Wednesday, April 30, 2008

Bebek Peking Tidak Dicekik


Warna kulitnya coklat mengkilat menggoda selera makan.


Dari banyak masakan tradisional Cina, bebek peking, atau peking duck termasuk dalam daftar hidangan utama di resto atau gerai hidangan Cina. Menu bebek peking termasuk mahal sebab harus menggunakan bebek yang diimpor langsung dari Beijing.

Dagingnya yang lembu
t, serta ukurannya dua kali lebih besar dari bebek lokal merupakan alasan, mengapa para Chef hotel berbintang tetap menggunakan bebek asal Beijing ini.
Sarkies Seafood Chinese Restaurant hotel Majapahit Surabaya, menyajikan hidangan Cina prasmanan dengan makanan spesial peking duck.
Cara masaknya sangat ruwet, dan proses pengolahannya pun berbeda hingga bebek peking mempunyai rasa yang khas, dan menghasilkan daging bebek panggang yang mengkilat, kering dan renyah di luar, tapi lembut di dalam.

Seorang chef, berbaik hati membuka rahasia cara pengolahan pada saya. “Memilih bebek harus teliti, ini merupakan kunci untuk menghasilkan masakan yang prima. Misalnya kulit bebek tidak boleh sobek, licin dan usianya sekitar 4 bulan. Berat idealnya sekitar 2 kilo,” tambahnya.

Bebek dipersiapkan sehari sebelumnya. Kemudian diisi ramuan rempah-rempah caranya, dengan melubangi duburnya. Lalu dipanggang di oven.

Dalam proses pematangan dalam oven, daging bebek yang semula keras sedikit demi sedikit menjadi lunak, dan air bumbu tersebut masuk ke dalam bebek membuat daging bebek itu menjadi gurih.

Kulit bebek merupakan bagian favorit bagi penggemar bebek peking. Karena kulitnya kering dan renyah. Apalagi sebelum dimasak sudah terlebih
dahulu diolesi bumbu.

Cara menyantapnya, pelayan terlebih dahulu memisahkan daging bebek dari kulitnya. Pisau yang digunakan harus tajam, agar dapat mengiris kulit setipis mungkin tanpa menyertakan lemaknya.


Potongan kulit berbentuk segi empat kemudian diletakkan di atas momok semacam kulit lumpia khas Cina. Diberi saus plum, beraroma manis lalu dibungkus bersama ketimun, batang bawang dan irisan cabe merah.
Modelnya persis seperti lumpia.

Kulit bebek yang garing bagai keripik, berpadu timun segar, dan irisan cabe dibungkus momok merupakan perpaduan unik dan gurih. Lumpia isi kulit bebek ini biasanya digunakan sebagai appetizer.


Masyarakat awam masih menganggap, cara mengeksekusi bebek peking dengan cara dicekik. Benarkah ? Ketika saya berkunjung langsung ke dapur,beberapa resto di Surabaya, yang menyajikan menu bebek peking, saya melihat sendiri, jika bebek yang diimpor sudah ada sayatan di leher.
“Jadi tidak benar khan kalau bebek peking itu dicekik,” kata seorang chef sambil menunjukkan sayatan di leher bebek.

Sarkies Seafood Chinese Restaurant
Hotel Majapahit, di Jalan Tunjungan 65 Surabaya.
Telephone (031) 5454 333 ext 6351.

NB: Terima kasih atas perhatian teman-teman di saat, Bapak saya berpulang. Beliau pasti sudah tenang bertemu dengan ibu saya di “sana”.

Wednesday, April 16, 2008

Bebek Remuk Pak Ndut


Sasaran perburuan saya kali ini, Bebek Remuk Pak Ndut Kartasura.

Kalau nggak ada undangan makan, saya liyer-liyer di kantor. Tapi, kadang sehari saya bisa liputan dan makan di tiga tempat. Seperti hari rabu lalu, Jam 10 pagi saya diundang sebuah hotel promo coklat. Siangnya, undangan lunch di Palm’s Café Paluwon Golf &Family Club. Dan malamnya, saya sudah ada janji dengan Milka pemilik bebek remuk. Thx to Jie :)

Dengan gaya sempyongan gara-gara kebanyakan makan sop buntut goreng di Palms Café , saya dengan fotografer ini menuju ke resto ini.
“Anton, ntar aku nggak makan ya. Soalnya kenyang banget !” *sambil ngelus weteng.
“Ah, yang bener ! Sejak kapan Mbak Mendol bisa kenyang. Perasaan selang lima menit sudah lapar lagi !” kata Anton tanpa tedeng aling-aling.
Huahh..!!! dasar anak kecil nggak tahu diri. Bukannya memberi support agar saya mengurangi makan. Tambah diolok-olok.


Di resto bebek remuk,
Mbak Milka, menyambut kami dengan ramah. Kebetulan, ada spesial menu paket. Tersedia Paket Bebek Remuk, yang terdiri, Bebek Remuk, Lalapan, Sambal Korek, Nasi Putih dan Minuman. Seharga Rp 15 ribu.
Bagi penyuka daging ayam, tersedia Paket Ayam Remuk/Empuk yang terdiri, Ayam Remuk, Lalapan, Sambal Korek, Nasi Putih dan Minuman. Untuk paket ini Anda hanya perlu membayar Rp 14 ribu.

Ayo dimakan dong mbak! Kata Milka. Aduh, saya ngelirik Anton yang ketawa ala setan.
“Wis-talah mbak, dimakan aja. Dietnya bisa dimulai tahun depan aja !”
Halahhhhhhhhhh taon depan masih 8 bulan lagi. Wah, lama amat yaaa…..


Akhirnya, diiringi tawa kemenangan si Anton, saya akhirnya melahap, sepotong dada bebek remuk, seporsi nasi hangat, dan sayur pepaya yang sudah dikulup.

Hmm…rasa bebeknya beda. Gurih sekali. Karena disuwar-suwir, bumbunya meresap sampai ke dalam. Nggak perlu susah-susah melepas daging dari tulangnya , karena dagingnya mak prulll….ah nikmat bener. Saya sampai mingsep-mingsep…kepedasan. Tapi mau gimana lagi, sambal oreknya enak banget. “Wah, sambelnya koyok sambal ibuku di rumah !” kata Anton sambil dulat-dulit sambal.

Tepat ketika saya memasukkan suapan terakhir, mbak Milka memaksa saya untuk menikmati satu menu lain yaitu, bebek remuk yang garing. Wah, kriuk-kriuk banget. Enak digadoin. Nggak usah pakai nasi. Pas pulang, Mbak Milka masih sempat nawarin saya untuk mencicipi ayam remuk. “Ini enak juga, lho. Rugi kalau nggak nyobain !”

Haduh… Kali ini tawaran Mbak Milka, benar-benar saya tolak. Soalnya, Restleting celana saya sampai nggak kuat untuk untuk dislerekin gara-gara kekenyangan. Akhirnya sambil pulang, saya megangin celana supaya nggak melorot. Sementara si Anton, sudah siap-siap menyiapkan kamera, untuk membidik sewaktu-waktu kalau celana saya melorot. Huahhh….!!!! *Lempar anton pake garpuuuuuuuu.

Bebek Remuk Pak Ndut Kartasura.
Ruko Vila Bukit Mas RO 8. Surabaya.
Telp. 031-5615977

Thursday, April 10, 2008

Belut Elek VS Embok Enom

Niatnya Makan Belut. Tapi, Embok Enom disikat juga.

Pukul 6 sore. Teng ! Wah , kantor saya berubah bak pasar malam. Maklum ada Siwi, Angki, Dion, Jie dan Fahmi, yang nyamperin buat acara berburu belut. Yah, hari itu, kita berencana mau nyerbu belut H. Poer di jalan Banyu Urip. Ide awalnya gara-gara si Fahmi yang penasaran setengah hidup sama belut ini. Tapi untuk ke sana, Fahmi nggak punya nyali. Maklum-lah lokasinya di daerah Banyu Urip, sebelahan ama Gang Dolly. Saya sih terbiasa, lah ini rute rutin saya, kalau pulang kantor. Tapi demi stabilitas keamanan tak lupa, saya pun mengajak serta Germo Wisma Moro Seneng ini. *cekikikan …

Awal perjalanan, ban sepeda motor saya bocor. Si Dion, langsung menuding berat badan saya, yang over dosis sebagai penyebabnya. Tapi, untunglah tuduhan itu tidak terbukti, sebab sebuah kawat nancep-anteng di ban belakang. *ah legaaaa….

Sampailah kami di warung belut SBS ini. Nggak ada yang cerewet, semua menyerahkan pilihan kepada saya. Akhirnya disepakati makan belut elek. Iya, belutnya benar-benar welek polll. Bentuknya basah, setengah mateng, berminyak, genjur-genjur gitu. Tapi rasanya..uhmm lumayan. Detailnya baca di blog ini. *Critan
ya sudah keduluan Fahmi.

Selesai makan, jujur saja, porsinya nurut saya sedikit. Buktinya, saya sama Angki ngaku kalau belum kenyang. Akhirnya tujuan dibelokkan ke warung Cak Mis di Bintoro, saya sebagai penujuk jalan malah menunjukkan jalan sesat. Soalnya malah muter-muter, nyasar nggak karuan. * maaf yo Rek

Sampai Cak Mis…Huaa..rame bener.Akhirnya kami dlhosor di lantai. Guyonan sambil nggosip tentang Sang Nabi yang dipuja sangat oleh Angki dan Jie.
Warun
g ini sederhana, hanya menyajikan gorengan. Tapi yang bikin sensasional adalah nama menu. Misalnya ;




1.
Embok Enom, sebutan untuk Es Sinom.
2. Kridayanti, wujudnya Sate usus yang dililit mirip Keris
3. Cakar Maut, yaitu Ceker Ayam Goreng
4. Larangane Gus Dur,
sebutan untuk Dedeh ayam.
5.
Pakan Doro alias Dadar Jagung.
6. Cucak Rowo, julukan Sate Telur Puyuh

Oh iya, ada yang disebut " Pecatane KFC" yang ternyata wujudnya adalah usus goreng. “Kok bisa ya ?”
“Lha iya, di KFC mana ada yang jual usus goreng kayak gini ?” kata Cak Mis. *Wakakaka….bener juga.

Oh iya kalau baru datang ke sini, jangan sungkan untuk minta Kolam Renang
. Hehehe..jangan kaget, itu sebutan untuk kobokan. Dan bukan karena sakti, kalau Si Angki bisa makan, bantal bersama aspalnya. Bantal yang dimaksud adalah risoles, dan Aspal adalah nama bumbunya.

Biyuh..biyuh…kalau sudah ngumpul gini, makannya kok jadi banyak. Ini terbukti, yang datang hanya 5 orang tapi jatah makannya seperti untuk 20 orang. Hehehe...Oke Jeh Oke Jeh Oke Jeh *macak gaya si_ikin sambil moshing.

Spesial Belut Surabaya:
Jl Banyu Urip Kidul IV / 39 (Bok Abang) Surabaya

Jl Ngagel Jaya Selatan No. 119 Surabaya

Jl. H. R. Muhammad No. 249 Surabaya


Warung Cak Mis

Jl Bintoro (Buka sore –sampai malam)

Wednesday, April 02, 2008

Susahnya Jadi Vegan

Sedikit memalukan. Saya pernah mencoba jadi vegetarian. Dan gagal !

Ceritanya, saya ditugaskan untuk liputan resto Vegetarian. Bertemulah saya dengan banyak penganut Vegetarian. Saya melihat para penganut vegetarian ini wajahnya bersih, auranya positip. Hebatnya lagi, rata-rata mereka jauh dari penyakit. Harus diakui konsumsi daging-dagingan dan produk hewani memiliki keterkaitan dengan penyakit yang ada sekarang ini. Demi kesehatan dan mengurangi penderitaan terhadap binatang adalah alasan utama.

Saya agak terpengaruh. Kalau dipikir ada benarnya, hewan juga mahluk hidup. Ngenes juga kalau lihat ayam, sapi, kambing yang lucu-lucu terus dijagal dijadikan makanan. Aduh kok ya tega…


Habis wawancara itu..tiba-tiba kok saya jadi ilfill lihat daging. Akhirnya saya bertekad kuat MULAI HARI INI SAYA VEGETARIAN.

Hari pertama ;
Pagi-pagi pas bangun saya sarapan tempe sama sambal. *Wuahh…Bangga sekali. Siang, lihat jatah makan siang dari kantor ternyata ada empal goreng. Lalu dengan ramah saya menawarkan kepada teman di kantor untuk menyikat empal jatah saya. Sore harinya saya makan Pecel Madiun minus telor ceplok dan ayam goreng. Wah..ternyata pola makan ini menghemat banyak uang. *jumpalitann....


Hari ke 2. Sarapan nasi goreng polos. Nggak ada tambahan daging ayam dan telor. Belum jam 10 saya sudah lemes. “Ah, badan ini mulai bereaksi terhadap pola makan baru ini,” batin saya. Siang jam 12, saya lihat jatah makan siang, ayam panggang sama urap-urap. Waduuuh…hampir saja nyerah gara-gara lihat ayam panggang. Tapi sudah diniatkan, saya akhirnya hanya menikmati bumbunya. Sore hari saya benar-benar lesu darah gara-gara sudah dua hari dipisahkan sama bakso dan bebek goreng. *Glekk…


Malam hari, saya baru ingat, kalau malam nanti diundang dinner di Hotel. Awalnya, saya cuma ambil buah segar. Supaya agak kenyang, saya puas-puasin makan kue-kue yang jenisnya buanyaakkk.

Tiba-tiba teman saya mendekati. “Ndol...aku nggak habis nih, kamu mau nggak ?” katanya sambil menyodorkan sepiring tahu campur. Waduh, saya ini orang yang pantang menolak rejeki. Duh,mana tega saya lihat makanan nganggur. “Yo wislah!” akhirnya sepiring tahu campur beserta tetelan daging sapi saya habiskan demi pertemanan.

Seorang teman datang lagi, bisik-bisik. “Gileee neh, martabaknya enak bener. Kayaknya pake daging kambing soalnya dagingnya beda !” Akhirnya, didorong rasa penasaran saya nyobain martabak …"lima potong" Lalu dilanjut, satu mangkuk sup merah, lalu ganti ambil sepiring nasi, daging sapi lada hitam, ayam goreng kremes, cap cay bakso. Terakhir es krim strawberry sama bluberry.

Dua hari ..eh satu setengah hari saja, saya menjadi vegetarian. Ternyata saya nggak mampu, laparnya jadi tiga kali lipat nggak karu-karuan. Nyerahhhhh…!!!