Saturday, February 23, 2008

Tempe Penyet

Duit Cupet, tapi ingin makan dengan porsi kuli ?
Tempe penyet adalah jawabannya
.

Di Surabaya yang jualan tempe penyet ini seabrek, paling terkenal di daerah UNAIR dan RS Dr. Soetomo.Yang paling laris adalah Tempe Penyet HO-HA.
Saya penasaran berat, kenapa sih warung di pinggir jalan ini ramai sekali, sampai
ndlosor-ndlosor gitu yang beli. Rahasianya ternyata adalah sambal-nya yang sangat pedas. “Bibir ini rasanya sampai ndower saking pedesnya,” kompor seorang teman menjawab penasaran saya.

Saya memang nggak suka pedes. Tapi, saya bener-bener tertantang untuk mencoba sambelnya. Saya pesen, penyetan tempe, terong dan ikan P ( aduh, apa ya bahasa Indonesianya). Digoreng garing, terus dipenyet di atas sambalnya..nyoottttt. Nasinya masih hangat. Lalapan seger, ditambah semangkuk kobokan buat cuci muka..eh tangan. Saya coba sedulit.. sambelnya, wah Mantap Tenan !!!.
Akhirnya, secuil tempe goreng yang sudah tercampur dengan sambal saya santap..hmm..enak.Paduan tempe dan sambal, terbalut dalam sekepal nasi hangat. Tapi, tiba-tiba tenggorok saya seperti kebakar …

Ternyata bener pedesnya kayak Setannnnnnnn….Oiiii!!. “Ho..ha..ho…ha..ho ..ha,” mulut saya membentuk huruf O, A seraya menyebul-nyebul kayak ikan koi.


Saya segera ambil kobokan, hampir saja saya kalap mau minum. Untunglah, urat syaraf masih normal tidak mengambil tindakan menjijay-kan itu. Segera es teh ukuran jumbo yang menyelamatkan.
Hohaaaa…saya gabres-gabres blingsatan gara-gara kepedesan.
Muka saya matang kayak kesemek. (Ada ijo, kuning blentang-blentong campur aduk sama bedak yang luntur). Hu..hu..untuk sementara saya tergugu… untuk mengambil dua keputusan sulit.
“Apakah saya akan terus makan, dengan risiko kepedasan ? ataukah saya menyudahi episode fear factor kali ini ?” Sambil menenangkan diri, saya pesen satu gelas teh ukuran jumbo.

Dan ternyata saudara-saudara…rasa pedesnya ini yang bikin ketagihan. Soalnya, begitu saya berhenti sejenak. Lah kok mulut saya berdecap-decap pengen dipedesin lagi !


Ibarat adegan yang bolak-balik di remote, Saya pun makan lagi, kepedesan, gabres-gabres ditawar dengan es teh. Lalu lanjut lagi, ganti ambil secuil terong goreng, didulit sambal..gabres-gabres ditawar dengan es teh. Gitu terus… sampai akhirnya hanya menyisakan lalapan kemangi.

Karena cukup TOP, nama warung ini menulari penjual tempe penyet lainnya, dengan menamai, Warung Tempe Penyet HA-HA, HA-HO, HOAH, dan AHHA. Yah, mungkin nama itu mencerminkan efek samping setelah menyantapnya.
Oh ya, saya punya usulan nama, jika Anda kelak ingin berbisnis di ladang ini. Saya punya usulan nama menarik yaitu warung tempe penyet Oooh Yes…..Oooh No.
Hehehe..Seru toh ?

Foto : Dok. Warung Cangkruk

Monday, February 18, 2008

Coba-Coba Sambal Cengeh

Foto : Galeri-Imaji

Meski nggak doyan pedas...
Tapi, saya selalu mencari sambal. Lho ?!

Makan nasi berlauk ikan, memang nikmat. Apalagi jika ditambah dengan sambal yang pedas, membuat Anda tidak berhenti makan karena keenakan. Bagi penggemar sambal, Probolinggo punya sambal khas yaitu Sambal Cengeh.
Sambal ini, merupakan paduan dari mangga muda dan sambal orek.
Untuk mangga, dipilih jenis arumanis, atau manalagi yang kemudian diiris sebesar korek api. Mangganya sengaja dipilih yang masih muda dan asam.

Mangga yang telah diiris lalu dicampurkan bersama sambal orek. “Sambal orek itu gampang sekali membuatnya. Hanya cabe merah, terasi dan garam, lalu dicampur dengan irisan mangga muda,” ungkap Sri, chef Bromo View Hotel yang tak pelit berbagi resep.

Wuihh… gampang kayaknya ya ? *lari nyari cobek sama uleg-uleg.


Bromo View Hotel & Restaurant

Jl. Raya Bromo Km. 05 Triwung Lor - Probolinggo
Phone (0335) 434000, 427222, Fax (0335) 436000

Email : bromoview@telkom.net www.bromoview.com

Monday, February 11, 2008

Iga Bakar Mak Prulll


Badan sudah masuk kategori obesitas.
Tapi tawaran makan Iga bakar, di Mango Teracce tidak akan saya lepas.

Ohh..Iga..Iga. Beberapa bulan terakhir, Surabaya kok lagi booming Iga Bakar. Dalam seminggu ini, tiga kali saya diundang untuk mencicipi menu ini. Pertama, iga bakar di jalan Diponegoro depan toko roti bumper bread (sayang sekarang sudah pindah), Kedua, iga bakar di Nonyas, resto peranakan di daerah Jemursari. Dan yang terakhir di Mango Teracce, yang kebetulan lagi promo Iga Bakar Penyet. Bersama Mas ini, saya dihadapkan menu yang sangat memancing selera.

Sebelum saya makan, pesan mas ini hanya satu, “kamu makan, trus kamu komentari ya!” haduuuhhh…..diberi tugas seperti ini siapa bisa menolak. Hanya makan..terus beri komentar. “tambah juga boleh kok !” kata Mamuk. Haduuuhhh..sukaaaaaa !!! Awalnya, saya yakin pasti tambah. Eiitt..bukannya kemaruk. Tapi berdasar pengalaman sebelumnya, kalau porsi Iga bakar itu nggak begitu besar.

Pas pesanan datang, saya cukup kaget juga. Ternyata disajikan tradisional, bersama nasi, tempe kremes, telor ceplok , semangkuk sayur asam. Dan Iga bakar yang lumayan besar. Sementara, nasi putih saya cuekin dulu. Iga bakar yang harum dan masih hangat itu tentu lebih menggoda. Nggak perlu table meneer, tangan ini pun ikut ambil bagian. Hmm.. rasanya gurih. Berdaging tebal dan empuk. Yem..yemmm. Nikmat bener.
Pas makan ini, saya jadi ingat mbah sangkil dan yayank-nya si kliwon, yang katanya paling suka steak dan kwetiau di Mango Terrace. :)

Kalau saya suka banget bagian iga, karena pas menyantap ada sensasi tersendiri. Jadi kalau kita makan steak, tinggal daging tok unyel. Lah, kalau bagian Iga, ada tulangnya. Nah, di sini lah seni menyantap. Di mana ada urusan grogot mengrogoti daging yang menempel di tulang iganya. Rongga di sela-sela tulang ini memberi ruang untuk bumbu meresap ke dalam daging. Bagian Iga, juga menghasilkan aroma sedap yang khas.


Yah, sajian Iga khas Mango Terrace ini, bumbunya meresap ke dalam. Dagingnya empuk sekali. Mak prulll begitu digigit. Bagi yang suka sambal, iga bakar ini juga nikmat dicocol dengan sambal tradisional.

Saya bener-bener kenyang, bahkan baru sekali dalam sejarah, perut saya sudah nggak muat untuk menyantap telor ceplok. Full sudah. Untuk seporsi komplit Iga Bakar, harganya tidak sampai Rp. 30 ribu. Hmm kalau nggak salah Rp 27.500.
Untuk beberapa saat, saya liyer-liyer karena sudah nggak kuat berdiri.
*Saatnya donor lemak, ada yang minat ?


Mango Terrace Resto Jl. Ngagel Jaya 14

Wednesday, February 06, 2008

Makan Enak di Kahyangan

Tempat dinner dengan atmosfir kuno yang nyaman, asri, dan romantis. Duh Mesranya….


Berhubung didesak teman saya, yang memohon agar diberi rekomendasi tempat romantis untuk candle light dinner, sepertinya Kahyangan Art Resto adalah tempat yang tepat. Saya masih ingat, waktu pertama kali datang diundang mas ini, saya sudah suka sekali tempat ini, suasana etnik sudah terasa sejak kita menginjak kaki di pintu masuknya. Resto ini ditata dengan interior perpaduan Jawa dan sentuhan Oriental.
Benda-benda seni dan handycraft berbau etnik menyelimuti seluruh ruangan. Beberapa bagian dindingnya bahkan dimanfaatkan untuk memajang koleksi lukisan. Tak terkecuali meja dan kursi makan yang terbuat dari kayu jati polos tanpa plitur. Bukan hanya pusaka arsiktektural Jawa Oriental yang megah dan indah, namun ditambah keunikan citarasa masakan ethnic Jawa yang khas dengan ramuan rempah-rempah asli Indonesia seperti yang ada di daftar menu.

Semua menu yang ada disajikan dengan nama-nama menarik. Misalnya, Sayur Begawan Giri, alias sayur asem Jakarta yang suegerrrr tenan. Ada Sukma Nirwana, yaitu ikan bakar yang disajikan dengan sambal bawang merah. Ada juga Cumi-Cumi Kembang Rembulan. Spesial untuk saya, si Mamuk memesan Kepiting Ganda Arum, yaitu kepiting soka yang di goreng kering, dengan taburan bawang putih dan paprika. Uenakkkkkk tenan !.


Menu lainnya, yang bikin saya penasaran yaitu, Ngidam Melek Merem. (ikan yang disajikan dengan tahu kuah dan sayur asin). Lali Jiwo, (ikan goreng kering dengan salad mangga dan sambal terasi).
Aduh.. saya sudah pesan tiga jenis maincourse sebenernya, tapi kok ya masih ngelirak-lirik menu lain seperti, Gurami Tri Buwana Sari, Kepiting Ande-Ande Lumut, Sayur Seger Waras, dan Kikil Kamandhanu. Dan untungnya Mamuk, janji ke depan bakal ngundang saya lagi, untuk mencicipi menu ini. Maturnuwunnnnn jeee...

Nah, karena teman saya tanya menu yang romantis, saya merekomendasi satu menu ini. Yaitu Nasi Rama Shinta. Satu porsi nasi putih, yang disajikan di atas cobek dengan empal suwir goreng, telur asin, sambal terong, tempe goreng dan sayur asem. Ehemmm… kalau niat ngirit, bisa untuk sepiring berdua tuh. Hehehe…

Membahas masalah romantis-romantisan gini. Saya kok tiba-tiba membayangkan my sha rukhan, mengajak saya makan di sini. Makan di gazebo dikelilingi suara gemericik air. Diterangi cahaya lilin yang remang-remang sambil ndulang-dulangan tahu telor. Dapat dipastikan, ikan koi di kolam yang asik bergenit-genit dengan kecipak air, bakal ngiri berat melihat keromatisan a la Sha rukhan dan si kajool ini. Ihiiiiii…..*tutup mata

foto : Mamuk

Dream of Kahyangan Art Resto
Puri Widya Kencana LL 05, Citraland Surabaya- East Java.
Telp : 031- 741 1999, 742 1999. Fax. : 031 – 766 6777