Friday, January 23, 2009

Bebek Beracun


Ini bukan masalah kesehatan tapi racunnya bener-bener mantapss…..

Hidup bebek…!!!! Yah, saya memang pemuja bebek. Bebek seantero Surabaya kayaknya sudah saya datangin. Mulai bebek Cak Dai, bebek canggih, bebek barokah, bebek palupi, bebek krangan, bebek karang empat, bebek kremes kayu tangan, bebek cak sandy, bebek trenggalek, bebek barokah-kayoon, bebek mercon, bebek pasar turi,bebek menthul

hmmm tarif nafas dulu….

Bebek papin, bebek pandegiling, bebek madura indrapura, bebek remuk, bebek tugu pahlawan, dan of course bebek Cak Yudi Perak yang sambel pencitnya membuat saya menggila dan kalap hingga tiga porsi …

Perburuan bebek ini memang tidak pernah berakhir, mengingat penjual bebek di Surabaya terus bermunculan dengan inovasi dan modifikasi bumbu. Mulai kremes, garing, remuk, dicelup bumbu, tabur koya kelapa, dibumbu super pedessss…sampai dipotong kecil-kecil lalu disiram lada hitam. *yemmm...

Nah, ada satu tempat lagi penjual bebek dekat kantor saya. Ketemunya juga nggak disengaja. Jadi, di kantor kalau sore antara sesudah makan siang dan sebelum makan malam…perut saya suka lapar duluan.. hehehe. Nah, kadang bisa ditipu dengan dua atau empat potong gorengan curhat. Tapi, kadang perut ini terlalu jujur..sehingga selalu meronta untuk diisi.

Akhirnya dapat info dari Mas Bagong, kalau ada bebek enak di dekat kantor. Berangkatlah berdua kesana. Tempatnya sederhana, PK5. Pilih-pilih daging trus nunggu digoreng.

“Wah..kok murah banget yo cuman 7 ribu. Nasinya sak-umbruk, bumbu sama sambelnya banyak, trus dagingnya gedeeeeee. ?” kata saya ke Mas Totok.

“Ssst..tak bilangin yo, jangan-jangan bebeknya beracun nih…soalnya dijual murah !” kata Mas Totok bisik-bisik ke saya.

Nggak tau angin darimana ternyata kasak-kusuk antara saya sama Mas Totok terdengar oleh se-antero warung..dan mereka senyam-senyum mengamini nama Bebek Beracun. Julukan ini menjadi gethok tular…mulai dari teman saya, OB, security kantor…semua jadi familiar dengan ungkapan bebek beracun ini.

Pas sore, saya pamit keluar, eh security kantor sudah paham, “Mbak Mendol mo makan bebek beracun ya….!” Katanya sambil cengar-cengir.

Lain hari..saya pernah nitip ke OB baru untuk beliin, sambil memberi tahu ancer-ancer lokasi yang jual. Sambil berpesan :

“Pokoknya bebek beracun, ya Mas. Kalau nggak beracun…aku nggak mau makan !”
“OOOhh… berarti saya harus ngincipin dulu ya Mbak, buat mastiin ada racunnya nggak !” *sambil garuk-garuk memikirkan racun tikus rasa bebek goreng. Hiiiyaaaaaaaaaaaaaaa……

Bebek Beracun
Belakang Gedung Juang 45 -
Jl Raya Pakis

Wednesday, January 14, 2009

Burger McMendol’s

Sebuah kreasi kuliner dihasilkan dari jari-jari gundhek La Mendol

Foto+Desain : kajool

Kegiatan ini sudah lama, bulan desember lalu. Tapi saya masih terkesan sampai sekarang. Jadi Surabaya Hotel School (SHS), mengundang jurnalis perempuan untuk belajar masak. Sebenarnya lagi…saya nggak diundang, jadi pas hari H saya dihubungi Mbak Iping dari suarasurabaya.net. Ceritanya, saya ini buat genap-genapan..soalnya pesertanya kurang satu. Hehehehe….

Ada delapan jurnalis perempuan yang ikut. Yang ngajarin ada 3 orang chef. Semuanya Laki-laki.
Duh..gusti. Perempuan jaman sekarang masak diajarin laki-laki. *Kalo gini kaum pria yang emansipasi ya.

Pertama diajarin buat omelette. Dadar telur yang diisi daging asap, tomat, bombay, sosis, sedikit garam dan lada. Telor ini digoreng sambil sedikit dilempar ke atas, karena terlalu bersemangat melempar, telor dadar saya malah mendarat di teflon teman yang ada disebelah…Wadoh!

Menu berikutnya membuat sandwich, burger, dan hot dog. Guampang poll. Lha tinggal oles-oles trus diisi, nggak pake acara ngulek-ngulek. Sambil goreng burger, tangan saya nggak berhenti nyemil kentang goreng. Kentangnya masih hangat..krenyes..krenyes. Nggak sadar satu piring saya habisin sendiri.

“Mbak..kok yang masuk mulut lebih banyak daripada menu yang dimasak, ya !” ingat Chef Isdiyanto dari SHS. Gara-gara ditegur saya ganti nyemil Hot Dog. *Nggak tanggung-tanggung.

Hasil belajar masak di SHS, saya bawa ke kantor. Bangga sekali rasanya, saya bisa bikin omelet, burger, sandwich, untuk spagetthi ada jenis : Bolognaise, Napolitan, Marinara, Carbonara.
Hasil kreasi itu saya taruh meja, nggak ada hitungan 5 menit. Ludess disikat sekitar 6 orang. Salah satunya teman saya, Adam si Anak Rembulan (warewolf kaleeee) :

“Gimana ..enak khan spagetthi buatanku ?"

“Asin…mbak !”

“Oh ..itu bukan keasinan, tapi itu bubuk kejunya banyak !” *ngeles

“Lha kok yang spagetthi Napolitan….rasanya hambar ?”

“Soalnya ini bumbu standart hotel, jadi nggak boleh asin !”*ngeles lagi

“Tapi…kok sandwichnya pahit ya ?”

“ Uhmm… sorry, mungkin kebanyakan ngasih Pete !” *Fuihh..kehabisan ide buat ngeles

note :
Saya ingin membuat tandingan McDonald’s dengan nama McMendol’s.
*Ikonnya, saya pake kostum badut, sanggulan dengan lipstik belepotan. Hihihiii…..

----
Thx to :
Surabaya Hotel School (SHS)
Jl Joyoboyo 10 Surabaya
031-5633608
web : shs-sby.com


Thursday, January 08, 2009

Rawon Thailand, Lebih Berani

Menambah khasanah dunia Rawon di Jawa Timur. Di Malang ada Rawon Brintik dan Rawon Tuyul. Dan di Surabaya. Ada Rawon Setan, Rawon Dengkul Nguling, Rawon Kalkulator. Nah, kalau ingin menikmati rawon dengan taste yang lebih BERANI, coba saja Rawon Thailand ini.



Saya punya obsesi ingin pergi ke Thailand gara-gara kesemsem berat sama Thai-Food. Sajian eksotik dan unik. Dan rasanya benar-benar khas. Dulu, bos saya ini, pernah pergi ke sana. Majalah dan katalog tentang wisata dan tempat makan di Thailand saya simpan. Berharap kelak bisa pergi ke sana … *Amien.

Tapi impian ini hampir tercapai. Saya memang tidak pergi ke Thailand. Tapi setidaknya Si Jed, mengabari kalau temannya di Surabaya baru buka resto Rawon Thailand. Saya dapat kehormatan sebagai Tamu pertama yang diundang sama Mas Hary- Ownernya. Orangnya ramah menyambut saya dan Anton.
“Haduh .. ini saya baru saja baca blognya Manda !” Waduh saya jadi begajulan nggak karuan.

“Wah Mas Hary, saya..saya …jadi laper..eh jadi malu !”

Mas Hary ini terampil sekali, mulai menakar nasi, mewadahi rawon ke mangkok. Menyiapkan ke meja, semua dikerjakan sendiri. Hebat, masih muda, cekatan.

Kok Pakai Nama Rawon Thailand ?
Oh…ternyata tidak sekedar ada sentuhan bumbu khas Thai, tapi kokinya pun asli dari Thailand..ya calonnya Mas Hary ini...*suit...suit.

Pasti Penasaran khan gimana rasa Rawon Made in Thailand ini !
Hmm… dari panampakan serupa dengan rawon biasa. Eh, tapi tunggu dulu…tapi rasanya, BEDA ! Iya…tidak seperti rawon biasa.


Rawon Thailand adalah modifikasi dari rawon biasa, namun dengan sentuhan pedas yang identik dengan thai-food. Rasa pedas, tapi tidak terlalu dominan. Dan rasa pedasnya bukan dari merica tapi dari cabe merah besar yang dihaluskan. Kuah rawonnya tidak pekat, terlihat benar kalau bumbu kluweknya tidak banyak, tapi lebih mengandalkan bumbu khas Thai yang spicy.

Jago bener nih kokinya. Bumbunya benar-benar meresap sampai ke dagingnya yang gede dan empuk. Nggak kayak saya, kalau buat rawon dagingnya sepoh alias hambar…hehehehe.


Sebagai pelengkap, ada tempe goreng, empal dan telor asin. Untuk telor asinnya, angkat dua jempol. Benar-benar masir. Rencana ke depan, kata Mas Hary nantinya akan menyediakan menu-menu thai-food selain Rawon Thailand.Dan saat ini sedang ada dalam proses pengembangan.
Mas Hary, tak tunggu undangan Thai-Sea foodnya...*kemeces.

Soal rawon, Jadi ingat pas jaman kuliah. Gara-gara rawon saya pernah dimusuhin sama Satu Genk anak Ambon. Soalnya, saya menyebut RAWON dengan sebutan.....
SOTO AMBON
!” . Hiyaaa....!!!!

Rawon Thailand
Jl. Kedungsari 19-b Surabaya
Web: rawonthailand

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...