Sunday, April 29, 2007

Ote-Ote Porong Nasibmu Kini

Rasanya gurih, trus tiramnya mak kletusss di lidah

Lumpur Lapindo membawa dampak buruk di segala sektor, terutama tempat makan yang berlokasi di jalan Raya Porong. Kalau dulu saya bercerita Klepon Gempol, sekarang tentang nasib ote-ote Porong. Lokasi tokonya sangat strategis karena berada di depan pasar Porong. Nama ote-ote Porong sudah terkenal sejak lama, usaha yang dirintis mulai tahun 1969 sudah memiliki cabang di mana-mana.
Biar di Surabaya, juga ada ote-ote sejenis, tapi paling afdol beli langsung ke Porong. Ote-otenya masih hangat (baru digoreng kalau ada yang pesan), citarasa-nya juga tidak berubah. Gurih, trus tiramnya mak kletusss, di lidah berpadu dengan cincangan daging ayam.
Ketika dibelah dua wuahh..aromanya sedap sekali. Belive it…sejak saya SD sampai bangkotan, rasanya ngga berubah tetep enak. Tapi, yang berubah adalah harganya wueheee..he, dulu makan berapa pun dibayarin ortu sekar
ang bayar dewe..mana harganya lumayan…Yach, satu bijinya sekitar 7 ribu rupiah.
Maklum saja ukurann
ya jumbo. Isinya juga berbeda karena menggunakan tiram, rumput laut, daging ayam atau babi. But, don’t worry, masing-masing ditempatin di wadah yang berbeda. Selain berjualan ote-ote, toko ini juga menawarkan aneka kudapan lain seperti, bakwan, hi wan, bakwan goreng, yen bie, sio mai, dan kiekian.
Ote-ote Porong yang besarnya seman
gkok ini paling enak selagi hangat. Ote-ote ini emang oke buat camilan, tapi biar ukuran Jumbo jago makan kalau makan, pasti tambah nasi plus Kecap Bango. Wuenakkk…

Di Surabaya, ada 3 jenis ote-ote : Pertama, ote-ote
Porong yang isi Tiram. Kedua, ote-ote pasar yang isi tauge, wortel dan di atasnya dikasih udang. Ote-ote ketiga, yaitu sebutan buat orang yang ngga pake baju alias mudo ! Hayooo..pilin mana ?


Monday, April 23, 2007

Bikang Peneleh ke Amerika

Jika berkesempatan main ke Surabaya, singgah juga ke jalan Peneleh. Daerah ini terkenal dengan kue bikang. Datanglah pagi-pagi maka Anda bisa melihat langsung cara pembuatannya, dengan sumba warna warni bikang terlihat menarik, aromanya sangat harum.

Panggangan bikang ini dipajang di depan pintu masuk, jadi begitu masuk langsung tercium bau harum.Seni membuat bikang ternyata pada saat "menjuntik" alias mengangkat dari panggangan.Inilah kunci bikang terlihat merekah bak bunga mekar. Menurut Yuwono Halim, pemilik toko kue Kartiko, membuat bikang tidak bisa ditinggal-tinggal atau disambi dengan pekerjaan lain, karena salah-salah bisa gosong, tidak hanya itu saja, jika kurang piawai mengangkat bikang dari panggangan maka bentuk bikang menjadi tidak karuan-karuan sehingga tidak merekah.

Masih di jalan Peneleh, ada satu toko yang merupakan pelopor bikang di daerah ini, tepatnya di jalan Peneleh 32-34 yaitu Lie Bie Kwan. Awalnya hanya berjualan di pinggir jalan, itu pun hanya menyediakan meja kecil untuk memajang barang dagangan. Kue andalan saat itu adalah bikang dan lapis. Sekarang ada sekitar 30 jenis kue yang dijual di toko ini tapi bikang tetap paling dicari pembeli.

Nah...sedikit membuka rahasia, gurihnya bikang terletak pada santan. Diambil dari kelapa tua, santan kental inilah yang digunakan. Inilah yang membuat rasa bikangnya terasa gurih. Harganya Rp 2 ribu per buah, dengan dua tawaran rasa yaitu cokelat dan pandan. Kue bikang asal Peneleh ini juga sudah melancong hingga ke Hongkong dan Amerika. Aiiih…saya aja b’lon ke sana mau dong jadi bikang hihihi…

Monday, April 09, 2007

Dawet Jabung (Jodoh ditangan Lepek)

Dawet satu ini, cukup sensasional. Bukan saja rasanya, tapi juga cerita menarik dibaliknya. Namanya, Dawet Jabung, lokasinya, di Desa Jabung arah ke Pondok Gontor, Ponorogo. Di perempatan jalan ini akan ditemui banyak penjual dawet Jabung.
Selain dawet, di meja akan terhidang berbagai aneka goreng-gorengan, seperti tetel, pisang, tahu, tempe, trimbil, dan pia-pia.
Penjualnya kebanyakan perempuan muda dan berparas ayu.
Ditemani dua orang berondong, Adam (co-driver) dan Anton (my fotographer), kita wira-wiri dulu nggak langsung masuk warung. “Nyari penjual yang puaaalinnnggg ayu,” alasan si Anton.

Penjual yang berparas ayu ini akan menyodorkan mangkok di atas lepek. Nah, dari cara mengambil mangkok ini, bisa dilihat apakah orang tersebut warga Ponorogo atau pendatang luar kota.
Bagi pembeli luar kota, lepek (piring kecil ) yang di bawahnya jangan diambil sebab menurut cerita, jika ada pembeli laki-laki yang mengambil lepek, dan si penjual membiarkannya berarti sang penjual bersedia “Menikah” dengan laki-laki tersebut, sebaliknya jika laki-laki tersebut sengaja mengambil lepek berarti ia “Naksir” terhadap penjualnya.

Entah kebetulan atau tidak, seorang pembeli dari luar kota, tanpa sengaja mengambil mangkok bersama lepeknya. “Mas, mangkoknya saja yang diambil,” ingat si penjual. Ketika ditanya alasannya, si Mbak hanya menyahut “Lepeknya buat tutup gula, nanti diserbu lalat,” tolaknya haluss. Ssttt…saya kasak-kusuk sama si Anton, “Mbak’nya jelas nolak, wong sudah tuwirr,” bisik saya.

Di saat lain, Adam temen saya iseng mencoba mengambil lepeknya, lalu si embak malah berjuang mati-matian menarik lepek. “Wakaka…itu artinya kamu ditolak tahu he..he..he,” komentar saya. Jelas ajalah ditolak ama si embak tuh si Adam modelnya, ngga jelas apalagi rambutnya petal..he..he ..sorry yo dam !

Faktanya : Penjual dawet jabung memang ayuuuuu ! tapi menurut Mbah Sumini pelopor dawet jabung, tidak ada critanya penjual dawet digondol sama pembeli cuman gara-gara lepeknya diambil..!huahaaa..jadi cuman gosip gitu lho!

Foto : by Anton Kusnanto

Monday, April 02, 2007

Segernya Siwalan Paciran

Di jalur utama jalan Raya Dendeles, ayo.. minggir sebentar,
Ada Es dawet Siwalan dan Jenang Jumbreg


Jika melalui kawasan Paciran, di tepi jalur utama pantura atau jalan Raya Dendeles akan dijumpai teduhnya pohon-pohon siwalan di sepanjang perjalanan, tidak ada ruginya jika menyempatkan diri beristirahat di warung penjual dawet siwalan, yang ada di sepanjang jalan ini.

Warung beratap daun siwalan ini, menyediakan aneka hidangan ringan dari buah siwalan. Menurut penjualnya, semua produk dari buah siwalan dipetik langsung dari pohon siwalan yang tumbuh subur di sepanjang jalan raya Paciran.

Saya berkesempatan mencoba es dawet siwalan. Bahannya dari buah siwalan segar yang dipotong kotak-kotak. Untuk sirupnya, berasal dari air siwalan yang dimasak. Rasa manis yang dihasilkan tidak terlalu manis tapi cukup legit.
Justru di sinilah letak sensasi rasanya. Buah siwalan yang manis, gurihnya santan kelapa berpadu dengan gula siwalan yang legit. Hmm… segar sekali, apalagi diminum saat matahari sedang teriknya.
Saking segarnya, saya habis tiga gelas…..glek..glek..suegerrrr..

Makanan khas dari daerah Paciran yang disebut dengan jumbreg, mirip sepert
i jenang, jumbreg dibuat dari bahan tepung beras dan santan. Bentuknya eksotik seperti kerucut dililit dengan daun lontar muda. Citarasanya legit dan harganya sangat murah hanya seribu rupiah. Dan tak terasa (lagi)…saya habis tiga jenang jumbreg..hi..hi!!

Usai, menyantap hidangan ringan-ringan ini, saya mencoba menu yang berat ke satu restoran. Menu yang jadi andalan daerah ini, yaitu cumi-cumi bakar dan kare rajungan. Makan rajungan memang ribet…tapi sepandanlah dengan rasanya yang nikmat
…ah..sedep poll.
Foto by Anton kusnanto