Tuesday, November 27, 2007

Ice Cream Bikin Ngiler

Ice Cream…Siapa yang nggak mau ?
Dulu waktu jamannya saya masih imut, saya paling ngefans dengan yang namanya es bagong. Disebut demikian karena di atas penutup es-nya aga gambar Bagong nungging. Wah, sehari nggak beli es rasanya kayak patah hati. Nggak bisa mikir apa-apa, yang terbayang hanya Mas Bagong seorang. Haiyah…..
Itu pas SD, waktu SMP saya punya langganan es, yang rela ditukar satu gelas dengan bekas botol parfum. Namanya, es galunggung ini paling pas dengan selera saya.
Gimana nggak, tidak sekedar es, karena di dalamnya ada tape ketan hitam, irisan kelapa muda, tape dicampur sama pasrahan es yang dikasih sirup merah. Rasanya ala mak jann….
Sekarang bertambah umur, bergeser pula seleranya. Kalau boleh milih, saya sekarang milih ice cream yang bermerek *sambil sendakep. Bukan bermaksud sombong. Tapi, penampilannya benar-benar menggoda dan testurnya juga lebih lembut.
Ada hiasan cherry merah, potongan cokelat, sama wafer batangan. Rasanya juga bervariasi tidak hanya tape ketan, ama tape putih hehehee… Tapi ada strawberry, vanilla, chocolate, chocolate mint, strawberry raisin, chocolate cookies, atau tutti fruti. Hmm.., semuanya nikmat. Rasanya enak dan dingin, semakin mantap terutama bila dinikmati saat matahari sedang terik bersinar. Benar-benar menggoda.
Jika berkunjung ke Surabaya, Anda bisa mampir ke toko es legendaris ZANGRANDI, aristektur bangunan dan interiornya masih tertata apik. Lokasinya dekat hotel Garden. Nah, diseberang toko es ini, tepat di pojok gedung DPRD Kota Surabaya sering dijadikan tempat kumpul para jurnalis di Surabaya. Duh, kangen banget sama mereka. Maklum, semenjak didapuk megang rubrik kuliner, jarang liputan, kalaupun liputan pasti makan-makan. *ngelusss weteng

Toko Es Krim - Surabaya

Zangrandi; Jl Yos Sudarso 15
Cocofrio; Jl Undaan Wetan 82. Jl Dharmawangsa 113 A
de Boliva; Jl. HR. Mohammad 360. Jl Raya Gubeng 36
Boncafe Steak & ice cream; Jl. Manyar Kertoarjo V/1-5. Jl. Raya Gubeng 46

Sunday, November 18, 2007

Its Manggo Time

Lagi musim mangga sepertinya …
Buah mangga tidak sekedar dimakan biasa, atau dijus. Pas saya diundang Surabaya Plaza Hotel, saya menemukan sajian serba mangga, mulai appetizer sampai dessert. Menu-menu bertema mangga ini disajikan dengan sangat istimewa dan unik. Ada Parfait Manggo, Mahi-mahi sambal Mangga, Panacota Mangga, Terrine Manggo, Mini Manggo Pie, dan Dome Manggo
Sebenarnya tidak ada bosannya, makan buah mangga. Karena jenisnya banyak sekali. Ada beberapa mangga yang sangat familiar dan menjadi favorit saya.

Mangga Gadung(an), ada yang tahu kenapa namanya Gadung ? Padahal ini bukan mangga jadi-jadian, kenapa ya disebut Gadungan ?
Kweni, waduh kalau makan ini saya selalu batuk. Karena serik di tenggorokan. Paling pas dibuat manisan. Lha kalau sudah dibuat manisan..saya baru doyaaaan.
Manalagi – Di depan rumah lagi berbuah lebat mangga ini. Mentahnya enak dibuat rujak, didulit ama garam plus lombok sudah kemeces di mulut. Namanya, dalam sekali…soalnya kalau makan satu kayaknya nggak cukup. Tapi.mau..mau lagi (lha kok kayak iklan momogi) ???

Kalijiwo/lalijiwo, ini mangga yang sering buat saya emosi. Rasanya manis , tapi bentuknya kecil sekali..nggak telaten ngupasnya. Biasanya embok saya telaten ngupasin buat saya, seperti namanya, kalau sudah makan ini seperti lalijiwo, alhasil....satu keresek besar bisa saya habisin sendiri .

Mangga Madu,
ini mangga manissss sekali bak madu. Sayangnya seratnya juga banyak. Embah saya punya cara sendiri menyantap mangga ini. Mangga ini pertama dibanting-banting dulu, atau dipukul ama ulek-ulek.. nggak terlalu keras, asalkan dibuat empuk dagingnya. Lalu di ujung mangga dibuat lubang kecil ..lalu dikenyut. Praktiss..nggak pakai ngupas.

Poh Lanang,
aduh nama Indonesianya saya lupa…yang jelas embok saya, sering nyebutnya Poh Lanang…waktu masih kecil, saya sih cuek aja soal namanya. Tapi ..sekarang kalau diamat-amati ternyata Poh Lanang, bentuknya emang kayak “itu” *ngikikk

Foto by : Tiara-Si Anak Magang

Monday, November 05, 2007

Bubur Manis Obelix



Mencari bubur manis di Surabaya orang pasti mengingat bubur Madura. Bubur ini mempunyai ciri khas, terdiri dari empat macam jenis, seperti ketan hitam, jenang grendul, sum-sum, mutiara lalu disiram larutan gula. Warna-warnanya menarik, diatur berlapis-lapis, di atasnya diberi santan serta gula merah beraroma pandan wangi.

Waktu masih imut-imut, saya masih sering menemui Mbok tukang bubur keliling. Buburnya diletakkan di dalam kendil kecil. Karena jenang grendulnya lengket, si Mbok bubur ini menggunakan sendok yang ujungnya dari karet ban sepeda.Wadoh...!! Bubur kemudian ditata di atas daun pisang, nggak perlu pakai sendok kalau menyantap. Cukup dari daun pisang yang ditekuk jadi dua. Karena bubur lembek, jadi gampang aja diserok dengan sendok daun lalu disantap..uhmmmm rasa manisnya mengugah selera.


Bubur sum-sum dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai syarat untuk mengadakan pesta atau syukuran. Bubur ini dimakan seusai acara, atau hajatan tersebut selesai.
Soal bubur sum-sum ini, dulu simbok saya pernah cerita, kalau saya pernah menjadi korban keganasan bubur.

Waktu saya kecil. Pas ada hajatan di rumah Eyang, di luar pengawasan simbok, iseng –iseng saya ngaduk-ngaduk bubur sum-sum di panci besar, tapi gagang erus-nya berat sekali digerakkan untuk mengaduk, saya pun nggak menyerah begitu saja.
Gara-gara keras kepala ini, saya malah nyemplung ke panci bubur. Dan gemparlah seluruh penghuni rumah. Satu hal, yang saya ingat waktu itu. Kalau simbok saya menyayangkan anaknya yang cantik *jgn protes kecemplung bubur.Eyang saya malah menangisi isi panci yang berisi bubur yang sudah berantakan ke mana-mana ..
*hu .hu..please dong Mbah..!!!.

Mungkin kejadian ini menjadi jawaban, kenapa badan saya kelewat montok *mencari pembenaran 
Yah, jika Si OBELIX, badannya gede gara-gara pas bayi kecemplung jamu buatan Dukun PANAROMIX, terus jadi jagoan. Kalau saya, gara-gara kecemplung bubur sum-sum inilah, badan saya subur dan makmur, lemak melimpah dan kendor dimana-mana*hu tragiss sekaliii !!!