Tuesday, June 19, 2007

Godaan Sate Kelopo

Sesuai janji, saya datang pagi-pagi. Ya, harus datang pukul enam pagi. Tetep semangat sih, masalahnya saya janjian mo ketemu bakul sate kelopo yang paling ngetop di Surabaya. Di mana lagi kalau bukan Sate Kelopo Ondomohen. Lokasinya berada di pinggir jalan Walikota Mustajab, sebagian besar masyarakat Surabaya menyebut jalan Ondomohen. Bu Asih, rupanya sudah menanti-nantikan kedatangan saya. “Lho, mbak ini khan yang sering makan di sini ?,” kata Bu Asih. Ketika saya berniat mau wawancara. Wah, kaget juga ternyata dia tau pelanggan setianya..hehehe. “Iya Bu, tapi sekarang disuruh kantor buat liputan,” jawab saya.
Saya pun ngobrol, ditengah kepungan asap (maklum disambi ngipas), kadang-kadang mata saya melirik nakal, ke arah panggangan sate yang sedang membakar. Ada sate usus, sum-sum dan daging, atau daging campur gajih.

Tugas kali ini, benar-benar berat buat saya, bangun pagi, belon sarapan sudah digoda bakaran sate kelopo
.
Nggak konsentrasi, karena sesekali ngelek idu, dan menahan nafas, gara-gara aromanya merangsang banget.

Sate kelapa atau kelopo, memang berbeda dengan sate jenis lainnya, karena potongan daging sapi itu, ditaburi parutan kelapa baru dibakar. Inilah yang membuat aroma harum dan rasanya gurih.

Selesai ngobrol, akhirnya saya memesan satu porsi, lima sate daging plus gajih, dan lima, sate sum-sum. Sate kelopo ini, dicampur irisan bawang merah dan bumbu kacang lalu nasinya disiram poya, atau kelapa sangrai yang dtumbuk halus. Pas dimakan, wah anjen enak tenan, dagingnya empuk, rasanya gurih, berpadu dengan bumbu kacang. Duh, rasanya perjuangan bangun pagi, dan ngga sempet mandi ini tuntas sudah.

Nah, Bu Asri ini juga menolak, ketika saya mau membayar. “Wah, kali ini gratis mbak!” katanya. Saya sudah memaksa, ngga enak dilihat orang, Wong lemu mangan’e akeh, kok gratisan…" itu mungkin batin pembeli laen. Tapi tetep dia ngga mau nerima uang saya, padahal saya khan mo pesen lagi, buat di foto taking di kantor sama si mas ini, dan saya pun dibungkus,….eh maksutnya saya dibungkusin sate, buat di foto sama mamuk di kantor. Foto : MATANESIA.COM

Tuesday, June 12, 2007

Saya Pemuja Mi

Duh, kayaknya nggak saya saja yang memuja menu yang satu ini. Paling nggak, dua hari sekali, saya pasti makan mi, apakah itu mi ayam Bambu- Tunjungan, mi pangsit kluntung yang lewat rumah, mi ayam murmer (murah meriah cuma dua ribu ), atau kalau beruntung spesial mi yang tergolong mewah, di Chinesse resto karena diundang buat liputan..he..he. (Thx ya.. Pak Jun).

Rebus atau goreng, mi memang selalu menggoda untuk disantap. Ada pula mi yang digoreng kering lalu disiram kuah kental. Ada beberapa menu olahan mie yang sempet saya cicipin ..ah..:
Mi goreng Hongkong spesial , mi goreng dengan ayam, bakwan, hiwan, kekian, sosis, udang dan (ssttt…kalau pesanan khusus, ditambah potongan babi manis- ini kode dari pelayannya)
Mi amoy, yaitu mi dengan daging ayam dan tahu halus.
Mi hot pot tahu Jepang yaitu mi dengan cumi, udang, ayam, daging sapi, jamur hitam, wortel dan tahu Jepang.
Mi sarang burung, bahannya mi kering, yang digoreng menyerupai sarang burung digunakan sebagai alasnya. Kemudian di tengah diberi sayuran wortel, sawi putih dan beberapa telur puyuh yang kemudian disiram kuah kental. Rasa gurih dari mi dan siraman kuah kental dengan sayuran paling pas disantap selagi hangat. Hmm…kerasa harum uapnya menyapu wajah.

Taburan atas mi bisa beragam. Ayam, jamur, dan pangsit goreng. mi ini didampingi semangkuk kecil kuah bertaburkan irisan daun bawang. Terkadang, kuah bisa bisa ditambah bakso atau pangsit basah. Di menunya, pasti tertulis, mi pangsit dan mie bakso. Kalau saya sih, pasti pesan dua-duanya, “Mi pakai pangsit ayam, sekaligus bakso !”

Btw, urusan perut kadang susah-susah gampang. Sudah diisi mi, tapi tetap merasa kurang sreg jika belum makan nasi. Dan, saya tergolong model orang seperti ini. (Hueheheehe..kelewat jujur kayaknya).
Foto oleh : Ismuntoro

Tuesday, June 05, 2007

Lumpia Vietnam Bau Langu

Aroma daun ketumbar akan tercium begitu dekat dengan lumpia khas Vietnam. Bentuknya cantik, karena kulit lumpianya tidak digoreng. Lumpia basah yang disebut banh cuon.
Ssstt…..denger-denger, ini appetizer yang paling populer.
Setelah saya utak-atik, bolak-balik, dan mengendusnya. Ternyata isinya adalah, udang, ayam dan jamur panggang, dirajang halus kemudian ditambah daun ketumbar segar, digulung dalam kulit lumpia (rice paper). Rice paper disebut banh trang Dihidangkan dengan fish souce, yang diberi irisan cabe atau populer dengan saus nuoc cham, atau nuoc mam. Di dalam lumpia ditambahkan daun ketumbar dan daun basil, ini yang membuat beda.



Masakan Vietnam cenderung manis dan tidak terlalu pedas, beda dengan taste masakan Thailand yang cenderung asam dan pedas.

Jenis masakan populer Vietnam lainnya, banh xeo (sejenis crepes), hu tieu seafood, com-soung nuong, bo dudu (selada pepaya muda, dengan daging sapi panggang), tom rim, cha gio (sup ikan asam segar), (lumpia goreng), can chua cabun bo(daging bakar dan bihun saus asam), dan tentu saja berbagai jenis pho. Pho adalah jenis mi kuah yang sangat popular di Vietnam, kuahnya bening dan segar.

Soal lumpia vietnam. Bau langu daun ketumbar sangat menyengat, membuat Anton tukang foto saya membatalkan makan, giliran saya…wah nggak ada efeknya tuh, alias makan jalan terus….huehuee namanya juga profesional, jadi apa saja doyan...hehehee..

Foto : Anton (berondong) Kusnanto