Friday, April 16, 2010

Makan Bumbu Gelo

Setelah makan yang satu ini saya merasa bersalah

Iya sih, saya memang pemakan segala. Eh, enggak ding. Udang, lobster, sama yang harem-harem tentu ndak saya makan. Soal makan saya sering bikin janji pada diri sendiri. Tapi selalu mbleset.

Gara-gara asam urat, saya pernah janji membatasi makan bebek semingu sekali. Tapi aduh suseh rasanya meninggalkan kebiasaan ini. Apalagi kalau lewat bebek Pasar Turi, atau Bebek Yudi. Duh, serasa warungnya memangil-manggil saya untuk mampir. Akhirnya habislah dua porsi!


Soal Bakso lagi, gara-gara di depan kantor ada Pak Djo, yang jualan bakso. Hampir tiap sore makan. Rada panas hati juga kalau
lihat si Anton makan telap-telep. Saya ikutan pesen. Bedanya, bakso pesenan saya yang jumbo. Hehehehe…sesuai ukuran toh!


Nah, seperti biasa, ada undangan makan.
Kali ini menunya Goose Liver, alias Hati Angsa. Wuiih, si Anton suenengg bangets sampai gulung-gulung, saya juga seneng, sampai lonjak-lonjak yang mengakibatkan guncangan hingga 5,7 skala richter. *Biyuh-biyuh. Seneng donk, soalnya kita berdua belon pernah tuh Makan Hati (Angsa).

Sampailah kami di restoran Chinese ini. Penasaran kenapa kok Angsa, cuman diambil hatinya aja. Emang dagingnya nggak ena
k apa? Khan masih sodaraan tuh sama si bebek. Masa beda dagingnya?

Ternyata beneran, Angsa ini yang diolah cuman hatinya saja. Bagian lainnya apalagi dagingnya kata Chef-nya nggak enak. Karena saya rewel sekali nanya ini-itu, akhirnya si chefnya nunjukin hati angsa mentah ke saya.


Wah, hati Angsa ini nggak sama dengan hati ayam or bebek. Hatinya gede sekali, 10 kali lipat dari hati ayam. Warnanya putih bersih. Jadi bayangin aja itu piring saji yang lonjong, ukurannya sama dengan hati angsa. Wiih…nggak heran kalau makanan ini istimewa.


Hati Angsa ini diolah lalu dipadukan dengan potongan terong crispy.
Saya sama Anton, dengan senang hati menikmati makanan mewah ini.


“Ooh…hati Angsa rasane tibae ngene, yo Mbak.” *gummun

“Woi…Ton, yang mbok makan itu terong ! Bukan hati angsa!” * Duh, arek iki ancene parah. Masak ndak bisa bedain terong sama hati angsa. Isin dewe

Bumbunya sih enak, Lada hitam. Tapi kalau pas dikunyah, tuh hati angsa lembut sekali. Ndak ada seratnya. Saya rada merem-merem gitu makannya. Habis kayak makan lelembut, maksudnya mirip puding tapi yang encer gethu loh.

Sekedar tahu, saya ikutan makan dua, tiga, empat potong. Lalu saya sundul dengan terong crispy.

Nah, pas balik kantor dan ngetik laporan, iseng saya browsing tentang hati angsa. Saya kaget, gethun, marah. Perasaan saya nggak karu-karuan.

Ternyata untuk mendapatkan hati angsa, caranya TIDAK manusiawi sekali. Jan… nggak tega saya cerita. Klik saja Penggemukan Hati Angsa Secara Paksa.

Sungguh saya nyesel makan hati ...

Monday, April 05, 2010

Lemper Rasa Sushi

Chef Jepang ini berpesan," Kalau ke Amerika jangan nyari Soto Madura!"


Ternyata menu nggak otentik bisa membuat sakit hati warga negaranya loh. Seperti kisah TAKASHI MURAYAMA, Executive Japanese Chef IMARI, Japanese Resto Hotel JW Marriott.

Kita ngobrol gayeng lha, dia
lancar banget ngomong bahasa, lha Takashi ini sudah 18 tahun tinggal di Indonesia. Istrinya malah orang sunda. Jadi jangan heran kalau di akhir kalimat selalu ditambahkan “Yo Wes” heheheheh.

Untuk menjadi chef sushi, dia harus belajar selama 10 tahun. Jadi dia mengerti tentang filosofi sushi. Pas asyik ngobrol dengan teman-teman, dia tiba-tiba bertanya.


“Eh, yang gemuk di pojokkan,
ngabisin sushi. Doyan yah!”
“He’e!” *nggak bisa njawab mulut penuh


“Nurut kamu, sushi yang paling enak di mana ?”
“Hmm… nurut aku yang paling ena
k di xxxx !” *(menyebut resto jepang di surabaya barat)

“Ya, saya tahu itu. Memang ramai. Tapi mana ada orang Jepang makan ke sana!”

Hmm bener juga. Pas saya ke sana yang
banyak makan orangnya putih-putih tapi pake bahasa suroboyoan semua.

“Soalnya kalau nurut orang Jepang itu bukan Sushi!” *protesnya.

Wah..wah, ada benernya juga. Soalnya rasanya lokal bangets sih, mana disediakan saus sambel sama saos tomat pulak. Hihihihi…. Khas wong Indonesia.


“Itu susahnya. Sushinya nggak otentik. Jadi malah aneh buat orang Jepang!” *katanya sambil geleng-geleng.

Saya pun angguk-angguk sok simpati.

“ Ibaratnya kamu tinggal di Amerika. Trus di Amerika ada yang jual Soto Madura, kata orang paling enak. Giliran kamu nyoba, kok rasanya biasa-biasa, malah kayak sop. Bagaimana perasaanmu !* katanya ganti bertanya.

Saya ganti terpekur…


Saya pun menjawab dalam hati. Hmmm… kalau saya dihadapkan pada situasi itu. Pastinya saya labrak tuh si penjual. Trus saya nanya, “Peno iki Meduro endi, Cong !”
Nah kalau dia jawab, “Aku iki Meduro blasteran !” ya, maklum aja.* Soalnya nggak jelas blasteran karo sopo. Wakakakaa.

Asal mula rasa gelo, Pak TAKASHI MURAYAMA, gara-garanya ada orang pesan Mochi. Eh pas dibuatin, lha kok si pembeli ini komplain.


“Mochinya kok nggak kayak saya beli di mall, ya!” protes si pembeli.

Jelaslah si Pak Takashi ini penasaran. Akhirnya belilah dia mochi versi mall-mall. Dan ternyata mochi versi mall ini jauuhhh banget rasanya dengan mochi beneran.

“Sebenarnya saya bisa buat mochi model gitu. Tapi, nanti saya dituduh Jepang-Jepangan sama orang Jepang!"*katanya manyun. Wakakakakaka…….

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...