Monday, December 29, 2008

Ayam Obesitas

Ini bukan varian baru dari unggas. Bukan juga, ayam yang overweight karena kebanyakan makan junk food.


Foto : Anton

Sebutan ini muncul, gara-gara teman saya si Bembenk yang menjuluki Kalkun Panggang yang segede gajah. “Ndol, kamu saingan neh sama kalkun, sama-sama Obesitas !” kata Bembenk tanpa rasa bersalah. Ck..ck… benar-benar to the point kalau ngatain diriku. *Nelangsa.

Kalkun panggang memang menu istimewa merayakan Natal. Saya beruntung bisa diundang Surabaya Plaza Hotel dan Somerset menikmati Christmas Set Menu, yang terdiri salad, sup, dessert dan roasted Turkey.

Untuk mengolahnya kata Rudi Witjaksono, Executive Chef dari Hotel Somerset. Tidak terlalu ribet. Jadi kalkun yang akan dipanggang diberi bumbu lada, garam dan mustard. Nah,bagian belakang kalkun lalu disumpel sama potongan wortel, prei, bombay, thyme, rosemary. Dipanggang dalam suhu 180derajat, dan dimasak selama 3 jam.

“Kalau nggak punya kalkun, bikin sama daging ayam saja,” sarannya. Berat rata-rata satu ekor kalkun 6 kilogram. 1 kilogramnya harganya Rp 60 ribu. Weleh jadi satu ekor mentahnya saja sudah Rp 360 ribu.

Wujud kalkun memang tidak pernah menyertakan kepala dan ceker. Saya jadi penasaran. Hmm..dikemanain, chef ?

Ternyata leher kalkun yang jenjang itu dibuat kaldu untuk sup. Pas giliran menyantap, daging kalkun ini diiris tipis lalu disiram saos cranberry. Disajikan dengan kentang tumbuk. Ya ampun… dagingnya empuk banget.

Seratnya lembut. Kalah dah daging ayam. Cocok sama saos Cranberrynya yang manis ada asemnnya dikit. Sukaaaa bangets. Menu ini tentu barang “Wah” . Soalnya saya belum pernah makan ayam obesitas. Pas menikmati ayam yang gemuk nan montok, kok jadi ingat Mr Bean yach. …Iya ingat adegan kepala Mr Bean dimakan sama kalkun..heheheh. Iseng-iseng saya ngintip bagian belakang kalkun.

“Ngapain, kamu ngintip bokongnya kalkun, Ndol ?”

“Hehehe….Penasaran, siapa tahu ketemu jam tangannya Mr bean !”

Kafe Terakota

Somerset Surabaya. Jl Raya Kupang Indah.

Wednesday, December 10, 2008

Gajah Terbang di Kebun Apel


Ada mie goreng rasa apel, dan koloke saos stoberi di AgroKusuma

Rasanya baru kemarin Somerset ngundang jurnalis untuk gathering. Kalau dulu patner saya adalah si gentong 2, alias bimbim. Sekarang sama si Anton

Saya hampir kepancal bis…lha pas saya sama anton sampai di sana bisnya sudah jalan. Akhirnya, saya hadang bis itu di pintu keluar. Aksi nekat saya tidak sia-sia. Sopirnya keder…dipikir ada unjuk rasa dari AWLS (Aliansi Wong Lemu Suroboyo) hehehe…..

Wah senang rasanya bisa mampir ke Kusuma Agro lagi, tahun lalu saya sama Anton, pernah ke sini liputan. Ada perubahan di sana-sini, fasilitasnya diperbanyak. Sekarang tidak hanya bisa metik apel, tapi juga bisa ikutan panen strawberry, jeruk, jambu dan sayuran organik.

Pas makan siang, bisa memesan makanan serba apel. Mulai mie goreng apel, nasi goreng apel, pie apel. Nah, kebetulan panitia dari Somerset ngajak makan di café stoberi. Ya ..ampun. Semuanya serba stroberi.

Sayangnya kok menurut saya rasanya jadi kurang pas dan aneh.Contohnya aja, sup stroberi. Jadi sup sayuran diberi potongan stroberi. Hmm…aneh betul. Tinggal ngasih es batu, tastenya sudah kayak es buah, deh.

Atau ayam koloke saus Stoberi. Haduh..amburadul rasanya. Lha wong ayamnya sudah enak, kok disiram saos yang rasanya mirip selai. Daripada dimakan sama koloke enakan dioleskan ke roti tawar.

Lalu ada juga beef stroganoff. Jadi potongan daging sapi, disemat dengan paprika merah, kuning, dan hijau. Thanks God, saosnya bukan stroberi. Tapi diujung dagingnya ada satu buah stroberi bunder. Kecut lagi..waduh enak makan daging sama paprika trus kesundul stroberi asem..Wis bubar kabeh rasa enaknya.

Kalau boleh usul, mending besok stroberinya dibuat milkshake, ice cream, puding, pie, apple strudel, atau salad buah. Ah rasanya lebih pas.

Oh ya, saya juga nyobain fasilitas baru di Agro Kusuma. Yaitu Flying Fox. Awalnya nggak yakin juga mau nyoba, mengingat bodi yang mirip buntelan. Tapi Mas-Mas dari Agro menyakinkan saya untuk mencoba.

“Tenang aja Mbak, paling jatuhnya ke bawah !
Yeee..nenek-nenek gondrong juga tauu kalau jatuh ke bawah.

“Tali ini kuat nahan beban sampai 4 ton kok , Mbak !” bujuk si Mas dari Agro.

Saya pun bernafas lega..karena berat badan saya masih sisa dikit…dari batas maksimal. Hehehehe. Khusus buat saya, dipasang tali pengaman dobel. Karabinernya juga empat. Talinya juga yang tebel. Kasihan juga melihat mas-mas yang bingung mencari pinggang saya di mana, untuk menyemat tali. Saya juga denger, mereka rasan-rasan :

“Ini badan kok perut semua yach !” Hikss..Kurang Ajar !
Setelah beres, saya pun bersiap-siap meluncur dari ketinggian 30 ribu kaki ini *halah hiperbola. Pas saya meluncur, ada sekumpulan anak SD yang melihat.

“Bu Guru, ada gajah terbang !” teriaknya nunjuk ke saya.
Hah..!!! Saya pun nggak terima. Saya balas teriakan mereka.

Woiiii … Ini Flying Fox. Bukan Flying Elephant. !!!” Dodollllllll !

Foto : Mie Goreng Apel by Anton

Liburan ke Bali? Yuk, Kunjungi 7 Tempat Wisata Kuliner Terindah Ini

Bicara kuliner, masakan khas Bali menjadi salah satu yang paling digemari. Apalagi jika tempatnya diselimuti keindahan alam, tentu meng...