Tuesday, March 25, 2008

Soto Madura “Saesto…Nyamanna”

Yang punya masalah kolesterol,
mending minggir dulu menyantap si k
uah kuning ini.

Foto : nirmanaku



Satu porsi soto Madura normal, terdiri dari irisan daging, hati, babat, usus dan irisan separuh telur ayam rebus diberi taburan bawang goreng dan seledri.

Kalau spesial, ad
a tambahan otak sapi, dan satu butir telur ayam. Aromanya terasa gurih sekali, harum rempah-rempah dijamin membangkitkan selera.

“Bo… aboooo..Saesto…Nyamanna” kalau orang Madura bilang. Setelah puter –puter ke penjual soto Madura di Surabaya. Saya menemukan fakta yang menarik ;

1. Di pulau Madura tidak akan ditemui soto Madura seperti di Surabaya. Mengapa ?, “Wah, kalau jualan soto seperti ini di Madura ya nggak ada yang beli. Kemahalan !” kata Samsuri pemilik soto Bengawan.

2. Soto Madura menggunakan nama jalan sebagai penandanya. Di jalan Sulung, ada satu warung soto Madura yang sudah terkenal sejak lama. Konon sudah berjualan sejak jaman sebelum kemerdekaan. Demikian halnya, dengan soto Tapak Siring, lokasinya di jalan Tapak Siring. Di sini ada dua warung soto yang menggunakan nama Tapak Siring. Soto Madura lainnya, yaitu soto Bengawan. Persis di pojokan jalan Bengawan, soto ini akhirnya membuka tiga cabang di beberapa lokasi, tapi tetap menggunakan nama Bengawan.

3. Soto Madura Gubeng Pojok bukan di jalan Gubeng.
Dari nama, seolah-olah letaknya di pojok jalan Gubeng. Namun jika ditelusuri dijamin Anda tidak akan menemukan penjual soto, di pojok jalan Gubeng. Soto milik Haji Ali, sudah lama pindah ke jalan Kusuma Bangsa.

4. Kenali soto Tapak Siring yang Asli. Ciri khasnya dari kemasan nasi yang dibuntel menggunakan daun pisang.

5. Pedagang soto Madura berasal dari satu desa yang sama. Hampir semuanya berasal dari Bangkalan, dan dari satu desa yang sama yaitu Desa Genteng.


Seru menemukan hal menarik itu, apalagi wawancarai ditemani soto Madura yang enak banget. Sayangnya, si penjual mengaku pembelinya kian merosot. “Langganan yang lemu kayak sampeyan ini, takut kena kolesterol !” katanya sambil njawil pinggang saya. Sebel banget dengernya. Kok tega, ngomongin kolesterol pas saya lagi makan soto. Jadi ilang nafsu mau tambah. Weks..!!!


Friday, March 21, 2008

Berburu Makanan Ndesooo


Saya lagi mencari menu ndeso. Anda mau membantu ?


Sudilah berbagi info dengan saya, mengenai tempat makan yang tradisional dengan menu-menu yang eksotik. Yah, apa saja. Mulai makanan, minuman, kudapan, klethikan yang memiliki citarasa unik. Sampai oleh -oleh khas dari daerah tersebut.

Rute yang bakal saya lewati, yaitu
Lamongan
-Bojonegoro-Lasem- Blora.

Jadi para blogger dan pembaca yang baik. Jika ada informasi seputar kuliner di kota tersebut,
Tuolooonggg saya dikasih tahu.

Maturnuwun

Monday, March 17, 2008

Serabi Sak Gedhang Kluthuk


Saya menikmati serabi dan terang bulan dari racikan tangan sak gedhang kluhtuk

Diundang cooking class di Hotel Shangri-La. Saya senang banget, apalagi Bu Sisca Soewitomo akan demo masak langsung. Kenapa sosok ibu ini membuat saya penasaran ? Soalnya, saudara saya paling senang ngeledekin jari tangan saya. “Duh, jarimu itu sak gedhang kluthuk, Ndooll !” Nah suatu hari, pas nonton acara masak memasak, pas difokuskan pada cara memotong sayuran.
Jari tangan Bu Sis di close up kamera. Dan saudara saya spontan bilang. “Wihh…jari tangannya sak gedhang kluthuk !” jeritnya.
Halah..halah… saya lalu menyamakan jari tangan saya sama Bu Sis di televisi.

“Jadi siapa neh, yang jarinya mirip gedhang kluhtuk ?” tanya saya. Saudara saya, malah menunjuk ke jari Bu Sis di televisi. Dan semenjak itulah setiap melihat Bu Sis di televisi, ingatan saya selalu ke gedhang kluthuk..eh maksutnya, jarinya yang sak gedhang kluthuk.


Pas dengar kalau beliau hadir, saya sudah niat, harus bisa melihat jari tangannya. Kalau bisa membandingkan dengan jari tangan saya. Bahkan kalau bisa, saya ukur juga jarinya, lalu membandingkan dengan gedhang klutuk beneran.

Sepanjang acara masak, saya bener-bener tidak konsentrasi. Bolak-balik maju
ke depan, melihat dari dekat bentuk jarinya.
Gara-gara sering ke depan, saya sempat dilempar gombal sama peserta cooking class “Oalaa mbak minggir po’o. Badanmu itu, nutupi sak panggung !” kata seorang ibu yang dandanannya seperti dakocan.

Gara-gara diprotes terus akhirnya saya disuruh pindah dibangku paling belakangAhhh nasibbb !!
Bu Sis, ternyata orang yang ramah. Ketika membuat terang bulan,
Bu Sis menawari saya. “Terang bulannya, mau pakai taburan keju, kenari, coklat atau madu ?” tawar Bu Sis
“Lho, jangan diam. Ayoo…ditaburi apa ?” tanyanya lagi
“Serabinya ditaburi duit kertas seratus ribuan aja deh. Bisa nggak, Bu Sis ?”
“Hahhhh ...!!” * Klengerr… ditimpuk pake teflon

NB : Akhirnya, saya sempat juga foto bersama dan mengclose- up jari tangannya. Dan hasilnya….Hihihihiii.

Foto : Dokumen Hyatt & pribadi

Tuesday, March 11, 2008

Ikan Bakar Kalap

Setiap pulang ke Malang bawaannya pengen makan melulu


Minggu lalu, saya pulang ke Malang. Karena saudara-saudara pada pulang ke Malang. Sebagai cucu perempuan tertua yang tergembul, termontok, terjemblem dan terkomes* kehadiran saya sangat ditunggu-tunggu.

Setelah say hello sama embah, sambil meyodorkan sekaleng sprite
dan regal biscuit kesukaannya.Nggak sampai 10 menit, saya pamit keluar buat menikmati Malang di malam hari, apalagi teman saya, si Tori reporter di Radio Citra Malang, niat ngajak saya nakam * ke ikan bakar MINA SARI di daerah ITP, Institut Teknologi Palapa. Yang jadi tempat kumpulnya wartawan Malang.

Tempatnya sederhana, hanya menggunakan pekarangan rumah. Awalnya kok saya nggak yakin. “Katanya terkenal enak, kok sepi banget ?” bisik saya
“Yo mesti, ini baru buka , kok !”
Iseng, saya buka cool box-nya yang berisi aneka ikan dengan berbagai ukuran dari yang kecil sampai yang gedenya sak godam-godam. Saya pilih baronang yang sudah dibeteti.

Ikan tersebut langsung dibakar di atas arang. Tanpa bumbu blass…Terus terang saya agak surprise, soalnya selama saya tahu, ikan bakar taste Jawa Timur, selalu dioles kecap, metega atau siraman jeruk nipis.Tapi.. di sini, ikan dibakar hanya begitu saja. TANPA BUMBU !

Ah, iya… saya kok jadi ingat jaman saya mengunjungi tante saya di Manado, hampir setiap hari saya makan ikan segar, sekedar di goreng seperti ikan NIKE, atau diolah menjadi KUAH ASAM, BUMBU RICA-RICA, atau di kukus. Khusus ikan bakar, kata tante saya, citarasa nikmatnya ikan bakar, dari kualitas ikannya yang fresh dan menggunakan batok kelapa sebagai arang.

Dan ikan bakar di MINA SARI-Malang, sama persis yang pernah saya rasakan pas di makan di kawasan Boulevard di Manado. Olahannya khas daerah Sulawesi, Nggak neko-neko bumbunya.

Giliran menikmati ikan bakar ini..uhmm..rasanya enak sekali..padahal nggak dibumbui apa-apa, Dan bagian yang gosong-gosong menurut saya, itu yang paling NIKMAT.
Sayangnya sambalnya rada tidak cocok. Karena menggunakan sambal tomat biasa. Menurut saya paling PAS pakai SAMBAL RICA-RICA khas Manado, yaitu bawang merah diiris halus, jahe, cabe rawit, tomat, dan perasaan jeruk LEMONG …aiihhh pasti mantap.

Dan yang bikin kaget lagi, tau nggak ! Saya yang makan berdua sama Tori, menghabiskan Dua baronang, satu ikan dorang, empat porsi nasi, dua teh jumbo, 4 krupuk, satu piring besar lalapan. Hanya membayar Rp 45 ribu. Pas..pamit, iseng-iseng si Tori bilang ke Pak Bambang- ownernya, kalau saya adalah jurnalis kuliner. Dan ujung-ujungnya…saya dikasih korting 10 persen. Hahahaha…maturnuwun Pak Bambang! *bakal sering ke sini deh kalau ngalup *…

*Basa Walikan Ngalam :

Komes = Semok
Nakam = Makan
Ngalup = Pulang

Ikan Bakar MINA SARI
Lokasi dekat gerbang pintu masuk Institut Sains dan Teknologi Palapa Malang.
Jl Kecubung No. 2, Tlogomas, -Malang
Telp : (0341) 551979


Thursday, March 06, 2008

Flinstone Steak

Pas makan steak ini, saya kok merasa seperti Wilma Flinstone

Special report di bulan Febuari, benar-benar membuat saya klenger.
Si Bos menugaskan saya untuk merekomendasi resto steak pilihan di Surabaya. Setidaknya, dua minggu full saya diganjar makan steak. Mulai resto, café, warung kaki lima sampai hotel berbintang.
Ada salah satu tempat yang menyajikan steak & grill dengan nuansa open air maupun indoor, yaitu The Edge Steak On Hot Stone & Fusion Dining. Resto yang berada di dalam Graha Residen ini memberikan alternatif baru bagi penggemar kuliner. Anda bisa merasakan suasana yang nyaman, apalagi bangunan kaca menghadap ke kolam renang.

Resto ini menawarkan Steak on The HoT Stone. Menu ini spesial karena panggangan daging terbuat dari batu granit panas yang disajikan langsung. Ada banyak pilihan yang dapat dinikmati, seperti Tenderloin, Sirloin, dan Lamb Chop. Di sini juga bisa mencoba Australian T- Bone Steak, Australia Sirloin dan Australia Rib Eye. Semuanya dihidangkan di atas hot stone. Untuk saus-nya ada beberapa rasa citarasa saus pilihan, yaitu Mushroom, Black Pepper, Teriyaki, BBQ, Hollandaise dan Red Wine.
Liputan kali ini, saya tidak datang berdua sama si Anton, karena saya membawa dua orang penggembira yaitu si Dida (marketing) dan Sugeng, pria kesepian yang profesinya sebagai programer di sini.

Nah, serunya pas giliran food taster. Biar, Choky L Tobing Food & Beverage Manager, Graha Residen mengajak untuk segera mencicipi, tapi ketiga orang ini tidak berkutik. Padahal sudah clegak-cleguk kepengen.

Maklumlah, babonnya belum makan. Mana berani mereka memulai. Lewat kode ancaman mata, saya suruh mereka nunggu saya makan duluan. Satu per satu jatah mereka, saya cicipi dulu. Masing-masing seiris daging yang telah disiram brown sauce. Dagingnya lembut dan empuk, dan terasa gurih karena daging steak dibakar secara sempurna.

Uhmm..yemm..yemm. Setelah saya manthuk-manthuk, ketiga orang ini baru berani menyentuh jatahnya masing-masing. Huauhahahahah…….
Dalam hati saya bathin, hebat bener saya ini, cuman pake kerlingan maut, tiga orang sudah keder, gimana kalau saya mendelik …...Hueueueueueueu !!!

Foto I : Anton

The Edge
Steak On Hot Stone & Fusion Dining
Jl Darmo Harapan 1
Telp. 7329945-6

Saturday, March 01, 2008

Kutukan Baby Lobster

Gusti Allah punya cara unik untuk mengingatkan hambanya yang doyan makan ini.

Dari semua makanan di dunia, selain yang jelas –jelas haram, ada makanan enak lain yang nggak bisa saya makan, yaitu Udang, Kepiting dan Lobster. *(diingat ya…jadi kalau niat traktir saya jangan makanan yang ini).Hiihiii....

Seperti biasa, Surabaya Plaza Hotel, punya promo khusus untuk bulan Maret, yaitu Baby Lobster.

Biar dibilang baby, tapi ukurannya lumayan gede sekitar 200 gram per ekornya. Si Anton, fotografer dengan semangat 45 mengajak saya untuk datang ke promo ini. Saya sih demi tugas akhirnya berangkat juga, meski saya sebetulnya nggak napsong sama menu yang satu ini.
Tampak Mbak Cicik, Chef Hotel ini asik bercengkerama dengan baby lobster. Duh, saya kepengen banget, saya memegang dua baby lobster. Dan meminta si Anton untuk foto bareng sama baby lobster, “Wuahh…ada baby lobster berfoto sama emaknya , rek !” celetuk seorang teman yang kurang ajar.

Baby Lobster ini diolah menjadi aneka hidangan dengan Style Asian Cusisine. Jadi ada Baby Lobster bumbu rujak, rendang, kare, gulai dan rica-rica.Usai melihat atraksi memasak, kini giliran para jurnalis untuk mencicipi. Wah..semuanya sudah antri sampai ngecesss…. Cuma saya seorang yang cuek. Giliran makan si Anton, benar-benar mengiming-imingi di depan hidung saya. “Wuenakk bener Mbak. Kalau ada yang lebih enak dari ini. AKU KAWIN SAMA MONYET !!”
Walah, Anton sampai segitu-nya. Akhirnya bobol juga pertahanan ini untuk ngincipi. “Yo- wislah, paling banter cuman gatel-gatel,” saya berupaya untuk meredam rasa takut.
Sebagai permulaan, saya ambil satu iris kecil daging lobster yang dibumbu kare. Hmm..dagingnya terasa segar tak ada bau amis sedikit pun. Rahasianya, sebelum diolah sudah di marinate dengan perasan air jeruk nipis, lada dan garam.

“Wah..kok belum ada reaksi apa –apa ya ?” batin saya.

Kemudian saya ambil satu iris lagi. Kali ini saya mencicipi lobster rica-rica. Wuah…pidisssss banget.
Tak berapa lama, lidah saya mulai terasa gatal, menyusul mulut dan pipi. Aduh…mulai kumatt nih !”
Tenggorokan ini serik nggak karu-karuan. Duh, rasa gatalnya amat sangat. Kalau gatal di pipi bisa digaruk. Lha, kalau di tenggorokan gimana garuknya ?
Saya hampir menangis menahan rasa gatel yang amat sangat ini. Sementara si Anton, ketawa ngakak melihat ekspresi wajah saya yang kayak lobster rebus.
“Aduh..aku rasanya kok bengkak semua yaa!” jerit saya histeris.
“Halah, wong kamu ancene wis lemu, pake alasan bengkak gara-gara alergi lobster !” protes Anton.

Untungnya, Mas Sholeh, asisten Public Relations Surabaya Plaza Hotel, sangat perhatian sama saya.
“Aduh, mau saya ambilin apa ya ?” tawarnya
“Apa aja deh mas, pokoknya ngilangin rasa gatel ini di tenggorokan. Hmm..French Fries juga boleh !”
Tak lama Mas Sholeh ini menyodorkan semangkuk besar French Fries dengan saos tomat dan sambal.
“Adalagi, mbak ? tanya –nya lagi
“Uhmm..Orange Juice boleh deh mas, pas buat penawar racunnya!” jawab saya antusias
Melihat saya yang kalap makan kentang goreng, Mas Sholeh ini. Menawarkan kudapan lain. “Saya ambilkan tahu goreng sama pisang goreng ya ?”

Belum selesai saya meng-iyakan. Seorang teman berkomentar.
“ Aduh Mas Sholeh ini kok baik sekali ya. Perhatian banget sama si Mendol !” celetuk teman saya.
“Tidak ada maksud apa-apa kok. Masalahnya, Saya khawatir kalau Mbak Mendol ini pingsan di sini! Khan nggak ada yang kuat ngangkat !!!” kata Mas Sholeh ..sambil mengambil jarak takut saya timpuk pake kerupuk Udang.

Yah, undangan lunch kali ini memang bukan keberuntungan saya. Teman-teman lain pada makan lahap sambil memuji-muji kelezatan si baby lobster. Saya malah kena kutuk gatel-gatel di pipi dan tenggorokan gara-gara alergi yang saya derita. Saya membatin, kenapa ya, Yang Ngecat Lombok (baca: Gusti Allah), memberi saya alergi kepada dua makanan yang mahal dan kata banyak orang enak ini. Kalau boleh memilih mending memilih alergi makan juwet atau mengkudu, dua buah yang nggak saya sukai karena rasanya sepet.

Baby Lobster Promotions
Surabaya Plaza Hotel
Jl Plaza Boulevard
Telp: 031-5340444