Monday, December 29, 2008

Ayam Obesitas

Ini bukan varian baru dari unggas. Bukan juga, ayam yang overweight karena kebanyakan makan junk food.


Foto : Anton

Sebutan ini muncul, gara-gara teman saya si Bembenk yang menjuluki Kalkun Panggang yang segede gajah. “Ndol, kamu saingan neh sama kalkun, sama-sama Obesitas !” kata Bembenk tanpa rasa bersalah. Ck..ck… benar-benar to the point kalau ngatain diriku. *Nelangsa.

Kalkun panggang memang menu istimewa merayakan Natal. Saya beruntung bisa diundang Surabaya Plaza Hotel dan Somerset menikmati Christmas Set Menu, yang terdiri salad, sup, dessert dan roasted Turkey.

Untuk mengolahnya kata Rudi Witjaksono, Executive Chef dari Hotel Somerset. Tidak terlalu ribet. Jadi kalkun yang akan dipanggang diberi bumbu lada, garam dan mustard. Nah,bagian belakang kalkun lalu disumpel sama potongan wortel, prei, bombay, thyme, rosemary. Dipanggang dalam suhu 180derajat, dan dimasak selama 3 jam.

“Kalau nggak punya kalkun, bikin sama daging ayam saja,” sarannya. Berat rata-rata satu ekor kalkun 6 kilogram. 1 kilogramnya harganya Rp 60 ribu. Weleh jadi satu ekor mentahnya saja sudah Rp 360 ribu.

Wujud kalkun memang tidak pernah menyertakan kepala dan ceker. Saya jadi penasaran. Hmm..dikemanain, chef ?

Ternyata leher kalkun yang jenjang itu dibuat kaldu untuk sup. Pas giliran menyantap, daging kalkun ini diiris tipis lalu disiram saos cranberry. Disajikan dengan kentang tumbuk. Ya ampun… dagingnya empuk banget.

Seratnya lembut. Kalah dah daging ayam. Cocok sama saos Cranberrynya yang manis ada asemnnya dikit. Sukaaaa bangets. Menu ini tentu barang “Wah” . Soalnya saya belum pernah makan ayam obesitas. Pas menikmati ayam yang gemuk nan montok, kok jadi ingat Mr Bean yach. …Iya ingat adegan kepala Mr Bean dimakan sama kalkun..heheheh. Iseng-iseng saya ngintip bagian belakang kalkun.

“Ngapain, kamu ngintip bokongnya kalkun, Ndol ?”

“Hehehe….Penasaran, siapa tahu ketemu jam tangannya Mr bean !”

Kafe Terakota

Somerset Surabaya. Jl Raya Kupang Indah.

Wednesday, December 10, 2008

Gajah Terbang di Kebun Apel


Ada mie goreng rasa apel, dan koloke saos stoberi di AgroKusuma

Rasanya baru kemarin Somerset ngundang jurnalis untuk gathering. Kalau dulu patner saya adalah si gentong 2, alias bimbim. Sekarang sama si Anton

Saya hampir kepancal bis…lha pas saya sama anton sampai di sana bisnya sudah jalan. Akhirnya, saya hadang bis itu di pintu keluar. Aksi nekat saya tidak sia-sia. Sopirnya keder…dipikir ada unjuk rasa dari AWLS (Aliansi Wong Lemu Suroboyo) hehehe…..

Wah senang rasanya bisa mampir ke Kusuma Agro lagi, tahun lalu saya sama Anton, pernah ke sini liputan. Ada perubahan di sana-sini, fasilitasnya diperbanyak. Sekarang tidak hanya bisa metik apel, tapi juga bisa ikutan panen strawberry, jeruk, jambu dan sayuran organik.

Pas makan siang, bisa memesan makanan serba apel. Mulai mie goreng apel, nasi goreng apel, pie apel. Nah, kebetulan panitia dari Somerset ngajak makan di café stoberi. Ya ..ampun. Semuanya serba stroberi.

Sayangnya kok menurut saya rasanya jadi kurang pas dan aneh.Contohnya aja, sup stroberi. Jadi sup sayuran diberi potongan stroberi. Hmm…aneh betul. Tinggal ngasih es batu, tastenya sudah kayak es buah, deh.

Atau ayam koloke saus Stoberi. Haduh..amburadul rasanya. Lha wong ayamnya sudah enak, kok disiram saos yang rasanya mirip selai. Daripada dimakan sama koloke enakan dioleskan ke roti tawar.

Lalu ada juga beef stroganoff. Jadi potongan daging sapi, disemat dengan paprika merah, kuning, dan hijau. Thanks God, saosnya bukan stroberi. Tapi diujung dagingnya ada satu buah stroberi bunder. Kecut lagi..waduh enak makan daging sama paprika trus kesundul stroberi asem..Wis bubar kabeh rasa enaknya.

Kalau boleh usul, mending besok stroberinya dibuat milkshake, ice cream, puding, pie, apple strudel, atau salad buah. Ah rasanya lebih pas.

Oh ya, saya juga nyobain fasilitas baru di Agro Kusuma. Yaitu Flying Fox. Awalnya nggak yakin juga mau nyoba, mengingat bodi yang mirip buntelan. Tapi Mas-Mas dari Agro menyakinkan saya untuk mencoba.

“Tenang aja Mbak, paling jatuhnya ke bawah !
Yeee..nenek-nenek gondrong juga tauu kalau jatuh ke bawah.

“Tali ini kuat nahan beban sampai 4 ton kok , Mbak !” bujuk si Mas dari Agro.

Saya pun bernafas lega..karena berat badan saya masih sisa dikit…dari batas maksimal. Hehehehe. Khusus buat saya, dipasang tali pengaman dobel. Karabinernya juga empat. Talinya juga yang tebel. Kasihan juga melihat mas-mas yang bingung mencari pinggang saya di mana, untuk menyemat tali. Saya juga denger, mereka rasan-rasan :

“Ini badan kok perut semua yach !” Hikss..Kurang Ajar !
Setelah beres, saya pun bersiap-siap meluncur dari ketinggian 30 ribu kaki ini *halah hiperbola. Pas saya meluncur, ada sekumpulan anak SD yang melihat.

“Bu Guru, ada gajah terbang !” teriaknya nunjuk ke saya.
Hah..!!! Saya pun nggak terima. Saya balas teriakan mereka.

Woiiii … Ini Flying Fox. Bukan Flying Elephant. !!!” Dodollllllll !

Foto : Mie Goreng Apel by Anton

Sunday, November 30, 2008

Tempat Makan Nggak Ok (2)

Membahas yang nggak enak itu ternyata ada enaknya juga ….

Foto : Anton

Pecel Ketabang Kali

Saya memang sering ke sini. Apalage kalau ada bude sama tante saya datang dari Jakarta. Pasti mintanya ke sini. Pecel ini memiliki brand Pecel Ponorogo. Sayurannya selain tauge, ada bendoyo dan kembang turi. Tambahan lauknya lumayan banyak, ada tempe, dadar jagung, ceplok, ayam goreng, sate usus, sate puyuh…pokoknya seambrek diletakkan di atas baskom.

Yang nurut saya nggak ok,
Itu..itu laler alias lalatnya. Biyuh..biyuh..banyak sekali. Untuk mengusir, si penjual meletakkan kertas lem. Tapi cilakanya, kertas lem ini diletakkan di atas baskom isi gorengan. Hiks…jadi selain sebagai perangkap, kertas lem ini juga berfungsi sebagai penutup. Kebayang rada jijay khan.

“Gayamu, Ndol. Gitu aja jijik !”
“Nggak githu mbak, takutnya nanti kalau ketuker itu lho. Niatnya makan sate usus bisa jadi makan sate laler. Heheheh !”

-------------------------
Gule Kacang
Perempatan Jalan Temba’an

Pengalaman ini sama my sharuhkhan. Pas lage ngoncengan mesra (habis sepeda motornya bunyi kriet..kriet gara-gara keberatan beban bagian belakang heheheh…). Nah, pojokan Pasar Turi ada penjual Gule kacang. Mak Jleg …. Langsung aja disepakati dinner di pinggir jalan dengan menu tersebut.

Penjual gule kacang ini rada mesum. Lha, itu lampunya redup banget.

Irisan lontongnya banyak, menuhin mangkoknya. Lalu disiram kuah gule yang kental karena ada campuran kacang ijonya. Di antara kuah dan kacang, ada irisan daging yang jumlahnya 6 iris. Dagingnya dipotong kecil, ada gajihnya. Trus disiram sambal. Rasanya ..Brrhhhh. Pedes, gurih, ada enegnya juga.

Kejadian tragisnya, saya melihat si penjual mengambil gelas pembeli yang tidak habis. Teh di dalam gelas itu saya kira dibuang, ternyata tidak. Gelas itu malah ditambah dengan teh lagi, lalu ditutup ama tatakan gelas. Walah…jadilah segelas teh yang baru.

Wah saya langsung eneg, soalnya yang muncul di pikiran, jangan-jangan daging yang jumlahnya 6 iris dan khotot-khotot dan alotnya minta ampun itu, juga sisa dari pembeli yang tidak mampu mengigit. Huahhhhh !!!

Saya pandangin sharuhkhan yang makan dengan lahap. Nggak tega mau bilangin. Saya menahan diri, sambil keseretan. Soalnya makan nggak pake minum.

“Hmm, Mas. Tahu nggak, ternyata tehnya itu bekas. Mana gelasnya nggak pake dicuci !”
“Hah..! Masa ?” Sharuhkhan kagett banget.
“Jangan-jangan dagingnya itu juga daging sisa orang !” tuduhku.

“Ah, jangan berlebihan. Yowes, jangan dipikir,” hibur Sharuhkhan

Tiba-tiba my sharuhkhan ngedipin saya. Aha… jadi inget. Saya sama dia punya ritual khusus kalau habis menyantap makanan yang nggak jelas. Kami berdua mengatupkan tangan, sambil cengengesan lalu berguman :
“Min, koman –kamin.
Kuman jadi Vitamin “ Hihhihihihi…

Wednesday, November 05, 2008

Tempat Makan Nggak Ok

Makanannya Enak. Tapi, mengapa pembeli enggan kembali ?

Ini foto saya diblur biar nggak kelihatan lemu ginuk-ginuk..hehehe.


Hmm… susah juga punya prototipe sebagai orang yang doyang makan. Selain banyak undangan makan (Amin..Amin), saya juga sering dicurhatin kalau teman-teman kecewa berat pas makan di suatu tempat. Tidak hanya makanan, tapi juga fasilitas, dan servicenya. Nah, daripada saya simpen sendiri trus jadi lemak, mending curhatan teman-teman saya posting di sini. Kalau temen-temen mo sharing, boleh loh…

Seperti beberapa teman ini :

Yang nggak Ok itu…..Bebek Padin di jalan Kranggan. Aku dua kali datang ke sana, nasinya atos banget. Yang bikin nyesek lagi, Tukang Ngamen. Mosok baru sak emplo’an sudah ada tiga pengamen yang datang !”

Kata Dukut, teman sekantor. Pengusaha konveksi sukses tapi nyamar sebagai desain grafis cuman untuk menyalurkan hobi. Menyamakan dirinya setara dengan suami Dona Agnesia, dan mentasbihkan dirinya sebagai Dukut Sinatriya.

Bebek Kayu Tangan. Nggak Ok. Kita makan di sini rame-rame ada sekitar 10 orang. Eh, orangnya jahat, kita diusir. Pas, giliran bayar aku dinasehati, “Kalau sudah makan,jangan lama-lama di sini, langsung pulang, ya !” dengan nada ketus.


Pengakuan Anton, patner. Fotografer, yang nafsu makannya melonjak jadi 7 kali sehari, gara-gara sering liputan makanan dan nemenin saya makan. Huhuehueheu.

“Ndool….Rujak Cingur Ahmad Jais. Yang Nggak Ok ; Harganya booook…. Seporsi rujak cingur Rp 35 ribu !”

Komentar Tiwi, tetangga Rumah. Yang memilih dikasih duit 35 ribu daripada ditraktir rujak cingur ahmad jais.

Rawon Setan !!! Rasanya biasaaaaa,…Flat gitchu loh (pas ngomong ini, kepalanya goyang ke kiri ke kanan). Harganya mahal lagi Rp 20 ribu. Pengalaman gw, neh. Jaman doeloe, pas gw ama emak gw makan yang diemperan JW Marriott, rasanya enak.Pas kemaren gw ke sono, duh rame amirr boww. Akika harus antri mau duduk. Sumpek, panas, parkir susah (gw bawa mobil neh, Ndol) Eh, pas makan rawon. Biasa aja, cuman dagingnya doank gede.

Heran deh, eike…itu rawon anyep, kok laris sih ? Elo, juga kudu tanggung jawab Ndol, elo khan pernah bilang rawon setan itu enak. Mana….mana buktinya !! Jadi, nurut gw, rawonnya biasaaaaa…harganya itu yang kayak Setan !!!


Tutur Meity alias Memed, teman SMP yang maju mundur mau operasi kelamin. Asli Jombang, besar di Surabaya, nggak pernah menginjak Jakarta tapi kalau ngomong elo-elo, gw-gw.

Foto by : M. Ismuntoro.
Ps: Blogspot akhirnya diblokir ….ah bener-bener nggak OK.

Thursday, October 09, 2008

Gorengan Curhat

Penjual gorengan yang satu ini kelewat ramah, bahkan menganggap saya sebagai soulmatenya.

ote-ote

Ada kebiasan di kantor saya, kalau sore bantingan buat beli gorengan mulai pisang, ote-ote, tahu isi, onde-onde, dan lumpia. Kalau bagian nagih, itu bagian saya, soalnya, kalau nggak mau ikut urunan, langsung saya keprek mejanya sudah pada keder. *nagih sama bawa clurit

Dan sebaliknya, bagi mereka yang nggak ikut bantingan, jangan harap kebagian gorengan. Saya, dengan tegas-tegas akan merebut gorengan, meski sudah digigit sekalipun. Hehehehe…..

Kami punya langganan gorengan lokasinya di pinggir jalan di Pasar Pakis, Gorengannya gede-gede, harganya cuman Rp 750.

Kalau Anda ke sini, harus punya kuping tebel, soalnya Bu Penjual ini selalu curhat kepada semua pembeli, mulai pisang yang sulit dicari, harga minyak dan tepung yang naik, anaknya yang minta duit mulu buat beli voucher, sampai kantung kresek yang harus didobel tiga, gara-gara kelewat tipis.

Ibarat kaset yang direwind,..empat kali datang ke sini dijamin empat kali juga Anda mendengar curhatan yang sama. Pas giliran beli, iseng- iseng saya godain.

“Bu, beli gorengan 10 ribu, tapi nggak pake curhat !”

“Oalaaa mbak, hari gene, sulit nyari pisang, minyak sama tepung naik, anak minta voucher terus, jualan nggak ada untung gara-gara tas kresek jebol terus. Sekarang sampeyan beli cuman 10 ribu, saya kok nggak boleh curhat !”


“Hadoooohhh….Ampun Bu !” *dilempar sothil.

------------------------------
Postingan Mendatang :
Saya mau bikin list Tempat Makan Nggak OK di Surabaya. Tunggu ya…

Wednesday, September 24, 2008

Menu Siang-Malam

Makanan khas Suroboyo di satu lokasi

Referensi tempat makan di Surabaya, bertambah satu lagi. Yaitu, Food Court Urip Sumoharjo.Berada di pinggir jalan. Pusat makanan ini terletak di depan rumah susun Urip Sumoharjo. Pusat makanan ini dibuka secara resmi oleh walikota pada 29 Desember 2007 lalu. Dan resmi beroperasional sejak tanggal 1 Januari2008. Tempat ini mampu menampung para PKL binaan Dinas Koperasi Pemerintah Kota Surabaya yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Sebelum memesan menu, pastikan Anda membaca daftar menu yang terpampang di papan nama, tepat di pintu masuk.Ada dua papan yang menunjukkan daftar menu siang, dan menu malam. Perbedaan jenis menu ini karena sistem berjualannya pun terbagi menjadi 2 shift, yaitu pagi dan sore,dengan total waktu buka mulai jam 6 pagi hingga jam 11 malam.

Setidaknya tak kurang dari 60 pedagang makanan, yang
menempati area foodcourt Urip Sumoharjo ini. Pengaturan shift ini di-handle oleh Paguyuban Pedagang Urip Sumoharjo.

Untuk menu malam siang; rujak cingur, bakso granat, lontong cap gomek, semanggi, soto madura, nasi rawon, nasi goreng, gado-gado dan lontong mie.

Malam berbeda lagi. Ada jajanan Suroboyo, ayam panggang, lontong sop, ayam goreng, soto ayam, soto kikil, tahu campur,soto daging, nasi pecel, sate kelapa, sate kambing / ayam, nasi sambal penyet, pangsit bakso dan aneka jajanan a la café seperti roti bakar dan banana crispy.

Untuk sajian minuman, ada banyak pilihan. Mulai jus buah, es campur, soft drink, dan STMJ. Soal harga pun sangat terjangkau. Saya awalnya ragu makan di sini. Maklum takut kalau kelewat mahal. Ternyata harganya murah, mulai Rp 6 ribuan.


Keistimewaan tempat ini, selain terletak strategis di tengah kota, memiliki area parkir luas untuk menampung mobil, dan sepeda motor. Lingkungannya juga bersih. Hampir di setiap sudut, tersedia tempat sampah ukuran kecil, yang tertulis Dinas Koperasi dan Sektor Informal Kota Surabaya.

Nah, kalau pedagangnya tertib, tempatnya bersih dan nyaman, pengunjung pun pasti senang untuk datang. Ayoo Serbuuuuuuuuuu…!!!!


Food Court Urip Sumoharjo
Jl Urip Sumoharjo (Depan Rusun)
Foto Tahu Campur By Anton

Friday, September 19, 2008

Dilempar Martabak

Enak dimakan dimakan selagi hangat ditambah acar timun dan cabe.

Berbahagialah jika kita bisa membeli martabak. Sedikit terlalu berlebihan ya ? Hahaha…, alasannya, karena dua hal, pertama karena mendapat martabak dengan pesanan khusus (dagingnya yang banyak, ya Bang… ), kedua kita dihibur langsung dengan gaya atraktif penjualnya.

Yah, melihat gaya penjual martabak memang paling asyik, bulatan tepung yang gemuk itu, dipipihkan di alas yang licin, ditarik ujung-ujungnya, lalu setelah agar mekar, adonan yang sudah tipis ini diangkat, lalu dilempar memutar, sehingga adonan bertambah tipis dan melebar.

Di kawasan Ampel, mudah ditemui rombong penjual martabak, ciri khasnya apalagi kalau bukan papan bertuliskan urutan harga, dari yang biasa sampai istimewa. Ahmad, seorang penjual martabak mengatakan perbedaan harga hanya masalah telur dan bumbu.

“Martabak istimewa berarti jumlah telur, daging, dan sayurannya lebih banyak. Belum lagi tambahan daging kambing, atau daging lain sesuai keinginan pemesan,” jelasnya.


Untuk membuat martabak, harus dipersiapan 20 macam bahan baku rempah-rempah, terdiri atas tumbar, merica, kapulogo, cengkih, jinten, miri, polo, manis jingga, kunir, jahe, garam, lombok, jimpit merah, minyak murni, minyak samin, telur, daging, dan beberapa macam rempah lain. Khusus isian, yaitu irisan bawang prei, telur, dan cacahan daging berpadu bumbu gule.

Rasa gurih sajian ini terletak pada minyak samin. Minyak ini, terbuat dari gajih sapi, dicampur dengan langit-langit susu. ''Martabak, yang digoreng dengan minyak samin aromanya gurih, dan tidak mengendal walaupun sudah dingin, dan tahan sampai satu hari, '' kata Bang Ahmad, yang wajahnya mirip Amitha Bacem..hihihii. .

Catt: Aduuuh….teman maafkan saya, menggodamu di bulan puasa ini dengan sengaja posting martabak….huehueue *dibuang ke recycle bin.

Martabak di Sini Tempatnya ;
Bang Ahmad Cs - Jl KH Mas Mansyur
Pintu Masuk Pasar Blauran
PK5 Jl Kusuma Bangsa
Bang Amat – Jagalan Pojok
Martabak Abdullah Jl Kapasari
PK5 Jl Indrapura
PK5 Jl Kapas Krampung
PK5 Jl Dharmahusada
Pusat Makanan - Taman Bungkul

Wednesday, September 10, 2008

Tayangan Imajiner

Setting : Sebuah dapur dengan kitchen set terbaru.


Presenter : “Kita panggilkan bintang tamu kita, La Mendol !”

Audience sekitar 30 ribu orang, tampak antusias memberikan applaus. Plok…plok…plok

Presenter : “Hari ini mau presentasi masakan apa ?”

Mendol : Saya membawa menu Ayam Tulang Lunak. Silahkan dicicipi."

Presenter : “Wow…amazing. Rasanya empyuuuuuk …..
bangets !”


30 ribu Audience ngeces seketika, sambil berlinang air mata haru.

Presenter : “Pasti daging ayam ini dipresto dulu, ya ?”
Mendol : “Nggak tuh !”
Presenter : “Wah, pasti diungkep dengan daun pepaya !” *bergaya a la Ira Kusno.

Mendol : “Hmm… nggak juga !” *pasang tampang Cumi

Presenter : “Bagi tipsnya Mbak Mendol !Setuju khan pemirsa ?

30 ribu Audience serentak ; Iyaaaaaa…… *Penasaran akut

Mendol : “ Daging ayamnya empuk, karena saya duduki selama seperempat jam !”

“Apaaaa…!!!! Hueeekkkkk….. !!!!!”
* gemuruh suara 30 ribu Audience dan satu orang presenter yang mual.

Hiyaaa…… * diposting dalam keadaan dehidrasi (baca : kepengen es teler)

Friday, September 05, 2008

Kugadaikan di Blauran


Di Pasar Blauran saya mengobati kerinduan dibalik jajanan tradisonal tempoe doloe.

Doloe, waktu saya masih SD, sehabis mengantarkan ibu menggadaikan emas di toko Emas Enam Djaja (buat bayar sekolah...) , ibu selalu mampir ngajak ke penjual jajan pasar di Blauran.

Jaman segitu Blauran beceknya luar biasa, masuk ke pasar blauran ibarat main ke sawah, soalnya sandal saya penuh dengan ledhok. Sebenernya pengen rasanya digendong, tapi nggak mungkin. Lha bobot tubuh saya pas kelas enam SD itu sudah menyamai bobot ibu saya. *GuEdE Tenan Pokok'e


Segala makanan tradisional seperti klanting, putu, rujak cingur, lontong balap, tahu campur, tahu tek, rujak gobet, jenang grendul, bubur sum-sum, jajan pasar siap tersedia. Bila dahaga tinggal coba saja dawet, es degan atau es campur dijamin segar.

Ibu saya paling suka berkunjung di atas jam 8 malam, ssttt... bukan malu ketahuan tetangga kalau menggadaikan emas hehehehe… tapi jam segitu jajan pasarnya diobral setengah harga.

Apalagi jajan yang ada unsur parutan kelapanya,
ya kalau beruntung memang dapat yang nggak basi, tapi kalau dapat yang basi yo jangan protes.

Namanya juga beli jajan obral, jajan sisa tadi pagi. Ini khan, artinya berani menerima risiko kue lapis setengah kecut, atau lemper ayam yang ada ilernya…yeeeeeekkk.


Sekarang, Pasar Blauran sudah tertata rapi. Lantainya pun keramik. Saya masih sering datang ke sini, apalagi menjelang tanggal tua. Bukan nyari jajan pasar buat sajen lho, tapi saya sedang menyekolahkan kalung biar pinterrr, di toko Emas Enam Djaja…. Huheuheueuee….

Monday, September 01, 2008

Blog Ini Haram


Intinya, Saya tidak mau menambah dosa …

Saya nggak tahu apa jadinya jika selama dua belas bulan, gaya makan saya dibiarkan ugal-ugalan.
Ngemil di sini, jajan di situ, andok di pinggir jalan, ngedim-sum di resto, ngopi di mal, makan bebek seminggu dua kali, bakso tiap hari, belum lagi kalau pas perjalanan pulang ke rumah pas-pasan sama yang jual siomay, bakul sate kelapa, tolat-tolet rujak manis di jalan Dr. Soetomo, yang membuat saya segera menepikan sepeda motor.
Di luar rutinitas (makan) yang tidak terduga itu… hmm Saya sudah punya jadwal khusus, memenuhi undangan promo makanan dari hotel, resto dan café, yang merupakan kewajiban saya untuk datang (dan makan !).

Tapi, di bulan Ramadhan saya benar-benar tobat. Iya benerr !

(Setidaknya sampai menjelang magrib, hehehe...)

Di meja kerja saya tidak adalagi klethikan. Di laci juga tidak ada snack momogi, ring, dan potato chips. Dalam tas kerja, juga nggak ada Sari Roti rasa Coklat.
Peralatan perang, seperti mangkok, piring, sendok , garpu. Tersusun rapi di laci nomor 2. Tinggal laci nomor 3, yang masih menyimpan Pop Mie rasa Bakso dan Soto, untuk persediaan musim semi... yaelah segitunya.

Upaya resik-resik ini juga berlaku untuk blog ini. Saya nggak mau posting makanan dulu khusus di bulan puasa ini, Haram …!. Gantinya, ada features tentang tempat wisata belanja dan makan yang layak dikunjungi di Surabaya. Semoga bermanfaat.

Nb: Jujur saja, saya sendiri ya nggak kuat, kalau harus menulis tentang pengalaman makan saya yang blingsatan, ditambah posting foto yang bikin kemecer. Huh !! *Sambil membayangkan teh botol kemringet.

Sunday, August 24, 2008

Makanan Pembangkit Gairah

Promo menu berbahan daging kambing membuat saya jadi blingsatan tak terkira …

Jauh-jauh hari, saya sudah woro-woro,
“ Sodara-sodara, kalau mau ngundang saya ngincipin menu baru, mending diajuin bulan Agustus aja. Ntar kalau puasa, saya mlungsungi. Jadi nggak bisa kemana-mana !” demikian permohonan saya, kepada pemilik resto di Surabaya.


Akhirnya, berbagai undangan tumpuk blekk di meja saya. Dan promosinya semuaaa sama, yaitu
MENU KHAS TIMUR TENGAH.
Haduh..haduh saya, sama si fotografer ini sama-sama puyengnya.

Kalau saya, sedikit sadar diri dengan badan yang mak bendudung, memuai ke samping, ke depan dan ke belakang. Tapi, kalau si Anton, karena tiap hari sudah disuguhi makanan khas Arab, jadi rada blengerrr.


Saya pun dimanjakan dengan menu khas arabic, hidangan pembuka, ada chickpeas soup. Menggunakan kacang khas arab, sup ini sangat pas disantap diawal buka. Bumbu rempah di dalamnya mampu membuat tubuh terasa hangat ketika menyantapnya.

Masuk kehidangan utama, saya disuguhi nasi kebuli, sama sate embekk.. Untuk penutupnya, disuguhi Samosa, bentuknya mirip pastel tapi isinya cacahan daging kambing (lagi!), hari berikutnya, dilanjut makan kebab, nasi tomat, kambing oven, kambing bakar, dan semua menu berbau wedus.

Saya tahu kok, kalau daging kambing punya mitos yang menyangkut keperkasaan. Karena jenis makanan tertentu, memang punya rahasia aphrodisiac. Makanan yang berprotein tinggi, salah satunya daging kambing juga merangsang otak untuk menghasilkan Dopamine dan Norepinephrine.

Kedua zat ini merangsang otak untuk memproduksi Endorphins, yaitu zat yang membuat otak kita lepas dari segala ketegangan, sehingga membuat kita peka terhadap rangsangan dan mudah bergairah. Secara teori boleh-lah, tapi kenyataannya, efek sampingnya berbeda untuk setiap orang, seperti teman saya ini,

Ndol, kok beda sih efeknya. Aku kalau kebanyakan makan kambing kok jadi gampang ngantuk !” Hehehehe…. Embuh yo !


Soal meningkatkan keperkasaan, seorang teman yang suka masak, berbagi kisah menarik. Katanya, jika kaum lelaki ingin mempunyai kekuatan, dan kemampuan seks yang menakjubkan, plus dikagumi kaum Hawa, dia punya rahasianya :

Ndol, adalagi yang lebih Hot, dari daging embek !’
“Wah, apa tuh ?”
“ Cobain, deh makan PERKEDEL TORPEDO SAPI, atau OSENG-OSENG KECAP TANGKUR BUAYA ?”
“ WUAHHH....!!! *Adem Panas, Atas Bawah !

Friday, August 15, 2008

Racikan Maut Sang Jago Makan

Eh ..ternyata Saya Menang dalam Mixology Competition.

Acara journalist Competition, digelar setiap tahun menyambut HUT RI, oleh Surabaya Plaza Hotel (SPH), merupakan ajang yang selalu dinanti oleh para jurnalis. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun ini
digelar "Journalist Gathering berupa Mixology Competition"

saya nggak punya persiapan apa-apa. Arti Mixology aja, saya baru tahu, pas ketemu si Upi. “Itu lo, Nda. Nyampur-nyampur minuman !” jelasnya. Detailnya, saya malah baru tahu pas menjelang acara. “ Mixology, adalah meracik minuman berbahan dasar jus atau mocktail,” jelas Feby –Business Communications SPH.

Sebenarnya, sudah TIGA KALI ikut lomba cooking competition dan EMPAT KALI KALAH. lho..!

Tahun 2006, lomba Masak Nasi Goreng, saya kalah. Soalnya, saya nggak berani main bumbu. Jadi rasanya nanggung banget. Tahun 2007, Lomba Masak Mie, saya kalah telak. Padahal ini makanan kesukaan saya. Mie saya garing. Jurinya langsung melepeh ketiba nyobain. Asin banget katanya. Tahun 2008, lomba Tahu Genjrot, saya berpatner dengan Anton.

Aksi saya cukup huebattt, di tahu genjrot. Pas ngulek bumbu, geol-an saya bikin heboh, garnishnya apalage, tuh bumbu kacang saya masukkan ke dalam tomat yang sudah saya buang isinya.
Penampilan sih OK, tapi kebersihan juga dinilai. Nah, kedodoran saya ya di sini, soalnya pas masukin bumbunya ke dalam tomat, saya pake tangan. Eh.. jurinya kayaknya tau
pas saya jorok itu…hihihihi.

Terus terang, setiap kali turun lomba, banyak yang jagoin saya. Suporter saya buanyak. Yel.. yel selalu diserukan begitu saya turun lomba. “Manda…Manda !! Lemu …Lemu !!” saya sebenarnya nggak ngerti juga, mereka tulus mendukung apa malah meledek ya, sebenernya ?

Dan tahun ini adalah lomba meracik minuman. Pertama, saya bingung mau bikin apa. Untuk alat perangnya ada, blender Miyako dan Shaker. Bahan utama, baru dibuka menjelang lomba. Dan taraaaaaaa….ternyata bahan utama yang saya dapat adalah MELON.

Langkah pertama adalah, tarik nafas dan mengambil posisi ala senam Kegel. "Kempit…tahan, kempit..tahan" Tahap berikutnya, memblender melon dengan es batu dan susu. Lalu, gelas diisi dengan sirup melon.

Shaker (alat yang biasa dilempar-lempar bartender), saya isi soda dan es batu. Dengan keyakinan penuh, saya kocok-kocok. Dan bladalah….setelah tutup shakernya saya buka, lha kok isinya muncrat kemana-mana. Suporter yang ada di meja depan pun kesiram air soda. Hihiihi….

Setelah racikan siap, saya beri nama : Beautiful Melon Squash ! * Sstt..saya sebenarnya bingung, bahasa Inggrisnya Melon apa ya? Mosok watermelon ? Bukannya itu semangka ? Yo wis daripada bingung saya tetap sebut melon.

Sebenarnya saya nggak ada feeling menang. Soalnya, tidak menguasai.Tapi saya nggak nyangka, ternyata SAYA JUARA PERTAMA !!! WOIIII….. SAYA JUARA PERTAMA !!*sambil goyang gergaji kayak Dewi Persik. Aha..aha… Eh, juara keduanya teman saya VIVI, Jurnalis kuliner Tabloid LeZat.


Terima kasih buat Surabaya Plaza Hotel. Mas Sholeh, Mbak Feby, dan Pak Yusak Anshori. Terlebih atas hadiah yang sangat luar biasa dari ;
MOBILE 8, EXCELSO, MIYAKO dan SURABAYA PLAZA HOTEL .*Goyang kayak Dewi Persik lagi ah….




Thursday, July 31, 2008

Sate Kalap


Saya lagi ketiban undangan untuk menikmati 63 macam sate di JW Marriott.

Wah, penasaran pastinya. Tapi, sayangnya fotografer saya, si Anton, lagi sakit. Waduh, ini berarti saya harus moto sendiri. Yang jelas saya nggak pede, maklum kamera pocket saya meski digital tapi keluaran lawas.

Si Zainal, temen dari detiksurabaya.com, sudah lirak-lirik ke arah tangan saya yang umek sama kamera.
“Oalaaaa..mbak, kamera jaman opo iki ?” kata si Zainal

Wahhhhh….asli pengen nyambit Zainal sama gelas. Tapi, pertanyaannya serius, wajahnya juga nggak ada ekspresi menghina. Dengan bijak saya menjawab,

Eh, jangan menghina ya… dijamannya, ini kamera paling canggih lho !”
Setelah saya jawab, si Zainal ini langsung buru-buru menyerahkan kamera itu ke saya.
“Ini mbak, aku takut kena kutukan !” katanya sambil ngibrit, takut saya sumpahin.


Karena nggak Pede melihat peralatan foto mereka yang canggih, akhirnya saya dengan sabar menunggu mereka selesai jeprat-jepret. Giliran saya maju, sudah diprotes. “Ndol, jauh-jauh sana. Nggak pantes jadi tukang foto. Lah badanmu nutupi kabeh… opo sing isok difoto !” . Huh..asli muangkell polll.

Akhirnya, saya membawa piring berisi 10 macam sate itu ke pojok. Ternyata, gerak-gerik saya diperhatikan oleh si Djoko, fotografer usil dari Surabaya Pagi.

“Rekkk….satenya mau dihabisin sama Mendollll !”
Haduh, asem ! Semua pada memandang saya dengan tatapan curiga.
“Sumpah…nggak, aku cuman mau moto kok, mau nyari tempat yang terang !” kata saya.

Belum selesai menjawab, Mamad si Somad yang bapaknya jualan Tomat malah nyeletuk, “awas ya…sampai kurang satenya, kalau habis moto !” ancem Mamad.

Huh…pengen rasanya jhitak si Mamad, fotografer dari Harian Surya ini. Lha, badannya ceking, rambutnya keriting, kok berani-berani ngancem KEBO kayak saya ini .
“Eh, Mad. Awas yooo…tak rebonding ntar rambutmu. Kapok koen !” Eh, ancaman saya ini malah berbuah cekikikan ….


Sesi foto taking ini, lumayan lama. Maklum yang difoto ada 63 jenis sate. Temen fotografer, masih rebutan ambil angle yang bagus.
Saya i
lfill, akhirnya duduk mojok sambil ditemani es ice cream, sepiring gado-gado, dan piring kecil berisi opera cake, cream cheese, dan stick keju.
“Ndol…ojo nesu tah. Mosok gara-gara digoda gitu, trus muthung, nggak moto !” kata Ki Djoko Gendeng.

Sebenernya saya sudah nggak mau memperdulikan mereka, tapi tangan, sama kuncir rambut saya ditarik-tarik. Nggak betah akhirnya saya teriak.

“Hoii…denger ya, aku nggak nesuuuuuu. Tapi kalian menghilangkan nafsu makanku….!


Saking emosinya setelah itu, saya pun menghabiskan 5 tusuk sate lilit, 5 tusuk sate ayam Ponorogo, 4 tusuk sate kerang, 3 tusuk sate puyuh, 2 tusuk sate usus dan 3 tusuk sate daging kelapa. Plus dua porsi nasi putih hangat. Hikss… bener-bener kalap.

Teman-teman, maaf jika jarang berkunjung, sedang kontemplasi.

Monday, June 30, 2008

Lontong Cap Gomeh


 foto : bimbim
Dulu, kalau saya sakit panas. Biasanya embah saya bilang, "Wis masakno lontong cap gomeh, iwak'e pitik Jowo. Lak'an waras !"

Saya nggak ngerti, apa hubungannya panas tubuh saya,sama pitik Jowo. Tapi, tiap kali panas, saya selalu dibujuk dengan makanan istimewa. Saya nggak inget apa pengaruhnya... cuma kalau sakit memang saya maksimalkan untuk minta makanan yang enak-enak..ya mumpung diperhatiin. Hehehe..
Seperti minggu lalu,  saya hampir seminggu sakit. Harus bed rest total. Keinginan untuk makan aneh-aneh kumatt...My Sharuhkhan, sampai ikutan pusing nurutin kemauan saya. Malam hari, saya minta dibelikan bubur putihan alias sum-sum lalu disiram gula jawa.Hari kedua, saya keinget-inget pas makan kebab sama si Anton. Akhirnya, semalamam saya ngiler sambil mbayangin kebab-nya si baba.

Dan yang terakhir…ini yang sulit. Saya pengen Lontong Cap Gomeh bikinan almarhum Ibu saya. Ibu, sama eyang putri saya ini pinter bikin lontong cap gomeh, boleh diadu sama lontong cap gomeh milik tacik di jalan Rupat – Malang, lewaaaaatttt dah.

Ini merupakan makanan favorit. Memang rada ribet menyiapkan, maklum ragamnya banyak. Ada Opor Ayam, Sayur Lodeh Manisa/Rebung, Telor Petis, Sambal Goreng Ati, Urap-Urap, Koyah Kedelai plus Kerupuk Udang.

Kalau kebanyakan baru menemui menu ini pas lebaran. Tapi, kalau ibu saya bisa menyiapkan kapan saja.Arisan, ultah, atau buat sarapan minggu pagi. Pokoknya menu ini selalu dinanti.Saya tergolong paling rajin nolong ibu saya kalau sudah masak ini. “Wajar, kamu khan makannya paling banyak ndoll..!” kata ibu saya waktu itu.

Tugas saya motongin kentang, ngoreng (sambil nyemil kentang yang sudah matang), sama udek-udek. Apa saja saya udek. Bahkan pernah saking kuatnya, itu opor ayam sudah kayak isi lemper karena hancur…hehehe.

Saya juga sering ketiban sampur disuruh ngulek bumbu. Saya biasanya deprok di pawon, nggak pake dingklik. Maklum, sudah sering kejadian saya duduk di dingklik, lalu dingkliknya mletot trus mentallllll....
Sejak itu kalau nggak deprok, saya duduk di batu kali yang sering digunakan buat ganjel pintu pawon. hiks mesakno'ne

Untuk bumbu semua dikerjakan ibu saya. Diulek sendiri. Kalau pakai lombok besar, bijinya dikeluarkan. Dirajang kecil-kecil baru kemudian diulek. Marut kelapa juga dilakukan sendiri. Soal marut-memarut ini, saya pernah bilang “Mending, aku disuruh manjat kelapa aja timbang marut !” terus-terang, paku tajam di papan parut itu bikin saya trauma. Nah, mumpung di rumah nggak ada pohon kelapa saya bikin alasan kayak tadi, jadi ya bebas dari tugas marut sekaligus manjat kelapa…hehehe.

Proses memasaknya lamaaaa… tapi menyenangkan, karena ibu saya kalau masak cemplang-cemplung, nggak ada takaran, tapi rasanya mantap. Opornya kental rasanya gurih. Sambal goreng ati pas, nggak basah juga nggak terlalu kering. (Potongan ati ayamnya guedee-guedee), Ibu, suka memberi potongan pete gede-gede….wuah padahal saya nggak suka pete.

Saya paling sukaaaa…. Nyiram cap gomeh sama bumbu koyah kedele buanyaaak. Bumbunya sampai jadi kental... rasanya gurih. 

Soal potongan ayam, saya ketularan selera ibu saya. Dari semua bagian tubuh ayam, saya paling suka rebutan ceker sama kepala ayam. “Kamu makan ceker, kalau besar pinter eker-eker nyari duit, kata Ibu saya dulu.

Hehehe… lucu juga, soalnya kalau dipikir-pikir profesi saya sekarang ini, apa ada hubungannya dengan kebiasaan saya makan ceker ya ?


Friday, June 06, 2008

25 Tahun Suara Surabaya

Eh, ada acara makan-makan, tempatnya nggak jauh. Di kantor saya. Hehehehe.......


Iya nih, Radio Suara Surabaya mau ulang tahun ke 25. Sudah tradisi kalau kantor saya bakal OPEN HOUSE, tepatnya tanggal 11 Juni 2008, ayooo..jangan lupa ke Wonokitri 40 C. Makan gratis sampai kenyang.

Seperti biasa, saya juga ketiban pulung di bagian konsumsi. Mau tau tugasnya, seperti tahun –tahun kemarin. Saya punya tugas mengawal tamu, khususnya klien dari divisi saya.


Yah, kalau menemani nggak sekedar ngobrol, pastilah ada klethikan, jajan, buah, roti sebagai teman ngobrolnya.

Bisa ditebak, dibanding tamunya, saya justru lebih banyak makannya. (Lha, jangan menyalahkan saya, kalau tiap tamu yang makan minta ditemenin. Yah, saya nggak bisa nolak)

Buat acara itu, saya sih, sudah mengintip daftar menu yang bakal tampil ..hiks..hiks. Tidak beda dengan tahun kemarin, bakal ada meja prasmanan dan gubuk yang menyediakan menu khusus khas Surabaya. Seperti ; Soto kikil, Lontong Balap, Nasi Goreng dan Mie Jawa, Bakso Cak Ilung, Rujak Manis, Rujak Cingur, Lontong Mie dan Eng..i..Eeng …Tahu Campur….Cihuyyyyyyyyy. *mental ke plafon


Jajanan tradisonal lain yang disediakan aneka polo pendhem yang terdiri berbagai macam umbi-umbian lalu jajan semar mendem, putu, putri mandi, klepon, lemper. Ada lagi, yaitu klanting, tiwul, gaplek, ketan hitam, pipilan jantung, gethuk, lupis. Dihidangkan bersama taburan parutan kelapa dan disiram cairan gula Jawa. Wehhhhh..legitnya bikin ngeces.

Eh, saya jadi ingat dua tahun lalu. Juga pas ultah kantor. Ada divisi lain yang berinisiatif bikin operet Ande-Ande Imut, saya diajak ikutan, didapuk jadi klething orange. Saya nggak dikasih dialog blass. Cuma dibilangin;

“Ndol, kalau kamu dipanggil klething orange, yo maju aja !”
“Oyi…siap !” gampang banget nurut saya.

Giliran saya tampil, yang lihat sudah pada ketawa semua. Padahal saya nggak ngapa-ngapain. Kostum saya juga sederhana, kebaya ama sarung (habis jaritnya nggak cukup, saya dipaksa pake sarung Cap Manda Duduk, eh …salah Cap Gajah Duduk. Hikss..)

Tiba giliran saya …..
Saya deketin Si Mas Ande ini, tiba-tiba dia mendadak kejerrrrr, simboknya pun panik. “Lho kamu kenapa toh Nak ? kok mendadak kena ayan ?” tanya simboknya.

Masih dalam scene adengan kejerrrr yang dibuat-buat, Si Dimas Ande, ini menjawab.

“Aduh..simbok, kenapa anakmu yang imut ini, kau jodohkan dengan kulkas tiga pintu. Nggak mauuu …….atutttttt !!!!”

Huhu…asli saya sebel berat, apalagi pas lihat tamunya pada ngakak semua. Weksssss….*sambil melet.

Saturday, May 24, 2008

FJB Angkat Pamor Pecel Semanggi

Inilah makanan khas Surabaya. Namun kini makin sulit dicari keberadaannya.

Penasaran ingin makan semanggi ? Harap bersabar, seba
b makanan ini susah-susah gampang dicari. Di Surabaya, FJB 2008 yang digelar di Stadion Brawijaya pada hari Sabtu, 10 Mei 2008 lalu, mampu menghadirkan makanan khas yang makin langka ini.

Ubo-rampe,
Semanggi Suroboyo terdiri dari dua macam sayuran yaitu, daun semanggi dan kecambah yang direb
us, disajikan bersama campuran petis dan bumbunya yang khas yang merupakan perpaduan dari ketela rambat, kacang tanah dan gula merah, serta dilengkapi kerupuk puli.


Rasanya? Jelas sedap, apalagi penjual semanggi dari RM Kartika, yang berpartisipasi di FJB tetap konsisten menyajikan dengan beralas daun pisang. Untuk menyantap, tak perlu sendok. Biasanya orang menyantapnya dengan kerupuk puli yang dijadikan sendok. Kerupuk puli adalah kerupuk yang terbuat dari tepung singkong.
Di FJB, satu porsi bersama kerupuknya Rp 8 ribu. Hmm… sedikit mahal, mungkin. Tapi, menurut yang jual, bahan utamanya yaitu, daun semanggi semakin sulit dicari, membuat harganya ikut melonjak.

Inilah makanan asli Surabaya yang begitu legendaris. Sayangnya, seolah dimakan zaman, pusaka kuliner ini sudah mulai dilupakan dan sulit ditemukan. Perlu ada komitmen dari banyak pihak untuk terus mempopulerkan wisata kuliner Surabaya, seperti yang dilakukan oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk. melalui merk kecap andalannya yaitu Bango, yang menggelar Festival Jajanan Bango.

Di festival ini, Bango mengajak masyarakat luas ikut melestarikan aneka ragam makanan tradisional Nusantara, warisan nenek moyang kita yang sudah dikenal dan dinikmati secara turun temurun, yang keberadaannya makin sulit dicari. Seperti Pecel Semanggi ini. Membahas soal semanggi, saya jadi ingat lagu ini.

"Semanggi Suroboyo lontong balap Wonokromo dijual serta didukung masuk kampung, keluar kampung mari Bung coba beli ........ harganya murah sekali sepincuk hanya setali sungguh memuaskan hati, sayur smanggi kangkung turi... Bung beli..."

Tuesday, May 20, 2008

“Daeng Muchtar” ; Duta Bango dari Makassar

Coto Makassar agak berbeda, tidak hanya soal rasa tapi juga cara menyantapnya. Rahasia ini terungkap di Festival Jajanan Bango di Surabaya.


Sesuai dengan tema 80 Tahun Bango, Kualitas Sepanjang Masa. FJB kali ini akan menghadirkan 80 makanan tradisional khas dari kota setempat. Dan masih ditambah lagi partisipasi dari 8 Duta Bango dari luar kota. Para penjaja makanan yang akan tampil di FJB tahun ini mewakili kota Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Makassar, Bogor, Solo, dan Medan.

FJB kali ini mengundang secara khusus Coto Makassar Daeng Muchtar yang mewakili makanan khas Makassar untuk ikut berpartisipasi sebagai Duta Bango. Setelah jalan-jalan dan makan, saya mampir ke stand milik Daeng Muchtar, hanya singgah dan mengajak ngobrol beliau. Meski saya tidak membeli (gara-gara habis makan Rawon Setan), tapi Daeng tetap ramah meladeni segala keingin tahuan saya mengenai makanan khas angin mamiri ini. Dari obrolan ini, kalau saya dulu menemukan fakta menarik seputar soto, sekarang saya menemukan cerita unik seputar coto.

Coto Makassar agak berbeda dari soto-soto yang ada di daerah lainnya. Coto Makassar yang sarat dengan daging dan jerohan sapi yaitu babat, usus, jantung, paru, hati, limpa. Daging dan jeroan disusun ke dalam mangkok, kemudian ditaburi dengan bawang goreng, daun bawang dan seledri. Soal rasa, sangat berbeda dengan soto pada umumnya, bumbu rempahnya terasa menyengat.

Lidah orang Jawa, diakui Daeng Muchtar, sulit menerima coto Makasar karena rasaya berbeda jauh dengan soto ayam atau daging. Apalagi jika melihat kuahnya yang berwarna keruh. Padahal kuah coto Makassar sama sekali tidak menggunakan santan. Agar kuah jadi keruh dan kental, penyebabnya adalah penambahan kacang yang digiling halus. Kacang tanah itu terlebih dulu digoreng. "Menggorengnya juga jangan terlalu gosong. Karena nanti akan merubah rasa," lanjutnya.

Fakta menariknya, bukannya sakti, jika dari cara makan burasa atau ketupat, Daeng Muchtar bisa menebak asal muasal pembelinya. “Orang Makassar tidak pernah memotong burasa kemudian memasukkan ke dalam coto, yang biasa melakukan ini biasanya orang Jawa,” ungkapnya. Cara makan orang Makassar cukup unik, ketupatnya itu tidak di masukkan langsung ke mangkuk sup tapi di potong dan di celup ke mangkuk sup. Burasa dipegang di tangan kiri kemudian di sendok sedikit demi sedikit. *ayo dipraktekkan anak-anak..hehehe.

Menikmati coto Makassar biasanya disediakan sambal, jeruk nipis dan kecap manis merek Bango. Soal kecap manis ini kata Muchtar, karena disesuaikan dengan lidah orang Jawa yang memang menyukai rasa manis. “Orang Makassar, sukanya pedes sama kecut, ditambah kecap manis rasanya makin Sempurnaaaa… ,” nada Muchtar, bak vokalis band Andra and The Backbone. :)

Buat Bandung dan Jakarta, siap-siap saja ketemu Daeng Muchtar di FJB. Ssstt…biar orangnya berkulit hitam, sangar, badannya gede. Ternyata orangnya ramah dan suaranya lembut banget. Heheheh..*shock

Lactogrow Happy Wonderland ; Taman Bermain Impian

Happy bangets, pas ada undangan …. “Ajak anaknya ya….”  Wah, sudah kebayang wajah Si Mala, yang pasti sumringah. Undangan ini da...