Tuesday, February 27, 2007

Lontong Racing

Ada lagunya lho, semanggi Suroboyo lontong balap Wonokromo ….
(Tapi, sekarang di Wonokromo sudah nggak ada lontong balap, sudah jadi Darmo Trade Center)

Ke Surabaya rasanya kurang “Ngeh” gitu kalau nggak sampai mencoba lontong balap. Makanan ini sederhana sekali. Hanya, tauge, tahu goreng, lentho dan siraman bumbu petis yang sedep banget. Sebagai pelengkapnya ada sate kerang. Ukuran kerang tergolong imut –imut, jadi kalau order sama si penjual sudah diikatin 10 tusuk.
Di mana ada lontong balap, di situ pula ada orang jual es degan. Yah, jaga-jaga kalau tidak terbiasa dengan petis, es degan ini bisa jadi penawarnya.

Lalu kenapa namanya lontong balap ? Dulu, banyak penjual lontong balap keliling, nah mereka kalau dorong gerobak kayak orang tergesa-gesa, jadi mirip seperti orang lagi balapan.

Penjual lontong balap yang terkenal, di depan bekas bioskop Garuda di jalan Kranggang. Namanya Pak Gendut (believe or not, orangnya kurus banget lho ). Sampai malam hari juga masih rame jualannya. Dan yang nggak kalah ramai, yaitu lontong balap di jalan Indrapura, jalan Rajawali dan di jalan Raya Gubeng (samping bank BNI).

Ada juga di jalan Veteran deket kantor pos Kebon Rojo. Eh di sini ada kenangannya, dulu sempet demen ama anak SMU sekitar situ, nungguin si –dia , sambil makan lontong balap. Habis di ongkos sih ! soalnya nungguinnya ngabisin satu piring ama 15 tusuk sate, eh ketemunya nggak sampai 2 menit. Itupun cuma bilang “Heii..baru pulang ya ?” Ilang deh duit 5 ribu…
hehehe.

Sunday, February 25, 2007

Akhir Sebuah Donat

Tahu nggak nasibnya donat yang sudah tidak laku ...?


Saya tergolong pemuja berat roti yang bolong di tengah ini. Nggak itu donat pasar yang cuman limaratus perak atau donat gaya Amrik yang harganya nyaris enam ribu sebijinya ! Tapi donat yang disiram cokelat cair, atau isian bluberry selalu menjadi pilihan saya …teteupppp !

Ah, lupakan sejenak. Kali ini saya dapat tugas untuk interview dengan pemilik toko donat. Ada JCO donut, Dunkin Donuts, Twins Donut, Primadona Donat, dan tiga gerai lokal donat lain.Yang justru menarik dari liputan donat ini, justru bagaimana mereka “menghabisi” donat yang sudah nggak laku.
Sekedar berbagi cerita, daya tahan donat tidak lama, meski tetap layak dimakan, tapi tekstur rotinya sudah tidak empuk lagi. Setiap gerai mempunyai kebijakan tersendiri, semua tergantung juga dengan kualitas bahan yang dipakai, semakin berkualitas daya tahannya juga tidak lama. Yah, karena itu tadi, kalau fresh from oven dan sudah nginep sehari, pasti beda rasanya. (Jadi nggak heran kalau donat ecek-ecek di pasar makin lama, makin keras, makin siang, makin murah harganya he..he..he).
Ssstt...
kini, saya akan membagi rahasia tentang bagaimana nasib donat yang tersisa.



Nah, di JCO cukup tegas, dengan perhitungan yang rigit dari bahan yang dipakai dan melihat barang yang dijual dapat dikalkulasi berapa donat sisa penjualan. Bahkan donat yang rusak (sedikit peyang gitu), diletakkan tersendiri dan tidak boleh diambil. Pas melongok dapurnya di Pakuwon Trade Center iseng-iseng saya pernah bertanya.

“Khan sayang tuh dibuang, misalnya ada yang mo ngambil boleh nggak ?”
“Nggak boleh mbak, kita benar-benar menjaga mutu ! Barang yang rusak tidak boleh sampai keluar apalagi kalau dijual lagi !” Si manager ini bahkan menuturkan tentang nasib karyawannya yang nekat ngambil lima biji langsung dipecat.
“Lalu bagaimana dengan nasib donat yang tidak laku ini ?"
“Kita setor di kantor pusat, dihitung lalu kita musnahkan ?"
“Bagaimana ?”
“Langung direndam dengan air!” (Mimpes kayak bubur)

Nah, kalau di Dunkin Donuts lain lagi. Sisa donat yang tidak laku ini dipotong –potong kecil lalu dijadikan pakan ternak. Kalau tidak salah, pakan ayam dan pakan ikan lele. (Wuahh…mau dong jadi ikan lele-nya- hiks).
Masih ada cara lain lho. Ada toko yang melelang donat pada dinihari, tepatnya jam 2 pagi ! Donat ini dijual dengan potongan 70 persen. Meski dilelangnya di depan toko tapi toko ini tidak mau menyediakan kota dus atau kresek yang ada label tokonya. Hanya ditempatkan di tenong lalu pembeli yang kebanyakan embok-embok itu memilih dengan sesuka hati. Donat yang berwarna-warni meriah itu lalu diletakkan dalam kotak isi satuan. Nah, paginya walllahhh….siap deh ditemui di pasar Tradisonal.

Saya pernah nggak sengaja menghabisi nyawa donat. Pas pulang liputan, ownernya bawain dua kotak donat. Di tengah jalan hujan deras, dan kebetulan pas bawa sepeda motor. Donatnya kena air hujan, eh terhadang banjir lagi, akhirnya pas di kantor donatnya dah kayak bubur tape…yah apesss'e !.

Wednesday, February 21, 2007

Crab attack

Sebelum dijadikan kepiting sauce lada hitam saya masih sempat bermain dengan capitnya.

Undangan kali ini, sulit untuk ditolak. Selain pertemanan yang sangat baik dengan PR hotel ini, Chef-nya telah mempersiapkan aneka Kepiting seperti Kepiting “Gembos”, Kepiting Telur dan Kepiting Kembang yang disajikan dengan Saus Kari a la Thailand, Saus a la Singapura dan Saus Merica Hitam.

Saturday, February 17, 2007

Berburu Boranan di Kota Amrozi

Menyebut kota ini yang terbersit dipikiran pasti Tahu Campur, Soto Ayam, Pecel Lele dan Mas Amrozi !.


Jadwal liputan luar kota sudah diketok. Ke Lamongan !. Hore… akhirnya hunting lagi ke luar kota. Memasuki pintu gerbang Lamongan ternyata papan nama “Selamat Datang di Kota Tahu Campur” sudah tidak ada. Gantinya “Selamat Datang di Kota Soto Lamongan”. Kenapa diganti ya ? Apa sudah tidak pede menyandang kota Tahu Campur ? Rekan saya malah nyeletuk gini, “kok nanggung banget. Mestinya ganti kota teroris aja !” Hehe... no comment.

Iseng-iseng mampir ke Disparta Lamongan, dan akhirnya dapat petunjuk lokasi penjual makanan khas daerah ini. Sayangnya, tempat yang direkomen rata-rata sudah permanen dan megah. Padahal pengennya kita nyari yang tradisional, warung, lesehan tapi punya sajian unik dan enak. Soal tempat yang nggak higienis bisa ditolerir-lah (hehe..!!) . Nah, ada satu menu yang bikin saya penasaran yaitu nasi Boranan. Pesan seorang teman. “Biasanya jualnya pagi-pagi banget atau malam-malam banget !” Dia nggak ngasih jaminan kalau bok-bok penjual nasi Boranan ada siang hari. Akhirnya kami berburu Boranan.

Dan ketemu juga, walau hanya ada empat penjual tapi tak apalah bisa membayar rasa penasaran terhadap menu ini. Ah …Nasi Boranan itu ternyata mirip nasi campur. Yang bikin dahsyat itu sambel ledhoknya yang pudesss-nya minta ampun. “Yah.. namanya juga sambel mbak, ya pedes toh !” komentarnya enteng ngeliat aku gabres-gabres kepedasan.. Dengan tambahan lauk otak-otak
band
eng, telor asin dan minta tambah peyek. Harga sepincuknya hanya tiga ribu. Nikmat sekali, makan beralas tikar dan minum dua gelas es sinom.
Wah, saya mau dimasukkin tipi ya mbak ?” ujarnya ketika difoto Anton.
Kulo niki bolak –balik di syuting tipi, trus dilebet’aken majalah,” katanya bangga. “Seminggu niki enten tiyang sekawan yang wawancara lho.” “Wah ngetop juga dia. Mungkin karena giginya ompong itu yang membuat orang tertarik!" batinku. Perburuan menu berlanjut dengan menikmati soto lamongan, tahu campur, lontong kikil. Dalam waktu kurang satu jam beragam makanan masuk ke perut ini. (Well…kadang kita
tidak pernah menduga
betapa besarnya kapasitas perut ini).

Nggak sengaja ngeliat toko yang jualan wingko. Wingkonya di display penuh di lemari kaca full. Wah ngiler juga ngeliatnya. Pas ngobrol, sama penjualnya malah diajak masuk ke dapur. Di dapurnya malah bisa leluasa ngeliat langsung proses pembuatannya. Dan mencicipi langsung dari cetakan. Lumayan-lah bisa ngincipin tiga wingko hangat. Yemm…yemm.
Coming up next --Liputan ke Tuban, Gresik, Bojonegoro (yang ini pleaseeee ya Bos !)

Friday, February 09, 2007

Sticky Rice Fish – The Symbol of Prosperity

Sticky Rice Fish

Menyambut Imlek, banjir undangan makan nih. Ada sup bibir ikan, abalon, osyter, dan kue tetel China alias Nian Gao. Kebayang nggak …??


Buka organizer, undangan makan di bulan Februari full booked !! Maklumlah hotel, resto dan café sedang gencar-gencarnya promo untuk Imlek dan Valentine. Undangan makan kebanyakan dari resto Chinese (Tang Palace, Shang Palace, Lung Yuan, Sarkies --- Thx so much ) tapi ada juga resto Jepang dan Prancis. (Sempet ngincipin kerang dengan bawang putih, saus anggur putih dan krim dengan pasta Pedas, Udang panggang dengan saus bawang putih dengan butter dan salad Aragula dengan minyak Zaitun dan Sari Jeruk..hikss..hikss ).

Setelah dimanjakan dengan aneka dim Sum yang unik dan sensasional seperti Kong Shi Chan Pao, Dumpling ala Szechuan, Goreng Udang Segar dalam balutan Manga, Lo Me Fun Fit dengan Kerang Pasifik dan banyak lagi. Nah, ada satu sajian menarik yang harus ada. Namanya Nian Gao, atau kue keranjang merupakan penganan yang terbuat dari beras ketan dan gula.
Nian Gao
Bukan sekedar jajanan, makanan kayak tetel ada maknanya lho, ini sebagai perlambang untuk memperat hubungan antar keluarga diwakili dengan beras ketan (yang lengkettt gitu lho), dan disajikan dalam makan malam bersama saat malam tahun baru Imlek. Sedangkan dalam bentuk Ikan sebagai perlambang rejeki yang berlimpah. Tahun Babi : Simbol ketulusan, kemurnian, toleransi dan kehormatan …… Katanya sihhh..!!! GONG XI FAT CHOY – HAPPY CHINESE NEW YEAR!

Sunday, February 04, 2007

Mabox Cokelat


Ssstt... menyantapnya harus pelan-pelan, karena begitu menyentuh isi bagian tengahnya rasanya langsung ‘nyess’ di mulut.

Bukan ngesok ngerayain valentine day’s, bukan juga sok romantis kalo membahas cokelat di bulan Februari ini. Hanya saja, jadi ingat kejadian dua tahun lalu ketika liputan cokelat.


Namanya chocolate pralines, Praline cantik ini beragam isi dan rasa, hadir dalam berbagai bentuk yang indah. Cokelat mungil ini umumnya berisi mint, jelly, strawberry, almond, butter nut atau dryfruit.
Nggak betah ngeliat cokelat praline yang imut-imut, dan kebetulan narasumbernya maksa bawain oleh-oleh empat kotak, akhirnya sampai di rumah aku sikat deh…and the problem is… sekali menyantap selalu ingin terus, dan tambah karena di setiap gigitan menghadirkan sensasi tersendiri di lidah.
Ndak tahunya... eitts atau persisnya pura-pura ngak tahu, cokelat praline ini mengandung liquir (isiannya dari minuman beralkohol). Di antaranya, XO cognac, bacardi, rum, kahlua, whiskey, lemon liquor, hazelnut caramel, cherry brandy, kirsch liquor, irish coffee, grape wine, mint liquor.
Setengah jam setelah makan dua kotak (isi 24 biji) kepalaku puyeng gara-gara mabuk cokelat... dan terkapar dengan sukses !!.