Tuesday, November 24, 2009

Tahu Campur Mbak Yati

Ini catatan sewaktu saya masih dipimpin bos saya yang satu ini. Setiap penugasan, Bos ini selalu bilang, “pokok'e kudu isok !” bahkan jatah liputan di tiga kota, Gresik, Lamongan, Tuban harus selesai dalam sehari demi efisiensi waktu dan bugdet.

-------
“Siap bos, selama dana buat liputan lancar, aku budal !” tantang saya.

“ Kalo liputan nggak pake acara makan-makan , bisa nggak !” katanya balik menantang.

“ Lho, gimana seh ! Wong nulis makanan
nggak pake incip-incip, bos!” *emosi

“Itu loh susahnya, kamu incip-incip aja bisa dua piring. Kalau ada tiga kota, ada 12 tempat makan yang diliput..wah bisa mbledoss awakmu !”

Saya tersanjung…ternyata bos saya prihatin eh perhatian.

“Tenang bos…demi tugas mulia ini, ak
u siap berkorban. Ini adalah pengabdianku sebagai jurnalis kuliner sejati. Tak surut diterjang kolesterol !” *bergaya ala Bangsawan Kaya Lemak.

Setelah mengantongi restu dan sangu. Saya, Anton, dan Pak Say berangkat pagi uthuk-uthuk. Ada beberapa tempat yang kami singgahi, salah satunya di rest area stadion Sura Jaya.Mengunjungi depot tahu campur Mbak Yati yang lumayan Ngetop.

Kata Mbak Yati yang kenes ini tahu campur Lamongan mempunyai keistimewaan pada kuahnya. Kuahnya keruh karena banyak bumbunya. Inilah yang membuat rasanya sedap.

Selain kuah yang kaya rempah-rempah, di dalam bumbunya juga ada petis udang.
Petis udang dioleskan di piring, lalu diberi kuah sedikit untuk mengencerkan, kemudian diberi irisan tahu, mi kuning, irisan perkedel singkong, dan selada. Kemudian yang terpenting potongan daging sandung lamur.

Siraman kuah panas yang menebarkan aroma kaldu yang gurih diambil dari panci besar khas penjual tahu campur. Satu porsi habis dalam sekejap, nikmat bener. Rasa gurih dengan semburat rasa manis petis membuat rasanya makin mantap.

Niat mau tambah pun saya batalkan, karena jatah si Anton tak tersentuh. Masih kenyang alasan Anton. Saya sikat juga. Ssstt...emang sich, 10 menit yang lalu kami habis sarapan di Kaliotik. Tapi suerrr...saya cuman makan bothok simbukan sama iwak wader doank, wajar kalo masih laperrrr!

Ini list tempat makan yang saya singgahi di Lamongan dan sekitarnya
1. Kaliotik Jl Jaksa Agung Suprapto 31
2. Ikan Bakar Jimbaran Jl Jaksa Agung
3. Asih Jaya I Komp. Lamongan Indah Jl Panglima Sudirman
4. Depot Nasi Goreng Jl Jaksa Agung Suprapto
5. Mekar Jaya I Jl Raya Deandelss Paciran
6. Makmur Jaya Jl Jaksa Agung Suprapto
7. Kita Jl Raya Babat Lamongan
8. Palm Kendil Wesi Jl Raya Deandelss Paciran
9. Depot Tahu Campur Mbak Yati Rest Area Stadion Sura Jaya

Tuesday, November 17, 2009

Sate Klopo Megelno

Tempatnya sama, yang dijual pun sama. Tapi saya kapok kalau beli yang malam hari.




Sate Klopo Ondomohen memang sudah terkenal di Suroboyo. Kalau biasanya saya menyantap sate ini pagi hari, malam-malam saya kepingin dan mampir ke sini.Pas datang , saya agak kaget juga, karena penjualnya beda bukan Bu Asih yang kerap saya temui di pagi hari. Penasaran, saya tanya sama tukang parkirnya.


“Pak, ini sama yang pagi orangnya sama nggak ?”

“Oh beda, mbak. Kalau pagi Bu Asih, kalau malam yang jual orang lain!”


Ya sudahlah, akhirnya saya pesan juga. Pesanan datang, tampilannya sedikit beda dengan sate klopo Bu Asih yang pagi hari. Potongannya sedikit lebih langsing. Saya pun mengutak-atik sedikit. Ternyata bumbu kacangnya sedikit sekali. Kalau tidak salah, pas meracik tadi dia hanya memberi satu sendok dan ditambah kecap.

Saya pun makan dengan lahap, sayangnya sate sama nasi saya masih banyak, bumbunya sudah habis. Saya pun minta tambah.


“Bu, nambah bumbune, nggih !” Suerr pas mengucapkan ini intonasi saya pelan, lha wong saya ini prototipe wong Jowo yang ngerti unggah-ungguh.


Tapi apa reaksinya, Ya olloh, wajahnya judesssss bangets. Ngeliat saya yang menyodorkan piring, minta tambah bumbu, matanya berkilat penuh kemarahan. Piring saya diambil kasar, lalu diberi satu sendok bumbu. Dan disodorkan tanpa menoleh ke saya.


Haduh, jujur saja, saya rada gethun minta tambah bumbu, pas tau reaksinya kasar. Kalau tau bakal diperotin githu mendingan pas minta tadi saya bawa clurit. Hayaahhh…..


Pas giliran mbayar, saya bilang. “Bu, pinten, nggih !” *ngeluarin duit receh

“ Mbak tambah seribu, tadi khan minta tambah bumbu !” katanya ketus.


Ya ampun, bumbu sate yang sak ipet itu dihargai seribu ! Okelah…. Saya nggak keberatan kok mbayar, karena jelas-jelas saya yang minta tambah bumbu. Tapi caranya itu loh, sudah ngelayanin super judes, nambah bumbu sak dulit, kena cash. Pokoknya beda bangets dengan Bu Asih yang jual pagi.


Gara-gara tindakan kriminal penjual sate kelopo ini. Saya kena tekanan psikologis, wajah penjualnya yang judes buat saya ilfill mau makan di sana. Saya jadi nggak bakal mau makan sate kelapa Ondomohen (malam hari), bahkan mewarning, temen-temen yang mau makan di sana (malam hari).


Yang jelas, penjual sate ini RUGI kehilangan pelanggan seperti saya. Soalnya jatah makan saya mewakili 10 orang. * Hueueue…iki wong opo butho yooo…..

Sunday, November 08, 2009

Kupang Lontong Tanjung Perak 2

Atas permintaan tetangga, akhirnya saya jualan kupang lontong di rumah. Lupakan tentang meja besar, tenda, etalase bening, meja dan tempat duduk. Saya nggak punya modal untuk menyiapkan itu. Lalu apa berarti nyerah ?

Nggah ah, hajar bleh !!!


foto : Anton


Saya jualan di halaman rumah, ambil meja dapur sim salabim sulap jadi meja buat jualan. Nggak ada tempat duduk, kalau mau makan di tempat, tinggal duduk di buk di depan rumah. Nggak ada tenda, no problem, teduhnya pohon mangga menjadi atapnya. Bener-bener bernuansa out door hehhehee…..


Dengan hanya bermodal dengkul, bener-bener nggak punya apa-apa modal neh, akhirnya sudah hampir sebulan saya jualan di rumah. Ternyata ini membahagiakan banyak orang. Beneran, lho. Pertama, Tetangga saya donk, soalnya saya konsisten berjualan pukul 6 pagi, di saat ibu-ibu pada bingung nyari sarapan, dari pada repot belanja mending beli. Senengnya lagi, di rumah saya jualannya macem-macem, ada Lontong Mie, Lontong Balap, Lontong Kupang, minumnya ada es degan sama es blewah. Mana harganya murah Rp 4 ribu tapi porsinya melimpah. Enak toh !!!


Orang Kedua yang bahagia, tentu saja pegawai saya. Dua orang manula yang ikut ini merasa di “wongke” karena tenaga mereka masih saya hargai, bahkan simbok –simbok yang masih terlihat perkasa ini menjadi selebritis dadakan di kampung, soalnya setiap orang disapa dan disuruh mampir. Hehehehe…, Oh iya, satu pegawai saya di ITC, adalah seorang ibu muda, yang ditinggal lakinya. Ketimbang nganggur, dia milih ikut saya, nyari uang buat sekolahin anaknya yang ada di Madura.


Dan yang paling-paling bahagia, tentu saja Saya dan My Sharuhkan. Bangga pastinya, usaha yang dirintis meski pelan-pelan mulai kelihatan berkembang, baru jalan lima bulan sudah buka dua tempat, bahkan membayar tiga pegawai. Kami nggak pernah membayangkan ini sebelumnya.


Saya jadi ingat sama almarhum Embah saya. Embah saya ini pemilik catering kondang di Malang, pegawainya ada 30-an, rata-rata adalah para ibu-ibu manula dan warga sekitar yang pengganguran. Waktu itu, saya bertanya, “Mbah, kok menerima para manula itu bekerja, apa embah nggak kasihan, khan mereka sudah tua !”


Embah saya bilang, “Mereka yang lanjut usia itu bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka mestinya diberi tempat dan dihargai. Kita tidak pernah tahu datangnya rejeki dari mana, bisa jadi, rejeki yang kita nikmati ini, datangnya juga dari doa-doa mereka yang tulus !” * Mendengar jawaban itu, saya langsung menangis.

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...