Tuesday, January 30, 2007

Kangen Daun


Oalaa… kangen kok ya sama daun. Hehe...

Sekedar mengingat romantisme masa kecil.

Andok, nungguin bok Madura ngulek rujak cingur, nyegat mbah penjual semanggi, yang cuman lewat hari Minggu siang.
Menangis bombay minta dibeliin lupis dan cenil.
Asyiknya, rebutan putu dan klepon menjelang mahgrib.
Duh, kangennya ! Yang dikangenin lebih-lebih itu lho, daun pisang yang dibuat alasnya.
Nyari makanannya nggak sulit, tapi yang sulit itu nyari penjual yang masih menggunakan alas daun pisang. Sekarang, beli rujak cingur, alasnya kertas bungkus warna cokelat. Itu bagian dalam-nya. Setelah itu didobel kertas koran.
Beli semanggi di pujasera,
duh pakai stereofoam. Ekstrimnya lagi, pas beli bubur sum-sum di pasar, bok penjualnya sudah pakai plastik. Pas minta pake daun, eh … malah malah disobekin daun pisang dikitt, trus dilipat jadi dua. “Mbak’e, daunnya dibuat sendok ae… !” Grrrhhh….Muangkelno ati…jan…!.

Monday, January 22, 2007

Di Balik Paha Kambing

Kali ini jagomakan ketiban sampur jadi asisten fotografer. Capek ? Iyalah..
Eh ..tapi seneng juga sih. Soalnya ada budget buat makan enak di luar…he..he

Ini sebenarnya behind the scene, critanya kita lagi pemotretan model untuk edisi Imlek. Mengambil lokasi di Kelenteng Hong Tie Yan di jalan Dukuh. Kelenteng ini termasuk tertua di Surabaya. Bersama Sherly si model, si jagomakan kebagian tugas menjadi asistennya Muks’s si fotografer. Jagomakan jadi asisten fotografer ? Kedengerannya pekerjaan keren ya ? Mau tau tugasnya :
Tukang bawa tripod ama backdrop, bawain kostum model yang jumlahnya empat biji, tukang ngapusin keringet di wajah model, nyisir rambut, jagain properti model (tas, hp, dompet ), tukang ngusir orang-orang sekitar (takut masuk frame) he..he kayak Hansip khan, tapi aku nggak bawa pentungan.

Cuaca yang terik tiba-tiba tertutup awan mendung, akhirnya kita pindah lokasi ke indoor. Bukan kasihan modelnya kehujanan, tapi sayang kamera-nya kalau kena air (hi..hi..)

Nah, the best part dari sesi pemotretan. Apalagi kalau bukan acara makan –makan bareng model. Karena lokasinya deket Ampel alias Kampung Arab, tiba-tiba aku jadi pengen nasi kebuli. Eittt…, tunggu dulu, Sherly kira-kira keberatan nggak, soalnya dia ngaku nggak pernah makan nasi kebuli. “Tapi aku suka makan daging kambing kok,” katanya. Udahlah, akhirnya diputuskan makan di resto Jumbo di daerah Ampel.

Penampilan Sherly yang tinggi, putih dan wajah yang oriental menarik perhatian orang-orang yang kebetulan makan. Sedangkan penampilan jagomakan yang ginuk-ginuk membuat orang berguman.”Wah… itu pasti bodyguardnya !” (nasibku..nasibku).
Seperti biasa, soal Pemilihan menu, Muk’s pasrah bongko’an sama si jagomakan. Wis terserah, poko’e enak !” Akhirnya pilihan menu jatuh ke : Paha Kambing Bakar, Paha Kambing Oven, Sop Marak, Roti Mariam, dan Nasi Kebuli. Pas pesenan dateng, langsung aja mo disamber “Sek…to di foto dulu,” kata Muk’s. Pemotretan berlangsung cepat, maklum sudah gelap mata mo makan.
Tu..wa ..ga…sikatttttttt !!!!

Dan apa yang terjadi sodara-sodara :

Ini pertama kalinya, aku makan daging porsinya buanyak” kata Muk’s
(Bukan karena nggak kuat beli daging, masalahnya si Muk’s ini memang nggak terlalu doyan makan daging. Nggak heran badannya cengkring)

Gila neh, daging kambingnya empuk banget. Kaya makan bebek,” kata Sherly yang ngabisin sendiri satu paha kambing. (Well..sodara-sodara, biar si Sherly punya badan tinggi dan body singset, soal makan ternyata lebih banyak dari si jagomakan).

Nambah boleh nggak… ?” kataku
(Wakakaka… tahu nggak responnya si Muk’s. Langsung nendang kaki –ku, sambil bisikin “Boleh, tapi kalau kurang bayarnya kamu tambain!” Wek’s...ilang deh nafsu nambah-nya.

Acara makan kali ini bener-bener istimewa, selain ada sesi rebutan paha kambing, awalnya pada malu mo ngambil, eh akhirnya malu-maluin maklum-lah tinggal sepotong. Akhirnya menghormati si tamu, dengan berat hati jagomakan melepas paha kambing itu ke tangan Sherly.

Akhir dari sesi behind the scene. Muk’s dan Sherly ngaku sedikit puyeng gara-gara kebanyakan makan kambing. Meski kekenyangan dan susah berdiri, tapi si jagomakan masih sempetin ngabisin satu bungkus kacang oven. “Habis nggak tega neh liat jajan nganggur…yeahhhh.”


Monday, January 15, 2007

Ya Rujak....Ya Soto

Upss…lama nggak posting, yah maklumlah lagi dikerjar deadline. Masih ada hutang empat tulisan soal cafĂ© dan resto baru, tiga liputan kuliner dan satu majalah golf ( ini panjang critanya…) Well, menginjak tahun babi kok kerjaan makin gemuk aja. Udah..ah ini ada rujak soto...

Bagi orang Surabaya rujak cingur tentu bukan makanan asing di lidah. Makanan ini sepertinya sudah menjadi identik dengan kota pahlawan ini. Demikian juga dengan soto, sangat mudah ditemukan. Rujak cingur memang enak, soto babat juga tidak kalah nikmat. Lalu bagaimana jika kedua hidangan ini menjadi satu ? Jadilah rujak soto, makanan khas kota paling timur Pulau Jawa, Banyuwangi.


Di negeri Blambangan, rujak soto kebanyakan dijual di warung-warung. Warung yang terletak di depan Stadion Diponegoro di bilangan Jaksa Agung Suprapto Banyuwangi adalah salah satu yang terkenal. Rujak soto merupakan paduan rujak cingur dan soto babat, tapi rujaknya berbeda dengan rujak cingur Surabaya. Selain tidak memakai cingur perbedaan lain terletak dari petis yang digunakan. Petisnya terasa keset dan lebih nikmat dibandingkan petis biasa. Untuk sotonya, mirip soto Madura tapi hanya menggunakan daging babat saja. Saat disajikan, rujak soto tak jauh ubahnya seperti rujak yang disiram soto. Ditambah taburan kerupuk mlinjo dan kerupuk udang menjadi makanan ini makin gurih. Hmm….

Soal kombinasi makanan menjadi satu, rujak soto bukan satu-satunya, karena masih ada hidangan campur-campur khas Banyuwangi lainnya yaitu : Pecel Rawon, Pecel Kare, dan Rujak Bakso (ngga kebayang deh bakso maem ama petis ). Ayo..ayo sempatkanlah mencicipi hidangan two in one ala Banyuwangi ini.

Foto : An Kusnanto
Penjual Rujak Soto di Sini Tempatnya :
Warung Mbok Ida
Jl. Jaksa Agung Suprapto (depan Stadion Diponegoro) Banyuwangi
Depot Prima Putra, Jl. KH Agus Salim Banyuwangi
Warung Mbok Mus, Jl. Musi Banyuwangi
Warung Mbok Yayah, Jl. Musi Banyuwangi
Depot Prima Rasa, Jl. KH Asyari Banyuwangi

Wednesday, January 03, 2007

Klepon Gempol Tergusur Lumpur

Semenjak kasus melubernya lumpur Lapindo, para pedagang klepon mulai gigit jari.

Dulu, saat tol Surabaya – Malang begitu lancarnya. Begitu keluar dari pintu tol Gempol, tampak berderet bedak-bedak penjual jajanan. Ada kerupuk pasir, tape dan aneka makanan lainnya. Di beberapa bedak juga terdapat papan yang tertulis, di sini sedia klepon, cenil, jongkong dan lupis. Kawasan Gempol kemudian lebih dikenal sebagai pusat klepon.

Klepon Gempol bentuknya lonjong seperti buah jambu berwarna hijau muda, bentuknya yang unik menggoda orang untuk mencicipi. Di sini para pembeli bisa menyaksikan proses pembuatan, sambil menunggu pesanan kleponnya matang.

Waktunya juga tidak lama hanya lima menit saja sebab penjual biasanya klepon sudah dibentuk dan tinggal memasukkan kedalam air mendidih. Paling enak memang selagi hangat, tapi harus hati-hati sebab gulanya kalau sudah pecah di mulut, Wah panasnya bukan main.

Klepon gempol rasanya pun juga berbeda. Karena manisnya seperti madu. Rahasianya, kalau klepon biasa, umumnya diisi irisan gula merah, maka klepon gempol diisi campuran gula merah dan gula pasir yang sudah dicairkan terlebih dahulu.
Warna hijaunya juga berbeda, terlihat lebih muda, sebab menggunakan air perasan daun pandan.


Melihat sekilas cukup mudah membuat klepon, adonannya dibuat dengan mengaduk tepung ketan, dengan air daun pandan sedikit demi sedikit. Setelah diuleni adonan dibulatkan sebesar kelereng. Lalu, diisi cairan gula. Setelah itu dimasukkan dalam panci berisi air mendidih. Tunggu sampai klepon mengapung, lalu digulingkan dalam parutan kelapa.

Sekarang, lebih dari 7 bulan, penjual klepon meratapi seretnya rejeki. Yah, semenjak bobolnya tanggul dan melubernya lumpur. Para pengendara memilih mencari jalan alternatif. Dan legitnya klepon gempol mulai hilang terbenam dalam lumpur.