjual itu neriakin saya, lha wong pa
sar rame sekali kok. Saya terus aja jalan, dan si Bok ini teriak,

“Woiiiii…. cekelno Mbak sing lemu iku!” sambil nunjuk-nujuk ke arah saya.

Tiba-tiba saya dihadang dua orang tukang becak.
“Hayooo… mau lari kemana, koen!” katanya seolah sedang menangkap Gorila yang lepas di Bonbin.


Kaget pastinya. Karena tiba-tiba orang di sekitarnya juga ikut
-ikutan mengepung saya. Si Bok, yang ngos-ngosan ngejar, lalu narik tangan saya.

“Peno iki yo opo, tadi khan sepakat sepuluh ribu, lha kok ditinggal mlayu, seh!”

Haduh, saya maunya mendebat, tapi kondisi bener-bener nggak enak. Semua orang memandang saya dengan sinar kebencian, seakan-akan saya adalah mahluk alien yang kerjaannya suka mbikin crop circle.

Dalam keadaan serba chaos, bak film India, lha kok tiba-tiba ada hansip yang ikut menyeruak dan memasuki medan perang.

“Sek, arek lemu iki nyolong opo, Bok?” katanya sambil mengeluarkan senjata pentungan andalan.

JAMBUUUU. …!!! Saya, manda la mendol, yang hobi makan 7 kali sehari, makan bebek beracun, dan jadi vegetarian selama dua hari dituduh pencuri!!! NGGAK TERIMA!

“Siapa yang nyolong, Pak! Saya ini cuma nggak jadi beli, kok!”

“Yo, nggak isok mbak. Sampeyan tadi khan sudah nawar!” cerosos si Bok sambil memperbaiki sarungnya yang mlorot.

“Oohh..gitu! Yang bener mbak, kalau dah nawar harus beli, dong!” kata Pak hansip ini nggak mau kalah sama si Bok, naikin sabuknya yang mirip tali tambang.

Suasana pun makin panas, orang pada gerombol. Jalanan pasar macet total. Akhirnya, saya dikawal si Hansip menuju kios si penjual jeruk. Saya dipaksa menerima sekilo jeruk setengah busuk dengan harga sepuluh ribu. Saya nyerah. Si Bok pun tersenyum penuh kemenangan, menampilkan gigi platinanya.

Moral of the story ini adalah, lain kali kalau saya ketemu sama si Bok ini, saya bakal mlorotin sarungnya. HUH… Dendam kesumbet!

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...