Skip to main content

Posts

Showing posts from 2008

Ayam Obesitas

Ini bukan varian baru dari unggas. Bukan juga, ayam yang overweight karena kebanyakan makan junk food.

Foto : AntonSebutan ini muncul, gara-gara teman saya si Bembenk yang menjuluki Kalkun Panggangyang segede gajah. “Ndol, kamu saingan neh sama kalkun, sama-sama Obesitas !”kata Bembenk tanpa rasa bersalah.Ck..ck… benar-benar to the point kalau ngatain diriku. *Nelangsa.Kalkun panggang memangmenu istimewa merayakan Natal. Saya beruntung bisa diundang Surabaya Plaza Hotel dan Somersetmenikmati Christmas Set Menu, yang terdiri salad, sup, dessert dan roasted Turkey.
Untuk mengolahnya kata Rudi Witjaksono, Executive Chef dari Hotel Somerset. Tidak terlalu ribet.Jadi kalkun yang akan dipanggang diberi bumbu lada, garam dan mustard. Nah,bagian belakang kalkun lalu disumpel sama potongan wortel, prei, bombay, thyme, rosemary.Dipanggang dalam suhu 180derajat, dan dimasak selama 3 jam. “Kalau nggak punya kalkun, bikin sama daging ayam saja,” sarannya.Berat rata-rata satu ekor kalkun 6 kilogram.…

Gajah Terbang di Kebun Apel

Ada mie goreng rasa apel, dan koloke saos stoberi di AgroKusumaRasanya baru kemarin Somerset ngundang jurnalis untuk gathering. Kalau dulu patner saya adalah si gentong 2, alias bimbim. Sekarang sama si Anton

Saya hampir kepancal bis…lha pas saya sama anton sampai di sana bisnya sudah jalan. Akhirnya, saya hadang bis itu di pintu keluar. Aksi nekat saya tidak sia-sia. Sopirnya keder…dipikir ada unjuk rasa dariAWLS (Aliansi Wong Lemu Suroboyo) hehehe…..Wah senang rasanya bisa mampir ke Kusuma Agro lagi, tahun lalu saya sama Anton, pernah ke sini liputan. Ada perubahan di sana-sini, fasilitasnya diperbanyak. Sekarang tidak hanya bisa metik apel, tapi juga bisa ikutan panen strawberry, jeruk, jambu dan sayuran organik.Pas makan siang, bisa memesan makanan serba apel. Mulai mie goreng apel, nasi goreng apel, pie apel. Nah, kebetulan panitia dari Somerset ngajak makan di café stoberi. Ya ..ampun. Semuanya serba stroberi.Sayangnya kok menurut saya rasanya jadi kurang pas dan aneh.Contohnya a…

Tempat Makan Nggak Ok (2)

Membahas yang nggak enak itu ternyata ada enaknya juga ….

Foto : Anton
Pecel Ketabang KaliSaya memang sering ke sini. Apalage kalau ada bude sama tante saya datang dari Jakarta. Pasti mintanya ke sini. Pecel ini memiliki brand Pecel Ponorogo. Sayurannya selain tauge, ada bendoyo dan kembang turi. Tambahan lauknya lumayan banyak, ada tempe, dadar jagung, ceplok, ayam goreng, sate usus, sate puyuh…pokoknya seambrek diletakkan di atas baskom.Yang nurut saya nggak ok,
Itu..itu laler alias lalatnya. Biyuh..biyuh..banyak sekali. Untuk mengusir,si penjual meletakkan kertas lem. Tapi cilakanya, kertas lem ini diletakkan di atas baskom isi gorengan. Hiks…jadi selain sebagai perangkap, kertas lem ini juga berfungsi sebagai penutup. Kebayang rada jijay khan.“Gayamu, Ndol. Gitu aja jijik !”
“Nggak githu mbak, takutnya nanti kalau ketuker itu lho. Niatnya makan sate usus bisa jadi makan sate laler. Heheheh !”-------------------------
Gule Kacang
Perempatan Jalan Temba’anPengalaman ini sama my sharuhkhan…

Tempat Makan Nggak Ok

Makanannya Enak. Tapi, mengapa pembeli enggan kembali ? Ini foto saya diblur biar nggak kelihatan lemu ginuk-ginuk..hehehe.
Hmm… susah juga punya prototipe sebagai orang yang doyang makan. Selain banyak undangan makan (Amin..Amin), saya juga sering dicurhatin kalau teman-teman kecewa berat pas makan di suatu tempat. Tidak hanya makanan, tapi juga fasilitas, dan servicenya. Nah, daripada saya simpen sendiri trus jadi lemak, mending curhatan teman-teman saya posting di sini. Kalau temen-temen mo sharing, boleh loh…Seperti beberapa teman ini :“Yang nggak Ok itu…..Bebek Padin di jalan Kranggan. Aku dua kali datang ke sana, nasinya atos banget. Yang bikin nyesek lagi, Tukang Ngamen. Mosok baru sakemplo’an sudah ada tiga pengamen yang datang !”Kata Dukut, teman sekantor. Pengusaha konveksi sukses tapi nyamar sebagai desain grafis cuman untuk menyalurkan hobi. Menyamakan dirinya setara dengan suami Dona Agnesia, dan mentasbihkan dirinya sebagai Dukut Sinatriya.“Bebek Kayu Tangan. Nggak Ok. Ki…

Gorengan Curhat

Penjual gorengan yang satu ini kelewat ramah, bahkan menganggap saya sebagai soulmatenya.

ote-ote

Ada kebiasan di kantor saya, kalau sore bantingan buat beli gorengan mulai pisang, ote-ote, tahu isi, onde-onde, dan lumpia. Kalau bagian nagih, itu bagian saya, soalnya, kalau nggak mau ikut urunan, langsung saya keprek mejanya sudah pada keder. *nagih sama bawa clurit

Dan sebaliknya, bagi mereka yang nggak ikut bantingan, jangan harap kebagian gorengan. Saya, dengan tegas-tegas akan merebut gorengan, meski sudah digigit sekalipun. Hehehehe…..

Kami punya langganan gorengan lokasinya di pinggir jalan di Pasar Pakis, Gorengannya gede-gede, harganya cuman Rp 750.

Kalau Anda ke sini, harus punya kuping tebel, soalnya Bu Penjual ini selalu curhat kepada semua pembeli, mulai pisang yang sulit dicari, harga minyak dan tepung yang naik, anaknya yang minta duit mulu buat beli voucher, sampai kantung kresek yang harus didobel tiga, gara-gara kelewat tipis.

Ibarat kaset yang direwind,..empat kali datang…

Menu Siang-Malam

Makanan khas Suroboyo di satu lokasi

Referensi tempat makan di Surabaya, bertambah satu lagi. Yaitu, Food Court Urip Sumoharjo.Berada di pinggir jalan. Pusat makanan ini terletak di depan rumah susun Urip Sumoharjo. Pusat makanan ini dibuka secara resmi oleh walikota pada 29 Desember 2007 lalu.Dan resmi beroperasional sejak tanggal 1 Januari2008. Tempat ini mampu menampung para PKL binaan Dinas Koperasi Pemerintah Kota Surabaya yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Sebelum memesan menu, pastikan Anda membaca daftar menu yang terpampang di papan nama, tepat di pintu masuk.Ada dua papan yang menunjukkan daftar menu siang, dan menu malam. Perbedaan jenis menu ini karena sistem berjualannya pun terbagi menjadi 2 shift, yaitu pagi dan sore,dengan total waktu buka mulai jam 6 pagi hingga jam 11 malam.

Setidaknya tak kurang dari 60 pedagang makanan, yang menempati area foodcourt Urip Sumoharjo ini. Pengaturan shift ini di-handle oleh Paguyuban Pedagang Urip Sumoharjo.

Untuk menu malam siang;…

Dilempar Martabak

Foto : Anton
Enak dimakan dimakan selagi hangat ditambah acar timun dan cabe.

Berbahagialah jika kita bisa membeli martabak. Sedikit terlalu berlebihan ya ? Hahaha…, alasannya, karena dua hal, pertama karena mendapat martabak dengan pesanan khusus (dagingnya yang banyak, ya Bang… ), kedua kita dihibur langsung dengan gaya atraktif penjualnya.

Yah, melihat gaya penjual martabak memang paling asyik, bulatan tepung yang gemuk itu, dipipihkan di alas yang licin, ditarik ujung-ujungnya, lalu setelah agar mekar, adonan yang sudah tipis ini diangkat, lalu dilempar memutar, sehingga adonan bertambah tipis dan melebar.

Di kawasan Ampel, mudah ditemui rombong penjual martabak, ciri khasnya apalagi kalau bukan papan bertuliskan urutan harga, dari yang biasa sampai istimewa. Ahmad, seorang penjual martabak mengatakan perbedaan harga hanya masalah telur dan bumbu.

“Martabak istimewa berarti jumlah telur, daging, dan sayurannya lebih banyak. Belum lagi tambahan daging kambing, atau daging lain sesuai k…

Tayangan Imajiner

Setting : Sebuah dapur dengan kitchen set terbaru.


Presenter : “Kita panggilkan bintang tamu kita, La Mendol !”

Audience sekitar 30 ribu orang, tampak antusias memberikan applaus. Plok…plok…plok

Presenter : “Hari ini mau presentasi masakan apa ?”

Mendol : Saya membawa menu Ayam Tulang Lunak. Silahkan dicicipi."

Presenter : “Wow…amazing. Rasanya empyuuuuuk …..
bangets !”

30 ribu Audience ngeces seketika, sambil berlinang air mata haru.

Presenter : “Pasti daging ayam ini dipresto dulu, ya ?”
Mendol : “Nggak tuh !”
Presenter :“Wah, pasti diungkep dengan daun pepaya !” *bergaya a la Ira Kusno.

Mendol : “Hmm… nggak juga !” *pasang tampang Cumi
Presenter :“Bagi tipsnya Mbak Mendol !Setuju khan pemirsa ?

30 ribu Audience serentak ; Iyaaaaaa…… *Penasaran akut

Mendol : “ Daging ayamnya empuk, karena saya duduki selama seperempat jam !”

“Apaaaa…!!!! Hueeekkkkk….. !!!!!” * gemuruh suara 30 ribu Audience dan satu orang presenter yang mual…

Kugadaikan di Blauran

Di Pasar Blauran saya mengobati kerinduan dibalik jajanan tradisonal tempoe doloe.

Doloe, waktu saya masih SD, sehabis mengantarkan ibu menggadaikan emas di toko Emas Enam Djaja (buat bayar sekolah...) , ibu selalu mampir ngajak ke penjual jajan pasar di Blauran.

Jaman segitu Blauran beceknya luar biasa, masuk ke pasar blauran ibarat main ke sawah, soalnya sandal saya penuh dengan ledhok. Sebenernya pengen rasanya digendong, tapi nggak mungkin. Lha bobot tubuh saya pas kelas enam SD itu sudah menyamai bobot ibu saya.*GuEdE Tenan Pokok'e

Segala makanan tradisional seperti klanting, putu, rujak cingur, lontong balap, tahu campur, tahu tek, rujak gobet, jenang grendul, bubur sum-sum, jajan pasar siap tersedia. Bila dahaga tinggal coba saja dawet, es degan atau es campur dijamin segar.

Ibu saya paling suka berkunjung di atas jam 8 malam, ssttt... bukan malu ketahuan tetangga kalau menggadaikan emas hehehehe… tapi jam segitu jajan pasarnya diobral setengah harga.

Apalagi jajan yang ad…

Blog Ini Haram

Intinya, Saya tidak mau menambah dosa …

Saya nggak tahu apa jadinya jika selama dua belas bulan, gaya makan saya dibiarkan ugal-ugalan.
Ngemil di sini, jajan di situ, andok di pinggir jalan, ngedim-sum di resto, ngopi di mal, makan bebek seminggu dua kali, bakso tiap hari, belum lagi kalau pas perjalanan pulang ke rumah pas-pasan sama yang jual siomay, bakul sate kelapa, tolat-tolet rujak manis di jalan Dr. Soetomo, yang membuat saya segera menepikan sepeda motor.
Di luar rutinitas (makan) yang tidak terduga itu… hmm Saya sudah punya jadwal khusus, memenuhi undangan promo makanan dari hotel, resto dan café, yang merupakan kewajiban saya untuk datang (dan makan !).

Tapi, di bulan Ramadhan saya benar-benar tobat. Iya benerr !
(Setidaknya sampai menjelang magrib, hehehe...)

Di meja kerja saya tidak adalagi klethikan. Di laci juga tidak ada snack momogi, ring, dan potato chips. Dalam tas kerja, juga nggak ada Sari Roti rasa Coklat.Peralatan perang, seperti mangkok, piring, sendok , garpu…

Makanan Pembangkit Gairah

Promo menu berbahan daging kambing membuat saya jadi blingsatan tak terkira …

Jauh-jauh hari, saya sudah woro-woro,
“ Sodara-sodara, kalau mau ngundang saya ngincipin menu baru, mending diajuin bulan Agustus aja. Ntar kalau puasa, saya mlungsungi.Jadi nggak bisa kemana-mana !”demikian permohonan saya, kepada pemilik resto di Surabaya.

Akhirnya, berbagai undangan tumpuk blekk di meja saya. Dan promosinya semuaaa sama, yaitu MENU KHAS TIMUR TENGAH. Haduh..haduh saya, sama si fotografer ini sama-sama puyengnya.

Kalau saya, sedikit sadar diri dengan badan yang mak bendudung, memuai ke samping, ke depan dan ke belakang. Tapi, kalau si Anton, karena tiap hari sudah disuguhi makanan khas Arab, jadi rada blengerrr.

Saya pun dimanjakan dengan menu khas arabic, hidangan pembuka, ada chickpeas soup. Menggunakan kacang khas arab, sup ini sangat pas disantap diawal buka. Bumbu rempah di dalamnya mampu membuat tubuh terasa hangat ketika menyantapnya.

Masuk kehidangan utama, saya disuguhi nasi kebuli, …

Racikan Maut Sang Jago Makan

Eh ..ternyata Saya Menang dalam Mixology Competition.

Acara journalist Competition, digelar setiap tahun menyambut HUT RI, oleh Surabaya Plaza Hotel (SPH), merupakan ajang yang selalu dinanti oleh para jurnalis. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun ini digelar "Journalist Gathering berupa Mixology Competition"

saya nggak punya persiapan apa-apa.Arti Mixology aja, saya baru tahu, pas ketemu si Upi.“Itu lo, Nda. Nyampur-nyampur minuman !” jelasnya. Detailnya, saya malah baru tahu pas menjelang acara.“ Mixology, adalah meracik minuman berbahan dasar jus atau mocktail,” jelas Feby –Business Communications SPH.

Sebenarnya, sudah TIGA KALI ikut lomba cooking competition dan EMPAT KALI KALAH. lho..!

Tahun 2006, lomba Masak Nasi Goreng,saya kalah. Soalnya, saya nggak berani main bumbu. Jadi rasanya nanggung banget. Tahun 2007, Lomba Masak Mie, saya kalah telak. Padahal ini makanan kesukaan saya. Mie saya garing. Jurinya langsung melepeh ketiba nyobain. Asin banget kata…

Sate Kalap

Saya lagi ketiban undangan untuk menikmati 63 macam sate di JW Marriott.

Wah, penasaran pastinya. Tapi, sayangnya fotografer saya, si Anton, lagi sakit. Waduh, ini berarti saya harus moto sendiri. Yang jelas saya nggak pede, maklum kamera pocket saya meski digital tapi keluaran lawas.

Si Zainal, temen dari detiksurabaya.com,sudah lirak-lirik ke arah tangan saya yang umek sama kamera.
“Oalaaaa..mbak, kamera jaman opo iki ?” kata si Zainal

Wahhhhh….asli pengen nyambit Zainal sama gelas. Tapi, pertanyaannya serius, wajahnya juga nggak ada ekspresi menghina. Dengan bijak saya menjawab,

“Eh, jangan menghina ya… dijamannya, ini kamera paling canggih lho !”
Setelah saya jawab, si Zainal ini langsung buru-buru menyerahkan kamera itu ke saya.
“Ini mbak, aku takut kena kutukan !” katanya sambil ngibrit, takut saya sumpahin.

Karena nggak Pede melihat peralatan foto mereka yang canggih, akhirnya saya dengan sabar menunggu mereka selesai jeprat-jepret. Giliran saya maju, sudah diprotes.“Ndol, jauh-jau…

Lontong Cap Gomeh

foto : bimbim Dulu, kalau saya sakit panas. Biasanya embah saya bilang, "Wis masakno lontong cap gomeh, iwak'e pitik Jowo. Lak'an waras !"
Saya nggak ngerti, apa hubungannya panas tubuh saya,sama pitik Jowo. Tapi, tiap kali panas, saya selalu dibujuk dengan makanan istimewa. Saya nggak inget apa pengaruhnya... cuma kalau sakit memang saya maksimalkan untuk minta makanan yang enak-enak..ya mumpung diperhatiin. Hehehe..

Seperti minggu lalu,  saya hampir seminggu sakit. Harus bed rest total. Keinginan untuk makan aneh-aneh kumatt...My Sharuhkhan,sampai ikutan pusing nurutin kemauan saya. Malam hari, saya minta dibelikan bubur putihan alias sum-sum lalu disiram gula jawa.Hari kedua, saya keinget-inget pas makan kebab sama si Anton. Akhirnya, semalamam saya ngiler sambil mbayangin kebab-nya si baba.

Dan yang terakhir…ini yang sulit.Saya pengen Lontong Cap Gomeh bikinan almarhum Ibu saya. Ibu, sama eyang putri saya ini pinter bikin lontong cap gomeh, boleh diadu sama lontong …

25 Tahun Suara Surabaya

Eh, ada acara makan-makan, tempatnya nggak jauh. Di kantor saya. Hehehehe.......


Iya nih, Radio Suara Surabaya mau ulang tahun ke 25. Sudah tradisi kalau kantor saya bakal OPEN HOUSE, tepatnya tanggal 11 Juni 2008, ayooo..jangan lupa ke Wonokitri 40 C. Makan gratis sampai kenyang.

Seperti biasa, saya juga ketiban pulung di bagian konsumsi. Mau tau tugasnya, seperti tahun –tahun kemarin. Saya punya tugas mengawal tamu, khususnya klien dari divisi saya.

Yah, kalau menemani nggak sekedar ngobrol, pastilah ada klethikan, jajan, buah, roti sebagai teman ngobrolnya.

Bisa ditebak, dibanding tamunya, saya justru lebih banyak makannya. (Lha, jangan menyalahkan saya, kalau tiap tamu yang makan minta ditemenin. Yah, saya nggak bisa nolak)

Buat acara itu, saya sih, sudah mengintip daftar menu yang bakal tampil ..hiks..hiks.Tidak beda dengan tahun kemarin, bakal ada meja prasmanan dan gubuk yang menyediakan menu khusus khas Surabaya. Seperti ; Soto kikil, Lontong Balap, Nasi Goreng dan Mie Jawa…

FJB Angkat Pamor Pecel Semanggi

Inilah makanan khas Surabaya. Namun kini makin sulit dicari keberadaannya.

Penasaran ingin makan semanggi ?Harap bersabar, sebab makanan ini susah-susah gampang dicari. Di Surabaya, FJB 2008 yang digelar di Stadion Brawijaya pada hari Sabtu, 10 Mei 2008 lalu, mampu menghadirkan makanan khas yang makin langka ini.

Ubo-rampe, Semanggi Suroboyo terdiri dari dua macam sayuran yaitu,daun semanggi dan kecambah yang direbus,disajikan bersama campuran petis dan bumbunya yang khas yang merupakan perpaduan dari ketela rambat, kacang tanah dan gula merah, serta dilengkapi kerupuk puli.

foto: An.kusnanto

Rasanya? Jelas sedap, apalagi penjual semanggi dari RM Kartika, yang berpartisipasi di FJB tetap konsisten menyajikan dengan beralas daun pisang. Untuk menyantap, tak perlu sendok. Biasanya orang menyantapnya dengan kerupuk puli yang dijadikan sendok. Kerupuk puli adalah kerupuk yang terbuat dari tepung singkong.
Di FJB, satu porsi bersama kerupuknya Rp 8 ribu. Hmm… sedikit mahal, mungkin. Tapi, me…

“Daeng Muchtar” ; Duta Bango dari Makassar

Coto Makassar agak berbeda, tidak hanya soal rasa tapi juga cara menyantapnya. Rahasia ini terungkap di Festival Jajanan Bango di Surabaya.

Foto : An.Kusnanto

Sesuai dengan tema 80 Tahun Bango, Kualitas Sepanjang Masa. FJB kali ini akan menghadirkan 80 makanan tradisional khas dari kota setempat. Dan masih ditambah lagi partisipasi dari 8 Duta Bango dari luar kota. Para penjaja makanan yang akan tampil di FJB tahun ini mewakili kota Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Makassar, Bogor, Solo, dan Medan.

FJB kali ini mengundang secara khusus Coto Makassar Daeng Muchtar yang mewakili makanan khas Makassar untuk ikut berpartisipasi sebagai Duta Bango. Setelah jalan-jalan dan makan, saya mampir ke stand milik Daeng Muchtar, hanya singgah dan mengajak ngobrol beliau. Meski saya tidak membeli(gara-gara habis makan Rawon Setan), tapi Daeng tetap ramah meladeni segala keingin tahuan saya mengenai makanan khas angin mamiri ini. Dari obrolan ini, kalau saya dulu menemukan fakta menarik…