Monday, January 31, 2011

My Own Show

Mulai 2011, setiap bulan, minggu kedua

Bahan membuat rawon, setan!

Foto : Anton

Setiap tahun saya tertantang harus mempunyai hal baru. Tahun lalu saya merintis usaha sendiri KUPANG LONTONG, allhamduliah masih jalan sampai sekarang. Di kantor, setelah tiga tahun megang bagian retail koperasi, niatnya mo mundur, eh malah kepilih jadi Ketuanya. *tambah mumet ngurusin simpan pinjam dan urusan beras. Hihihi…

Tapi sejujurnya, saya punya keinginan terpendam. Yaitu… eng..ing…eng…!
Saya pingin jadi host kuliner, dan Pelawak. Nah, ternyata kesempatan ini datang juga. Programnya sudah jalan, bulan Januari lalu. Jadi bertempat di Toeng Market, dengan settingan kitchen set lengkap, ada TV LCD yang menayangkan step-by step-nya dari tukang syutingnya.

Bu sup : Pilih Kluwek yang bunyinya othok-othok

Bintang tamunya kali ini adalah Bu Sup pemilik Rawon setan. Jangan kira acaranya serius. Soalnya saya ndagel terus. Tiba-tiba sa
ya bisa nyanyi dangdut, ala saiful jamiel, menyebut bumbu sambil berdendang. Kadang saya jumpalitan ke sana ke sini, atau tanpa ba..bi..bu, saya ngincipin kuah yang ngebal-ngebul itu sampai bibir saya ndower kepanasan.

Jujur aksi saya itu spontan, nggak dibuat-buat, sampai-sampai ada seorang ibu yang berkomentar. “Duh, mbak yang ngeMC kok dominan bangets yach!”

“Duh..maaf-maaf, ya Bu. Wong badan saya Guedeee sak lawang, wajar kala
u saya dominan, dan nutupin narasumber beserta pancinya!” Hihihi

Pertanyaanya, Tampil di TV saluran mana, nih?
Sek..sek Bu Manteb... alias Manda Bantet. Bentar ojo kaget apalagi gilo. Percuma dan nggak bakal nemu acara saya di tipi manapun. Tapi bener saya dipercaya handle acara kuliner. Jadi, ini acara cooking class, yang ngadain She Radio, saya diminta bantuin jadi
hostnya. Suasananya mirip acaranya Rachel Ray, acaranya juga terbatas, hanya untuk 50 orang.

Lunch Rawon sambil mbathin : Wih, MC-nya akeh gajih'e

Saya akui, memang banyak kurangnya. Tapi m
inimal saya nggak keder dan bisa mbanyol, itu khan sudah lumayan yaaaa? *menghibur diri.

Dan endingnya pas akhir acara, saya benar-benar terharuuuuuuuuu. Para ibu-ibu berebut foto sama saya. Ditarik sana-sini. Saya sih seneng aja, gaya begajulan sama para ibu-ibu ini. Senyum sana sini sampai garing. Dipeluk, dicubit, dicetol, saking gemesnya.

Saya lihat rekamannya, duh saya maluw sendiri lihatnya. Oalaaa ..saya kelihatan kayak buntelan beras, lemu glinuk-glinuk, mana rambut saya digelung ala Gadjah Mada, membuat wajah saya tampak bunder dilihat dari segala sudut. “Aku tibak’e bunder serr…serrr, yo” *baru nyadar


“Video cooking classnya diupload ke youtube,yo?” usul Anton
“Ojo Ton, engkok podho mendhem kabeh!”
“Kok mendhem?”
“Iyo, lah awakku koyok arak cap genthong !” Hehehehe…


Wednesday, January 19, 2011

Kupang Lontong Undercover

Seandainya gayus kabur dan mampir ke kupang lontong saya, pasti heboh!


Didesain sama Dukut


Ada beberapa alasan orang tidak mau makan Kupang. Namun, setelah saya bercerita, atau lihat di blog banyak yang penasaran, nyoba terus jadi suka. Tapi, ada satu pengalaman berkesan, karena teman saya ini benar-benar tidak mau menyentuh apalagi makan Kupang. Saya sudah membujuknya, tapi dia bergeming. Saya benar-benar kehilangan akal, dan menyerah.

“Wis talah, koen isok mekso aku mangan opo ae. Tapi jangan kupang lontong!” jawabnya, yang membuat saya sakit hati. Akhirnya ngobrol –ngobrol, ternyata, trauma makan kupang lontong ini ada latar belakangnya. Beginilah ceritanya :

Teman saya ini, punya sahabat. Sebut saja Si Bondet. Dari kecil sampai dewasa mereka berteman akrab. Nah, suatu hari dia diajak janjian di depan Balai RW. Ditemani dua orang temannya, teman saya ini menunggu si Bondet.

“Suasananya sih normal aja, banyak warga yang lewat, penjual bakso, dan seorang penjual kupang pikulan yang sedang mangkal di samping balai RW,” jelasnya.


Setelah setengah jam, akhirnya si Bondet datang. Pakai tas ransel. Tidak sampai 5 menit, setelah saling menyapa, tiba-tiba si penjual kupang, yang mangkal di samping balai RW itu berteriak sambil mengeluarkan ‘sesuatu’ dari laci dagangannya.

“Angkat tangan semua. Jangan ada yang bergerak !!!” kata si penjual kupang ini sambil menodongkan senjata.

Keadaan sangat tegang, karena tiba-tiba saja sudah muncul lima polisi berpenampilan preman mengepung, sambil menodongkan senjata api ke arah teman saya.

“Waktu itu aku wis pucet koyok mayit. Rasane wis mati !” versi teman saya.

Akhirnya si penjual kupang, bersama teman-temannya ini memborgol kedua tangan Si Bondet, termasuk juga si teman saya ini. Setelah diintrograsi teman saya dilepaskan karena memang tidak mengerti apa-apa. Dan dari polisi, diketahui kalau si Bondet, sahabat karibnya adalah pengedar narkoba, dan sudah menjadi TO.

“Nah, sejak itu aku truma makan kupang. Setiap lihat orang jualan kupang, yang tak inget malah pistol yang ditodong ke wajahku!” *wajahnya pucet banget pas crita ini.

“Busyet… keren banget traumanya!” *sambil mbayangin yang nodong Daniel Craig

“Ndol, jadi kamu jangan tersinggung, aku percaya kalau kupangmu enak. Tapi aku masih trauma!” katanya melas.

Melihat ekspresi wajahnya yang pucat pasi, saya jadi tidak tega membujuknya untuk makan kupang lontong. Sebagai gantinya saya suruh dia membuang sampah. Hehehe…lah kok malah dikerjai.

Hmm… saran saya, buat para Intel. Besok-besok lagi, kalau penyamaran. Mendingan jadi tukang panci, topeng monyet, tukang wenter, atau apa kek.. yang kreatif gethu, jangan jadi penjual kupang deh…khan rugi dagangan saya. * Hu..hu..hu.

Catatan : Moga-moga Ram Punjabi ndak baca blog ini, lalu buat Film Kupang Lontong 007. My Name is Ndol… Mendol Goshong. Halah!


Tuesday, January 18, 2011

Terima Kasih Bango

Kejutan Bango buat saya dan Anton

Sungguh, Kecap Bango terlalu baik buat saya, memberikan kesempatan buat blog ini menjadi pemenang untuk ajang kontes blog Festival Jajanan Bango 2009, pengumumannya di bulan desember 2010.

Penyerahan hadiah di Restoran Halo Surabaya. Terima kasih atas, mangkok, piring, kecap bango, T-shirt ( sayan
g nggak muat...hehehehe), piagam penghargaan, dan uang tunai yang membuat saya sampai nggak bisa tidur seminggu, saking bahagianya.


Terima kasih ya, Bango. Hadiah yang indah diawal tahun 2011. Buat Mbak Memor, Ribut, dan Mas Radit. Oh iya, satu lagi Surya Saputra, karena tulisan saya terinspirasi kemesraan dirinya dengan Chintya Lamusu.

Hal yang membuat bertambah bahagia lagi… Fotografer saya, si Anton, meraih juara I untuk kategori foto. Enaknya kalau menang barengan gini, syukurannya bisa urunan…hihihihihi.

Wednesday, January 05, 2011

Teh Yang Tak Biasa

Mulanya biasa saja, pas tau langsung keseretan


Foto : Anton


Berhubung ada pesanan, saya diantar my sharuhkhan belanja di Pasar Pabean goncengan naik sepeda motor. Belanjaan banyak segunung, dan barangnya disumpel di segala sudut di sepeda motor, akhirnya tempat duduknya malah nggak kelihatan. Ya… dengan senang hati saya pun goncengan mesra. Mepet gitu. Hehehehe. Ihiiiiiiiiii, serrr… serrr*disoraki wong sak lapangan Kodam.


Pas di tengah jalan, tiba –tiba hujan deras, mana sakit kena mata. Akhirnya demi menyelamatkan kerupuk udang sak bal, kami berdua memutuskan untuk berteduh di sembarang warung. Warungnya kecil sekali, tempat duduk yang semestinya jatah untuk tiga orang, sudah bek, begitu saya duduki.*iyalahhhh…..


Nah, kalau yang jual wong Meduro, nyapanya pake Bok.

“Bok jualan apa?”tanya saya sambil cligak-clinguk

“Jangan asem!”

“Menu lain?”

“Nggak onok. Iku thok!”


Pas adegan introgasi si bok ini nggak pernah menatap ke saya. Dia sibuk ngawasi wajan berisi gorengan pindang. Hmm… garuk-garuk mikir.


“Iwak’e opo, bok?”

“Tuh !” katanya menuding iwak pindang dan jeroan ayam.

“Yo wislah, jangan asem. Tambah jeroan pithik yo!” *nyerah ndak onok pilihan lain.


Nasinya sak umbruk, sayur asemnya minimalis. Cuma kacang panjang sama gubis. Jeroan ayamnya lengkap sama rempelo. Dan sambalnya…wik..wik..wik. Lombok kecil diulek garem sama bawang putih.Puedesss. Diiringi suasana hawa dingin dan guyuran hujan. Kami pun makan. Eh, lupa minum nih.


“Bok, es teh ya!”

“Nggak onok!” nadanya ketus

“ Hmmm...Yo wis teh anget!”

“Nggak onok!” jawabnya masih ketus


Saya lalu melempar pandangan ke meja. Di depan saya ada berjejer tiga teko plastik berisi air putih buthek.


“Jadi yang ada apa?”

“Air putih mateng, mau tah?” tawarnya

“Hmmmmmmm… yo wislah!” bertekuk lutut


Dia pun lalu menuang air dari panci ke dalam gelas.


“Lho air matangnya cuman segelas!” teriaknya lagi.

“Ora opo-opo. Khan airnya sama toh sama yang di teko!”

“Yo nggak, kalau yang di teko itu air biasa. Kalau di gelas air matang!”


Mak duerrrrrrrrrr !!!! Saya sama sharuhkhan pandang-pandangan. Jadi bertanya –tanya tentang definisi air biasa, dan air matang ???


“Hmm… bok..bok. Iku air biasa maksute opo?”

“Air biasa... iku yo biasa mbak, Banyu Pet!”


Busyettt..nih bok, inncocent bangets ya njelasinnya. Air biasa, berarti itu air kran doank nggak pake dimasak langsung plung… dituang ke teko. Dasar Jambu kluthuk!


Saya langsung diserang keseretan akut. Dan segelas air matang itu saya glek langsung. Tinggal my sharuhkhan yang kasihan, lha dia ikut keseretan tapi bingung apa yang mo diminum. Tanpa pikir panjang saya suruh my sharuhkhan tengadah. Wis… mending minum air hujan aee wis!” hihihihiihi…..


Gara-gara makan di tempat ajaib itu. Saya sama Sharuhkhan jadi sering becanda pake kata “Biasa dan matang” Jadi kalau habis pesen minum, pasti langsung tebak-tebakan,”hayooo ini tehnya biasa atau matang?” Sampai yang punya warung ikutan bingung.


Dan kalimat ini juga ampuh merayu My sharuhkhan, “Mas cintaku nggak biasa, tapi bener-bener mateng lho!” lha kalau sudah gini wajahnya langsung merah, menahan tawa. Ihiiiiiiiiiiiiiiiii …. Serrrrr…suit..suit* disoraki wong sak lapangan Rampal.

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...