Thursday, January 31, 2008

TeSate –Plaza Senayan

Petualangan kuliner di Ibukota, membawa saya ke sebuah resto dengan menu tradisional yang dikemas modern style. Wow keren !


Diburu waktu untuk segera pulang ke Surabaya, saya memanfaatkan waktu sisa setengah hari untuk mampir ke salah satu resto di Plasa Senayan. Resto unik bernama TeSate. Resto ini menyimpan banyak keunikan. Karena letaknya tersembunyi. Saya sempat terkecoh melihat tampilan luar resto ini. Kesannya di luar hanya tempat buat ngopi. Hanya tersedia kursi dan meja kecil. Tapi, ketika saya dan Rey, mengutarakan maksud hendak makan siang. Si pramusaji mengajak kami memasuki lorong. Tak sekedar lorong rupanya, tata pencahayaan dan permainan video grafis yang terpantul di lantai, cukup membuat kami terkagum-kagum. Maklum, kepakkan sayap burung, seolah-olah memang nyata bergerak di lantai. Ah, rasanya sulit sekali untuk dideskripsikan.

Melihat buku menunya, cukup menarik karena menggunakan kipas sate sebagai alasnya. Hampir semua menu yang ditawarkan adalah makanan tradisional. Ada Tahu Telor, Urap Nangka, Pecel Tempe, Soto Ambengan, Bistik Jawa, Mie Godog Jawa, Sop Buntut dan masih banyak lagi. Yang jelas tidak ada menu western di sini. Membaca list menu, terus terang semua tempting, tapi sayang, tidak mugkin dapat mencoba semuanya. Saya memilih Sate, maklum saya pikir ini pasti jadi andalan. Namanya saja resto TeSate.

Ada empat pilihan sate: Sate Ponorogo, Sate Blora, Sate Kambing, Sate Lilit. Pilihan saya jatuh pada Sate Ponorogo, dengan pilihan sate daging, kulit dan puritan. Pilihan saya tak salah, sate ini disajikan di atas anglo. Ada bara api di dalamnya, membuat rasanya tetap terjaga. Bumbu kacangnya kental sekali. Tak lupa irisan bawang merah dan cabe iris. Potongan dagingnya besar-besar. Bisa lima kali lipat dari sate Ponorogo yang asli. Tak heran jika harga satu tusuk sate ini Rp 9 ribu. (Duh, saya benar-benar nggak ngerti kalau ukurannya super jumbo. Padahal saya terlanjur pesan sepuluh tusuk )

Presentasi hidangan ini bukan saja cantik, juga disajikan dalam porsi yang cukup besar. Nasi Goreng Kampung, yang dipilih Rey, ternyata sangat ‘mewah” meski ada gelar kampung di belakangnya.
Menggunakan baki kayu, sebagai alasnya. Seporsi Nasi Goreng Kampung, di atasnya ada irisan daging ayam dan sepotong telor ceplok. Sebagai pelengkap, ada tiga jenis kerupuk di atas piring. Ada kerupuk udang, puli dan mlinjo. Ini masih ditambah lagi dua tusuk sate ayam, dengan potongan daging berukuran besar.
Huahh…mewah sekali bukan ? Melihatnya cukup membuat terangsang, Meski menu tersebut pesanan Rey, tapi ingin rasanya mulut ini ikut merasakannya. Tanpa basa-basi lagi, suapan pertama pun mendarat.
Paduan bumbu ulek dan rempah menghasilkan rasa gurih di lidah. Hmmm..enak.

Tak hanya makanan, minuman juga ditata dalam kemasan modern. Kunyit Asam misalnya, bisa menjadi pilihan menarik. Saya memilih penyajian dingin. Segelas kunyit asam, disajikan di atas keramik segi empat. Ada selembar daun pandan. Uniknya, di atas sendok kecil ada dua permen thing-thing.
Uhmm… Nuansa tradisional yang dimunculkan membangkitkan kenangan pada penjual jamu gendong yang lewat di depan rumah. Biasanya, setelah minum ramuan galian singset, untuk menghilangkan rasa pahit, mbok jamu menyodorkan permen asam. Hehehe…


Tempat ini boleh dikatakan sempurna. Resto ini mengekspos setiap hidangan dengan kreativitas dan keberanian dalam menonjolkan rasa. Nuansa tradisional juga terbangun melalui ornamen khas Jawa. Ada lampu lampion yang bertuliskan huruf Jawa ditambah alunan gending Jawa yang terdengar lamat-lamat. Terus terang saya jadi ingat Embah, di Malang.

Wah, petualangan kuliner saya di Jakarta kali ini, bukan petualangan yang biasa. Dan, tak lupa terimakasih buat Rey, atas foto indah dan waktunya. Ah, akhirnya kita bisa berkolaborasi.


TeSate Restaurant
Plaza Senayan 4th floor unit CP 411
Jl. Asia Afrika, Jakarta 10270
t: (021) 572-5521
f: (021) 572-5356
www.tesate.com

Upddate :
Oh ya, soal kerak telor. Akhirnya saya dapat Kerak Telor. Yessssss..!!! Dibawain si Iko, masih hangat. Di antar langsung ke Gambir. Duh, terharu. Ucapan terima kasih juga, buat blogger Jakarta yang begitu ramah dan sabar menghadapi saya :). Buat Rey, yang mengantar, mengatur jadwal dan mendokumentasi semua kegiatan saya..cieeeee. Buat Azhar, atas kesabaran menjemput saya pagi-pagi di gambir. Buat Sandy, yang membuat saya selalu terheran-heran, antara kagum dan heran. Buat Cebong, atas tumpangan vespa-nya. Untung bannya nggak bledosss...hahaha. Buat Cak Met, teman seperjuangan dulu di Surabaya. Sukses untuk bisnis travel hajinya. Landy, Si Ustad Ganteng, yang menemani saya hampir tiga jam di Gambir, desak-desakkan gara-gara gerbong kereta anjlok. (heran..kenapa juga pas gerbong saya). Dan KECAP BANGO dan PT UNILEVER atas hadiahnya. Terima kasih semuanya......

Friday, January 25, 2008

Kerak Telor : Where Are U

Foto : Fahmi

Prihatin juga mengenai makanan tradisional bangsa sendiri yang makin sulit dicari.

Makanan ini yang membuat saya penasaran setengah hidup ! Iya, Kerak Telor. Pas, masih ABG. Saya ingat begitu dahsyatnya, ibu saya mendeskripskan tentang kerak telor sewaktu baru pulang dari Jakarta. Kata ibu saya, “Ini makanan langka. Rasanya sebenernya biasa, tapi karena nyarinya susah, jadi luar biasa !” Awalnya, saya nggak begitu tertarik, maklum … “kerak, githu loh”

Yang saya tahu malah Karak. Yaitu sisa nasi yang dikeringkan.
Embah saya, paling rajin njemur sisa nasi di atas genteng. Biasanya karak ini dicemplungin ke dalam minyak jelantah yang ireng buthek itu. Katanya sih bisa membantu menjernihkan minyak.
*nggak heran, cucunya bantet gini kebanyakan mengkonsumsi jelantah.


Kembali ke kerak telor, beberapa tahun yang lalu sewaktu masih mahasiswa, saya di undang ke Bandung. Ada pelatihan jurnalistik, saya jadi ingat si kerak telor ini. Saya sempatin ke Jakarta menemui Bude saya yang di Tanjung Priok. Saya disenang-senangkan di sana.

Di ajak makan di mall, makan pangsit gajah mada, karedok dan ketoprak (yang saya pikir, kalau habis makan bakal ketawa karena lucu, ngelethek ternyata mirip gado-gado)

“Ndol, wis wareg toh? Hayo pengen njajan apa lage?”
Saya pun bilang pengen kerak telor. Saya ingat bener perkataannya waktu itu.
“Kerak telor itu cuman ada di PRJ aja !” oalaaaaa…., jauh sudah saya dari Malang ke Bandung terus ke Jakarta…tapi tetep nggak ketemu makanan misterius ini.


Sampai akhirnya saya kaget sekali, pas di Surabaya tepatnya di jalan Mayjen Sungkono ada pedagang kaki lima memajang spanduk “Kerak Telor” wah surprise sekali. Apalagi lokasinya deket dengan kantor. Saya sudah ngimpi besok kalau sempat bakal beli, si Kerak Telor ini. Tapi gara-gara banyak liputan, saya sampai menunda hingga seminggu.
Nah, pas saya minat. Lah kok warungnya sudah kuhkut alias tutup. Kata penjual bakpao sebelahnya. Nggak Laku !.

Nah, mumpung ada undangan dari UNILEVER Jakarta, saya berniat memburu makanan ini. Saya pun bertanya ke anak betawi asli ini, tapi dia sendiri kebingungan mo beli di mana. Padahal saya sudah wanti-wanti kalau pas ke Jakarta, harus ada Kerak Telor. Lah si Azhar ini melimpahkan tanggung jawab ke Rey, untuk membantu mewujudkan keinginan saya.

Duh, semoga kali ini saya harus bisa menemukan si Kerak Telor walaupun harus mencarinya hingga ke Kerak Bumi. Doakan saya…


NB : Fotonya nggak nyambung, mohon dimaklumi.
Soalnya, ke Jakarta khan diundang karena FESTIVAL JAJANAN BANGO. :)

Monday, January 21, 2008

TERIMA KASIH SEMUA





Pengumuman pemenang kompetisi blogger/foto/ penulisan
FJB 2007

Writing Competition:

Pemenang Pertama:
Bernadetta Diah Aryani dari Reader's Digest dengan
judul tulisan "Negeri Kita Amat Kaya Penganan Khas"
(Jakarta)

Pemenang Kedua:
Manda Roosalina dari East Java Traveler dengan judul
tulisan "Menjajal Kekayaan Kuliner Nusantara"
(Surabaya)

Pemenang Ketiga:
Ricky Reynald Yulman dari Harian Tribun Jabar dengan
judul tulisan "Surga Jajanan di Gasibu" (Bandung)

Photo Competition:
Pemenang Pertama:
M. Nur Akhdiat dari Jakarta

Pemenang Kedua:
Adi Wiratmo dari Surabaya

Pemenang Ketiga:
Dikhy Sasra dari Jakarta

Bloggers Competition

Pemenang Pertama:
Manda Roosalina dari Surabaya
http://jagomakan. blogspot. com/

Pemenang Kedua:
Shirley Wibisono dari Jakarta
http://shirleyshare .blogspot. com/2007/ 07/festival- jajanan-bango- 2007.html

Pemenang Ketiga:
Abdur Rohman dari Surabaya
http://arrohman. blogspot. com/2007/ 05/bakso- vs-bakwan- bakar-malang- apa-arti. html

Terima Kasih Atas Semua Dukungan.
Allhamdullilah. Saya ke Jakarta :) Tgl 27 - 28 Januari 2008

Salam,
Manda Roosalina "La Mendol"

Thursday, January 17, 2008

SATE KUDA : MAKE U HOT

Bos saya yang mirip bintang iklan obat kumis Firdaus, tiba-tiba menugaskan saya untuk liputan a la ekstrim kuliner. Sate Kuda !

“Sekali-kali kita tampilin menu yang sensasional, donk !” alasan si Bos. sambil mlintir kumis. Wah, tumben, batin saya. Maklum saja, dulu saya sudah mengusulkan Empal Gajah dan Brengkes Cecak ditolak mentah-mentah. Seketika, otak saya yang super lemot, ibarat intel pentium satu ini berusaha keras mikir, tempat penjual sate kuda di Surabaya. Saya pun meminta bantuan dengan melempar pandangan iba. Tapi berondong ini dan gentong pura-pura sibuk nyabutin jenggot. Sementara seorang teman, mengalihkan diri dengan sok sibuk corat-coret kertas yang membentuk ikat kepala Naruto. Puewwwww…..

“Kok nggak tahu seh, katanya tukang makan !” protes Bos.
“Yeeee….kalau daging kuda, mikir dua kali kalau mo makan!" kelit saya.
“ Kok dua kali ?”
“Iya pertama mikir enak atau enggak !”
“Yang kedua ?”
“Kalau enak, saya boleh nambah, Bos ?”
“Dasar…*Dwarapalaaaaaaaaaa!!!!” bentak si Bos.
*Dwarapala adalah patung wanita raksasa penjaga pintu candi yang membawa senjata gada.
(Idihhh..najis benernya, saya disamain sama si Dwarapala, tapi daripada disamain sama Hanoman… yo wislah ora opo-opo !)

Memanggul tugas mulia inilah, akhirnya saya dan Bimbim datang ke warung Pak Cecep yang berada di jalan Raya Bukit Darmo Golf.
“Kok nggak ada kuda yang berkeliaran, Bim ?”
(bayangan saya, penjual sate kuda ini punya halaman luas dimana banyak kuda berkeliaran. Nanti pembeli bisa menunjuk sendiri kuda mana yang mau dijagal. Yah mirip seperti resto seafood yang memajang ikan gurami. Jadi begitu ada yang pesan langsung dibanting)
“Lah, itu ada kuda,” kata Bimbim sambil menunjuk mobil Mitsubishi Kuda.
“Wah, bisa rompal gigiku, mangan iku !”

Daging kudanya ternyata didatangkan dari Kediri, Harga daging kuda ini cukup mahal, dibanding daging sapi. Sekitar Rp 50-60 ribu per kilonya.
Nah, ada satu rahasia dari penjual, jika memilih daging kuda.

“Kudanya tidak boleh keseleo!’ ujar Pak Cecep.
“Kuda yang keseleo, dagingnya berwarna merah tua, kalau dibuat sate pasti keras,” jelasnya.

Satu porsi sate kuda, terdiri sepuluh tusuk. Bumbunya berupa kacang halus, kecap, bawang goreng, cabe rawit, serta bawang merah.
Ya sudah, akhirnya saya cicipin. Sumpah…saya sebenarnya enggak tega buat makan. Tapi, ini adalah risiko pekerjaan. Saya coba satu potong. Daging kuda yang dijadikan sate ini ternyata tidak keras, tidak berbau amis. Dagingnya mirip dengan daging kerbau.

Mengenai khasiat daging kuda, menurut Pak Cecep baik untuk obat alternatif. Misalnya, untuk obat penyakit asma, kolesterol tinggi, atau TBC. “Daging kuda bagi pria dipercaya mampu mendongkrak libido biar tambah hot di atas ranjang !” katanya blak-blakan.
Untuk soal satu ini, belum bisa dibuktikan.Soalnya si Bimbim meski sudah menghabiskan sembilan tusuk sate, semangkuk besar gule dan dua porsi nasi statusnya masih joko tong-tong dan belum punya sparing partner di ranjang. Oalaa…mesakno, Bim ! Wis mangan sate jaran tapi nggak onok musuh’e …!
Nah, buat kaum lelaki yang tidak mampu beli viagra, saatnya melirik sate kuda. Sudah kenyang, harganya pun murah hanya Rp 10 ribu. Ntar kasih tahu saya, ya bagaimana khasiatnya. :)


Friday, January 11, 2008

Bandeng Kemayu

Hanya ingin mengabarkan, jika semangat penjual bandeng asap di Sidoarjo, masih kuat mengepul. Lebih malah…
Pemenang I. Bandeng Kawak Seberat 5 Kg
Foto : Anton

Kerupuk, kepiting, petis dan olahan bandeng seperti bandeng asap, presto, otak-otak. Semua masih bisa ditemukan di Sidoarjo. Mampirlah ke pusat oleh-oleh di jalan Mojopahit, bandeng dan aneka kerupuk masih bisa ditemui di sini. Saya dan Anton mampir ke sebuah toko oleh-oleh. Etalase kacanya yang memajang bandeng asap beragam ukuran sangat menarik perhatian.

“Eh, kalau di sini selain bandeng asap, yang terkenal otak-otak bandengnya. Silahkan lho, kalau mau icip -icip,” ujarnya si Om pemilik toko ini ramah. Nah, saya langsung membuka bungkusan daun pisang yang ada di meja. Tapi tiba-tiba, si Om ini berteriak. “Loh…bukan yang itu, Mbak !” teriaknya. Wah..saya langsung mak menjumbul..kaget. “Yang ini saja!” kata si penjual, menyodorkan satu bungkusan kecil sak kuprit. Isinya, daging otak-otak yang besarnya sak upil. Ealahh…, saya pun harus puas mencicipi otak-otak bandeng yang bagaikan selilit itu.

Sialnya, otak-otak bandeng ini enak sekali.
Cita rasanya berbeda dengan otak-otak dari daerah lainnya. Daging bandeng yang sudah dihaluskan dan diberi bumbu dicampur dengan santan kental. Padahal di tempat lain mungkin menambahkan ampas kelapa di dalamnya. Ikan bandeng yang sudah diisi ini dibungkus dengan daun pisang baru kemudian dikukus. Daun pisang yang dijadikan kemasan ini menambah harum aroma otak-otak. Saya pun jadi kepengen bilang nambah, tapi malu. Akhirnya, saya membeli otak-otak seharga Rp 15 ribu itu. Yah, dari pada ngecesss terus.

Pas liputan, sebenernya ada rasa jengah. Om, penjual yang ramah ini. Kok sering mencuri pandang ke arah saya dan Anton. Saya sih awalnya menduga mungkin ia berusaha bersikap ramah. Tapi, kok lama –lama rada ganjen. Gayanya memang rada kemayu, dan suaranya juga tergolong lembut untuk ukuran pria apalagi sudah bapak-bapak."Masa dia tertarik sama saya ? Masa si Om, terobsesi dengan perempuan berbadan subur ?"
Atas sikapnya, saya semakin waspada segera menjaga jarak ketika dia mendekati kami berdua. Saya akhirnya merapat ke etalase pura-pura asik melihat, tapi dengan posisi waspada. Si Om, ini ternyata mendekati si Anton.

Dan terjadilah adegan mencengangkan itu. “Fotonya yang bagus ya, Mas ! ujarnya.
Bukan…bukan perkataannya itu yang mengejutkan. Tapi tangan si Om, yang mendarat gemas di bokong Anton. Ha..!!!! Spontan, Anton berteriak. Mukanya merah padam. Lalu menyingkir. Saya yang mengamati kejadian itu hanya bisa mesam-mesem menahan tawa. “Asem..wong iku kok nyekel (megang) bokongku, Mbak !” sungut Anton. Setelah kejadian itu, saya jadi tenang-tenang saja menghadapi lirikan nakal si Om (yang memang tidak ditujukan kepada saya). Sebaliknya, ganti Anton yang pasang sikap waspada.
Selesai liputan, ganti saya yang menggoda si Om Aduh Om penjual bandeng, kamyuu.. kok kemayu sih. Teman eike khan jadi takut ! Hehehehee…

Pusat oleh-oleh khas Sidoarjo
Jalan Mojopahit - Sidoarjo





Friday, January 04, 2008

Soto Joglo Punya Mas Inu


Ada undangan dinner, dari seorang blogge
r.
Menunya Soto Joglo dan Minuman a la Starbuck.
Ah, siapa yang bisa menolak.


Blog saya ini ternyata dilirik oleh seorang pengusaha sukses ini, awalnya saya diundang via shoutbox. Setelah saling berbalas pantun, undangan yang awalnya untuk saya seorang, akhirnya cair untuk dua orang. Yaitu untuk saya sama fotografer. Eh,... satu hari sebelum hari H, Mas Avy bilang untuk mengajak Jie dan Fahmi.

Menu spesialnya yaitu SOTO JOGLO. Soto ini, kata Mas Avy adalah Soto Khas Solo- Jogya. Sewaktu menunggu, aroma soto ini sudah menggoda. Maklum, beberapa kali penutup panci dibuka, aroma rempah menyebar ke segala penjuru. Saya pun blingsatan mengendus-ngendus, nggak nahan untuk segera makan. Soal tampilan, soto ini sedikit berbeda dengan soto ayam Lamongan."Soto Joglo kuahnya lebih bening, rasanya juga ringan di lidah" Menggunakan daging ayam kampung, yang disuwir-suwir. Satu lagi keistimewaannya, yaitu ada irisan kentang goreng. Sajian ini juga dilengkapi separuh irisan telur ayam. Rasa gurihnya makin terasa, dengan taburan tauge pendek dan bawang goreng. Hmm… lezat sekali.

Gara-gara dikelilingi para berondong, membuat nafsu saya meningkat. Dalam hitungan detik, semangkuk Soto Joglo ini sudah ludes. Padahal Anton, Mas Avy dan Fahmi baru mulai makan. Sedangkan Jie, lebih nafsu motoin saya timbang makan soto Joglo *Jhitak, disertai ancaman.

Coffe Toffe
Usai makan soto, Mas Avy ngajak kita ke Coffe Toffe yang nggak jauh dari Soto Joglo. Konsep Coffe Toffe adalah gerai kopi khusus untuk take away. Jadi yang dijual ya aneka racikan kopi dan teh dalam model cup. Harga minuman ala starbuck di sini murah banget. Untuk Strawberry Chocolate Milk, hanya Rp 6500, Iced Vanila Latte Rp 7 ribu. Frape Blend Rhum Raisin Rp 7 ribu. Untuk Hot Coffe, ada pilihan Latte, Cappucino harganya Rp 6 ribu. Itu sih, harga terakhir pas kami diundang. Kata Mas Avy, ke depan harganya bakal dinaikkan dikit. ( sorry mas Avy, tak bocorin dulu, *nyengirr ).

Acara dilanjut ngobrol sambil menikmati kopi racikan khas coffe toffe. Pilihan saya jatuh pada Strawberry Chocolate Milk. Tampilannya cantik sekali. Ada cream dan cokelat cair sebagai toppingnya. Rasa Stroberi dan susu diblend sempurna. Rasanya mak nyess begitu menyentuh lidah.


Sementara Jie dan Fahmi asik mengambil foto minuman. Saya ditemani Mas Avy, menikmati minuman sueger ini. Satu cup, ternyata bikin kenyang. Saya sampai “klenger kelempoken” untunglah kursi plastik yang saya duduki masih kuat menahan bobot tubuh ini. Maklum, kursinya suka mletat-mletot sendiri. hehe…

Usai ngobrol. Perut kenyang, hati senang karena tamba
h wawasan dan punya kenalan baru. Hebatnya lagi, Mas Avy, temannya banyak pengusaha makanan. Naga-naganya bakal sering diundang, neh. * Mas, soal icip-icip saya siap diundang kapan saja. Heheheh….

Soto Joglo Punya Mas Inu
(tulisan di gerobak sama teropnya begitu)
Alfamart Jl Dharmahusada (sebelah IDI)
Coffe Toffe
Jl Dharmahusada 181