Wednesday, December 30, 2009

Degan Bakar

Irisan kelapa muda berpadu dengan racikan rempah.

Rasanya segar, khasiatnya luarrr… biasa.


foto : Anton


Sajian unik ini dapat ditemui di kawasan jalan Semarang, para penjual es degan menawarkan racikan baru yaitu degan bakar.Bahan utamanya, yaitu kelapa muda yang segar dan baru. Kelapa ini lalu kemudian dimasukkan ke dalam tong.


Pembakaran ini menggunakan kayu dan sisa ampas kelapa. Kelapa muda yang telah dibakar ini lalu diambil airnya. Campuran ramuan rempah-rempah terdiri dari jinten, laos, jahe merah, pinang dan lada hitam.


Rempah-rempah yang berbentuk bubuk ini lalu dicampur dengan madu.

Tahap selanjutnya, lalu air degan dan daging buahnya yang sudah dikeruk, dituang.


Paduan rempah dan air degan ini langsung menebarkanharum jamu terutama lada hitam yang beraroma tajam.


Anton yang badannya lagi greges penasaran mo nyobain. Setelah menuang ke piring kecil. Lalu disruput pelan-pelan. “ Rasanya hangetttttttt !” kata Anton, niruin gaya Budi Anduk.


Melihat saya nggak tertarik untuk mencicipi. Si penjual nawarin racikan lain.


“Ssst..Mbak, kalau mau yang grengg..… tinggal nambah madu sama telor. Khasiatnya ….wis talah…….!” Kata si penjual sambil ngedip-ngedip.


“Napa Pak, kelilipan kelopo yo, sampeyan !” sambil mbalas kedip-kedip. Hihihi…


Wis..tah, nyoba ya, enak kok jamunya !” katanya merayu.


“Oh, nggak Pak. Saya lemu kayak gene itu gara-gara kebanyakan minum jamu kok !”


“Ah mosok seh ! Jamu apa kok tambah montok gethu ?” *penasaran.


“ Iya… kebanyakan minum jamu Galian Kendorrrrrrrrr, Puassssss !” *sambil sleding penjualnya pake kelopo wungkul.



Degan Bakar

Penjual Es degan Sepanjang Jalan Semarang


Sunday, December 20, 2009

Maling Kupang

Saya kemalingan. Tapi malingnya sempet nitip Rp 20 ribu.


Masih ingat dong, kalau saya jualan kupang lontong di rumah. Saya kena apes. Baru buka sudah kemalingan. Waktu itu saya lagi ngocekin brambang di ruang tamu.

Pas di dapur, simbok saya ini denger ada sepeda motor berhenti di depan. Ternyata ada anak muda, memakai helm teropong, naik motor. Helmnya nggak dilepas, dan mesin sepeda motornya dibiarkan nyala.

“Mau beli apa, Mas ?!”
“Mo beli kupang lontong, satu. Dibungkus !”

Setelah pesanan selesai. Pembeli ini mengulurkan uang Rp 20 ribu.

“Waduh belum dapat pengelaris, Mas. Uang Pas aja !”
“Ngga ada Bu, cuman itu !” katanya.

Akhirnya simbok lari ke dalam, untuk nyari uang kembalian. Nah Pas keluar…. *nahan nafas. Lho, kok si pembelinya sudah nggak ada. Herannya lagi, bungkusan kupang lontongnya juga tidak dibawa. Semenit kemudian simbok saya menyadari kalau tabung gas elpiji yang warna hijau dangdut itu sudah Tidak ada.

“Mbak Mendollllllll….. tabung gasnya ilanggggggg !” teriak histerissssss

Saya langsung ke TKP dan menemukan kompor gelethak, tanpa ada tabungnya.
“ ASEM, JAMBU TELO ...kok mentholo men, iku maling. !” Ambekan gedhe. Mbathin sama misuh-misuh.

Simbok saya jengkel sekali, sampai kupang lontong yang tidak dibawa sama si maling dibuang langsung ke tempat sampah. “Buang sial !” gitu alasannya. Uang Rp 20 ribu punya si maling masih dipegangnya. Untung simbok saya masih rasional, duitnya nggak ikutan dibuang..hehehehe.

Nggak sampai lima menit, berita tabung gas ilang ini sudah sampai seantero penjuru gang. Mulai tukang becak, bakul jamu, buk sayur, pemulung, ibu-ibu pulang dari pasar semua pada nyamperin simbok saya. Semua ngerubung nanyain kronologisnya.
Miring
Hebatnya, simbok saya pinter mendramatisir cerita, dikaitkan dengan mimpi buruk sehari sebelumnya, firasat nggak enak, badan meriang, sampai perasaan bersalah gara-gara ada kucing kawin di atas genteng malah disiram sama air se-ember.Brrhh..

Saya sampai ndomblong…. Lha kok malah panjang ceritanya. Ck..ck..ck.

Semakin panjang ceritanya, semakin bikin penasaran. Akhirnya, orang-orang yang datang nyambi ndengerin, sambil mesan kupang lontong-lah, lontong balap-lah, lontong mie-lah… Ceritanya makin seru, makin menggigit. Orang-orang, akhirnya malah terpacu buat nambah sate kerang, lentho dan bergelas-gelas es degan.

“Ikhlas ya Mbak Mendol, nggak usah pake nangis, nanti dikasih rejeki berlipat-lipat !” kata tetangga saya.

Saya bingung. Siapa yang nangis ?! Ohh….tetangga saya ini mengira mata sembab saya dipikir nangisi tabung elpiji yang ilang, padahal mata merah ini khan gara-gara habis ngoncekin bawang merah. Heheheheheh…..

Gara-gara kejadian ini dagangan simbok saya jadi laris luar biasa, belum sampai jam 9, dagangan dah ludesss. Saya pun senyam-senyum..dan tidak misuh-misuh, nyebut dagangan buah di Pasar Keputran.Hihihihii….

Kupang Lontong Tanjung Perak
Dapur Nusantara - Food Court ITC Mega Grosir lt 3
Jl Gembong.

Monday, December 07, 2009

Banana King

Nama restonya Banana King. Tapi, saya justru paling suka Potato Shellnya.

Seperti namanya,
Di Banana King, pisang bisa menjadi aneka hidangan istimewa. Resto yang berlokasi di jalan Raya Darmo Permai ini sungguh kreatif menyajikan olahan pisang, menjadi menu yang luar biasa, memiliki citarasa nikmat dengan tampilan yang sedap dipandang mata.

Menu spesialnya antara lain, Banana Ball,Banana Pearl Roll, Banana Spry Roll, Deep Fried Banana, Grilled Banana. Salah satu sajian yang patut dicoba karena menjadi favorit pengunjung adalah Grill Banana, yaitu pisang bakar, lalu disiram gula merah yang sudah dicampur dengan buah durian.

Anton ngga
k sempet motoin nih Grill Banana, soalnya sudah keburu dimakan. Soalnya saya khan melihara anaconda di perut. Hehehehe....

Saya pun ganti menikmati, menu andalan, yaitu Chicken Parmiaga, kelezatan olahan dari bagian dada ayam dibalut tepung dengan taburan keju mozarela yang melted di atasnya. Wiiihhh.... gawat surawat rasanya, kalau nggak diingetin anton, saya kayaknya sanggup ngabisin lima porsi. Ya iyalah... khan ada anaconda-nya.*ngelus weteng.

Seperti biasa, habis makan saya pengen ngemil neh, pengen kudap
an yang renyah, akhirnya jatuh ke Potato Shells, gurihnya kentang dengan isian daging giling berbumbu yang rasanya benar-benar lezat. kentangnya begitu digigit pas kulitnya terasa krenyes..krenyes.

Saya sama Anton sepakat, kelak ke kalau ke sini bawa pasangan masing-masing harus nyoba yang satu ini..* tentu saja sekalian anaconda...hehehehe.


Banana King
Ruko Sentra Darmo Villa A1 Raya Darmo Permai Selatan. (Depan Supermarket Papaya).
Foto : Anton

Tuesday, November 24, 2009

Tahu Campur Mbak Yati

Ini catatan sewaktu saya masih dipimpin bos saya yang satu ini. Setiap penugasan, Bos ini selalu bilang, “pokok'e kudu isok !” bahkan jatah liputan di tiga kota, Gresik, Lamongan, Tuban harus selesai dalam sehari demi efisiensi waktu dan bugdet.

-------
“Siap bos, selama dana buat liputan lancar, aku budal !” tantang saya.

“ Kalo liputan nggak pake acara makan-makan , bisa nggak !” katanya balik menantang.

“ Lho, gimana seh ! Wong nulis makanan
nggak pake incip-incip, bos!” *emosi

“Itu loh susahnya, kamu incip-incip aja bisa dua piring. Kalau ada tiga kota, ada 12 tempat makan yang diliput..wah bisa mbledoss awakmu !”

Saya tersanjung…ternyata bos saya prihatin eh perhatian.

“Tenang bos…demi tugas mulia ini, ak
u siap berkorban. Ini adalah pengabdianku sebagai jurnalis kuliner sejati. Tak surut diterjang kolesterol !” *bergaya ala Bangsawan Kaya Lemak.

Setelah mengantongi restu dan sangu. Saya, Anton, dan Pak Say berangkat pagi uthuk-uthuk. Ada beberapa tempat yang kami singgahi, salah satunya di rest area stadion Sura Jaya.Mengunjungi depot tahu campur Mbak Yati yang lumayan Ngetop.

Kata Mbak Yati yang kenes ini tahu campur Lamongan mempunyai keistimewaan pada kuahnya. Kuahnya keruh karena banyak bumbunya. Inilah yang membuat rasanya sedap.

Selain kuah yang kaya rempah-rempah, di dalam bumbunya juga ada petis udang.
Petis udang dioleskan di piring, lalu diberi kuah sedikit untuk mengencerkan, kemudian diberi irisan tahu, mi kuning, irisan perkedel singkong, dan selada. Kemudian yang terpenting potongan daging sandung lamur.

Siraman kuah panas yang menebarkan aroma kaldu yang gurih diambil dari panci besar khas penjual tahu campur. Satu porsi habis dalam sekejap, nikmat bener. Rasa gurih dengan semburat rasa manis petis membuat rasanya makin mantap.

Niat mau tambah pun saya batalkan, karena jatah si Anton tak tersentuh. Masih kenyang alasan Anton. Saya sikat juga. Ssstt...emang sich, 10 menit yang lalu kami habis sarapan di Kaliotik. Tapi suerrr...saya cuman makan bothok simbukan sama iwak wader doank, wajar kalo masih laperrrr!

Ini list tempat makan yang saya singgahi di Lamongan dan sekitarnya
1. Kaliotik Jl Jaksa Agung Suprapto 31
2. Ikan Bakar Jimbaran Jl Jaksa Agung
3. Asih Jaya I Komp. Lamongan Indah Jl Panglima Sudirman
4. Depot Nasi Goreng Jl Jaksa Agung Suprapto
5. Mekar Jaya I Jl Raya Deandelss Paciran
6. Makmur Jaya Jl Jaksa Agung Suprapto
7. Kita Jl Raya Babat Lamongan
8. Palm Kendil Wesi Jl Raya Deandelss Paciran
9. Depot Tahu Campur Mbak Yati Rest Area Stadion Sura Jaya

Tuesday, November 17, 2009

Sate Klopo Megelno

Tempatnya sama, yang dijual pun sama. Tapi saya kapok kalau beli yang malam hari.




Sate Klopo Ondomohen memang sudah terkenal di Suroboyo. Kalau biasanya saya menyantap sate ini pagi hari, malam-malam saya kepingin dan mampir ke sini.Pas datang , saya agak kaget juga, karena penjualnya beda bukan Bu Asih yang kerap saya temui di pagi hari. Penasaran, saya tanya sama tukang parkirnya.


“Pak, ini sama yang pagi orangnya sama nggak ?”

“Oh beda, mbak. Kalau pagi Bu Asih, kalau malam yang jual orang lain!”


Ya sudahlah, akhirnya saya pesan juga. Pesanan datang, tampilannya sedikit beda dengan sate klopo Bu Asih yang pagi hari. Potongannya sedikit lebih langsing. Saya pun mengutak-atik sedikit. Ternyata bumbu kacangnya sedikit sekali. Kalau tidak salah, pas meracik tadi dia hanya memberi satu sendok dan ditambah kecap.

Saya pun makan dengan lahap, sayangnya sate sama nasi saya masih banyak, bumbunya sudah habis. Saya pun minta tambah.


“Bu, nambah bumbune, nggih !” Suerr pas mengucapkan ini intonasi saya pelan, lha wong saya ini prototipe wong Jowo yang ngerti unggah-ungguh.


Tapi apa reaksinya, Ya olloh, wajahnya judesssss bangets. Ngeliat saya yang menyodorkan piring, minta tambah bumbu, matanya berkilat penuh kemarahan. Piring saya diambil kasar, lalu diberi satu sendok bumbu. Dan disodorkan tanpa menoleh ke saya.


Haduh, jujur saja, saya rada gethun minta tambah bumbu, pas tau reaksinya kasar. Kalau tau bakal diperotin githu mendingan pas minta tadi saya bawa clurit. Hayaahhh…..


Pas giliran mbayar, saya bilang. “Bu, pinten, nggih !” *ngeluarin duit receh

“ Mbak tambah seribu, tadi khan minta tambah bumbu !” katanya ketus.


Ya ampun, bumbu sate yang sak ipet itu dihargai seribu ! Okelah…. Saya nggak keberatan kok mbayar, karena jelas-jelas saya yang minta tambah bumbu. Tapi caranya itu loh, sudah ngelayanin super judes, nambah bumbu sak dulit, kena cash. Pokoknya beda bangets dengan Bu Asih yang jual pagi.


Gara-gara tindakan kriminal penjual sate kelopo ini. Saya kena tekanan psikologis, wajah penjualnya yang judes buat saya ilfill mau makan di sana. Saya jadi nggak bakal mau makan sate kelapa Ondomohen (malam hari), bahkan mewarning, temen-temen yang mau makan di sana (malam hari).


Yang jelas, penjual sate ini RUGI kehilangan pelanggan seperti saya. Soalnya jatah makan saya mewakili 10 orang. * Hueueue…iki wong opo butho yooo…..

Sunday, November 08, 2009

Kupang Lontong Tanjung Perak 2

Atas permintaan tetangga, akhirnya saya jualan kupang lontong di rumah. Lupakan tentang meja besar, tenda, etalase bening, meja dan tempat duduk. Saya nggak punya modal untuk menyiapkan itu. Lalu apa berarti nyerah ?

Nggah ah, hajar bleh !!!


foto : Anton


Saya jualan di halaman rumah, ambil meja dapur sim salabim sulap jadi meja buat jualan. Nggak ada tempat duduk, kalau mau makan di tempat, tinggal duduk di buk di depan rumah. Nggak ada tenda, no problem, teduhnya pohon mangga menjadi atapnya. Bener-bener bernuansa out door hehhehee…..


Dengan hanya bermodal dengkul, bener-bener nggak punya apa-apa modal neh, akhirnya sudah hampir sebulan saya jualan di rumah. Ternyata ini membahagiakan banyak orang. Beneran, lho. Pertama, Tetangga saya donk, soalnya saya konsisten berjualan pukul 6 pagi, di saat ibu-ibu pada bingung nyari sarapan, dari pada repot belanja mending beli. Senengnya lagi, di rumah saya jualannya macem-macem, ada Lontong Mie, Lontong Balap, Lontong Kupang, minumnya ada es degan sama es blewah. Mana harganya murah Rp 4 ribu tapi porsinya melimpah. Enak toh !!!


Orang Kedua yang bahagia, tentu saja pegawai saya. Dua orang manula yang ikut ini merasa di “wongke” karena tenaga mereka masih saya hargai, bahkan simbok –simbok yang masih terlihat perkasa ini menjadi selebritis dadakan di kampung, soalnya setiap orang disapa dan disuruh mampir. Hehehehe…, Oh iya, satu pegawai saya di ITC, adalah seorang ibu muda, yang ditinggal lakinya. Ketimbang nganggur, dia milih ikut saya, nyari uang buat sekolahin anaknya yang ada di Madura.


Dan yang paling-paling bahagia, tentu saja Saya dan My Sharuhkan. Bangga pastinya, usaha yang dirintis meski pelan-pelan mulai kelihatan berkembang, baru jalan lima bulan sudah buka dua tempat, bahkan membayar tiga pegawai. Kami nggak pernah membayangkan ini sebelumnya.


Saya jadi ingat sama almarhum Embah saya. Embah saya ini pemilik catering kondang di Malang, pegawainya ada 30-an, rata-rata adalah para ibu-ibu manula dan warga sekitar yang pengganguran. Waktu itu, saya bertanya, “Mbah, kok menerima para manula itu bekerja, apa embah nggak kasihan, khan mereka sudah tua !”


Embah saya bilang, “Mereka yang lanjut usia itu bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka mestinya diberi tempat dan dihargai. Kita tidak pernah tahu datangnya rejeki dari mana, bisa jadi, rejeki yang kita nikmati ini, datangnya juga dari doa-doa mereka yang tulus !” * Mendengar jawaban itu, saya langsung menangis.

Wednesday, October 21, 2009

Rawon Tujuh Rupa

Dunia kuliner memang kaya Inovasi bahkan bisa menaikkan sajian lokal ke kelas yang lebih tinggi. Rawon aja, bisa tampil tujuh rupa.

Saya terkesan bener, dengan pelaku kuliner yang mampu menghasikan makanan kreatif. Seperti menu rawon. Rawon…yeah blacksoup from east Java. Kuahnya hitam pekat, buat sebagian orang mungkin rada aneh. Itu awalnya….. coba kalau sudah makan. Wuahh….Miyabi lewat aja, bisa dicuekin.

Warna hitamnya eksotik, lho. Soalnya bukan karena kecap yang warnanya lebih pekat, atau pake petis udang. Tapi pake kluwek. Bentuknya kayak kerikil jaman prasejarah. Kalau beli, mesti digoyang-goyang, mungkin dulunya kluwek ini punya kebiasaan dugem. Hihihihi….

Ternyata olahan rawon tidak selalu menggunakan daging sapi sebagai bahan utamanya. Singgasana resto, mengolah hidangan khas Jawa Timur ini menjadi banyak pilihan yang dijamin bisa memuaskan selera. Rawon ala Singgasana ini memberikan tampilan berbeda. Dengan kuah yang sama, tapi bisa memilih isian yang berbeda.

Ada rawon daging sapi, kikil sapi, kikil kambing, buntut sapi, iga sapi, jeroan ati dan rawon vegetarian. Sebagai pelengkap menyantap rawon, juga disediakan, tempe goreng, telur asin, tauge pendek, kerupuk dan sambal terasi.

Hmm… bingung khan mau makan yang mana ? Saya pun menjatuhkan pilihan Rawon Kikil Kambing. Alasannya, kalau daging sapi sudah biasa, lha ini kikil kambing yang sering dibuat sop, dijadikan Rawon !Ternyata rasanya nggak jomplang ,lho. Ada kejutan yang muncul dalam setiap gigitan, sedapnya bumbu ulek, terasa hingga ke dalam kikil, ditambah harumnya, daun salam, daun jeruk dan serai membuat aromanya makin mantep. Ini merupakan keselarasan yang sempurna.

Si Anton, memilih rawon vegetarian. Bahan rawon vegetarian, tidak ada irisan daging maupun lemak pada rawon, tapi diganti dengan sayur-sayuran. Irisan daging diganti dengan kubis, wortel, tahu, dan manisa (labusiam). Sebagai tambahan juga ditambahkan daging sintetis yang diolah dari saripati tahu.


Anton betul-betul menghayati setiap suapan yang masuk, ini bukan karena dia seorang vegan, ternyata menyangkut kenangan di masa kecilnya.
"Jaman aku kecil, ibuku nggak bisa beli daging, akhirnya diakali, kalau bikin rawon, dagingya diganti pake Tahu !” kata Anton mengingat memori saat berebut makan daging tahu, bersama tiga orang kakaknya di sebuah desa di Ponorogo. Oalaaa…emaknya kreatif banget yah.

7 items of Rawon
Singgasana Hotel Surabaya
Jl Gunungsari

Saturday, October 17, 2009

Lontong Banyu Urip

Brader, jangan pandang sebelah mata Lontong ! Tanpa lontong, maka tebak-tebakan, bahasa Inggrisnya, nasi panjang nggak akan pernah ada.



Lontong mungkin sama pentingnya dengan nasi. Kalau dipikir, tanpa lontong, maka tidak banyak makanan tradisional tercipta. Sebut saja, gado-gado, lontong balap, lontong kupang, rujak cingur, lontong mie, lontong kikil, lontong lodeh, lontong sayur, lontong cap gomeh dan banyak makanan lain yang menggunakan lontong di dalamnya.


Pernahkah terbersit rasa penasaran, dari manakah lontong se-antero Surabaya berasal ? Rasa penasaran inilah yang membawa saya dan Anton, ke sebuah kampung kecil di daerah Banyu Urip. Yah, di sinilah sebuah kampung di Surabaya, yang warganya mengeluti usaha pembuatan lontong sejak dari leluhur mereka.


Sebuah gang kecil, tepatnya di Banyu Urip gang II, adalah gerbang utama untuk bisa masuk ke kampung lontong. Perkampungan nan padat hanya bisa dilalui sepeda roda dua, itu pun tidak boleh dikendarai, karena ada himbauan untuk menuntun. Lumayan jauh jalannya, saya ngos-ngosan ngikutin Anton, “Mbak, kalau giliran makan aja cepat. Kalau diajak jalan kok koyok sapi manten !” hehehehe….


Setelah melewati jembatan kecil, saya pun disuguhi pemandangan eksotis. Hampir seluruh pelataran rumah bahkan pinggiran jalan, berjajar longsongan daun pisang yang dijemur. Melongok ke dalam rumah, ruang tamu penduduk di sini ibarat lautan daun pisang. Tumpukkan daun pisang terlihat di segala sudut.


Lontong memang terlihat sederhana, nyatanya perlu kesabaran tinggi untuk mengolahnya. Beras yang dibersihkan dari kotoran, sebelumnya sudah dicuci, lalu dikeringkan.Proses pematangan beras menjadi lontong ternyata membutuhkan waktu 8-10 jam.


Proses memasaknya dimulai pukul lima sore hingga pukul dua pagi. “Kalau ingin lontongnya punel, dan bagus harus benar-benar tanak memasaknya,” jelas Mbah Nem, yang meneruskan usaha pembuatan lontong dari sang ibu.


Tidak semua beras bisa dijadikan bahan untuk membuat lontong. Beras yang digunakan adalah beras yang bisa mekar. Tapi itu bukan jaminan bakal jadi, karena jika beras terlalu mekar, lontong bisa pecah. Kalau tidak matang benar, lontong tidak terasa empuk. Susah khan.


Lontong yang dijual ada beberapa ukuran, dan harganya juga bervariasi. Untuk lontong berukuran kecil dijual Rp 700,- sedangkan ukuran besar Rp 1000,- . Di pedagang yang kecil biasa dijual Rp 800,- sampai Rp 1000,- sedangkan yang besar dijual kembali dengan harga Rp 1500,-.


Pembuat lontong di kampung ini tidak pernah berhenti membuat lontong, hari libur maupun hari besar aktifitas pembuat lontong di Kampung Banyu Urip berjalan seperti biasa. Bahkan Hari Raya merupakan momen yang ditunggu-tunggu, bukan karena sekedar ingin merayakan tapi di saat inilah mereka panen, dan harganya bisa menjadi tiga kali lipat. Wah... mugi-mugi kathah rejekine nggih, mbok Nem.


Saturday, October 10, 2009

GSM Versi Becak

GSM yang satu ini sinyalnya padat dan banyak lemak.


Sebagai satu-satunya perempuan di jajaran redaksi. Saya mesti legowo kalo jadi bahan ketawaan. Memang, secara gender saya minoritas, tapi soal bobot tubuh saya mayoritas (baca: paling lemu).


Ya..ya.. gara-gara urusan fisik ini, saya jadi punya banyak julukan. Saya nggak marah, lha memang kenyataannya gethu. Sabar…sabar….*sambil mbalang boto.


Ndlalalah, minggu lalu pas rapat, lha kok teman-teman nggak mbahas soal perencanaan edisi selanjutnya, malah tega ngerasani saya terang-terangan. Yaitu Enchus dan Anton


Chus : Mendol itu ibarat STNK

Anton : Wadoh opo iku ?

Chus : Setengah Tuwek Namun Kenceng .. !!!

Hehehehe...cengengesan kabeh.


Anton : Eh, Ada lagi. Mbak Mendol iku Setu Legi

Chus : Wah..opo iku ?

Anton : Setengah Tuwek Lemu Ginuk-Ginuk ..hihihii !!!

*Grhhhh…..Kurang Ajarrrrrrrr !* Nyumpel Anton pake gajih


Penyiar Becak Ter..Ter..yang ndak mbois blasss. Wakakaka....


Nah puncaknya pas House of Sampoerna ultah tanggal 10 Oktober, tiba-tiba ketemu idola saya. Duo Rambut Kriwul, Penyiar Kocak Becak Ter ..Ter.. dari JTV. Saya tiba-tiba dijawil


Ibarat hape sampeyan iku GSM," katanya sambil nyari tumo

“ Opo iku Mas ?!”

“ Hehehe…Gemuk, Semok dan Montok !”


" Huahhhhhh…. Nyemprot rambut kriwulnya pake PEDITOK !!!.


Foto : Anton

Wednesday, September 30, 2009

Oleh-oleh Bogem

Saya kagum luar biasa, di tangan seorang petani magrove. Bogem bisa diolah menjadi sirup, jenang dan kerupuk.


Begitu tahu kalau tujuan liputan saya ke Pantai Timur Surabaya, saya sudah aras-arasen. Karena cuaca benar-benar panas. Apalagi lokasinya lumayan jauh. Membayangkan saya naik sepeda motor panas-panas di terik matahari. Bisa-bisa saya nanti garing kayak keripik rambak. Sama seperti saya, Anton si fotografer juga sama ogah-ogahan. Apalagi kalau harus membonceng gajah duduk. Bisa jadi peleg ban motornya jadi kocak nggak karuan.


Tapi saya bersyukur, tugas kali ini ditemani Pak Syaiful. Yang artinya dapat fasilitas bawa mobil kantor. Hueueueue…keren ! Suwun yo..Pak Say..


Perjalanan ini mengantarkan saya bertemu sosok Pak Soni. Pimpinan Kelompok Tani Mangrove Wonorejo-Rungkut Surabaya. Sosok yang sangat sederhana, tapi suka membagi ilmu kepada siapa saja. Orang yang tak pernah kehabisan ide untuk memanfaatkan hasil hutan magrove, pohon pantai yang dianggap tidak memiliki manfaat apa-apa bisa berfungsi ekonomis.

Salah satu buah yang bisa dimanfaatkan yaitu Soneratia (bogem), bisa diolah untuk sirup dan jenang dodol. ”Buah yang bisa diolah adalah buah masak dari pohon. Cirinya, buah tersebut jatuh langsung dari pohon, bukan sengaja dipetik,” jelas Soni. Buah bogem tidak bisa langsung diolah, ada proses khusus karena mengandung tanin. Getahnya mengandung racun. Harus dibersihkan, direndam baru kemudian direbus.


Untuk pembuatan jenang bogem, diolah dari daging buah bogem, tepung ketan, gula pasir, asam bensoat. Jenang isi 12 yang dikemas dengan pelepah pisang yang unik harganya Rp 10 ribu.



foto : Anton


Olahan lain yang juga istimewa yaitu sirup bogem. Bahan sirup ini juga diambil dari sari buah bogem. Untuk penyajianya, satu bagian sirup dicampur empat bagian air hangat. Boleh juga ditambahkan es batu. Rasanya benar-benar istimewa, campuran rasa manis berpadu dengan rasa asam yang dominan, malah memunculkan rasa segar berkepanjangan di tenggorokan. Selain itu, minuman unik khas pantai Timur ini kaya kandungan vitamin A,C, yodium dan anti oxidan.


Saya merasa beruntung, karena diajak blusukan masuk dapurnya, bahkan dia juga dengan mudahnya memberi tahu rahasia racikan jenang, sirup dan kopi yang diolah dari Bogem. Masyarakat disekitarnya, juga tidak lagi menggantungkan hidup dari tambak, karena rumah Soni selalu terbuka bagi masyarakat sekitar yang ingin maju dan belajar.


Dari sosok seorang petani sederhana ini, sungguh saya belajar semangat dan ketulusan yang terpancar hebat dari semangatnya untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Sosok petani ini ibarat oase yang menyejukkan di Ujung Pantai Timur Surabaya. "master, angkat saya menjadi muridmu !" *berlutut.


Oleh-oleh khas Pantai Timur Surabaya

Kelompok Tari Mangrove Wonorejo - Rungkut

Jl Soneratia 2

Kelurahan Wonorejo Timur.

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...