Wednesday, February 24, 2010

Tak Semudah Membalik Ikan (NO SARA)

Sekedar membalik ikan ternyata bisa berdampak sistemik..hiyaaaa


Sebuah kisah menarik waktu liputan saat perayaan Imlek lalu. Saya sama Anton memutuskan datang ke satu hotel bintang lima. Kami disediakan round table, kebetulan disebelah saya ada wartawan koran Mandarin.

Dia lihay sekali pakai sumpit, pokoknya nggak ada berhentinya, kayak adegan makan yang dicepetin, wat.. wet.. wot.

Karena posisi piring gurami agak jauh, jadi sungkan mau minta. Sampai akhirnya daging ikan bagian atasnya habis, tapi sama dia masih dikrikiti terus. Rada geretan lihatnya.

Dengan niat membantu, spontan saya dekatin piring ikan lalu membalik ikan. Tapi apa yang terjadi ternyata dampaknya luar biasa. Si wartawan yang mirip Sammo Ho ini, langsung meletakkan mangkok nasinya. Mengusap mulutnya. Dan menghentikan aksi makannya.

Saya jadi nggak enak hati.“Apa ya, salah saya?” Melihat dia yang berhenti makan, giliran saya sama Anton yang menyantap gurami. Ngeliat kami yang ganti telap-telep. Si wartawan ini lebih memilih minum.

Keanehan prilaku wartawan Mandarin itu terjawab, pas saya diundang pembukaan resto Chinese Food. Si Nyonya rumah ini menyediakan ikan, lalu membagi ke masing-masing piring. Nah ketika membagi ikan, ia juga tidak membaliknya, tapi mengangkat duri tengah dengan sendok, lalu mengambil daging bagian bawah. Saya pun penasaran.

“Kenapa kok nggak dibalik aja, khan gampang tuh ambil daging ikannya!”

“Wah itu pertanda nggak bagus.Ibaratnya ikan itu seperti kapal. Membalik ikan artinya menjungkirbalikan perahu. Bisa Karam!”

Oooh, saya jadi ingat si wartawan Mandarin yang nggak nerusin makan itu. Takut apes rupanya. Gara-gara penjelasan itu, saya agak kepengaruh juga pas diundang makan ikan.

“Mbak Mendol, sampeyan ae yang mbalik iwak’e!” bujuk Anton.

“Ndak mau, ton, Mengko aku apes!”

“Oalaa Mbak, sing bener aku sing mesti apes! Wis manganmu wokeh, jatahku yo mesti mbok ambil!”

Well, ternyata sumber apesnya Anton bukan gara-gara membalik ikan,tapi punya patner lemu…Hihihihi!!

Thursday, February 11, 2010

Rawon (apanya yang) Brintik

Nama boleh rawon soal trade marknya bisa macem-macem.


foto : Anton

Pas pulang ke Malang, Mbah Kung saya sakit, seperti biasa kalau sudah tidak selera makan, saya tanya apa yang dia inginkan.


“Mbah mau Sate kambing Bang Hasan, tah?”

“Umurku dah 86 tahun, nggak berani makan gituan!”

“Lha terus, pengen nopo toh, Mbah?”

“Saya nggak selera makan, tapi pengen rawon brintik,” katanya merajuk.


Waduh, dimana tuh rawon brintik ? Karena saya nggak tahu. Mbah Kung membuat sebuah peta.


“Cara menuju rawon brintik, pertama lewat danau buaya, lalu hutan jagung, sampailah ke gunung tinggi!”


“Lho..!!! Mbah iki lak petunjuknya Dora The explorer.” *sambil lonjak-lonjak kayak Boots


Akhirnya, timbang bingung, kami ajak saja Mbah Kung makan di sana. Sampai di warung brintik, tempatnya nyelempit di antara rumah makan besar. Menempati bangunan lama. Mbah saya begitu exciting, langsung melempar topi coboynya di atas toples kerupuk.


Dan dengan gagahnya mengangkat jarinya. “Yu, biasane, yo!” Oalaaa..Mbah saya ternyata sering makan disini.


Bayangan saya tentang rawon brintik, pasti potongannya kecil-kecil, ngeruntel gitu. Trus dinamain rawon brintik. Tapi ternyata mbleset, jee... Dagingnya gede-gede, kuahnya pekat. Saya mengaduk-aduk nasi rawon. Sambil penasaran. “Apa yang brintik,ya?”


“Bu, kenapa kok dinamain rawon brintik?”


Ternyata ibu ini tidak langsung menjawab. Tarik nafas, lalu ngambil posisi di sebelah saya. Lalu menghela nafas, matanya menerawang, hidungnya kembang-kempis, tangannya meremas kain bajunya, seulas senyum yang diempet dilepaskan ke arah saya. Tsahhhh…


“Rawon ini dulu yang jual embah saya. Kebetulan embah saya itu rambutnya brintik (keriting). Akhirnya namanya jadi rawon brintik!”


Huauauauahahaha… Saya ngakak, sampai hampir keselek tempe goreng. Soalnya saya mbayangin si embah itu rambutnya kayak Ahmad Albar. Kribul … alias kriting mumbul. Hihiihi.


Lalu sebuah pertanyaan nakal sempat terlintas, apakah ibu ini juga brintik rambutnya. Tapi agaknya suatu hal yang hil mustahal, lha ibu ini pake jilbab.


Pas pamit pulang, saya mbatin. “Untung jaman dulu belum ngetrend pelurusan rambut, lha kalau dilurusin namanya jadi rawon rebonding, donk!” Hehehehe…


Rawon Brintik

Jl. K.H. Ahmad Dahlan 39

Malang Kota/Klojen


Nb: Foto bawah diambil dari kapanlagi.com

Tuesday, February 02, 2010

Dodol Mikul Ala Mbah Kung

Mbah Kung punya versi sendiri soal gaya saya jualan kupang.


Simbok laporan, kalau Mbah Kung sudah bolak-balik telepon nyari saya. Intinya diminta pulang ke Malang. Tapi saya mokong, nggak mau pulang ke Malang. Soalnya kalau liburan keasyikan jualan kupang. Sampai akhirnya Bude nelpon, nyuruh saya balik ke Malang.


“Ndang muleh, Ndol. Mbak Kung mo ketemu!” perintahnya.


Waduh, penting ini pastinya, sampai Bude turun tangan. Akhirnya Sabtu sore saya sama keluarga pulang naik bis Tentrem.Wah beneran sampai di Malang kedatangan saya sudah ditunggu-tunggu. Disanggong di ruang tamu seperti disidang. Mbah Kung sendakep, Bude saya juga terlihat tegang. Duh..gusti, kok rasanya seperti peserta Uji Nyali.


“Ndol, Mbah Kung sedih denger kamu jualan Kupang!” kata Bude saya

“Lho opo’o, Mbah kok sedih!” *kaget


Wajah Mbah Kung yang sudah keriput di sana-sini makin mengkerut.


“Kamu masih kerja jadi wartawan toh, Ndol?”

“Masih ..Mbah!”

“Lha, kok jualan kupang lontong!”

“Yaelah embah, memang kenapa tho, opo ra cocok karo wetonku, Mbah?” *kebanyakan liat iklan klenik.


Lagi-lagi Mbah Kung narik nafas panjang.


“Ndak gethu. Saya nggak mbayangin, kamu mikul dodolan kupang, keluar masuk kampung. Biar awakmu kekar, tapi yo mesakno!” Hiyaaaa…..


Saya ngakak sampai jungkir balik. Ternyata, mbah membayangkan saya jualan kupang lontong pikulan. Jualan dari kampung ke kampung. Manggul gitu. Saya meyakinkan Mbah Kung kalau nggak se-tragis itu. Lha wong jualan di food court, hawanya adem, tempatnya bersih,jualan nggak pake keliling dan teriak-teriak.


Mendengar jawaban itu, Mbah mangut-mangut.


Pulang dari rumah Mbah, saya serasa seperti pembokat yang baru pulang kampung. Lha bawaannya segede gambreng. Ada beras sak glangsing, kelapa tiga butir, pisang kepok sak cengkeh, bawang merah dan bawang putih sak kresek.


Ternyata itu belum cukup. Pas sampai pagar, Mbah Kung maksa saya nerima amplop. Saya mati-matian nolak. Gengsi dong! Memang sih, selama ini kalau saya pulang cuman bisa mbawain regal sama sekaleng sprite kesukaannya, tapi bukan berarti hidup saya kekurangan.


Mbah Kung tetap memaksa saya menerima duit pemberiannya. “Ssst… buat tambahan beli gelas. Kamu khan cerita, kalau kamu baru bisa beli gelas sama piring enam biji!” kata Mbah Kung tulus.


Wah kena dah! Saya nggak bisa ngeles. Akhirnya berpindahlah amplop itu ke tas ransel saya.Sesuai keinginan Mbah Kung uang itu saya belikan gelas, tapi cuman 4 biji.Sisa duitnya, hehehehe… buat tambahan beli handphone baru :P


Kagem Mbah Kung , maturnuwun. Mugi-mugi diparingi kesehatan lan kelancaran rizki. (lek iki, yo inget putumu yang kekar, dan lemu ginuk-ginuk iki nggih, Mbah :P) Aminn….

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...