Skip to main content

Lemper Rasa Sushi

Chef Jepang ini berpesan," Kalau ke Amerika jangan nyari Soto Madura!"


Ternyata menu nggak otentik bisa membuat sakit hati warga negaranya loh. Seperti kisah TAKASHI MURAYAMA, Executive Japanese Chef IMARI, Japanese Resto Hotel JW Marriott.

Kita ngobrol gayeng lha, dia
lancar banget ngomong bahasa, lha Takashi ini sudah 18 tahun tinggal di Indonesia. Istrinya malah orang sunda. Jadi jangan heran kalau di akhir kalimat selalu ditambahkan “Yo Wes” heheheheh.

Untuk menjadi chef sushi, dia harus belajar selama 10 tahun. Jadi dia mengerti tentang filosofi sushi. Pas asyik ngobrol dengan teman-teman, dia tiba-tiba bertanya.


“Eh, yang gemuk di pojokkan,
ngabisin sushi. Doyan yah!”
“He’e!” *nggak bisa njawab mulut penuh


“Nurut kamu, sushi yang paling enak di mana ?”
“Hmm… nurut aku yang paling ena
k di xxxx !” *(menyebut resto jepang di surabaya barat)

“Ya, saya tahu itu. Memang ramai. Tapi mana ada orang Jepang makan ke sana!”

Hmm bener juga. Pas saya ke sana yang
banyak makan orangnya putih-putih tapi pake bahasa suroboyoan semua.

“Soalnya kalau nurut orang Jepang itu bukan Sushi!” *protesnya.

Wah..wah, ada benernya juga. Soalnya rasanya lokal bangets sih, mana disediakan saus sambel sama saos tomat pulak. Hihihihi…. Khas wong Indonesia.


“Itu susahnya. Sushinya nggak otentik. Jadi malah aneh buat orang Jepang!” *katanya sambil geleng-geleng.

Saya pun angguk-angguk sok simpati.

“ Ibaratnya kamu tinggal di Amerika. Trus di Amerika ada yang jual Soto Madura, kata orang paling enak. Giliran kamu nyoba, kok rasanya biasa-biasa, malah kayak sop. Bagaimana perasaanmu !* katanya ganti bertanya.

Saya ganti terpekur…


Saya pun menjawab dalam hati. Hmmm… kalau saya dihadapkan pada situasi itu. Pastinya saya labrak tuh si penjual. Trus saya nanya, “Peno iki Meduro endi, Cong !”
Nah kalau dia jawab, “Aku iki Meduro blasteran !” ya, maklum aja.* Soalnya nggak jelas blasteran karo sopo. Wakakakaa.

Asal mula rasa gelo, Pak TAKASHI MURAYAMA, gara-garanya ada orang pesan Mochi. Eh pas dibuatin, lha kok si pembeli ini komplain.


“Mochinya kok nggak kayak saya beli di mall, ya!” protes si pembeli.

Jelaslah si Pak Takashi ini penasaran. Akhirnya belilah dia mochi versi mall-mall. Dan ternyata mochi versi mall ini jauuhhh banget rasanya dengan mochi beneran.

“Sebenarnya saya bisa buat mochi model gitu. Tapi, nanti saya dituduh Jepang-Jepangan sama orang Jepang!"*katanya manyun. Wakakakakaka…….

Comments

  1. semua harus berani berubah, tidak hanya para chef handal, tapi kita semua!

    ReplyDelete
  2. hehehehe iyah yah disini aku mbikin lemper..orang2 komen ooo this must be Indonesian sushi.....lebih enak dari sushi jepang...kekekekeke itu kata orang2 bule...

    nah klo di Indonesia sushi make sambel???weeee ya ndak cocok to
    aku iso nebak sushi2 kui..inari..nigiri dll dll

    ReplyDelete
  3. Istrinya malah orang sunda. Jadi jangan heran kalau di akhir kalimat selalu ditambahkan “Yo Wes”

    lha itu kan trademarknya wong jowo mbak, kl org sunda ya semisal: itu mah.. atuh..

    aku dewe blasteran wong sundo-malang tp saiki logate malah dadi jowo solo

    ReplyDelete
  4. @Mbak elen: Nikahnya emang sama org Sunda tapi lama tinggal di Surabaya, gethu maksutnya. :)

    ReplyDelete
  5. eko magelang6:43 PM

    mbak suka sushi ?

    ReplyDelete
  6. Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^

    ReplyDelete
  7. Iya, banyak masakan yang disesuaikan selera lokal, supaya laris. Namanya juga dagang, kan nyari lebih. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rejekine Wong Lemu

Memory Gubeng Pojok

Kisah Cinta Sharukhan dan Spring Bed


Tempat makan lawas, dengan harga ramah di kantong ini salah satunya, Gubeng Pojok. Saya punya memori indah dengan depot satu ini. Ya masa-masa jaman pacaran sama my sharukhan, masa-masa habis nonton bioskop di Mitra, dah gitu kelaparan nyari makan. Ke sini tempatnya. Alasannya, murah bangets, masuklah buat my sharukhan yang pacarnya sekali makan bisa 2-3 piring…hihihi

Seporsinya dulu cuman Rp 8 ribu-an, ngga beratlah kalau saya nambah 2 kali, masih masuk akal. Hihihi..
Tidak ada yang berubah di gubeng pojok, kursi meja suasananya tetep. Yang berubah harganya. Sekarang sudah Rp 11.000,- tapi masih murah seh nurut saya. 


Dari dulu sampai sekarang my sharukhan seleranya tetep. Krengsengan, sama jeruk anget. Wis!. Kalau saya juga tetep, kare ayam, nasi goreng, rawon. Maksutnya habis makan rawon, nambah nasi goreng, kadang kare ayam. Ya maksutnya pancetnya nambah 2 sampai 3 piring getoooo.


Pilihan kita duduk di pojokan, sambil mengenang masa pacaran…cieee c…

Makan Enak, Nyantai di Hotel Berbintang dengan Pemandangan Indah Luar Biasa

Yuks, bro and sis.. tandai kalender kalian, buat bisa berlibur ke sini. Pesan online bayar mudah Pake Traveloka aja, pesan tiket pesawat, booking hotel, perjalanan, traveling. ... Ngga pake mumet, cukup satu ketukan, pembayaran beres….duh, senangnya.

 Bali yang indah seakan tak ada satukata yang bisa melukiskan keindahannya. Bali yang memesona membuat wisatawan selalu datang kembali untuk menikmati pesonanya. Bali yang menawan membuat siapapun akan datang dan membuktikan sendiri cantik dan mengagumkannya sebuah pulau kecil di timur Indonesia ini.
Salah satu keindahan alam yang menjadi magnet wisatawan adalah Pantai Nusa Dua yang berada di ujung selatan Pulau Dewata ini. Pantai ini dikenal dengan pantai terbersih dan cukup nyaman karena tidak secrowded Pantai Kuta. Juga tidak seeksklusif Pantai Seminyak yang memiliki berbagai macam resor dengan harga fantastis.
Di Pantai Nusa Dua ini kamu bisa memilih Grand Nikkosebagai penginapan di Bali. Lokasinya berada di Jl. Nusa Dua Selatan, Benoa, …