Friday, October 08, 2010

Daging Sapi 10+


foto : Anton


Harga 5 kilogram daging ini,bisa buat DP rumah di daerah Juanda


Saya hampir nangis menantap seporsi sajian yang harganya Rp 600 ribuan. Cantik sekali, apalagi dihiasi daun bawang sak strip. Yah, lagi-lagi saya disuguhi makanan mewah. Kalau dulu dah pernah makan steak setengah juta, yang pakai daging kobe, lalu makan hati angsa Foei Grass, dan escargot di Resto Perancis. Maka satu lagi pengalaman saya menyantap daging superrrr empyukkkk yaitu Wagyu.


Undangan kali ini dari IMARI Japanese Resto, JW Marriott Surabaya. Yang jelas saya berterimakasih sama Wike, PR JW Marriott, yang selalu menunggu-nunggu kedatangan saya untuk update gosip..eh maksutnya untuk liputan. Hehehehee…*dasar ibuk-ibuk. Wike, gemes banget sama saya. Soalnya setiap kali menyebut wagyu, saya malah bilang Wahyu. Bener-bener susah, lidah saya terlanjur keriting.


Oh ya, kembali kehidangan Rp 600 ribu ini. Jadi wagyu ini dikombinasikan dengan Unagi alias Belut. Pada susunan nomor tiga, ada belut yang digoreng lalu dicacah halus. Kemudian dicampur dengan jamur Enoki dan Shitake dan diguyur dengan Truffel Sauce Mushroom.


Sebelum disajikan, seperti biasa Chef Takashi Murayama menjelaskan tentang sejarah daging wagyu. Wagyu, artinya wa, yang berarti Jepang, dan gyu, yang berarti daging sapi. Keistimewaan daging ini karena sapinya diperlakukan khusus, tidak sebagai kuli kasar, tapi hanya duduk-duduk saja sambil dipijit. Makanannya juga dipilih, selain rumput terbaik juga biji-bijian bernutrisi.


Gyuniku Tataki


Wagyu yang beredar di Indonesia, katanya berasal dari Australia. Soalnya, kalau dari Jepang harganya jauh lebih mahal. “Tapi yang di Australi bibitnya ya dari Jepang!”

Rasa penasaran untuk melihat daging super mahal dari sapi super malas ini akhirnya terjawab.Chef Takashi juga menunjukan daging yang dibuntel kain putih. Kira-kira beratnya 5 kilogram.


“Ini wagyu gradenya 10 +, alias terbaik. Segitu harganya 20 juta!” katanya sambil menuding daging wungkul itu.


Saya yang awalnya towal-towel, langsung menarik diri. Iya takut kalau dagingnya cuwil ... ntar harus diganti donk. Emang barang pecah belah yaaa…


“HAH… Daging yang kelihatan banyak lemak ini mahal sekali!” *sambil inget kuah gajih di bakul bakso.


“Eh, jangan salah. Ini rendah kolesterol karena lemaknya tidak mengendap dalam tubuh!”


Tibalah giliran saya menikmati, tangan saya bergetar mengambil potongan wagyu.Pas sampai ke mulut ….. *suara gemuruh petir mengelegar, anjing melolong, suara perut semakin kemruyuk. Duesssss…, dagingnya empuk, lembut. Pas dimakan tidak terasa seratnya. Lembutttt sekali. Haduh, seperti nggak makan daging.


“Ton, kok rasane ngene yo. Alusssss bangets!”


“Mbak Mendol, sampeyan biasa makan daging kothot-kothot. Yo kaget!”


Haduh, ancene Anton koplak, kok yo ngerti kelasku hanya sanggup beli daging tetelan. Hehehehe.


Sungguh saya tidak sanggup makan daging Wahyu itu… karena malah tidak terasa sensasi hewaninya. Lak percuma… menurut saya yang ndeso bin ndesit ini, justru menyesap bumbu yang tersembunyi diserat daging, dan berduel adu kuat dengan serat yang nakal merupakan tantangan menarik.


Saya segera menarik diri sebelum terlalu jauh dan ilfill dengan daging tanpa serat itu. Perjuangan selanjutnya saya serah terimakan ke asisten saya, Anton. Yang langsung berbinar-binar, bangga karena tidak menyangka, saya yang biasanya tukang ngabisin, mangan ra eling konco, tiba-tiba memberi mandat menghabiskan wagyu.


“Mbak Mendol..aku terharuuu. Mandatmu ini akan terpatri dalam hidupku!” katanya sambil memandang gummun.


“Anton..anton jan lugumen rek iki !” Ha..Hi..hi.. hi...*Macak jadi Bernard Bear.



Imari Japanese Resto

JW Marriott Hotel –Surabaya



Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...