Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2010

Tak Semudah Membalik Ikan (NO SARA)

Sekedar membalik ikan ternyata bisa berdampak sistemik..hiyaaaa


Sebuah kisah menarik waktu liputan saat perayaan Imlek lalu. Saya sama Anton memutuskan datang ke satu hotel bintang lima. Kami disediakan round table, kebetulan disebelah saya ada wartawan koran Mandarin.

Dia lihay sekali pakai sumpit, pokoknya nggak ada berhentinya, kayak adegan makan yang dicepetin, wat.. wet.. wot.

Karena posisi piring gurami agak jauh, jadi sungkan mau minta. Sampai akhirnya daging ikan bagian atasnya habis, tapi sama dia masih dikrikiti terus. Rada geretan lihatnya.

Dengan niat membantu, spontan saya dekatin piring ikan lalu membalik ikan. Tapi apa yang terjadi ternyata dampaknya luar biasa. Si wartawan yang mirip Sammo Ho ini, langsung meletakkan mangkok nasinya. Mengusap mulutnya. Dan menghentikan aksi makannya.

Saya jadi nggak enak hati.“Apa ya, salah saya?” Melihat dia yang berhenti makan, giliran saya sama Anton yang menyantap gurami. Ngeliat kami yang ganti telap-telep. Si wartawan ini lebih memil…

Rawon (apanya yang) Brintik

Nama boleh rawon soal trade marknya bisa macem-macem.
foto : Anton
Pas pulang ke Malang, Mbah Kung saya sakit, seperti biasa kalau sudah tidak selera makan, saya tanya apa yang dia inginkan.

“Mbah mau Sate kambing Bang Hasan, tah?”“Umurku dah 86 tahun, nggak berani makan gituan!”“Lha terus, pengen nopo toh, Mbah?”“Saya nggak selera makan, tapi pengen rawon brintik,” katanya merajuk.

Waduh, dimana tuh rawon brintik ? Karena saya nggak tahu. Mbah Kung membuat sebuah peta.
“Cara menuju rawon brintik, pertama lewat danau buaya, lalu hutan jagung, sampailah ke gunung tinggi!”
“Lho..!!! Mbah iki lak petunjuknya Dora The explorer.” *sambil lonjak-lonjak kayak Boots
Akhirnya, timbang bingung, kami ajak saja Mbah Kung makan di sana. Sampai di warung brintik, tempatnya nyelempit di antara rumah makan besar. Menempati bangunan lama. Mbah saya begitu exciting, langsung melempar topi coboynya di atas toples kerupuk.

Dan dengan gagahnya mengangkat jarinya.“Yu, biasane, yo!”Oalaaa..Mbah saya ternyata ser…

Dodol Mikul Ala Mbah Kung

Mbah Kung punya versi sendiri soal gaya saya jualan kupang.
Simbok laporan, kalau Mbah Kung sudah bolak-balik telepon nyari saya. Intinya diminta pulang ke Malang. Tapi saya mokong, nggak mau pulang ke Malang. Soalnya kalau liburan keasyikan jualan kupang.Sampai akhirnya Bude nelpon, nyuruh saya balik ke Malang.

“Ndang muleh, Ndol. Mbak Kung mo ketemu!” perintahnya.

Waduh, penting ini pastinya, sampai Bude turun tangan. Akhirnya Sabtu sore saya sama keluarga pulang naik bis Tentrem.Wah beneran sampai di Malang kedatangan saya sudah ditunggu-tunggu. Disanggong di ruang tamu seperti disidang. Mbah Kung sendakep, Bude saya juga terlihat tegang. Duh..gusti, kok rasanya seperti peserta Uji Nyali.

“Ndol, Mbah Kung sedih denger kamu jualan Kupang!” kata Bude saya “Lho opo’o,Mbah kok sedih!” *kaget
Wajah Mbah Kung yang sudah keriput di sana-sini makin mengkerut.
“Kamu masih kerja jadi wartawan toh, Ndol?”“Masih ..Mbah!” “Lha, kok jualan kupang lontong!” “Yaelah embah, memang kenapa tho, opo ra c…