Tuesday, October 23, 2007

Pedas Panas dari Tuban

Ah...pekerjaan saya yang saya cintai ini, ternyata mengundang banyak para blogger ingin turut merasakan bagaimana berwisata kuliner dengan si Jago Makan. :)

Benar-benar tidak menyangka, jika banyak blogger yang tertarik ikutan liputan eh..tepatnya ikutan makan. Nah, kebetulan ada undangan food festival di Tuban. Saya ingat mahluk langsing ini yang pernah beberapa kali merajuk “Ajak aku po’o. Kalau liputan” Iseng-iseng saya telepon, dan ngajak ke Tuban bersama fotografer ini. Awalnya, sok sibuk gitu, akhirnya si Fahmi..nguk-angguk ikutan.


Cuaca panas, tapi agak terobati dengan melihat pemandangan pantai di sepanjang jalan. Ada dua komoditas unggulan utama Tuban, yaitu siwalan dan hasil laut tangkapan nelayan. Sebelum ke sini, saya sudah sudah mendapat indormasi kalau masakan Tuban ini mempunyai ciri khas pedas.

Dan kelezatan masakan Tuban sudah kesohor sejak dahulu. Ada cerita tentang mendaratnya bala tentara Cina pada jaman Majapahit yang disertai para koki atau juru masaknya. Juru masak tersebut ada yang berada di Tuban dan menulari ilmu masaknya kepada penduduk sekitar. Hingga akhir hayatnya sang koki ini tinggal di Tuban dan memperingati jasa dan kepandaiannya, oleh masyarakat sekitar dibangun kelenteng berpintu hias, berbentuk kepiting.


Hidangan laut, tentu yang paling mudah ditemui di Tuban. Pesisir pantainya membawa, aneka segar yang siap memanjakan lidah Anda. Ada cumi masak aneka jamur dan kare kepiting juga menjadi menu khas kota ini Ada dua jenis yaitu Rajungan dan Kepiting. Untuk rajungan paling enak dimasak becek, kalau kepiting biasanya dibuat kare


Secara umum masakan khas Tuban terasa sangat spesifik kaya rasa yang dihasilkan dari aneka bumbu, dipadu dengan rasa pedas panas, yang merupakan kombinasi dari cabai rawit dan lada, menggambarkan jiwa yang menggelegar dari masyarakatnya. Pantas Adipati Ronggolawe hingga para tokoh yang terkenal sebagai individu yang tangguh, keras dan menunjukkan kemampuan berperang yang menakjubkan, berasal dari Tuban. Mungkinkah ini disebabkan oleh makanan yang pedas, panas itu ? Atau jangan-jangan karena minuman tuak yang segar merangsang itu. Wah…Grrhhhhh………

Tuesday, October 09, 2007

Café at House of Sampoerna

Jujur, saya sering bingung kalau ditanya, "kalau ke Surabaya paling enak ke mana ?

Yah, kalau yang nanya Cah Solo, Bojonegoro, Ponorogo atau Semarang.
Paling banter saya ajak ke Tunjungan Plasa. Beres..Dijamin sudah gummun alias termehe-mehe.
Lha, kalau yang nanya orang Jakarte, Bandung ama Jogya. Wah.. masak mau saya ajak ke Mall. Bisa diketawain saya.

Nah, akhirnya saya punya satu tempat favorit, kalau ada narasumber atau saudara ngajak jalan-jalan.
Saya ajak saja ke Café at House of Sampoerna. Kenapa saya milih
tempat ini.?
Kafé ini berbeda dengan resto atau kafe di Surabaya, karena meiliki konsep a dash of history – a splash of beauty. Jadi menggabungkan sejarah dan keindahan. Di lokasi ini ada museum, kafé, galeri seni dan kios cinderamata.

Soal mau makan di café ini, terserah saja. Harganya sih nggak mahal-mahal amat.
Kalau ditanya berapa? Saya jelas nggak bisa bilang. Lh
a saya kalau ke sana pas liputan. Jadi mumpung diundang, saya benar-benar melakukan investigasi terhadap menu –menu spesial.(Tttsahhhhh..asoy ).
Tujuannya, agar tulisan saya nanti kelihatan soul- nya (ciee..bahasanya kemelipen).
Di sini, aneka hidangan selera Barat dan Asia dipersiapkan khusus untuk memuaskan selera pengunjung.

Sesuai dengan konsep the east-west fusion, hidangan yang disajikan merupakan perpaduan citarasa barat dan timur. Menu andalannya; Singaporean Laksa, Rice Paper Rolls khas Vietnam, Beef Black Pepper, daging sapi dengan lada hitam yang dimasak a la Szechuan, ada juga Chicken Teriyaki Jepang. Tersedia pula menu tradisional yang tidak kalah nikmat, seperti Sop Buntut Goreng, Rawon dan Tahu Campur.
Setelah puas mengekslpoitasi maincourse, saya masuk ke desserts ( ini yang paling wuasikkkk), Saya mendapat kehormatan mencicipi Black Forest Builder. Aneh ya, namanya. Menu ini unik, karena kita dipersilahkan menghias Black Forest sendiri. Semua bahan disiapkan secara terpisah, tinggal menghias Sponge Cake dengan simple sirop, cokelat, selai anggur dan krim.
Sangat kreatif, apalagi saya bisa ngasih cokelat sampai meluberrr..huehueuee !!

Oh iya, Ice drink yang ditawarkan oleh café Sampoerna juga tak kalah menarik, ada Hawaian Fruity campuran buah pisang, arbei, madu dan susu yang diblender lembut. Rasanya bikin segar buger kinyis-kinyis.

Café at House of Sampoerna. Taman Sampoerna 6
Surabaya 60163. Telp. +62 31 353-9000
Foto : Anton (thx)
NB : Buat Cah Solo, Bojonegoro, Ponorogo atau Semarang. Ojo nesuuuuu….