Saturday, May 24, 2008

FJB Angkat Pamor Pecel Semanggi

Inilah makanan khas Surabaya. Namun kini makin sulit dicari keberadaannya.

Penasaran ingin makan semanggi ? Harap bersabar, seba
b makanan ini susah-susah gampang dicari. Di Surabaya, FJB 2008 yang digelar di Stadion Brawijaya pada hari Sabtu, 10 Mei 2008 lalu, mampu menghadirkan makanan khas yang makin langka ini.

Ubo-rampe,
Semanggi Suroboyo terdiri dari dua macam sayuran yaitu, daun semanggi dan kecambah yang direb
us, disajikan bersama campuran petis dan bumbunya yang khas yang merupakan perpaduan dari ketela rambat, kacang tanah dan gula merah, serta dilengkapi kerupuk puli.


Rasanya? Jelas sedap, apalagi penjual semanggi dari RM Kartika, yang berpartisipasi di FJB tetap konsisten menyajikan dengan beralas daun pisang. Untuk menyantap, tak perlu sendok. Biasanya orang menyantapnya dengan kerupuk puli yang dijadikan sendok. Kerupuk puli adalah kerupuk yang terbuat dari tepung singkong.
Di FJB, satu porsi bersama kerupuknya Rp 8 ribu. Hmm… sedikit mahal, mungkin. Tapi, menurut yang jual, bahan utamanya yaitu, daun semanggi semakin sulit dicari, membuat harganya ikut melonjak.

Inilah makanan asli Surabaya yang begitu legendaris. Sayangnya, seolah dimakan zaman, pusaka kuliner ini sudah mulai dilupakan dan sulit ditemukan. Perlu ada komitmen dari banyak pihak untuk terus mempopulerkan wisata kuliner Surabaya, seperti yang dilakukan oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk. melalui merk kecap andalannya yaitu Bango, yang menggelar Festival Jajanan Bango.

Di festival ini, Bango mengajak masyarakat luas ikut melestarikan aneka ragam makanan tradisional Nusantara, warisan nenek moyang kita yang sudah dikenal dan dinikmati secara turun temurun, yang keberadaannya makin sulit dicari. Seperti Pecel Semanggi ini. Membahas soal semanggi, saya jadi ingat lagu ini.

"Semanggi Suroboyo lontong balap Wonokromo dijual serta didukung masuk kampung, keluar kampung mari Bung coba beli ........ harganya murah sekali sepincuk hanya setali sungguh memuaskan hati, sayur smanggi kangkung turi... Bung beli..."

Tuesday, May 20, 2008

“Daeng Muchtar” ; Duta Bango dari Makassar

Coto Makassar agak berbeda, tidak hanya soal rasa tapi juga cara menyantapnya. Rahasia ini terungkap di Festival Jajanan Bango di Surabaya.


Sesuai dengan tema 80 Tahun Bango, Kualitas Sepanjang Masa. FJB kali ini akan menghadirkan 80 makanan tradisional khas dari kota setempat. Dan masih ditambah lagi partisipasi dari 8 Duta Bango dari luar kota. Para penjaja makanan yang akan tampil di FJB tahun ini mewakili kota Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Makassar, Bogor, Solo, dan Medan.

FJB kali ini mengundang secara khusus Coto Makassar Daeng Muchtar yang mewakili makanan khas Makassar untuk ikut berpartisipasi sebagai Duta Bango. Setelah jalan-jalan dan makan, saya mampir ke stand milik Daeng Muchtar, hanya singgah dan mengajak ngobrol beliau. Meski saya tidak membeli (gara-gara habis makan Rawon Setan), tapi Daeng tetap ramah meladeni segala keingin tahuan saya mengenai makanan khas angin mamiri ini. Dari obrolan ini, kalau saya dulu menemukan fakta menarik seputar soto, sekarang saya menemukan cerita unik seputar coto.

Coto Makassar agak berbeda dari soto-soto yang ada di daerah lainnya. Coto Makassar yang sarat dengan daging dan jerohan sapi yaitu babat, usus, jantung, paru, hati, limpa. Daging dan jeroan disusun ke dalam mangkok, kemudian ditaburi dengan bawang goreng, daun bawang dan seledri. Soal rasa, sangat berbeda dengan soto pada umumnya, bumbu rempahnya terasa menyengat.

Lidah orang Jawa, diakui Daeng Muchtar, sulit menerima coto Makasar karena rasaya berbeda jauh dengan soto ayam atau daging. Apalagi jika melihat kuahnya yang berwarna keruh. Padahal kuah coto Makassar sama sekali tidak menggunakan santan. Agar kuah jadi keruh dan kental, penyebabnya adalah penambahan kacang yang digiling halus. Kacang tanah itu terlebih dulu digoreng. "Menggorengnya juga jangan terlalu gosong. Karena nanti akan merubah rasa," lanjutnya.

Fakta menariknya, bukannya sakti, jika dari cara makan burasa atau ketupat, Daeng Muchtar bisa menebak asal muasal pembelinya. “Orang Makassar tidak pernah memotong burasa kemudian memasukkan ke dalam coto, yang biasa melakukan ini biasanya orang Jawa,” ungkapnya. Cara makan orang Makassar cukup unik, ketupatnya itu tidak di masukkan langsung ke mangkuk sup tapi di potong dan di celup ke mangkuk sup. Burasa dipegang di tangan kiri kemudian di sendok sedikit demi sedikit. *ayo dipraktekkan anak-anak..hehehe.

Menikmati coto Makassar biasanya disediakan sambal, jeruk nipis dan kecap manis merek Bango. Soal kecap manis ini kata Muchtar, karena disesuaikan dengan lidah orang Jawa yang memang menyukai rasa manis. “Orang Makassar, sukanya pedes sama kecut, ditambah kecap manis rasanya makin Sempurnaaaa… ,” nada Muchtar, bak vokalis band Andra and The Backbone. :)

Buat Bandung dan Jakarta, siap-siap saja ketemu Daeng Muchtar di FJB. Ssstt…biar orangnya berkulit hitam, sangar, badannya gede. Ternyata orangnya ramah dan suaranya lembut banget. Heheheh..*shock

Friday, May 16, 2008

Sate Buntel ; Empuknya Daging Kambing, Tanpa Ngotot.

Cacahan daging kambing yang super gede, dijamin bikin perut kenyang meski cuma setusuk.

Foto: An.Kusnanto

Di Festival Jajajan Bango yang berlangsung di Stadion Brawijaya Surabaya, 10 Mei lalu. Saya menemukan menu nyentrik ini. Namanya sate buntel. Ya, bentuknya seperti buntelan karung, tapi yang ini adalah cacahan daging kambing yang dibuntel dengan lembaran lemak daging kambing.

Stand Sate Buntel Karmen ini ramai sekali dipadati pengunjung. Saya pun harus ndhusel sana-sini agar bisa ikutan menikmati. Ah, beruntung banget saya bisa deket sama yang bakar. Yah, lumayan adem kena kipasan Mas yang bakar sate. :)


Satenya gedeeeee…..banget. Kata Mas-nya, satu tusuk sate ini kalau ditimbang beratnya satu ons lebih.

Daging kambing yang dicacah ini kemudian dipadukan dengan rempah-rempah, lalu dibalut dengan lemak daging kambing yang tipis. Dibakar di atas arang, sambil beberapa kali dicelup dalam bumbu kecap.

Di tengah-tengah acara manggang ini, si Mas ini mengiris-ngiris cacahan daging ini. Tentu maksudnya biar daging, dan bumbu celupnya makin merasuk. Tapi, sekilas saya melihat teknik khusus untuk mengirisnya. *gaya a la detektif Conan.

Sebab daging cacahan ini tidak hancur, padahal selaput lemak yang m
enutupinya sudah terbakar. Ternyata benar dugaan saya. “Ah, mbak ini kok, yo ngerti aee…!” kata si Mas-nya tersipu malu, dipuji sama wong lemu kayak saya ini.

Kata si Mas, yang mengenakan kaos Kecap Bango ini, cara mengirisnya tidak sembarangnya. Timingnya harus pas, keadaan dagingnya harus dalam kondisi setengah matang. Inilah kunci dagingnya tidak berantakan.

Wah, pesanan saya sudah matang. Baunya sedep banget. Ag
ar lebih maksimal menikmati, saya sengaja nggak nambah nasi. Sate ini saya sikat bersama bumbu kecap dan sedikit sambal. Hmm… enak bangett.

Soal sejarah sate nyentrik ini, Bu Husnul si empunya
sate karmen, berbagi cerita kepada saya. Katanya, aslinya makanan ini berasal dari Jawa Tengah, tepatnya kota Solo. “Pusatnya di jalan Baja,” katanya. Sedangkan di Surabaya, tepatnya di jalan KARang MENjangan sudah ada sejak tahun 1987.

Spesial untuk FJB ini Bu Husnul menyiapkan 500 tusuk sate. Dan harganya sama dengan kalau kita menyantap di restonya yaitu Rp 10 ribu. “Memang yang nge-TOP itu sate buntelnya, tapi tongseng sama gulenya juga enak, lho. Mau nyoba ?” tawar Bu Husnul. Hah !! Aku disuruh nyobain ! Please deh, *Ngacirrrr dulu sebelum menuruti hawa nafsu…


Monday, May 12, 2008

8 Menu Favorit FJB Versi Si Jago Makan

Ada 80 aneka makanan tradisional Nusantara. Dan, saya punya 8 menu favorit di Festival Jajanan Bango kali ini.

Angka 8 boleh jadi angka keramat. Kenapa ? Sebab Bango ultah ke-80. Kiprah Bango sendiri sejak tahun 1928. Festival Jajanan Bango sendiri, tepat di tahun 2008 untuk keempat kalinya. Khusus menyambut acara ini, saya nggak mengurangi makan seperti FJB tahun lalu. Karena saya merencanakan tidak menyantap semua makanan.Akhirnya, setelah melalui proses icip-icip dan nambah..hehehe.saya punya 8 menu pilihan.

Pasti penasaran, bagaimana metode pengumpulan data hingga muncul 8 menu favorit versi saya. Agar lebih fair, saya datang dua kali di acara ini. Yaitu siang dan malam hari. Yah, maklum meski daya tampung saya ibarat truk tangki Pertamina yang gandeng dua itu. Tapi, badan saya bisa mbledoss jika disuruh menyantap 80 makanan dalam satu waktu. *kelenger.

Caranya, saya kompakan sama fotografer, teman-teman TPC, teman pers dan teman blogger lain. Untuk membeli makanan tapi syaratnya tidak boleh sama. Jadi sejak awal sudah disepakati. Misalnya Fahmi beli Sate Karmen, Anton beli Tahu Teck-Teck, Dita beli Semanggi, Gandhi beli Sop Buntut dan seterusnya. Di meja yang disepakati kita berkumpul. Lalu saling mencicipi. Wah, ini sekaligus tips buat ngirit.

Ini dia 8 Menu Favorit Versi Saya :

1. Tengkleng Bu Edi – Wakil Surakarta
Wah, akhirnya saya nggak perlu jauh-jauh ke Surakarta untuk menikmati Tengkleng. Ternyata rasanya memang enak tenan. Menggunakan daging kambing, tapi dagingnya mirip sapi. Pinter neh yang mengolah…*angkat jempol. Seporsi, saya menikmati satu tusuk jeroan dan tetelan tulang kambing.
Gara-gara saya makan ini, banyak teman-teman yang ikutan beli. Kata teman saya, “Gayamu kalau nyesep-nyesep tulang bikin ngiler!” Hehehe……

2. Bebek Papin

Bagi tim pemburu bebek. Pasti sudah tahu, kalau saya susah berpaling dari Bebek Sambal Pencitnya Cak Yudi-Perak. Tapi untuk FJB kali ini, sengaja saya nggak mampir ke Cak Yudi. Soalnya dua hari sebelumnya saya sudah andok di warungnya yang ada di belakang rumah saya. Nah, teman saya si Puput. Di siang hari yang terik memilih menu ini. Saya ikutan cicip-cicip. Dagingnya empuk, gurih sekali.Bumbunya terasa sampai ke tulang. Gara-gara kelewat menghayati saya ditegur sama Puput. “Ih, mbak Manda. Nyicip, kok bebeknya dihabisin !” Uuppst…Sorry.. Morry… Dorry… yo, Put.

3. Semanggi Surabaya
Makanan khas Suroboyo ini susah-susah gampang dicari. Lebih banyak dijajakan keliling di pagi sampai siang hari. Semanggi Suroboyo terdiri dari dua macam sayuran yaitu daun semanggi dan kecambah yang direbus. Bumbunya yang khas yang merupakan perpaduan dari ketela rambat, kacang tanah dan gula merah, disantap dengan kerupuk puli. Rasanya? Jelas sedap, apalagi penyajiannya beralas daun pisang. Sayangnya pedas, jadi saya nggak berani menghabiskan.


4. Rawon Setan Bu Sup
Timing-nya pas. Saya menikmati di malam hari.Irisan dagingnya besar-besar, bebas lemak. Empuk sekali. Kuahnya hitam pekat, tidak pelit ngasih kluwek. Disajikan dengan nasi dan kuah hangat. Seporsi Rp 10 ribu. Harga segitu sepadan dengan potongan dagingnya yang besar-besar. Di stand ini, Bu Sup juga menyajikan Sop Buntut. Harganya dua kali lipat Rp 20 ribu. Menu ini pilihan teman saya, si Gandhi menurut saya rasanya kurang sip. Potongan dagingnya memang besar tapi tulangnya juga besar. Jadi saya hanya merekomendasi Rawon Setannya saja.

4. Tutug Oncom – Wakil Bogor
Pas suapan pertama….jujur aja rasanya kok aneh ya, menurut saya. Tapi pas suapan kedua dan berikutnya lancar-lancar aja. alias doyan. Kekuatan menu ini terletak pada taburan oncom yang dilumat dengan nasi. Rasanya kayak tempe mendol diremet sama nasi. Rasa kencurnya terasa banget. Tutug oncom ini disajikan dengan ayam goreng laos. Raos Pisan Oiiiy…


5. Lontong Kupang Pak Slamet
Duh… maaf ya sama yang alergi kupang kalau tidak bisa menikmati menu pesisir ini. Kupang lontong dan Sate Kerang Pak Slamet bikin ngeces bergalon-galon. Soalnya, menu ini hanya ada di Pantai Kenjeran dan Sidoarjo. Dilengkapi dengan sate kerang dan es kelapa, duh serasa saya sedang di Kenjeran sambil menikmati pemandangan muda-mudi yang asik berpacaran. Yeeeeee….

7. Nasi Bug Trunojoyo – Wakil Malang
Bukan karena Arema, kalau menempatkan Nasi Bug Trunojoyo sebagai pilihan. Enaknya di sini pilihan lauknya banyak ada jeroan sapi lengkap. Ada juga ayam goreng, juga beserta jeroannya. Sebagai pemilik lidah Jowo, saya paling sreg sama lodeh rebungnya. Apalagi dikasih taburan serundeng dan dendeng kelapa. Dituwil dengan sambalnya yang manteb pedesnya membuat saya gedhek-gedhek keenakan. *Tambah lagi…Bug.

8. Kambing Oven Madinah
Yang menarik sebenarnya si Penjual. Lelaki Timur Tengah menggunakan topi koboi, yang selalu menebar senyum. Saya pun tak luput disapanya. “Mbak, ayo nyoba. Kalau dagingnya keras boleh uang kembali !” ujarnya. Hahahaha….menarik sekali cara dia memikat pembeli. Saya pun tergoda apalagi pas mencium kambing oven yang sedang dibakar. Dagingnya ternyata memang empuk. Saya pun nggak menyesal digoda sama yang jual..heheheh.

Nah, buat teman-teman yang penasaran. FJB akan hadir di Jakarta dan Bandung. Jadi tunggu saja ya...

Tuesday, May 06, 2008

Banjir Kejutan di 80 Tahun Kecap Bango

Eighty years old! Ya, itulah usia Kecap Bango di tahun ini. Ada nasi kuning, urap-urap, terancam dan bali telur. Ayo..diserbu !!!

Selalu ada kejutan di HUT Bango ke-80. Buat arek-arek Suroboyo, siap kebagian yang spesial di HUT BANGO ke-80.
Jangan lupa untuk datang ke ;

Festival Jajanan Bango – Surabaya.
Hari : Sabtu 10 Mei 2008

Jam : 11.00 –22.00
Lokasi : Stadion Brawijaya Surabaya.
Penasaran siapa saja yang ikut tampil ? Cat
at yaa….

Buat pemuja bebek..tenang, Bebek Cak Yudi –Perak dan bebek Papin tampil lagi di sini. Ada juga Nasi udang Bu Rudy dan sambalnya yang bikin merem –melek. Penggemar bulatan daging yang kenyal alias bakso, duh jangan sampai kelewatan menikmati Bakso Pak Kus, Bakso Bakar
Cak To.
Hmm..yemm..yemm dijamin ganyeng.


Hayooo siapa yang belum merasakan Tahu Teck-Teck Pak Ali ? Duh, jangan sampai kelewat deh. Wenak, bumbu petisnya jannn…. Sedep.

Yang suka bakar-bakar, ada Ayam Bakar dan Bebek Bakar Bu Tjokro. Suka yang licin, panjang ?
Upssttt… tuh ada Belut Crispy Zakhle.
Ingin makan salad lokal, ada tuh Gado-Gado Arjuno, yang porsinya generous. Suka menu Timur Tengah ? Woii…… ada Kikil Kambing, Nasi Kebuli, Kambing Oven, Gulai Kacang Ijo & Roti Maryam Depot Madinah.

Yang suka Kupang Lontong, nggak perlu ke Kenjeran, soalnya Kupang Lontong dan Sate Kerang Suko Pak Slamet diboyong ke sini. Rawon Setan Bu Sup, Semangi, Sate Kelopo plus jajan pasar semuanya adaaaaaaa. Aduh… saya kehabisan nafas untuk menyebut makanan enak yang bakal tampil di sini. Wis pokoke..jangan sampai kelewat acara spectakuler ini.


Catat pula, akan ada writing contest, video contest, photo contest, dan blogger contest dengan total hadiah yang menakjubkan! Apabila Anda berminat mengikuti lomba-lomba tersebut, silakan bergabung di milis Komunitas Bango Mania.


Saya dan teman-teman TPC, kompakan untuk hadir di sana.
Buat teman-teman yang ingin gabung dan bertemu saya (ah… malu aku), Seperti si Jude, yang bertanya ; How I Can Recognize U ?
Coba dulu hubungi nomor starone saya di atas. Kalau tidak bisa dihubungi, sebenernya saya gampang sekali di kenali. Cewek dengan badan super montok, pipi gembil, dan tidak pernah berhenti makan. Jika mengenali ciri-ciri di atas, jangan ragu untuk menyapa saya ! “Mendollllllllll…!!!”