Thursday, December 29, 2011

Lemak Is My Middle Name


Desain by Jujuk

Perbincangan dimilis kulinus Surabaya


"Namamu siapa ?"

"Manda Lemakwati!"

"Hah... bener, namanya ada lemaknya?"

"Serius!"

"Memang nama lengkapnya siapa?"

"Manda Lemakwati Tak Jenuh Ganda!"

"Whatt...!!!!" *ditimpuk pake gajih

Hueheheeheheh.....*kena deh

Oude Fabriek Track

Berkunjung ke pabrik kecap Jaman Mbiyen


Wah… seru pengalaman saya dan Anton kali ini. Kebetulan House of Sampoerna (HoS) punya program tematik Surabaya Heritage Track (SHT) bernama Oude Fabriek Track, tur tematik ini mengajak tracker mengunjungi industri-industri yang berlokasi di kawasan Surabaya Utara setiap hari Selasa hingga Kamis, pukul 09:00 – 10:30 selama bulan Desember 2011.

Jam 09.00 saya sama Anton sudah siap-siap. Sebelum berangkat, Anton ngecek lensa, batere, dan memori card. Saya nggak mau ketinggalan, cek roti, snack, cokelat, minuman ringan 2 botol. Sebenarnya saya mau nyari nasi bungkus, tapi Anton ngancem, kalau saya beli nasi bungkus, dia muthung moto.

“ Mbak Mendol... sampeyan sangunya kayak mo mudik, ini loh perjalanannya nggak sampai 20 menit,!”katanya ngamuk-ngamuk.

Yo wislah, daripada muncul tanduk di kepalanya, niat mo mbungkus nasi jagung, saya batalin. Ada tiga tempat yang kami kunjungi, Pabrik Siropen, Kecap Jeruk dan pabrik Misoa. Tapi kali ini mau cerita pas ke pabrik kecap jeruk dulu, yah.

Kecap yang satu ini ibaratnya kecap semua bakul di Surabaya. Bisa dicek deh, mulai bakul sate ayam keliling, rujak tolet, soto, pasti pakai kecap ini. Bentuknya jadul dan unik. Iya, soalnya mereknya masih pakai kertas tempelan gitu. Gambarnya dua orang pria dengan potongan jaman mbiyen.

Pabrik Kecap Cap Jeruk Pecel Tulen yang didirikan oleh Hwan Kieng Hien dan istrinya pada tahun 1937, usaha kecap ini semakin berkembang semenjak dikelola oleh generasi kedua, yakni Hwan Hong Piek dan Hwan Hong Poen. Di tangan generasi ke-3 citarasa kecap ini tetap tak berubah, soalnya resepnya masih sama.

Pemuja Kecap

Senang banget bisa berkunjung ke pabriknya yang berada di Sidonipah. Lokasinya disebuah kampung sempit. Pekerjanya rata- rata ibu-ibu. Biar tergolong manula, tapi jangan tanya tenaga mereka, wah, kayak Hulk. Saya ikut-ikutan ngaduk adonan kecap, tapi nggak sampai 5 menit nggak kuat. Panas…

Pas pulang, saya dihadang sama ownernya. Wah, ada apa yah? Agak mencurigakan sich. Habis dia menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.

Saya sudah masang kuda-kuda, dan siap mengeluarin jurus Gorila menghujam bumi. Lalu …

“Mbak, ini buat oleh-oleh!” katanya

Hah… saya dikasih kecap. Horeeeee…!!! Tapi sebenarnya saya sudah niat mau beli kecap, khan mumpung di pabriknya, tapi berhubung dikasih, ya sudahlah.

Oh iya, pas di sini, saya juga ngambil foto, tentu saja dengan petunjuk dari master saya si Anton. Biar sambil ngomel-ngomel, Anton mau juga minjemin kamera SLR –nya.

Foto hasil jepretan di Pabrik Kecap ini, saya kirimkan ke Panitia Pewarta Foto Indonesia (PFI), Allhamdulilah dua dari tiga foto saya , ikutan tampil di Pameran Moms to All, yang diadakan oleh PFI di Tunjungan Plasa 2 yang dipamerin tangal 22-25 desember lalu.

Bangga, campur tak percaya, soalnya foto saya dipajang sama Fotonya Bu Ani SBY, Dubes Amrik dan Bu Risma, Walikota Surabaya.* Ihii..... Senyum manis ala kecap jeruk


Saya sebenarnya lebih memilih difoto deh timbang motoin. Tapi keburu dibantai ama Anton.

“Mbak Mendol … sampeyan itu, nggak ada menariknya difoto, diambil dari sudut manapun!” kata Anton dengan nada menghina.

“Arek iki ancene mokong !!!* Ngurap wajah Anton ama Kecap.

Foto by Manda, kecuali foto pemuja kecap, by sopir SHT

Sunday, December 04, 2011

Kikil Saya

Jadi ingat waktu dulu saya makan kakinya squidward

Kali ini, saya ditugasi kantor untuk melobi Kikil Sapi Pak Said untuk tampil di acara Kuliner Khas Surabaya yang rutin diadakan sebulan sekali di Toeng Market.


Sebelumnya, saya sudah kenal sama Bu Said. Pertama waktu liputan, dan kedua pas diajak syuting sama Bango. Kali ini saya langsung menuju ke rumahnya di daerah sepanjang.Kedatangan saya ke rumahnya tidak mengejutkan, malah terlampau vulgar.



“Pak… masih ingat saya?” sok akrab


“Hmm..debt colector ya?” kata Pak Said dengan tatap curiga.

Yaelah, lihat lengan gempal, ama perut mekar langsung aja main nuduh debt colector.


“Ehemm.. saya itu loh pak, yang dulu pernah ke sini liputan, trus kita khan pernah syuting bareng!”


“Ohh... iya, mbak yang makannya banyak itu toh!” katanya sumringah


“Wadoh… diinget yang itu seh, pak!” isin dewe


Tidak lama Bu Said muncul.


“Loh mbak iki, mbiyen. Yang makan dua mangkok itu ya!” katanya super yakin.



Aduh…tobat. Ternyata adegan saya makan ugal-ugalan sampai dua mangkok benar-benar membekas di memori mereka. Tapi syukurlah mereka masih inget meski yang jelek-jelek. Sesudah menyampaikan maksud, dan ajakan untuk tampil di acara kuliner dan disambut gembira.


Saya langsung diajak Pak Sadi menuju dapurnya. Wah… pancinya besar-besar, setinggi saya. Kata Pak Said, Panci muat diisi orang segede saya.


“Coba, mbaknya mau masuk ke dalam panci,tah?” tawarnya.


Hiihihi… tega amir, kayaknya kaki saya yang segede paha sapi, cucok dibuat kikil, bok.


Usai sidak dapur dan makan di warungnya, kenyang plus dibikinin jus alpukat spesial. Saya pamit. Pas pulang Bu Said, menahan saya. Pipi saya dicubit-cubit. Lalu dicium kiri kanan. Dipeluk lama.


“Kenapa, bu?”


Wajahnya tersenyum, matanya berkaca-kaca. Bu Said memeluk saya lagi. Adegan dramatis ini cukup membuat hati saya tersayat pilu. Dan membalas pelukannya erat.


“Hmm..Mungkin saya mirip anak, atau cucunya yang hilang? Versi MD Entertaiment, Gorila yang tertukar, atau sinetron “Kupinang Engkau dengan Blewah?”


Adegan pelukan ini cukup lama. Saya sampai sesek, sebelum sampai pada tahapan nari-nari ala India. Saya keburu melepas pelukan Bu Said.Lalu sambil menatap saya, Bu Said berkata,


“Mbak, ibarat sapi, sampeyan iki sapi sonok *!” katanya gummun


"Hah... saya dipakdano sapi tibak'e! eMoooh!"


*sapi sonok = sapi gemuk yang dihias untuk dilombakan! weeeks


foto: Anton

Monday, November 07, 2011

Awas Tahu Gejrot

Dari semua jenis tahu, hanya tahu ini yang mengandung kebecekan


Di Surabaya sulit nyari penjual tahu gejrot. Pernah, teman saya di kantor, malam-malam sms. Tanya penjual tahu gejrot di Surabaya dimana? Tapi sayangnya saya nggak bisa jawab. Coba dia nanya tahu petis, tahu bulat, tahu crispy, tahu lontong! Saya pasti kasih tahu deh. Ndalalah kok, pas mau liputan ke Surabaya Hotel School (SHS) di Joyoboyo, saya malah ketemu penjual tahu gejrot. Langsung aja, saya suruh Anton si tukang ojek, buat minggir.

“Pak, gawekno yang superrrrrr pedes!” kata Anton
“Kalau mbaknya, lombok berapa?” tanya si penjual
“Saya, lombok satu tapi diparuh, pak!”
“Ha, kok aneh !!” katanya sambil geleng-geleng keheranan

Nama gejrot sendiri, kata si penjual, gara-gara kuahnya yang melimpah, dan ketika diulek bersama tahu, bunyinya jadi gejrat –gejrot gitu. Ya..untunglah nggak diberi nama Tahu becek or ngecembeng. Hihihihi….



Cara meraciknya mudah dan cepat. Tahu yang telah digoreng garing ini lalu dipotong kecil-kecil diletakan di atas mangkok. Bumbunya, cabe rawit, kemudian diberi irisan bawang merah dan bawang putih, dan diberi sedikit garam. Semuanya diulek kasar. Ulekan bumbu ini diguyur bumbu cair. “Ini campuran air gula merah, dan air asam,” katanya mengungkap rahasia di dunia pergejrotan.

Kata si penjual, kalau di Cirebon, aslinya, tahu gejrot disajikan di atas cobek kecil yang terbuat dari tanah liat. Nah, berhubung kuahnya banyak, dan sering amber, akhirnya dia memilih menggunakan mangkok saja. Yepp. Praktis sih, cuman sensasi bunyi gejrotnya jadi beda ya…

Rasa tahu gejrot ini memang nikmat. Paduan pedasnya cabe rawit, manisnya gula jawa, dan rasa segar dari asem, pas dengan tahu goreng. Karena melihat proses pembuatannya yang gampang. Saya jadi menyadari kesalahan kenapa dulu gagal di lomba tahu gejrot. Iseng-iseng, saya praktekin, buat tahu gejrot buat my sharuhkhan. Hasilnya …

“Ini tahu gejrot, apa semur, kok manis bangets!”

“Huaaah gagal maning… !”*histeris sambil nyokot Lap


Tahu Gejrot
PK5 Joyoboyo
Seberang Pom Bensin – sebelum SHS

Monday, October 24, 2011

Iwak Balung

Haiya..iya... iya. Saya ada undangan dari pemilik bebek goreng terkenal di Surabaya. Saking semangatnya, saya berangkat lebih awal, sengaja meninggalkan Anton yang asyik main onet di kantor. Janjian ketemu langsung di warungnya.


Kehadiran saya ternyata sudah ditunggu-tunggu. Langsung wawancara, blusukan ke dapur, dan foto taking. Kemudian saya sama Anton duduk anteng soalnya di suruh makan dulu. Dua piring dengan lauk bebek goreng menggoda saya.



“Tahan..tahan… belum dipersilahkan!” batin saya sambil ceklag ceklug kepengen.


Si pemiliknya ternyata suka bercerita, pertama nostalgia masa-masa merintis bisnisnya. Disambung lagi dengan cerita kisah cintanya, berlanjut ke cerita hobinya, lalu soal profil dirinya yang ada di TV ini, dimuat di koran itu.. dll.


Kuping saya memang mendengarkan, tapi mata saya nggak kompromi, liatin bebek goreng yang mengerling genit. Sini Mendol sayang…. sambil memamerkan kulitnya yang garing.


Lebih dari dua jam, si pemilik ini masih bercerita. Sementara di bawah meja, kaki saya sampai aboh diinjek sama Anton. Kode, supaya saya mengakhiri cerita berseri pemilik warung ini. Saya tak tahan lagi. Pas asyik cerita saya lalu nyelemur.


“Hmm..Pak, bebeknya itu kasihan dingin!”

“Tenang aja… biar dingin tetep empuk dan enak, kok!”


Duh… nggak kena nih sindiran saya


“Pak… bebeknya kayaknya enak, jadi kepingin!” blak-blakan

“Hahaha… . Memang banyak yang suka. Allhamdulilah, ya *Syahroni wannabe


Walah… piye to iki, kapan adegan makannya.* gremeng

Ternyata inisiatif muncul dari Anton. Berdiri menuju wastafel. Cuci tangan.


“Pak, saya makan ya!”

“Oh iya… silahkan. Ayo.. ayo!”


Hiyaaaaa…. Dari tadi napa, Pak! Disediakan dua potong bebek goreng dan satu ekor bebek utuh. Asyik.Supaya kelihatan priyayi, saya ambil satu potong bebek. Niatnya, ntar yang satu ekor dimakan nggak pake nasi. Lumayan nih.


Nasinya saya makan dikit-dikit. Di eman supaya nanti makan sama satu bebek goreng utuh. Pas tengah-tengah makan, tiba-tiba si bapak ini manggil pegawainya.


“Ti.. iki bebeknya diringkes ke dapur, nggih!” katanya sambil ngambil satu ekor bebek goreng utuh itu.


Ha...!Lho.kok!

Ojok, po’o. Pak’e! *bathin sambil panik blingsatan.


Yaa… ternyata bebeknya cuman dipamerin aja. Anton yang lihat muka saya senep gethu malah ngeledek.


“Makane tah, ojok gaya tok. Rasakno!”

“Huhuuu… bebek gorengku!”* Sambil makan nasi nyel, sama balung bebek.


Foto: Anton

Friday, September 30, 2011

Pertanyaan SARA

Berdiri di depan meja, untuk register undangan Food Panel

foto: sijagomakan

“Atas nama siapa mbak?”
“Manda”

“Beratnya?”
“Hah...apa!!”

“Oooh… ma...maaf. Maksud saya, umurnya?”* dengan wajah ketakutan

Giliran saya kok ditanya berat badan. Grhhh... * Kalap, pengen ngerakoti mbaknya!

Monday, September 26, 2011

Nasi Campur Korea

Liputan kali ini membuat saya histeris…!!!!

Ambil nafas… Puehhhh. Saya kena virus demam Korea nih. Sekarang hobi banget nyari DVD Korea. Deman korea, ini juga kebawa-bawa di kantor. Wallpaper yang dulunya, gambar Mas Matthew Belammy, saya ganti sama Lek Min Hoo.. Hehehe… biar nggak diolok-olok saya pasang gambarnya yang resolusinya kuecillll biar saya aja yang bisa lihat.foto : ayub

Susah juga kene virus ini. Pernah mata saya bengkak, gara-gara mantengin serial drama korea 24 episode sehari semalam.Hu..hu ..hu. Soalnya penasaran. Dan saya itu punya kebiasaan dari dulu, kalau baca buku, harus urut. Nggak ada namanya baca depan terus melompat-lompat ke halaman terakhir. Ini berlaku pula nonton DVD, biar episodenya sampai puluhan, dan penasaran hampir mampus, saya tekun ngikutin episodenya.

Saya sering bingung lihat aktor korea, wajahnya mirip semua, bodynya lencir, kayak nyiur melambai. Tapi yang bikin saya ngga kuattttt duh….lihat model rambutnya. Kiyutttttttt. Duh Lek..lek MinHoo..situ pake shampo apa, ya? Pake shampo nomor berapa di dunia?

Isi kepala ini rasanya Korea mulu. Pas rapat redaksi, saya ngusulin buat liputan resto Korea. Dan bahagianya ternyata usulan saya diterima. Yess!!

Setiap lihat serial drama korea, selain mantengin bintangnya yang cakep-cakep, saya paling suka adegan makan. Saya catat tuh, bahannya, penyajiannya, cara makannya. Misalnya, Pas Kim Nana yang main di City Hunter, mabuk minum Soju, minuman alkohol khas Korea. Atau salah satu adegan di Princess Hour, yang menceritakan mengapa makanan Korea memiliki banyak unsur warna. Atau Han Ji En, di Full House, masak bulgogi. Jadi, kalau adik saya termehek-mehek karena adegan romatisnya, saya malah nangis, pas lihat adegan makan. Lha kepengen soale.

Saya berangkat liputan bersama si Ayub, mahasiswa Petra yang lagi magang. Kali ini ke resto Djangheum. Disodorin buku menu mata saya jelalatan nyari makanan yang enak. Soalnya, ini liputan khan inisiatif, bukan undangan, jadi ya, bayar sendiri dong.


Terinsipirasi adegan makan di salah satu serial korea, saya akhirnya pesan nasi campur Korea, yang disebut Bibimbap. Menu nasi campur Korea ini terdiri, semangkuk nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur, sayuran, taburan wijen.Sebelum dimakan, nasi dan lauk diaduk menjadi satu. Bibimbap yang dihidangkan dalam mangkuk dari batu yang sudah dipanaskan disebut Dolsot Bibimbap (dolsot berarti mangkuk batu).

Saya sempet nggak selera lihat telor mata sapi yang setengah matang. Ternyata kata mbaknya, panas dari mangkuk batu akan mematangkan telur mentah. Oooh…

Jika Anda memesan menu ini di restoran Korea, sebelum menyantap hidangan ini, biasanya akan disediakan Namul sebagai hidangan pembuka. Berbagai jenis namul dapat dihidangkan dalam satu kesempatan diletakkan dalam mangkok dalam porsi kecil. Jadi inget nasi padang.

Biar porsinya kecil. Tapi kenyang karena banyak macemnya. Salah satu ciri khas makanan Korea, selalu disediakan kimchi. Itu..sayuran yang mirip asinan Betawi.
Ternyata, nasi campur korea, nggak cucok sama selera saya. Aneh. Soalnya diaduk-aduk. Kita aja kalau makan nasi campur nggak dicampur baur gitu. Yang benar-benar enak Bulgogi sama Sup Ayam Ginseng.

Sambil makan, saya sempet ngayal, seandainya saya di Korea beneran, dan makan sama Lek Min Hoo, ah pasti seru. Hmm… Lek Min Hoo makan bareng sama Bulek Mendol, yuuuk!. Ihiiii……. Biar harus ngabisin kimchi satu drum ane jabanin dah!

---------------------
Nb: Peluk erat buat sepupuku Dini yang sedang menempuh S2 di Busan-Korea. Annyeong Haseo

Thursday, September 22, 2011

Jatuh Bangun Penjual Kupang

U and Me …..End!

Setelah tiga tahun berjualan di Dapur Nusantara -Food Court lt 3 ITC Surabaya. Kontraknya habis. Tepatnya pada bulan Ramadhan lalu dan tidak diperpanjang. Banyak suka duka berjualan selama tiga tahun.

Waktu pertama kali buka, jadi kami penjual makanan tradisional, untuk mengisi stand yang kosong, diberi wadah mengisi Dapur Nusanara. Letaknya kurang srategis, Karena jarang sekali orang yang lewat. Saya masih ingat, awal buka hampir seminggu nggak ada yang beli. Bayangkan…
Tiga dari enam penjual langsung mengundurkan diri, karena merasa rugi. Saya tetap bertahan, karena prinsipnya saya mau merasakan
merintis usaha dari nol.

Menginjak minggu kedua, dalam sehari paling banyak laku 2 porsi. Melihat kondisi ini, agar bahan tidak mubazir, ada ide berjualan di depan rumah. Ide ini justru datang dari simbok saya. Langkah pertama yang saya lakukan, membagikan kupang gratis kepada tetangga sekitar. Niat awalnya, agar menghabiskan bahan, daripada
dibuang. Tapi dipikir-pikir bisa juga sekalian promosi.

Cara lainnya, sa
ya juga jualan di kantor. Promosi sama temen-temen siapa yang mau pesen. Dan ini sangat ampuh, karena sebelum saya berangkat selalu ada sms pesan kupang atau lontong mie.


Jadi, meskipun yang di food court sepi, tapi dagangan saya tetap jalan. Langkah berikutnya, saya undang temen-temen wartawan ngeliput dagangan saya…hehehehe. Kebetulan sebagai jurnalis kuliner temen-temen sering minta rekomendasi tempat makan. Yah, saya undang saja.

Support temen-temen wartawan ini luar biasa. Mereka ikutan bangga loh, punya temen model kayak saya ini. Mulai muncul, di rubrik kuliner, profil saya muncul juga deh. Lucunya, temen- temen males wawancara, malah saya disuruh wawancara diri saya sendiri. Hihihii….


Nama Kupang Lontong Tanjung Perak mulai dikenal. Pegawai saya ikutan senang, soalnya tampangnya ikutan nongol di liputan. Bahkan, cuman gambar tangannya yang kelihatan dia sudah seneng banget, dia belain beli dua edisi Tabloid Lezat untuk dikirimkan ke rumah ortunya di Madura.
Pelan-pelan usaha saya mulai kelihatan hasil. Pesanan lancar, aktif ikutan bazaar, dan diundang festival makanan. Allhamdulilah.

Dan setelah tiga tahun, setelah omzetnya lumayan, bahkan sampai menambah pegawai. Kerjasama ini diputus sepihak. Tepatnya di bulan Ramadhan menjelang Hari Raya. * duh pas harus nyiapin THR-an.

Sabar. .. selalu berpikir positip, pasti Gusti Allah, ada rencana lain.Dan sekarang harus bangkit lagi. Karena saya punya pegawai, kasihan nasib mereka. Saya memutuskan untuk berjualan di rumah saja. Rencananya selain kupang, niatnya mau nambah pangsit mie ayam.

Pengalaman tiga tahun lalu, dimana tiga bulan pertama saya harus jatuh bangun, bahkan tekor dulu, gara-gara nggak sumbut buat mbayar gaji pegawai merupakan pengalaman berharga. Rasanya, sekarang saya harus lebih siap.

Bersama my sharuhkhan saya yakin bisa mengembangkan usaha ini. Bismillah, dengan niat baik, dan didukung doa tulus dari pegawai saya yang tak pernah putus, saya yakin Allah akan memberi jalan.


Monggo...Kupang…kupang….sini kupangku Anget …!

Monday, August 22, 2011

Wong Lemu Mati Gaya

Suerrrr... saya jarang norak kalau ketemu sama Idola

Ceritanya memang sudah lama, ada undangan preskon tempatnya di SUTOS. Yang ngadain Flexi. Nah, yang membuat saya bela-belain datang, pertama karen
a tempatnya di De Boliva.. ihiii..makan ice cream dong! * njoget- joget.


Dan yang kedua ada SID … itu loh Superman Is Dead

Saya tergolong fans berat (dalam arti berat di badan), meskipun cuma tahu beberapa lagu mereka, itu pun numpang denger dari komputernya Anton, tapi saya suka. Bahkan ketika dikompori Anton, untuk milih mereka sebagai Band Indi terbaik lewat polling ICEMA, saya ikutan. Pokoknya kategori apa saja saya milihnya SID, Saking gelap mata, kategori dangdut saya milih SID juga * lebayyy…


Setiap ada kesempatan jumpa artis, saya hampir tidak pernah mau foto bareng. Hemm.. kecuali foto sama Surya Saputra, itu pun karena dia mengiba-iba minta foto sama saya * bo’ong ding. Hihihi…


Kadang temen wartawan juga kebangetan noraknya, foto-fotoan heboh ama artis juga. Saya nggak tuh… nggak ikutan. Saya lebih milih mlipir ngabisin makanan yang ada. * ya iyalah keboooooo…

Nah, pas ketemu SID, saya antusias sekali. Bolak-balik motoin pake kamera Hp. Sampai Anton, godhek-godhek menahan malu, lah saya belain naik ke meja, sementara Anton megangin, supaya mejanya nggak jumpalik.

“Mbak Mendol…eling umur! Eh, eling bobotmu, ini meja bisa juklek!” teriaknya histeris.


Atraksi maut itu akhirnya saya hentikan, karena banyak orang kesurupan melihat tingkah saya.*sambil ngunyah beling


Giliran sesi tanya jawab, saya bersemangat angkat tangan tinggi-tinggi. Dan langsung dijawab. MC-pun mempersilahkan para jurnalis lain, untuk mengajukan pertanyaan. Eh, nggak ada yang nanya. Saya beraksi lagi, nanya lagi. Dan aksi ini berulang …hehehe!


Saya nanya sampai tiga kali, Hahahaha… sampai si Jerinx, drumernya nervous, gara-gara pertanyaan saya.


Mbak, punya korek api nggak? Pertanyaan sulit, harus pake merokok dulu!” katanya

Hahahaha..gila
, saya dimintain korek. Ada juga kompor gas di rumah!
Sebelum kelakuan saya makin norak, dan minta foto dengan anggota SID, Anton sudah nyeret saya ke luar ruangan.

“Emoh aku moto sampeyan sama SID!”

“Opo’o, Ton?”

“Isin, mosok Groupies kok lemu!” katanya sambil buru-buru lari

“APAAA… Awas koen. Tak dadikno, A.I.D, alias Anton Is Dead !”*ngejar sambil ngelempar Pacul.


Wednesday, August 10, 2011

Kena Azab


Siapa bilang pekerjaan saya nggak ada risikonya. Nih buktinya …

Jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan. Saya ngebut ngumpulin bahan liputan. Soalnya liputan makanan pas bulan puasa nggak bisa makan. Berhubung bulan puasa dah mepet. Saya sepakat sama Anton, bakal liputan enam tempat dalam satu hari. Dan mulailah misi mulia ini

Anton & Me

Pertama Sebuah resto mewah, dengan hiburan live musicnya. Kami disambut hangat sama ownernya, setelah wawancara, kami lalu diajak makan. Menunya, Rawon campur, Ayam Panggang, Iga Bakar, Urap-Urap dan minuman 5 macam.

“Mbak Mendol, ini masih pertama lho, makannya jangan banyak-banyak!” ingat Anton.


“Ah..tenang, Ton. Ibarate iki pemanasan, santai ae jeeee… !” sok yakin.

Tibalah Tempat kedua. Restoran seafood. Kami disuguhi gurami bakar, gurami goreng, lodeh, nasi sebakul dan es puding ya
ng jadi andalannya. Wuih.. lihat makanan itu, saya sudah lemes. Kok akeh men yoooo… padahal saya cuma berdua. Mencoba bersikap sopan, saya ngomong sama yang ownernya.

“Mbak… sebelumnya saya minta maaf ya, mungkin nanti makannya nggak maksimal. Soalnya kami masih harus liputan empat temp
at lagi!”

“Oh..iya. gpp. Nyantai saja mbak!” kata si pemilik.

Pas makan, ternyata, gurami bakarnya weeenak seka
li. Bumbu pedas yang mengkaramel di kulit ikan membuat saya bolak-balik nambah nasi. Gilee… Sementara gurami gorengnya disikat sama Anton. Tapi Anton pinter makannya nggak pakai nasi.

“Ealahh.. Mbak, Katanya nggak maksimal. Guraminya kok, mbok habisin sendiri!” protes Anton.


Weeeeh… iyo. Kok tak entekno,yo!” nada tak percaya.

Di tempat kedua ini saya menghabiskan gurami bakar dan nasi setengah bakul. Glekkk!

Pindah ke tempat ketiga Kali ini tempat penjual makanan ringan. Yaitu Ketan bubuk. Porsinya kecil, semangkok kecil. Kami cuma pesen satu porsi.
“Ton, aku nyicip doank, ya. Ntar kamu yang menghabiskan!” perintah saya

Saya pun mencicipi ketan bubuk ini. W
ih.. enak tibak’e. Ketannya pulen, trus bubuk delenya gurih, paduan asin, manisnya pas. Saya jadi nyesel menyuruh Anton makan. Soalnya enak sih. Hmm.. daripada nggak enak hati. Disepakati ketan bubuknya dibagi dua. Sip!

Tempat Keempat Sebuah tempat makan di tengah sawah. Makanannya ayam goreng dan udang goreng. Apesnya, pas acara makan, ownernya malah bersikeras nungguin kami. Dia ikutan makan, celakanya, setiap piring saya kosong langsung ditambah nasi sama lauknya. Ampuuuun … bener-bener susah dah nolaknya.


Kalau si Anton pinter ngelesnya. Pas mau ditambahin nasi, dia buru-buru berdiri. Sambil ngomong, “sudah..pak. saya mau motoin suasana restonya dulu yaa..!” katanya sambil ngacir.


Tinggalah saya jadi tumbal, untuk menghabiskan satu bakul nasi dan setengah ayam goreng. Hadeww!


Tempat Kelima
Singgahlah kami ke warung Bebek! Oh My God. Everbody Knew kalau saya adalah PEMUJA BEBEK! Biar bumi berguncang, tak mungkin daku berpaling dari Bebek Goreng. Tanpa ba..bi..bu. Kita langsung disuruh makan. Adooh… saya yang kenyang, kok tiba-tiba seperti habis sedot lemak. Perut saya kok jadi terasa ringan pas lihat potongan daging bebek.

Saya pun bermain cantik di sini. Makan bebeknya nggak pake nasi. Jadi saya towal-towel dagingnya sama sambel.


“Wah… makan nggak pakai nasi, kalau habis empat potong, yo podo aeee mbak! Protes Anton.Hihihi


Tempat keenam
Dalam perjalanan ke tempat keenam. Saya sudah kekeyangan. Perut saya atos. Tiba-tiba kepala saya berat sekali. Mata saya ngabur. Susah bernafas. Ya Allah… saya dikasih cobaan apa nih! Bathin saya

Perut saya mual. Tiba..tiba… Byarrrrrrrrrrrrr!!!! Saya muntah dalam perjalanan ke resto yang keenam. Dipinggir jalan saya Hoek....Hoek Byurrrrrr!

Sementara si Anton nggak ada empati sama sekali. Dia malah ketawa-tawa. Setiap ada orang yang ngeliatin saya, eh…si Anton malah teriak.

“Maaaf yaa…lagi hamil muda!!!” katanya sambil ketawa ngakak


“Woiii..Ton. Hamil gundulmu! Wong aku iki lemu permanen kok!” asem tenan Anton.

Setelah menenangkan diri. Dan mengatur nafas. Saya geleng-geleng sendiri, sambil mbatin, inilah ganjaran orang yang murko, mangan nggak aturan akhirnya dikasih azab muntah dipinggir jalan. Duuuuh..


“Jadi gimana, lanjut liputan, opo muleh ae, mbak?” tanya Anton, jongos saya.


Hmm.. saya bimbang. Saya kepalkan kedua tangan, lalu dengan semangat bak kompor komatsu, saya teriak.


“Demi profesionalisme, dan tanggung jawab sebagai redaktur kuliner. Mari kita teruskan perjuangan kita, Ton. Jangan menyerah, dan putus asa, apalagi sampai nggak mau makan!. Ingat. Kita ada jurnalis kuliner sejati, tak akan patah arang cuma gara-gara kelenger kebanyakan makan. Ayo kita teruskan liputan, dan makan lagi!”


Anton memandang saya, lalu …… Hoekkkkk!!! Ganti Anton yang muntah……
Hahahahahahaha…Kapok Koen!

Friday, July 29, 2011

SEDAP Jakarta

Kupang Lontong Tanjung Perak di Senayan

Eitsss… ini bukan berarti saya buka cabang ya! Tapi kesempatan ini datang, karena Kupang Lontong saya terpilih jadi duta dari
Surabaya versi tabloid Sedap. Bangga…pasti! Wong diundang ke Jakarta, di Senayan lagi, di acara SEDAP MIGHTY CULINARY, tanggal 24 Juli lalu.


Nggak nyangka lho, ternyata orang Jakarta cukup antusias makan Kupang, terutama warga Jawa Timur yang tinggal di sana. Wah..begitu tahu dari Surabaya, langsung pake basa Suroboyoan. “Mbak aku iki arek Ngagel, lho!” kata seorang bapak yang memborong sepuluh porsi.

Ada juga ibu-ibu yang langsung ngajak ngobrol dengan bahasa Jawa, untuk memastikan apakah saya asli wong Jowo, bukannya badut
Afrika. Maklum, rambut saya khan keriting, kulit item, badan montok.

“Situ beneran dari Surabaya?”
“Inggih, bu!”
“Dodol Kupang ae, kok yo isok nang Jakarta. Piye nggolek kupange?”
“Kupange nggih saking Suroboyo, bu. Teng mriki boten woten.”

Si ibu ini kaget, pas saya bilang, kalau semua saya bawa langsung dari Surabaya. Bayangin aja, saya naik Kereta Api, bersama dua pegawai, sambil bawa kupang 30 kg, kerang 30 kg. Booo..aboooo, kalo orang pergi bawa koper isi baju, lah saya malah koper isi Kupang!

Stand saya cukup rame, dari yang pesan sampai yang sekedar penasaran. “Kupang
itu apaan sich? Kupang yang di NTT itu bukan?" tanya seorang pengunjung. Hihihi… Kupang Lontong di NTT mah kagak ada neng!

Saya dibantu tiga pegawai sampai kewalahan. Bahkan yang antre sate aja bela-belain nungguin satenya disunduk. Kurang dari 2 jam, sate kerangnya ludes. Es degan juga demikian.

Begitu tahu saya didatangkan langsung dari Surabaya, dan nggak punya stand di Jakarta banyak pengunjung yang meminta agar segera buka di Jakarta. Saya sih niat bangets jualan di Jakarta. Tapi modalnya !!! nggak..nggak ..nggak kuat. Heheheh…


Ya, pengalaman jualan di Jakarta di acara Sedap Mighty Culinary ini sangat berkesan, apalagi bisa mengobati kangen warga Jawa Timur yang dah lama nggak makan Kupang.

Tapi yang membuat saya paling terharu, adalah dukungan dari saudara-saudara saya di Jakarta. Ada
Bude Yani dan Pakde Didi, yang datang, nyempetin makan trus nyangonin saya. Hehehe…. Isin aku!

Terimakasih buat Om Bokang dan keluarga yang ikut usung-usung, masang spanduk, sampai up date di FB dan Twitter, setiap menit menyampaikan perkembangan berapa sisa porsi yang masih tersedia.. ceileeeee. Dan terimakasih tak terhingga buat Bude Lis, untuk segalanya, pinjaman dapur, panci, piring, traktirannya, semoga Bude diberikan kesehatan, dan rejeki.

Oh iya, satu lagi, terimakasih Bude atas pinjaman mobilnya, gara-gara nggak tahu
medan, dan nggak pake GPS, saya malah nyasar ke Taman Lawang, dan dihadang bencong, sempet disuguhi atraksi erotis gethu… haduh.

Tapi, begitu tahu saya perempuan, mereka langsung minggir. Akhirnya, saya beserta empat panci kupang lontong selamat sampai tujuan. Slamet...slamet....Hehehee….

Tuesday, June 21, 2011

Sapi Tanpa Hidung

Beginilah akhir dari Sapi Hidung Belang

Pegawai saya yang njaga di ITC, minta libur buat nemenin anaknya. Berhubung hari Minggu, saya ganti yang jualan. Allhamdulilah ... kupang sama sate kerang laris. Pas lagi mengantarkan pesanan sate kerang, tiba-tiba saya dipanggil sama seorang ibu-ibu.

Sate kerang, Kupang Lontong Tanjung Perak
foto by : Anton


“Apa yang kamu bawa itu?” tanyanya ke saya
“Ini kerang,
Bu!”
“Apa itu kerang ?"
“Kerang, Bu. Keeeee…raaaanggg!” Sambil mangap

Si ibu ini kelihatan masih bingung

“Makannya sama apa?”
“Makannya ya, sama Kupang, Bu?”
“Apa itu Kupang?” tanya si ibu ini lagi
“Kupang, Bu. Kuuuuu….Paaaaang!" *mangap lage deeh

*Wis embuh..kok saya malah njawabnya jadi molorr gethuu!

Si ibu dengan dua temannya masih tolah-toleh. Tambah bingung kayaknya.

“Oke. Bolehlah saye cuba!”
“Nyoba yang mana, Bu?”
“Itu..loh. Keeeee….raaaaaang!" sambil mangappp juga

Hahahaha… dia ganti niruin gaya saya

Akhirnya saya menyajikan pesanan satu porsi kerang yang berisi 10 tusuk. Dicocol sambal petis yang yahud. Lalu Ibu ini
njawil saya.


Rujak Nose Cow hehehe...


“Apa itu Rojak Cengur!” katanya sambil menunjuk ke papan menu

Feeling saya, mulai menebak-nebak. Pasti orang ini dari luar Jawa karena nggak tahu rujak cingur.

“Ibu dari mana, kok nggak tahu rujak cingur?” tanya saya
“Oh, saye nih bertige orang Singapor!”
“Oh… begitu. I see!” *berlagak kemingris


“Cuba jelaskan, apa itu Rojak Cenguur?” katanya meminta

“Rujak is like salad, but use petis for dressing!”
“Kalo Cengur?”
“Cengur…is Nose Cow!” jawab saya spontan

Pas denger ini muka si ibu langsung mingsrut

“Idung sapi! Becanda kau nih!”sambil megang meja saking shocknya
“I’m not kidding, tastenya kenyal-kenyul, lho!”
*Hadeh..kenyal-kenyul bahasa Inggrisnya opo yo? Bingung aku!

“Saye tak suke ada nose-nya. Tapi saye suka petis!”
“Lho, bisa kok nggak pake cingur, mau saya orderin, Bu?”
“Tak..tak usah. Ngeri saya liat Cengur!” *sambil gidhik-gidhik

Menyelami perasaan sang ibu. Tiba-tiba, saya kok membayangkan barisan sapi tanpa hidung, gara-garanya hidungnya dibuat rujak cingur. Hiiii……

Sunday, June 05, 2011

Pak Bondan & Me

Ketemu Pak Bondan, saya pun dinasehatin kalau makan jangan berlebihan. Upst..

Ada tempat makan baru di Surabaya. Namanya Eat and Eat. Tempatnya keren, dengan konsep ChinaTown. Nuansanya benar-benar jadul, dekornya juga. Yang paling membuat saya kepingkel-pingkel pas lihat interiornya ada Panci Blerek. Duh jadi ingat jaman kuliah, ada teman yang ngadaikan Panci Blerek di pegadaian. Huahahaa……..


Pas acara pembukaan saya diundang, dan berkesempatan bertemu dengan Pak Bondan, dan Pak Iwan Tjandra, yang memiliki profesi sebagai Food Artist. ( Ternyata food artist ini, mirip seperti food stylist, tapi jauh lebih kompleks, nggak sekedar menentukan makanan, tapi termasuk desain ruangan).

Ssst… padahal saya kira, food artist itu, tukang ngasih makan artis gethuuu…hihihi.

Duh seneng sekali ketemu Pak Bondan, a
palagi saya duduk berdua, dan mengobrol akrab. Tapi sesekali, ada aja yang mengusik, apalagi kalau para tamu yang kepingin foto sama Pak Bondan.

“Ehmm… mbak minggir ya, mending mbak ngadep belakang aja. Nah, punggungnya lumayan buat dijadikan keber!” kata seorang pengunjung yang menyamakan geger saya, dengan kuade manten. Jambuuu..! Tapi, enak juga duduk sama Pak Bondan. Dikit-dikit ada yang nyuguhin makanan. Syukurlah saya selalu kecipratan.* apa saya dikira centengnya Pak Bondan, ya!


Saya lalu ngobrol gayeng :

“Hmm.. Pak Bondan, bener yang ditayangin tuh benar-benar enak? Ntar kalau nggak enak tetep dibilang, mak nyus!” *selidik saya bernada investigasi.

“Kalau saya bilang enak, itu benar-benar enak. Kalau tidak enak, tidak ditayangkan!” tegas Pak Bondan

“Hah! Serius! Masa sich Pak Bon?” *lho kok serasa sama tukang kebon, hehehe.


“Iya, bener! Pernah kok ada restoran dengan menu yang biasa-biasa, akhirnya tidak ditayangkan!” katanya serius.


Catatan menarik lainnya, Pak Bondan bilang, Indonesia kalah jauh sama Thailand soal promosi kuliner. Bahkan pemerintah Thailand memiliki target membuka 10 ribu resto Thailand dalam kurun waktu 3 tahun di seluruh dunia. Dan ini sudah terwujud, bahkan melebihi target. “Support pemerintah kita sangat kurang, padahal kuliner bisa dijadikan daya tarik wisata!”tegasnya.


Ngobrol sama Pak Bondan memang menyenangkan, ditemani es palu butung sebaskom, sedangkan Pak Bondan sepertinya hanya menikmati tiga-empat suapan saja. *Saya habis dua mangkok setengah, yang setengah punya teman saya nggak habis. Hihihi..

Note buat Pak Bondan:
Pak… Pak Bondan. Jujur saja, sebenarnya kalau ketemu Pak Bondan, pengennya saya malah tidak membahas makanan. Karena saya mengagumi Pak Bondan jauh sebelum tenar sebagai pakar kuliner. Saya ingat, pas masih baru jadi wartawan, dan ikut pelatihan jurnalistik bersama rekan-rekan AJI –Surabaya, bahwa Investigasi Pak Bondan dalam kasus skandal Busang selalu dijadikan contoh, sebagai investigasi jurnalistik terbaik sepanjang masa.

Thursday, April 14, 2011

Jeruk Grebek

Gara-gara menawar jeruk petaka kudapat




Sebagai p
edagang Kupang, jeruk memegang peranan penting. Kupang lontong tanpa dikecruti jeruk, ibarat orang pacaran nggak grepe-grepe. Halah... halah...

Karena persediaan di rumah habis, saya pun ke pasar mo kulakan jeruk nipis. Sampailah ke seorang
bakul sayur yang kebetulan jualan jeruk. Setelah tawar menawar akhirnya disepakati sekilonya Rp 10 ribu. Pas saya ongkrek-ongkrek, ketahuan dah, kalau jeruknya banyak yang busuk. Saya jadi urung mo beli. Setelah lihat-lihat, saya pun bilang,

“Bok, nggak jadi. Akeh sing bosok!” kata saya sa
mbil berlalu.
Saya pikir sudah selesai. Ternyata TIDAK!. Saya dikejar, sambil diteriakin.

“Woiiiii….mau pergii kemana … Woiiiiii!”

Saya bener-bener nggak ngeh, kalau si penjual itu neriakin saya, lha wong pa
sar rame sekali kok. Saya terus aja jalan, dan si Bok ini teriak,

“Woiiiii…. cekelno Mbak sing lemu iku!” sambil nunjuk-nujuk ke arah saya.

Tiba-tiba saya dihadang dua orang tukang becak.
“Hayooo… mau lari kemana, koen!” katanya seolah sedang menangkap Gorila yang lepas di Bonbin.


Kaget pastinya. Karena tiba-tiba orang di sekitarnya juga ikut
-ikutan mengepung saya. Si Bok, yang ngos-ngosan ngejar, lalu narik tangan saya.

“Peno iki yo opo, tadi khan sepakat sepuluh ribu, lha kok ditinggal mlayu, seh!”

Haduh, saya maunya mendebat, tapi kondisi bener-bener nggak enak. Semua orang memandang saya dengan sinar kebencian, seakan-akan saya adalah mahluk alien yang kerjaannya suka mbikin crop circle.

Dalam keadaan serba chaos, bak film India, lha kok tiba-tiba ada hansip yang ikut menyeruak dan memasuki medan perang.

“Sek, arek lemu iki nyolong opo, Bok?” katanya sambil mengeluarkan senjata pentungan andalan.

JAMBUUUU. …!!! Saya, manda la mendol, yang hobi makan 7 kali sehari, makan bebek beracun, dan jadi vegetarian selama dua hari dituduh pencuri!!! NGGAK TERIMA!

“Siapa yang nyolong, Pak! Saya ini cuma nggak jadi beli, kok!”

“Yo, nggak isok mbak. Sampeyan tadi khan sudah nawar!” cerosos si Bok sambil memperbaiki sarungnya yang mlorot.

“Oohh..gitu! Yang bener mbak, kalau dah nawar harus beli, dong!” kata Pak hansip ini nggak mau kalah sama si Bok, naikin sabuknya yang mirip tali tambang.

Suasana pun makin panas, orang pada gerombol. Jalanan pasar macet total. Akhirnya, saya dikawal si Hansip menuju kios si penjual jeruk. Saya dipaksa menerima sekilo jeruk setengah busuk dengan harga sepuluh ribu. Saya nyerah. Si Bok pun tersenyum penuh kemenangan, menampilkan gigi platinanya.

Moral of the story ini adalah, lain kali kalau saya ketemu sama si Bok ini, saya bakal mlorotin sarungnya. HUH… Dendam kesumbet!

Wednesday, March 23, 2011

Jebakan Sambel

Sambel Ngumpet Bikin Gabres-Gabres


Saya akhirnya ke Blitar. Bukan dalam rangka tugas sich, tapi dalam rangka mengantar adik saya . Seneng jalan-jalan ke Blitar, apa-apa masih murah. Beli gorengan segede gambreng harganya cuma limaratus rupiah. Beli nasi pecel, harganya cuma 4 ribu. Yang paling lucu, di Blitar ada satu-satunya waterpark, dan namanya rada mesum, SUMBER UDEL. Hehehe…!


Malamnya kami sempatin jalan ke alun-alun. Pas mau beli souvenir, adik saya malah mborong kaos, mug, dan pernak-pernik gambar Soerkarno.Iyalah... Kruyuk..kruyek perut lapar, kami langsung menuju SOTO SIMPANG LAWU. Katanya ini adalah khas Blitar. Singgahlah kami ke sana, wah ramai sekali.



Foto : Anton


Ternyata soto khas Blitar ini isinya daging dan jeroan sapi. Kuahnya keruh, rasanya gurih sekali, mirip seperti soto daging Malang, ada koyah kelapa.


Semangkuk, dagingnya berlimpah, cuma Rp 5 ribu. Adik sama my sharuhkhan, begitu tau harganya murah dan dagingnya lumanyan banyak, malah kalap tambah sampai dua porsi. “Kapan lagi nemu soto daging sak-umbruk regone murah!” kata adik saya yang, sekarang tinggal di Batam.


Soal soto khas Blitar ini, ada uniknya juga. Jadi, pas saya pesan, ditanyain sama yang jual.


“Mbak, sotonya pedes atau nggak?”

“Sambalnya diikittt aja, Pak!”


Akhirnya pesanan datang, kebiasaan saya, selalu mencicipi kuahnya dulu.

“Hmm.. kok nggak onok pedes’e, blas, yo?”


Mata saya lalu jelalatan di meja, tapi tak nampak mangkuk sambal.

“Nyari apa?” tanya sharuhkhan

“Iku loh sambel’e kok nggak onok?”

“Lho, sambelnya di dalam mangkoknya. Coba diudek, sek!”


Berhubung kuahnya agak keruh, saya udek-udek dikit.Ternyata oh ternyata, soto khas blitar ini ciri khasnya, sambal ditaruh tersembunyi di tengah nasi.Gara-gara jebakan sambal ini, bibir saya langsung ndower gabres-gabres.


Soto Blitar

Jl Simpang Lawu - Blitar

Nb: Nggak sempet moto, tapi penampakannya kurang lebih begitu.


Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...