Thursday, February 11, 2010

Rawon (apanya yang) Brintik

Nama boleh rawon soal trade marknya bisa macem-macem.


foto : Anton

Pas pulang ke Malang, Mbah Kung saya sakit, seperti biasa kalau sudah tidak selera makan, saya tanya apa yang dia inginkan.


“Mbah mau Sate kambing Bang Hasan, tah?”

“Umurku dah 86 tahun, nggak berani makan gituan!”

“Lha terus, pengen nopo toh, Mbah?”

“Saya nggak selera makan, tapi pengen rawon brintik,” katanya merajuk.


Waduh, dimana tuh rawon brintik ? Karena saya nggak tahu. Mbah Kung membuat sebuah peta.


“Cara menuju rawon brintik, pertama lewat danau buaya, lalu hutan jagung, sampailah ke gunung tinggi!”


“Lho..!!! Mbah iki lak petunjuknya Dora The explorer.” *sambil lonjak-lonjak kayak Boots


Akhirnya, timbang bingung, kami ajak saja Mbah Kung makan di sana. Sampai di warung brintik, tempatnya nyelempit di antara rumah makan besar. Menempati bangunan lama. Mbah saya begitu exciting, langsung melempar topi coboynya di atas toples kerupuk.


Dan dengan gagahnya mengangkat jarinya. “Yu, biasane, yo!” Oalaaa..Mbah saya ternyata sering makan disini.


Bayangan saya tentang rawon brintik, pasti potongannya kecil-kecil, ngeruntel gitu. Trus dinamain rawon brintik. Tapi ternyata mbleset, jee... Dagingnya gede-gede, kuahnya pekat. Saya mengaduk-aduk nasi rawon. Sambil penasaran. “Apa yang brintik,ya?”


“Bu, kenapa kok dinamain rawon brintik?”


Ternyata ibu ini tidak langsung menjawab. Tarik nafas, lalu ngambil posisi di sebelah saya. Lalu menghela nafas, matanya menerawang, hidungnya kembang-kempis, tangannya meremas kain bajunya, seulas senyum yang diempet dilepaskan ke arah saya. Tsahhhh…


“Rawon ini dulu yang jual embah saya. Kebetulan embah saya itu rambutnya brintik (keriting). Akhirnya namanya jadi rawon brintik!”


Huauauauahahaha… Saya ngakak, sampai hampir keselek tempe goreng. Soalnya saya mbayangin si embah itu rambutnya kayak Ahmad Albar. Kribul … alias kriting mumbul. Hihiihi.


Lalu sebuah pertanyaan nakal sempat terlintas, apakah ibu ini juga brintik rambutnya. Tapi agaknya suatu hal yang hil mustahal, lha ibu ini pake jilbab.


Pas pamit pulang, saya mbatin. “Untung jaman dulu belum ngetrend pelurusan rambut, lha kalau dilurusin namanya jadi rawon rebonding, donk!” Hehehehe…


Rawon Brintik

Jl. K.H. Ahmad Dahlan 39

Malang Kota/Klojen


Nb: Foto bawah diambil dari kapanlagi.com

10 comments:

  1. pertamax...... btw aku ra doyan rawon je mbak, ....

    ReplyDelete
  2. hmmm rawon, kupang lontong, rujak cingur, tahu campur Lamongan aku sukaaaaa..hihihi

    ReplyDelete
  3. eh, aku wes suwe nggak mangan rawon. malih pingin ngerawon :D

    ReplyDelete
  4. terakhir makan di rawon kalkulator itu, hmm...

    iyah mas fahmi kapan ngerawon? hihihihi

    ReplyDelete
  5. jiakakakak mbah kungmu jan mbois polllll...

    ReplyDelete
  6. nomor limaa..!!!

    wah lek bakule wes dhasaran sejak jamane MBAHE Mbak Mendol masih muda.....ya rawon kawak ikuuu.

    ** inget rawon daun jati- terminal sulang;Rembang*

    ReplyDelete
  7. dadi pengen rawonn :D
    untung ibu mertua lg berkunjung ke jkt, bawa bumbu rawon banyk dari Krian \:D/

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  9. “Untung jaman dulu belum ngetrend pelurusan rambut, lha kalau dilurusin namanya jadi rawon rebonding, donk!”

    > you have just given someone out there an idea!! :))

    ReplyDelete
  10. hmmmm...yummmy...lezaaat....thanks

    ReplyDelete

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...