Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2009

Tahu Campur Mbak Yati

Ini catatan sewaktu saya masih dipimpin bos saya yang satu ini. Setiap penugasan, Bos ini selalu bilang, “pokok'e kudu isok !”bahkan jatah liputan di tiga kota, Gresik, Lamongan, Tuban harus selesai dalam sehari demi efisiensi waktu dan bugdet.

-------
“Siap bos, selama dana buat liputan lancar, aku budal !” tantang saya.

“ Kalo liputan nggak pake acara makan-makan , bisa nggak !” katanya balik menantang.

“ Lho, gimana seh ! Wong nulis makanan nggak pake incip-incip, bos!” *emosi

“Itu loh susahnya, kamu incip-incip aja bisa dua piring. Kalau ada tiga kota, ada 12 tempat makan yang diliput..wah bisa mbledoss awakmu !”

Saya tersanjung…ternyata bos saya prihatin eh perhatian.

“Tenang bos…demi tugas mulia ini, aku siap berkorban. Ini adalah pengabdianku sebagai jurnalis kuliner sejati. Tak surut diterjang kolesterol !” *bergaya ala Bangsawan Kaya Lemak.

Foto : Anton
Setelah mengantongi restu dan sangu. Saya, Anton, dan Pak Say berangkat pagi uthuk-uthuk. Ada beberapa tempat yang kami singg…

Sate Klopo Megelno

Tempatnya sama, yang dijual pun sama. Tapi saya kapok kalau beli yang malam hari.



Sate Klopo Ondomohen memang sudah terkenal di Suroboyo. Kalau biasanya saya menyantap sate ini pagi hari, malam-malam saya kepingindan mampir ke sini.Pas datang , saya agak kaget juga, karena penjualnya beda bukan Bu Asih yang kerap saya temui di pagi hari. Penasaran, saya tanya sama tukang parkirnya.
“Pak, ini sama yang pagi orangnya sama nggak ?”“Oh beda, mbak. Kalau pagi Bu Asih, kalau malam yang jualorang lain!”
Ya sudahlah, akhirnya saya pesan juga. Pesanan datang, tampilannya sedikit beda dengan sate klopo Bu Asih yang pagi hari. Potongannya sedikit lebih langsing. Saya pun mengutak-atik sedikit. Ternyata bumbu kacangnya sedikit sekali. Kalau tidak salah, pas meracik tadi dia hanya memberi satu sendok dan ditambah kecap.
Saya pun makan dengan lahap, sayangnya sate sama nasi saya masih banyak, bumbunya sudah habis. Saya pun minta tambah.
“Bu, nambah bumbune, nggih !” Suerr pas mengucapkan ini intonasi s…

Kupang Lontong Tanjung Perak 2

Atas permintaan tetangga, akhirnya saya jualan kupang lontong di rumah. Lupakan tentang meja besar, tenda, etalase bening, meja dan tempat duduk. Saya nggak punya modal untuk menyiapkan itu. Lalu apa berarti nyerah ?Nggah ah, hajar bleh !!!
foto : Anton

Saya jualan di halaman rumah, ambil meja dapur sim salabim sulap jadi meja buat jualan. Nggak ada tempat duduk, kalau mau makan di tempat, tinggal duduk di buk di depan rumah. Nggak ada tenda, no problem, teduhnya pohon mangga menjadi atapnya. Bener-bener bernuansa out doorhehhehee…..
Dengan hanya bermodal dengkul, bener-bener nggak punya apa-apa modal neh, akhirnya sudah hampir sebulan saya jualan di rumah. Ternyata ini membahagiakan banyak orang. Beneran, lho. Pertama,Tetangga saya donk, soalnya saya konsisten berjualan pukul 6 pagi, di saat ibu-ibu pada bingung nyari sarapan, dari pada repot belanja mending beli. Senengnya lagi, di rumah saya jualannya macem-macem, ada Lontong Mie, Lontong Balap, Lontong Kupang, minumnya ada es degan …