Sunday, December 12, 2010

Iwak P

Foto: anton

Dipenyet enaknya luar biasa, apalagi kalau di kothok...

Biar sedikit kumuh. Tapi Pantai Kenjeran menjadi andalan wisata pantai kota Surabaya. Tak hanya menyimpan keindahan pantainya. Kawasan ini juga tempat wisata lengkap. Mulai dari sentra oleh-oleh khas hasil laut, souvenir cantik dari kerang dan biota laut.

Satu lagi yang jangan dilewatkan yaitu pedagang ikan panggang. Mampir ke sini, ibarat di mandi sauna. Kita disambut kepulan asap,bukan aromaterapi... jadinya aromaTerasi.

Soal ikan panggang, biasanya yang dipenyet iwak pe, alias pari. Tapi sebenarnya banyak ikan yang bisa dijadikan panggangan. Mulai Kakap Merah, Tengiri,Tongkol dan Dorang.

Ikan yang didapat terlebih dahulu dibersihka
n insangnya. Ini untuk mengurangi rasa anyir dan amis. Ikan yang sudah dibersihkan ini lalu dipotong-potong dan ditusuk bambu. Arang untuk membakar masih tradisional. Menggunakan arang kulit kelapa, minyak yang keluar dari batok kelapa ini yang membuat aromanya harum.



Harga yang dipatok, memang benar murah, mulai harga seribu rupiah sampai tigaribu, Anda bisa menikmati sepotong ikan pe. Soal harga disesuaikan dengan jenis dan ukuran ikan. Melihat iwak pe yang jejer-jejer, saya malah mbayangin penyetan iwak Pe sama Sambel terasi. Tinggal ngambil daun kemangi yang tumbuh subur dekat got depan rumah. Jadilah menu istimewa yaitu, Penyetan Pe aroma got...ehhehehehehe.

Jangan cuman dipenyet. Ikan pe, bisa diolah macam-macam. Kalau lagi bosen pedes. Ikan pe ini saya potong kecil-kecil lalu dioseng-oseng bersama tempe dan tahu. Tapi kalau lagi bergairah, langsung saya Khotok. Kalau dimasak model gini, wah gairah saya menyala-nyala.


Resepnya guampilll. Ambil brambang, bawang, kemiri, kencur sama lombok kecil, ukurannya, kira-kira aja, pokoknya kemiri dua butir cukup. Semua diulek, ditumis lalu tinggal diuncal ke panci berisi santan kelapa. Wis talah, enak bener. Apalagi kalau dibikin pedes.


Saya menggunakan ilmu cemplang –cemplung. Nggak ada ukuran baku, pokoknya nggak eman bumbu. Semua dimasukin aja. Tinggal nambah gula, sama garam dan sedikit bedak ayam, alias chicken powder.


Saya memang nggak suka pedes, tapi ini satu pengecualiannya, jadi karena pedes, saya nambah nasi, trus ambil ikan, trus ambil nasi, tambah kuah, tambah nasi, ambil ikan, ya… ibarat sinetron cinta Fitri yang diolor-olor ceritanya, makan saya juga tidak berhenti sebelum nasi sak magic jar ludes. *Duh gusti aku nulis sambil kemecer mbayangno kothok-an iwak Pe iki



Lokasi : Pantai Kenjeran Surabaya

Sunday, November 14, 2010

Wedhus Prengus

Giliran Idul Adha pasti pada rame bakar sate sama masak gule.

Saya memang nggak doyan kambing, padahal dua tahun sebel
umnya doyan lho makan kambing. Saya kecenthok nggak doyan makan kambing, gara-garanya disuguhi gule kambing. Eh…pas dimakan baunya prengus menusuk hidung. Nah sejak itu saya nggak doyan daging kambing.


Biar nggak suka, tapi kalau diundang yoo mesti datang tho! Minggu lalu, saya dan Anton diundang sebuah resto untuk mengincipi gule kambing, dan sop kaki kambing. Dua menu ini katanya jagoan. Kata ownernya, sop kaki kambingnya, lebih enak daripada kaki kambing di Simolawang yang terkenal itu. Hebatnya dari ceritanya saja sudah membuat saya mak kemecer.

Wis talah Mbak, harus nyobain. Ini favorit!” Katanya sampai berbuih.


Saya yang nggak doyan kambing agak tergoyahkan. Soalnya si owner ini kalau cerita gayanya kayak pembawa acara premium call yang nongol tengah malam itu.


“Sop kambingnya bebas prengus, harus nyoba, ya. Enak, nendang, mak nyoss, wak joss !” *Hihihi… gayanya boleh deh.


Setelah ngobrol, tibalah acara yang ditunggu-tunggu. Yaitu pesanan datang. Terhidanglah sebuah panci kecil beserta pemanasnya. Disusul kemudian dua piring nasi, jeruk dan sambal. Dan pas dibuka….. wusssssssssssszzzzzzz. Wadoh aroma prengus daging kambing langsung tercium.


“Hiyekkkk…kok mambu embek!” Saya menyembunyikan raut wajah saya yang eneg berat. Ternyata reaksi Anton sama.


“Ih.. kok mambune nemen yo!” katanya bisik-bisik.


“Yo maklumlah ton, kambing khan ketiaknya empat. Wajar lek mambu!” hibur saya


Saya akali dengan perasan jeruk dan kecap. Syukurlah sedikit mengusir bau itu. Tak lama ownernya datang, dengan senyum mengembang dan mata berbinar-binar. Menanti komentar saya.


“Aha…gimana-gimana enak khan? Kok nggak habis?” katanya menatap saya.


“Eh..saya nggak begitu doyan kambing, nih. Pak. Coba tanya Anton saja!” *melempar tanggung jawab ke Anton.


“Ehmm…lumayan, Pak!” Jawab Anton pendek.


Ownernya terlihat senang. “Ayo tambah lagi ya?”


“Hemm… jangan Pak. Maklum lagi program diet ketat nih!” *ngeles.


“Hahahaha… becanda ya pasti. Hahahaha…. Khan susah tuh ngurusin!”* katanya nggak bisa nahan tawa.*ngenyek iki


“Ya udah, kalau gitu biar Anton saja yang menghabiskan, Pak!”


“Oh iya..iya, kasihan ini temannya. Badannya kecil sekali!” katanya prihatin.


Tak lama si owner ini datang membawa satu panci lagi sop kaki kambing.


“Mbak piye iki, sapa yang menghabisi sop’e ?” tanya Anton bisik-bisik.


Wis tanggung jawabmu, ton!” *macak dadi patung. Hihihihi…..

Wednesday, November 03, 2010

Oyoe Jaran


Selalu ada girab-girab saat liputan

Kami diundang sebuah tempat makan besar moblong-moblong. Kebetulan hari ini mereka sedang promo minuman baru. Sip..sip, kami pun bersemangat memenuhi undangannya.

“Ini loh minuman andalan kami !” *dengan bangga si mbak menyuguhkan satu gelas mocktail.

Warnanya cantik, ada gradasi coklat muda dan tua berlayer-layer gethu. Pinggiran gelasnya ada prengkel-prengkel gula.

“Jadi menyambut bulan istimewa ini, kami hadirkan minuman spectakuler!” promonya.

Biar pun yang datang cuman saya berdua sama Anton. Tapi disediakan 4 gelas. Asyik neh, berarti jatah ane 3. *Hihihihihi..maruk.
Miring
Pas dicobain. Rasane jan nggak jelas. Kecut nggak, manis yo nggak. Trecep-trecep sodanya juga nggak terasa. Warnanya coklat, tapi nggak ada rasa kopi atau cokelatnya. Huekkk….Wajah saya berbentuk nggak karuan, kadang bibir melebar, mletot, mencucu, manyun.

“Opo’o mbak?” tanya Anton dengan mimik jijay.

“Ojo diombe, ton. Koyok oyoe jaran!” bisik-bisik

Eeeh..dibilangin gitu, lah kok Anton malah tertantang minum

“Yo wis, pisan-pisan aku tak ngombe oyoe jaran!”
Haahahahaha…. Nekat

Anton sepakat sama Saya, m
inumannya ndak jelas. Tapi saya nggak misuh-misuh di situ. Saya menolak disuguhi lagi dengan alasan kaki saya lagi gringingen. *nggak nyambung sih sakjane!” Wis mboh

Keterangan: Foto bukan minuman yang dimaksud

Tuesday, November 02, 2010

Cooking Class FREE

Mau bagi info nih.Buat ibu-ibu, Pasangan muda, remaja putri. Yang mau belajar masak, tapi pengen kelihatan cantik. Di sini tempatnya. (ya mesti tetep cantik, yang masak chef-nya. Hahahaha...) Datang deh, nggak rugi. Nambah ilmu. Gratis lagi.



Cooking Class di Grand City Mall
Mulai 1-7 Nov
ember Pukul 3 sore.
Tempatnya di Grand Cit
y. LOWER GROUND.
Depan HERO Supermarket.

Gratis plus icip-icip menu yang di uji coba. SStt.. pas hari pertama, aku makan jelly fish, sama ayam chasio habis dua mangkok. Wis enak pokok'e.

Friday, October 08, 2010

Daging Sapi 10+


foto : Anton


Harga 5 kilogram daging ini,bisa buat DP rumah di daerah Juanda


Saya hampir nangis menantap seporsi sajian yang harganya Rp 600 ribuan. Cantik sekali, apalagi dihiasi daun bawang sak strip. Yah, lagi-lagi saya disuguhi makanan mewah. Kalau dulu dah pernah makan steak setengah juta, yang pakai daging kobe, lalu makan hati angsa Foei Grass, dan escargot di Resto Perancis. Maka satu lagi pengalaman saya menyantap daging superrrr empyukkkk yaitu Wagyu.


Undangan kali ini dari IMARI Japanese Resto, JW Marriott Surabaya. Yang jelas saya berterimakasih sama Wike, PR JW Marriott, yang selalu menunggu-nunggu kedatangan saya untuk update gosip..eh maksutnya untuk liputan. Hehehehee…*dasar ibuk-ibuk. Wike, gemes banget sama saya. Soalnya setiap kali menyebut wagyu, saya malah bilang Wahyu. Bener-bener susah, lidah saya terlanjur keriting.


Oh ya, kembali kehidangan Rp 600 ribu ini. Jadi wagyu ini dikombinasikan dengan Unagi alias Belut. Pada susunan nomor tiga, ada belut yang digoreng lalu dicacah halus. Kemudian dicampur dengan jamur Enoki dan Shitake dan diguyur dengan Truffel Sauce Mushroom.


Sebelum disajikan, seperti biasa Chef Takashi Murayama menjelaskan tentang sejarah daging wagyu. Wagyu, artinya wa, yang berarti Jepang, dan gyu, yang berarti daging sapi. Keistimewaan daging ini karena sapinya diperlakukan khusus, tidak sebagai kuli kasar, tapi hanya duduk-duduk saja sambil dipijit. Makanannya juga dipilih, selain rumput terbaik juga biji-bijian bernutrisi.


Gyuniku Tataki


Wagyu yang beredar di Indonesia, katanya berasal dari Australia. Soalnya, kalau dari Jepang harganya jauh lebih mahal. “Tapi yang di Australi bibitnya ya dari Jepang!”

Rasa penasaran untuk melihat daging super mahal dari sapi super malas ini akhirnya terjawab.Chef Takashi juga menunjukan daging yang dibuntel kain putih. Kira-kira beratnya 5 kilogram.


“Ini wagyu gradenya 10 +, alias terbaik. Segitu harganya 20 juta!” katanya sambil menuding daging wungkul itu.


Saya yang awalnya towal-towel, langsung menarik diri. Iya takut kalau dagingnya cuwil ... ntar harus diganti donk. Emang barang pecah belah yaaa…


“HAH… Daging yang kelihatan banyak lemak ini mahal sekali!” *sambil inget kuah gajih di bakul bakso.


“Eh, jangan salah. Ini rendah kolesterol karena lemaknya tidak mengendap dalam tubuh!”


Tibalah giliran saya menikmati, tangan saya bergetar mengambil potongan wagyu.Pas sampai ke mulut ….. *suara gemuruh petir mengelegar, anjing melolong, suara perut semakin kemruyuk. Duesssss…, dagingnya empuk, lembut. Pas dimakan tidak terasa seratnya. Lembutttt sekali. Haduh, seperti nggak makan daging.


“Ton, kok rasane ngene yo. Alusssss bangets!”


“Mbak Mendol, sampeyan biasa makan daging kothot-kothot. Yo kaget!”


Haduh, ancene Anton koplak, kok yo ngerti kelasku hanya sanggup beli daging tetelan. Hehehehe.


Sungguh saya tidak sanggup makan daging Wahyu itu… karena malah tidak terasa sensasi hewaninya. Lak percuma… menurut saya yang ndeso bin ndesit ini, justru menyesap bumbu yang tersembunyi diserat daging, dan berduel adu kuat dengan serat yang nakal merupakan tantangan menarik.


Saya segera menarik diri sebelum terlalu jauh dan ilfill dengan daging tanpa serat itu. Perjuangan selanjutnya saya serah terimakan ke asisten saya, Anton. Yang langsung berbinar-binar, bangga karena tidak menyangka, saya yang biasanya tukang ngabisin, mangan ra eling konco, tiba-tiba memberi mandat menghabiskan wagyu.


“Mbak Mendol..aku terharuuu. Mandatmu ini akan terpatri dalam hidupku!” katanya sambil memandang gummun.


“Anton..anton jan lugumen rek iki !” Ha..Hi..hi.. hi...*Macak jadi Bernard Bear.



Imari Japanese Resto

JW Marriott Hotel –Surabaya



Wednesday, September 22, 2010

Es Legen Pinggir Embong

Pembeli model DARMAJI dilarang makan di sini



Ya beginilah kalau terlalu menghayati pekerjaan. Habis pulang liputan, bukannya segera balik kantor..eh malah mampir dulu beli es legen.


Lokasinya yang berada di pinggir jalan, bernaung di bawah pohon rindang menjadi incaran pengendara sepeda motor untuk beristirahat.


Saya paling seneng andok di penjual es legen, soalnya SEGER, dicampur es batu, ada rasa trecep-trecepnya. Apalagi banyak pilihan jajan. Mulai gorengan tahu isi, tempe mendoan, dadar jagung, martabak mie, risoles, lumpia, pastel. Ini masih ditambah lagi, jenis sate-satean.



Dengan semangat saya menyerbuuu….. dua risoles, disusul dua martabak mie, disundul tahu isi sama dadar jagung. Istirahat bentar barang dua detik, lalu lanjut makan sate usus disambung sate puyuh. Wihhh..enak’e. Gorengane sak umit-umit. Harganya murah meriah. Cuman Rp 500 per bijinya.Sambil terus ngemil, nggak terasa gelas saya sudah tiga kali digrojok es legen.


Mbok…mbok, aku sek sak gelas, sampeyan wis sak drum, mbak!” protes Anton.


“Ya iyalah. Daya tampung perutku seluas dam jagir !” heheheh….


Sambil ngobrol, ngemil jalan terus. Ternyata urusan ganjel perut ini belum terpuaskan, akhirnya saya melirik nakal nasi bungkus dipojokkan. Dibungkus kertas nasi, di atasnya ada tulisan spidol penanda lauk di dalamnya. Hmm… krengsengan ati ayam, bali telur, nasi campur, krawu, dan ikan tongkol.


foto : Anton


Pilihan saya jatuh ke krengesengan ati ayam. Yuppp. . Eh nasi bungkus ini ternyata lumayan lho, nasi sama lauknya banyak. Rasanya sedap, beda seperti nasi bungkus lainnya. Saya lalu ganti memanas-manasi Anton.


“Cobaen tah. Weenak... Iwak’e akeh!"


“Halaah..Mbak Mendool iki mesti Lebusss…eh maksute Lebay!” Lho.!!! Lebus lak artine ra tau adus. Asemm tenan Anton.


Melihat saya telap-telep, dan siap memasuki nasi bungkus kedua. Anton akhirnya tergoda. Dan ikut makan nasi bungkus dengan cap Bali Telor.


“Hmm.. wih iyo, mbak. Tak kiro sampeyan mbujui. Tibak’e enak!” kata Anton setuju.


Harga nasi bungkusnya juga murah meriah hanya Rp 4 ribu. Wihhh…murah tenan. Di sini pembeli yang datang, mengambil sendiri jajanan yang tersedia. Lalu ketika pulang baru membuat pengakuan, apa saja yang sudah di makan. Semua didasarkan kejujuran pembeli.


Saya jadi ingat jaman kuliah. Khan ada tuh model makan prasmanan. Ada beberapa teman yang nakal, jadi makan tempe menjes lima potong, tapi ngaku satu. Nah, orang yang suka nilap dan ngentit model gene, disebut DARMAJI. Alias…. Dahar Lima Ngaku Siji. Hihihihi……



Es legen & Sego Bungkus Petang ewu

Depan SPBU Kusuma Bangsa

Belakang Grand City

Thursday, August 26, 2010

Spirit Selai Nanas

Jangan pernah tidak menghargai hal-hal sederhana dalam hidup ini.


Puasa, ah stop dulu cerita makanan. Ntar banyak yang protes. Saya tiba-tiba inget jaman mikut embah di Malang. Embah saya khan punya katering. Namanya pesanan di luar rantangan, tiap hari ada, mulai mantenan, ulang tahun, tujuh bulanan, sampai selametan, 7 hari, 40 hari,pendak dll. Pokoknya rame terus.


Saya sering macak bantuin, tapi kok kayaknya banyak makannya. Embah saya juga suka kebangetan, kalau ada ikan goreng yang ilang, atau jajan dus-dusan kurang mesti nuduhnya ke saya. “Ndol, itu lempernya kok kurang satu, itu jumlahnya ngepres, ayo..balekno!”


Heran, saya kok mesti ketahuan. Padahal ada sekitar 30 orang pekerja di sana.


Tapi embah saya baik banget lho, kalau ada teman kuliah saya datang, selalu dikasih makan. Mereka boleh ambil sepuasnya. Bahkan sering buat acara masak-masak di rumah.Nah, salah satu kebiasaan embah, selalu membawakan bekal buat saya.


Bekalnya roti tawar dua tangkep, sama selai nanas buatan sendiri. Begitu berangkat, roti dua tangkep itu sudah tersaji di meja. Iya…saya yang mahasiswa masih dibawain bekal. Awalnya sih senang, tapi lama-lama bosen juga. Saya pun protes.


“Mbah, besok aku nggak mau bawa roti lagi yaaaa ..!”

“Kenapa?”

“Bosen, mbah. Masa roti selai nanas terus!”

“Ya udah.. besok bawa rantang yaaaa!” *Ampun..emang mau ke bonbin. Huh!”


Duh, kalau inget-inget almarhum mbah, saya sering sedih,karena mbah kalau punya makanan enak, saya yang dicari dulu. Kalau mau njajan enak, saya pasti diajak. Kalau makan nggak habis, saya tukang ngabisin.. *Hiyaaaa…centeng kale!



Embah saya memang sudah lama tiada, tapi siapa menyangka, apa yang dilakukan embah lebih dari sepuluh tahun lalu, kini saya lakukan, saya merintis usaha kupang lontong, mulai menerima pesanan tumpeng, rantangan buat anak kos, mulai berani menerima order catering untuk kawinan.


Semua berjalan lancar, karena saya sudah tau polanya, takaran dan ukuran. Rasanya, spirit embah, seperti menemani langkah saya menjalankan usaha ini.


Satu hal yang saya sesali, tiba-tiba saya kangen bangets makan roti sama selai nanas buatannya yang pernah saya tolak itu…

Thursday, August 12, 2010

Artis Spesialis Makan

Benar-benar nelangsa. Lha si Surya banyak yang ngajakin foto kiri-kanan. Tiga artis masa depan ini nggak ada yang ngajak apalagi motoin.

foto : Anton


Seneng pastinya, diajak syuting BCRN. Edisi FJB Surabaya. tiga mahluk lemu yang beruntung diajak syuting itu, Vivi, Nunung dan saya. Saking semangatnya, jam 9 pagi, saya sudah datang ke lapangan Makodam. Ternyata, syutingnya malah jam 1 siang. Gara-gara nunggu, saya jadi nggak nafsu makan. Gugup banget. Akhirnya dapat panggilan untuk di make up.


Ceilaahhh…ternyata untuk syuting makan pake ditancep juga yach. Ya sudahlah, wajah saya yang lebar di oles bedak tiga lapis, yang buat saya nggak kukuh itu, lipsticknya. Berminyak, jadi kayak habis makan pisang goreng…heheheheh.



Selama di ruang make up, wah kita ngobrol asyik sama si Surya. Orangnya memang ramah, bercanda mulu. Tibalah giliran kami.


Ceritanya kita lagi makan kikil sapi Pak Said, sambil ngobrol sama si Surya. Tapi saya nggak keluar suara blass… lha, pas itu saya kena bagian kikil sapi yang ngelawan. Di saat semua pada ngobrol, saya sedang bertarung sengit cokot-cokotan kikil.


Untunglan Vivi dan Nunung kompak, jadi mereka yang ngobrol.Saya benar-benar menghayati peran kecil yang diberikan ini, saya berakting makan dengan lahapnya, dua porsi kikil ludes dalam hitungan detik. Ditambah segelas besar es degan. Sukses? Eh, ternyata nggak. Saya malah di protes.


“Lho mbak, makannya pelan-pelan, jangan langsung lebbb gethu…!


Busyet… ternyata makan ada temponya juga. Nggak boleh langsung disikat.

Hehehehe…tiwas ae wis tak entekno.


Akhirnya, saya dikasih bonus kikil lagi, dan dimakan pelan-pelan. Kejamnya lagi, potongan kikilnya lumayan gede, tapi sama tukang syutingnya, malah disuruh makan semuanya.


“Biarin aja…jangan dipotong!” perintahnya.


Gile apa, kikil sebesar telapak tangan itu masuk ke mulut saya bulet-bulet. Gleekk. *Do not Try This At Home …very dangerous, nak.


Beruntunglah sodara-sodara, kikil sapi yang mirip kakinya squidward, temennya spongbob itu sukses saya santap. *sambil merem-merem.


Anyway, menurut Mas Radit Ketua BANGOMANIA, saya cukup berbakat. Apalagi pas adegan makan. Manda ini, akting aja habis dua porsi. Gimana kalau nggak akting bisa sak-panci !” Wadoooh !


Tuesday, August 03, 2010

Bodyguard FJB 2010

Saya ketiban sampur jadi bodyguardnya Surya Saputra

Momen yang satu ini selalu ditunggu. Apalagi kalau
bukan Festival Jajanan Bango 2010. Kali ini temanya Pilihan Ibu Nusantara. Lima menu jagoan yang dipilih oleh ibu-ibu dari Surabaya antara lain; Gado-gado, lontong balap, sate, bakso, rawon.

Heran kok BEBEK GORENG nggak masuk yaaaa….!! Bebek goreng Suroboyo khan jagoan. Hmm… kalau saya punya versi jagoan sendiri donk. Yaitu, Bebek Goreng, Belut, Wader, Tahu Campur, dan tentu saja KUPANG LONTONG TANJUNG PERAK itu loh…wakakakaka!

Pas acara pembukaan berlangsung Surabaya panasnya minta ampun. Untung di tenda Bangomania, Mas Radit menyediakan berdus-dus minuman kemasan gratis. Saya pun beruntung dikasih kaos Bango Mania. Ukurannya XL, sempet n
ggak yakin juga bakal muat, tapi Mas Radit meyakinkan kalau ukuran XL-nya versi orang bule, jadi pasti muat. Dan ternyata Pas persis. Sedikit ngapret kayak Lepet! Hehehe..suwun Mas Radit.

Dengan logo Bango sebagai covernya, saya pun jalan de
ngan gagah. “Ya ampun, itu Burung Bango kok gede bangets!” kata seorang pengunjung menuding ke arah saya. Huh! tega..tega..tega.
Pedesan entok by Manda

Saya pun berwisata kuliner sambil liputan bersama Lilies (GIGA FM), Vivi dan Upi dari Tabloid LeZat. Pas jalan saya lihat PEDESAN ENTOK. Penasaran , saya samperin. Ternyata mentok, iya sodaranya bebek tapi lebih montok, trus kalau jalan megal-megol.

Saya langsung inget mendia
ng Mbah saya di Batu, dia suka melihara mentok, tradisinya kalau lebaran selalu makan mentok. Jadi mentok ini diungkep pake kompor kayu, sehari-semalam. Begitu saya datang bersama keluarga, langsung digoreng. Sudah pasti jadi rebutan, karena itu menu favorit.

Sudah 5 tahun terakhir saya nggak makan mentok, soalnya mbah saya sudah meninggal. Tradisi makan rame-rame juga sudah nggak,semenjak ibu dan bapak saya sedo. Menu nasi entok ini seperti ingin membawa sa
ya bernostalgia. Akhirnya saya pun pesan. Potongan dagingya besar, ada kuah dan disajikan dengan irisan kupat. Tu ..wa ..ga, langsung saya santap!

Huaaaaahhhh!!!! Mulut saya seperti kebakar, Ya amp
un kuahnya pedas sekaleee. Sakjane enak, dagingnya empyuk. Tapi pedesnya nggak bisa ditawar, saya malih muthung. Saya lalu melirik MIE SATE MEDAN pesanan Vivi. Hiih….rada aneh juga. Mie kuah dikasih sate sama bumbu kacang.


Duh, jangan tanya coy, rasanya.Ora ngalor-ora ngidul. “Sate ayamnya sih enak, cuman kalau dicampur sama kuah mie. Jadi aneh!” kata Vivi.
Kayaknya Mie Sate Medan ini rasanya rada mekso buat selera wong Suroboyo. Tapi cocok buat orang Medan, kaleeee ya.

FJB kali ini saya tidak banyak makan, karena harus syuting seharian sama Surya Saputra. Weitss…! Ini beneran loh, saya nggak bohong!*Sok gaya ngartes.

Peran saya cukup besar. Jadi selama Surya Saputra syuting, saya ini kebagian tugas mirip Paspampres. Jadi kalau mas Surya lagi syuting, trus ada ibu-ibu minta foto bersama tugas sayalah yang menghalau..Hus..Hus…Hus… Minggir Dhisik! Acara syuting pun jadi lancar! Hihihi…


Next : Dibalik Layar FJB

Monday, July 26, 2010

Bengkel Perut

Saya gummun kalau di Surabaya ada tempat lesehan dengan pemandangan sawah

Foto : Manda La Mendol

Suatu hari yang panas nyentrong. Saya janjian ketemu sama Shanti, sesama temen jurnalis dari Jakarta. Kebetulan dia ada tugas di Surabaya. Belum pernah ketemu, tapi kita kok kayak temen lama, kalau telpon kayak dah akrab gethu.

Pas ketemu, oalaaaa… terjawab sudah kenapa kita merasa seperti sodara. Ternyata kita berdua sama-sama BULAT ..hahahaha !!!

Apesnya lagi, saya pas naik Mio. Tahu khan Mio itu imut, lah
kalau saya di kantor sering diteriakin “Gajah kok naik Mio !” Nah, sekarang malah dua emank-emak gendut naik Mio…ihhh…Horor bangets !!!!

Lalu berkelilinglah kita berdua. Salah satunya mampir ke Ice Cream La Spezia. Setelah puas wawancara dan icip-icip hampir empat gelas plus empat es lilin …..*
nguelak bangets soale Suroboyo panas’e koyo neroko. Hehehe.
Bu Lisa lalu ngajakin kita makan siang. Wah ya setujuuu...


Lokasi resto ini memang agak masuk ke dalam tepat di depan SPBU Mulyosari, cari putar balik. Setelah itu, ada gang ke kiri ada plang Bengkel SAS (Surabaya Auto Service).

Di dalamnya ada bengkel mobil.
Hmm… awalnya ragu, masa sih makan di bengkel.

Wah isok.. isok disuguhi brengkesan ku
nci Inggris, ambek buntil mur baut…. idihhh!


Tak jauh dari bengkel ternyata ada restoran. Wuiiih…keren. Begitu memasuki parkirnya langsung disapa semilir angin, gemericik air dari kolam ikan dan pemadangan hijaunya sawah sepanjang mata memandang.

Kami lalu memilih Gazebo beratap jerami. Sambil ngobrol d
engan Bu Lisa yang baik hati, kami pun makan siang, karena suasana yang asri, membuat nafsu makan saya dan Shanti jadi berlipat.

Sayangnya beda aliran, si Shanti sukanya pedes-pedes. Milih Ayam rica-rica.
Saya yang masih keturunan (kertas) kraton mili
h Ikan Bakar Rempah. Bu Lisa milih Ayam Goreng Rempah.

Semuanya enak, ikannya seger soalnya langsung diambil dari kolam.
Pendeknya, semua cocok.

Sayangnya,
pas kita order air putih kema
san dibilang Nggak Ada, trus minta air putih biasa juga nggak ada ! Trus pas minta teh anget ..Ada!

Lha trus saya jadi mikir, buat teh-nya apa nggak pake air putih ya? *bingung, sambil garuk-garuk lemak yang menggelambir di pinggang...hehehehe.

SAS Bengkel Café
Jl. Baskara Sawah -Mulyosari

Catatan: Oh iya, teman-teman, sakjane isin, sih. Profil Kupang Lontong Tanjung Perak bakal muncul di Tabloid SAJI 4 Agustus 2010. Yang belum keturutan makan, mungkin fotonya bisa mengobati rasa penasarannya heheheeh….

Thursday, July 15, 2010

Dibayar Kupang

Seandainya Kupang Lontong dijadikan uang pembayaran yang sah !Aiih...sedapnya


Pesanan Kupang Lontong mulai lancar Jaya. Yang paling sering pesan, adalah kantor saya. Acara ultah-lah, bazar-lah dll. Semua ini akhirnya membuka jalan bagi pesanan lainnya. Mulai pesanan arisan, sunatan, seminar, dari teman-teman dekat. Banyak cerita lucu yang membuat saya mesam-mesem.

Seperti sewaktu mengunjungi Bude di Jakarta. Saya bawain kupang
lontong komplit sama sate kerang dan lentho-nya. Kebetulan Bude lagi mantu. Beberapa saudara ngumpul, saya pun menghidangkan kupang lontong.

Lha kok Om saya, makan sama nangis mingsek-mingsek. Saya bingung, apa karena kebanyakan sambal ya?


Sambil tersedu-sedan dan makan kupang, Om saya bilang.
“Ndol, aku wis lima belas tahun nggak makan kupang. Dadi mangan kupang, rasane koyok nemu emas sak gunung!” Heheheehe… segitunyeee.

Lain hari, pas saya ikutan bazar, di carrefour Rungkut. Acara bazar rakyat yang membuka Menteri Koperasi. Banyak teman-teman wartawan yang meliput.

Pas tahu kalau ada stand kupang lontong, lha kok temen-temen pa
da ngerubung minta makan, karena belum sempet sarapan. Akhirnya paling ramai stand saya. Lha podho mangan gratis. Hehehe.

Tapi teman wartawan ini baik hati, lho. Sebagai balasan, pr
ofil usaha Kupang Lontong juga diulas. Buktinya pernah dimuat di SURYA, Tabloid LEZAT, JAWA POS, bahkan diundang talk show di Radio EBS.

Pengalaman lain, adalah Mas Agus, tukang service AC di ka
ntor saya.
Kebetulan pas kantor ultah dia ikut ngincipin. Dan embuh sampai tiga porsi. Nah… ndlalah kok kulkas saya rusak, nggak bisa adem. Saya minta tolong Mas Agus ini. Giliran saya nanya ongkosnya, eh Mas Agus
malah njawab.

“Wis mbak, dibayar kupang ambek sate kerang aeeee…!” Hahahahaa…..

Kisah lain, ada seorang tamu, pas makan tiba-tiba inget anaknya di Singapura yang doyan makan kupang dan sate kerang. Tiba-tiba menghampiri saya, “Saya mo pesen mbak, tapi dikirim ke Singapura!”

Saran saya sih, mending kalau anaknya pulang, segera pesan. Atau datang langsung ke tempat jualan saya di Dapur Nusantara ITC Mega Grosir.


Soalnya Kupang itu paling enak dimakan di tempat langsung, dalam keadaan hangat ngebul-ngebul, sate kerangnya yang fresh, dan bukan nget-ngetan. Lalu dikecruti jeruk, ditolet sambal petis.

Pasti nikmat betul, apalagi kalau makan sambil lihat bakule yang lemu ginuk-ginuk. Aiiiiiih sedapnyaaaaa. Hihihihi……..

Monday, July 05, 2010

Harga Bintang 5 Rasa Kaki 5

Jadi inget kata simbok, kalau kedluduk penjual yang mahal.
“Sing penting ikhlas be
n dadi Daging!”



Saya mau cerita tentang makanan yang bahan-bahannya murah meriah tapi begitu disajikan harganya bisa sok ajeb..ajeb. Seperti pas makan lontong mie di food court.

Saya bener-bener dengan takjub dengan harga yang dibandrol yaitu Rp 10 ribu. Sebagai se
sama penjual, (yeah..saya khan di rumah selain jualan kupang, juga lontong balap dan lontong mie).

Dengan harga segitu, menurut saya agak nggak masuk akal, cuman tahu tiga iris, lentho diremet trus dikasih udang empat biji sama diguyur cambah dan mie kuning.

Saya mengerti bener harga di pasar, wong cambah itu lho setegah kilo cuman Rp 2500, kalau dilihat dari takarannya yang sak umit, cambah setengah kilo bisa jadi 15-20 porsi !!!

Soal harga ternyata cukup sensitif dan bisa jadi omongan,loh. Seperti Alim, temen sekantor dapat kiriman sms, yang ditunjukin ke saya. “Hati-hati makan ayam goreng di warung kaki lima daerah Islamic Center, Aku makan berempat kena Rp 350 ribu!”

Yah, memang mestinya di cross chek dulu, sih. Ma
kannnya mungkin cuman sekali, tapi kalau embah-embuh gimana?

Cerita lain, lontong balap terkenal di Surabaya, lagi-lagi bahannya cuman sak ucrit. Tiga potong lontong diiris tipis, tahu dua iris, dan lentho.Nah, yang membuat porsinya jadi sak umbruk tentu saja cambah. That’s All !! dan Harganya Rp 9 ribu !!!




Soal kejenthok, saya juga pernah ngalami. Saya penasaran sama warung kaki lima di daerah Indrapura. Kok selalu rame. Saya bujuk mysharuhkan buat makan di sana. “Ayolah aku penasaran, kok kalau lewat mesti rame!” ngeluarin jurus rayuan cap kadal tiga.

Mampirlah kami di sana. Seperti biasa saya langsung mesen menu favorit BEBEK GORENG !My sharuhkan milih BABAT GORENG.
Pas enak-enak makan, orang sebelah mbayar. “Bu, sampun. Ayam goreng 2, nasi 2, es teh 2, b
erapa?”

Sekilas, ibu penjual yang genduttt itu oret-oret kertas, lalu berkatalah si ibu genduttt ini “Semuanya Rp 48 ribu !” Si mas ini kayaknya ndak siap dengan harga segitu, dia pun ngomong ke temannya."Mangan sak munu, papat wolu, cuk!”

Saya yang makan langsung keseretan, wuihhhh… makan berdua segethuuu. Padahal pasarannya seporsi ayam or bebek sepotongnya Rp 9 ribu itu pun sudah termasuk nasi. Kemudian ada juga pembeli lain yang mbayar, “makan tiga, bebek dua, lele satu, tambah nasi sama bebek satu, minumnya es jeruk lima!” Teman-teman…tahukah berapa total jendral Rp 160 rebuuuuuuu.

Wah saya kemringet mak gobyos, makan pun tak tenang, saya pun wurung mo nambah bebek goreng. Keweden dewe. Sampai akhirnya saya pun giliran mbayar,
Bu..u..u, bebek goreng setunggal, babat goreng setunggal, sekul’e tigo, ngombene es teh tigo. Pinten, nggihh…h ?”


Dengan jurus awut-awut, ibu penjual gendutttttt ini mulai corat-coret. “Hmm… semuanya Rp 44 ribu!”
Wuih… lumayan regone. Selamet..selamet, duit limapuluh ribu masih susuk neh. Hehehehe.


Terpengaruh bukunya Gobidn Vasdev, Happines Inside. Saya coba mengambil hal positip soal harga –harga yang aneh bin ajaib ini.
Kalau di mall ya harap dimaklumi, karena si pedagang khan nyewa. Toh harga yang dibayar sepadan dengan suasananya yang adem dan nyaman.

Nah kalau warung kaki lima, mahal. Ya dimaklumi juga, mereka mungkin memperhitungkan kalau sewaktu-waktu diobrak, tenda dan kursi diambil sama satpol PP, mereka butuh modal gede untuk memulai lagi. Ya..toh!


Ya, sudahlah. Ingat kata simbok.
“Ikhlas….ikhlas ben dadi …Da..…da..…Ngdut!” Hihii.....

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...