Skip to main content

Tak Semudah Membalik Ikan (NO SARA)

Sekedar membalik ikan ternyata bisa berdampak sistemik..hiyaaaa


Sebuah kisah menarik waktu liputan saat perayaan Imlek lalu. Saya sama Anton memutuskan datang ke satu hotel bintang lima. Kami disediakan round table, kebetulan disebelah saya ada wartawan koran Mandarin.

Dia lihay sekali pakai sumpit, pokoknya nggak ada berhentinya, kayak adegan makan yang dicepetin, wat.. wet.. wot.

Karena posisi piring gurami agak jauh, jadi sungkan mau minta. Sampai akhirnya daging ikan bagian atasnya habis, tapi sama dia masih dikrikiti terus. Rada geretan lihatnya.

Dengan niat membantu, spontan saya dekatin piring ikan lalu membalik ikan. Tapi apa yang terjadi ternyata dampaknya luar biasa. Si wartawan yang mirip Sammo Ho ini, langsung meletakkan mangkok nasinya. Mengusap mulutnya. Dan menghentikan aksi makannya.

Saya jadi nggak enak hati.“Apa ya, salah saya?” Melihat dia yang berhenti makan, giliran saya sama Anton yang menyantap gurami. Ngeliat kami yang ganti telap-telep. Si wartawan ini lebih memilih minum.

Keanehan prilaku wartawan Mandarin itu terjawab, pas saya diundang pembukaan resto Chinese Food. Si Nyonya rumah ini menyediakan ikan, lalu membagi ke masing-masing piring. Nah ketika membagi ikan, ia juga tidak membaliknya, tapi mengangkat duri tengah dengan sendok, lalu mengambil daging bagian bawah. Saya pun penasaran.

“Kenapa kok nggak dibalik aja, khan gampang tuh ambil daging ikannya!”

“Wah itu pertanda nggak bagus.Ibaratnya ikan itu seperti kapal. Membalik ikan artinya menjungkirbalikan perahu. Bisa Karam!”

Oooh, saya jadi ingat si wartawan Mandarin yang nggak nerusin makan itu. Takut apes rupanya. Gara-gara penjelasan itu, saya agak kepengaruh juga pas diundang makan ikan.

“Mbak Mendol, sampeyan ae yang mbalik iwak’e!” bujuk Anton.

“Ndak mau, ton, Mengko aku apes!”

“Oalaa Mbak, sing bener aku sing mesti apes! Wis manganmu wokeh, jatahku yo mesti mbok ambil!”

Well, ternyata sumber apesnya Anton bukan gara-gara membalik ikan,tapi punya patner lemu…Hihihihi!!

Comments

  1. wakakakakakaak jiakakakakaka... orang memang punya kepercayaan sendiri-sendiri.. tapi lucu juga ya.. semua disimbolkan..

    ReplyDelete
  2. mbak mendol, di keluarga saya jg kayak gitu (bugis), kalo makan ikan ngak dibalik, tulangnya aja yg dikeluarin.
    dilarang gitu membalikkan ikan, entah sampe sekarang sy blum tau alasannya. mungkin sama dg filosofi yg dijelaskan mbaknya..

    ReplyDelete
  3. walah mbak mendol, ditempat saya..gurami itu malah dibontang banting, ngalor ngidul..rebutan goleki dagingnya, jiahhhhhhhhh.

    ReplyDelete
  4. Hwahahaha..saya baru ngeh kepercayaan kayak gituan. Waduh, mesti hati-hati nih kalau dijamu makan di rumah Tionghoa.. ^^

    ReplyDelete
  5. nah, kalo di tempatku, gak boleh membaliknya itu di perahu, nanti perahunya terbalik. kalaupun harus membalik ikan, yang boleh membalik itu pun harus yang paling tua.

    ReplyDelete
  6. Hahahahaa... Kalau gitu aku sering apes dong... Tapi syukurlah partnerku slim semua hahaha...

    ReplyDelete
  7. Wah lucu juga yah, ternyata kalau membalik ikan itu bisa apes...hahahah

    ReplyDelete
  8. @mina : wah disana versinya kalau naik perahu ya... wah baru tahuuu

    ReplyDelete
  9. “Mbak Mendol, sampeyan ae yang mbalik iwak’e!” bujuk Anton.
    “Ndak mau, ton, Mengko aku apes!”
    “Oalaa Mbak, sing bener aku sing mesti apes! Wis manganmu wokeh, jatahku yo mesti mbok ambil!”


    >>> Ngahahahahaha.... kasian si Mas Anton...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rejekine Wong Lemu

Memory Gubeng Pojok

Kisah Cinta Sharukhan dan Spring Bed


Tempat makan lawas, dengan harga ramah di kantong ini salah satunya, Gubeng Pojok. Saya punya memori indah dengan depot satu ini. Ya masa-masa jaman pacaran sama my sharukhan, masa-masa habis nonton bioskop di Mitra, dah gitu kelaparan nyari makan. Ke sini tempatnya. Alasannya, murah bangets, masuklah buat my sharukhan yang pacarnya sekali makan bisa 2-3 piring…hihihi

Seporsinya dulu cuman Rp 8 ribu-an, ngga beratlah kalau saya nambah 2 kali, masih masuk akal. Hihihi..
Tidak ada yang berubah di gubeng pojok, kursi meja suasananya tetep. Yang berubah harganya. Sekarang sudah Rp 11.000,- tapi masih murah seh nurut saya. 


Dari dulu sampai sekarang my sharukhan seleranya tetep. Krengsengan, sama jeruk anget. Wis!. Kalau saya juga tetep, kare ayam, nasi goreng, rawon. Maksutnya habis makan rawon, nambah nasi goreng, kadang kare ayam. Ya maksutnya pancetnya nambah 2 sampai 3 piring getoooo.


Pilihan kita duduk di pojokan, sambil mengenang masa pacaran…cieee c…

Makan Enak, Nyantai di Hotel Berbintang dengan Pemandangan Indah Luar Biasa

Yuks, bro and sis.. tandai kalender kalian, buat bisa berlibur ke sini. Pesan online bayar mudah Pake Traveloka aja, pesan tiket pesawat, booking hotel, perjalanan, traveling. ... Ngga pake mumet, cukup satu ketukan, pembayaran beres….duh, senangnya.

 Bali yang indah seakan tak ada satukata yang bisa melukiskan keindahannya. Bali yang memesona membuat wisatawan selalu datang kembali untuk menikmati pesonanya. Bali yang menawan membuat siapapun akan datang dan membuktikan sendiri cantik dan mengagumkannya sebuah pulau kecil di timur Indonesia ini.
Salah satu keindahan alam yang menjadi magnet wisatawan adalah Pantai Nusa Dua yang berada di ujung selatan Pulau Dewata ini. Pantai ini dikenal dengan pantai terbersih dan cukup nyaman karena tidak secrowded Pantai Kuta. Juga tidak seeksklusif Pantai Seminyak yang memiliki berbagai macam resor dengan harga fantastis.
Di Pantai Nusa Dua ini kamu bisa memilih Grand Nikkosebagai penginapan di Bali. Lokasinya berada di Jl. Nusa Dua Selatan, Benoa, …