Sunday, November 30, 2008

Tempat Makan Nggak Ok (2)

Membahas yang nggak enak itu ternyata ada enaknya juga ….

Foto : Anton

Pecel Ketabang Kali

Saya memang sering ke sini. Apalage kalau ada bude sama tante saya datang dari Jakarta. Pasti mintanya ke sini. Pecel ini memiliki brand Pecel Ponorogo. Sayurannya selain tauge, ada bendoyo dan kembang turi. Tambahan lauknya lumayan banyak, ada tempe, dadar jagung, ceplok, ayam goreng, sate usus, sate puyuh…pokoknya seambrek diletakkan di atas baskom.

Yang nurut saya nggak ok,
Itu..itu laler alias lalatnya. Biyuh..biyuh..banyak sekali. Untuk mengusir, si penjual meletakkan kertas lem. Tapi cilakanya, kertas lem ini diletakkan di atas baskom isi gorengan. Hiks…jadi selain sebagai perangkap, kertas lem ini juga berfungsi sebagai penutup. Kebayang rada jijay khan.

“Gayamu, Ndol. Gitu aja jijik !”
“Nggak githu mbak, takutnya nanti kalau ketuker itu lho. Niatnya makan sate usus bisa jadi makan sate laler. Heheheh !”

-------------------------
Gule Kacang
Perempatan Jalan Temba’an

Pengalaman ini sama my sharuhkhan. Pas lage ngoncengan mesra (habis sepeda motornya bunyi kriet..kriet gara-gara keberatan beban bagian belakang heheheh…). Nah, pojokan Pasar Turi ada penjual Gule kacang. Mak Jleg …. Langsung aja disepakati dinner di pinggir jalan dengan menu tersebut.

Penjual gule kacang ini rada mesum. Lha, itu lampunya redup banget.

Irisan lontongnya banyak, menuhin mangkoknya. Lalu disiram kuah gule yang kental karena ada campuran kacang ijonya. Di antara kuah dan kacang, ada irisan daging yang jumlahnya 6 iris. Dagingnya dipotong kecil, ada gajihnya. Trus disiram sambal. Rasanya ..Brrhhhh. Pedes, gurih, ada enegnya juga.

Kejadian tragisnya, saya melihat si penjual mengambil gelas pembeli yang tidak habis. Teh di dalam gelas itu saya kira dibuang, ternyata tidak. Gelas itu malah ditambah dengan teh lagi, lalu ditutup ama tatakan gelas. Walah…jadilah segelas teh yang baru.

Wah saya langsung eneg, soalnya yang muncul di pikiran, jangan-jangan daging yang jumlahnya 6 iris dan khotot-khotot dan alotnya minta ampun itu, juga sisa dari pembeli yang tidak mampu mengigit. Huahhhhh !!!

Saya pandangin sharuhkhan yang makan dengan lahap. Nggak tega mau bilangin. Saya menahan diri, sambil keseretan. Soalnya makan nggak pake minum.

“Hmm, Mas. Tahu nggak, ternyata tehnya itu bekas. Mana gelasnya nggak pake dicuci !”
“Hah..! Masa ?” Sharuhkhan kagett banget.
“Jangan-jangan dagingnya itu juga daging sisa orang !” tuduhku.

“Ah, jangan berlebihan. Yowes, jangan dipikir,” hibur Sharuhkhan

Tiba-tiba my sharuhkhan ngedipin saya. Aha… jadi inget. Saya sama dia punya ritual khusus kalau habis menyantap makanan yang nggak jelas. Kami berdua mengatupkan tangan, sambil cengengesan lalu berguman :
“Min, koman –kamin.
Kuman jadi Vitamin “ Hihhihihihi…

Wednesday, November 05, 2008

Tempat Makan Nggak Ok

Makanannya Enak. Tapi, mengapa pembeli enggan kembali ?

Ini foto saya diblur biar nggak kelihatan lemu ginuk-ginuk..hehehe.


Hmm… susah juga punya prototipe sebagai orang yang doyang makan. Selain banyak undangan makan (Amin..Amin), saya juga sering dicurhatin kalau teman-teman kecewa berat pas makan di suatu tempat. Tidak hanya makanan, tapi juga fasilitas, dan servicenya. Nah, daripada saya simpen sendiri trus jadi lemak, mending curhatan teman-teman saya posting di sini. Kalau temen-temen mo sharing, boleh loh…

Seperti beberapa teman ini :

Yang nggak Ok itu…..Bebek Padin di jalan Kranggan. Aku dua kali datang ke sana, nasinya atos banget. Yang bikin nyesek lagi, Tukang Ngamen. Mosok baru sak emplo’an sudah ada tiga pengamen yang datang !”

Kata Dukut, teman sekantor. Pengusaha konveksi sukses tapi nyamar sebagai desain grafis cuman untuk menyalurkan hobi. Menyamakan dirinya setara dengan suami Dona Agnesia, dan mentasbihkan dirinya sebagai Dukut Sinatriya.

Bebek Kayu Tangan. Nggak Ok. Kita makan di sini rame-rame ada sekitar 10 orang. Eh, orangnya jahat, kita diusir. Pas, giliran bayar aku dinasehati, “Kalau sudah makan,jangan lama-lama di sini, langsung pulang, ya !” dengan nada ketus.


Pengakuan Anton, patner. Fotografer, yang nafsu makannya melonjak jadi 7 kali sehari, gara-gara sering liputan makanan dan nemenin saya makan. Huhuehueheu.

“Ndool….Rujak Cingur Ahmad Jais. Yang Nggak Ok ; Harganya booook…. Seporsi rujak cingur Rp 35 ribu !”

Komentar Tiwi, tetangga Rumah. Yang memilih dikasih duit 35 ribu daripada ditraktir rujak cingur ahmad jais.

Rawon Setan !!! Rasanya biasaaaaa,…Flat gitchu loh (pas ngomong ini, kepalanya goyang ke kiri ke kanan). Harganya mahal lagi Rp 20 ribu. Pengalaman gw, neh. Jaman doeloe, pas gw ama emak gw makan yang diemperan JW Marriott, rasanya enak.Pas kemaren gw ke sono, duh rame amirr boww. Akika harus antri mau duduk. Sumpek, panas, parkir susah (gw bawa mobil neh, Ndol) Eh, pas makan rawon. Biasa aja, cuman dagingnya doank gede.

Heran deh, eike…itu rawon anyep, kok laris sih ? Elo, juga kudu tanggung jawab Ndol, elo khan pernah bilang rawon setan itu enak. Mana….mana buktinya !! Jadi, nurut gw, rawonnya biasaaaaa…harganya itu yang kayak Setan !!!


Tutur Meity alias Memed, teman SMP yang maju mundur mau operasi kelamin. Asli Jombang, besar di Surabaya, nggak pernah menginjak Jakarta tapi kalau ngomong elo-elo, gw-gw.

Foto by : M. Ismuntoro.
Ps: Blogspot akhirnya diblokir ….ah bener-bener nggak OK.

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...