Friday, December 28, 2007

Kaliandra, Aku Akan Kembali


Di sini saya diberi ramuan untuk melangsingkan tubuh. Berhasilkah …

Undangan Pers Gathering dari hotel Somerset Surabaya, kali ini betul-betul istimewa. Para jurnalis Surabaya diajak outbond ke Kaliandra. Sebelum berangkat, semua diharuskan mengenakan T-Shirt dari hotel Somerset. Waduh saya sudah mati-matian menolak. Maklum saja, saya khan Big…Big... Girls in The Big..Big World. Tapi pihak panitia, tetap memaksa. Apa boleh buat, saya pun mengenakan kaos yang membuat saya mirip “lontong meledak” Duarrrrr……!!!! Grhhh……

Berkunjung ke Kaliandra, akan disajikan minuman dari tanaman organik yang baik untuk kesehatan.Seperti Semanggi Gunung, Rosela, Mint, Pecut Kuda, Rosemary dan Sereh dijadikan minuman herbal. Untuk yang langsung dikonsumsi, cukup diseduh langsung dengan air hangat. Agar bertambah nikmat, ditambahkan perasaan jeruk nipis dan sedikit madu.


Beragam
tumbuhan segar yang diseduh air panas ini, rasanya memang hambar.
Tapi, khasiatnya sangat besar.

Semanggi Gunung dicampur perasan jeruk nipis manjur untuk Peredam Panas.
Menurunkan Kadar Gula ; Tiga kuntum rosela segar
dise
duh air panas. Daun mint segar bermanfaat untuk sakit tenggorokkan dan bibir pecah. Buat yang mempunyai masalah dengan saluran kencing seduh saja daun Pecut Kuda.

“Yang memiliki berat badan berlebih, bisa mengkonsumi racikan semanggi gunung dan perasan jeruk nipis,” saran Mas Budi dari Kaliandra.
Mengetahui kalau berkhasiat melangsingkan tubuh. Saat itu juga saya minum hingga tiga gelas
Ternyata Mas Budi malah bilang “ Kalau minumnya gitu, malah hilang khasiatnya!” Ha….!!!! Dan pecahlah tawa dari seluruh peserta tentang kebodohan yang saya lakukan. Dan yang paling saya ingat dua mahluk Vivi dan Upi yang tertawa-nya paling keras. Apalagi pas, efek sampingnya mulai bekerja. Ketika saya harus bolak-balik ke kamar mandi. Aduhh..
Tak menyangka, jika liputan di Kaliandra ini adalah liputan terakhir saya bersama Bimbim. Kris Nur alias Bimbim alias Gentong 2. Inilah fotografer, yang menjadi pasangan saya hampir 3 bulan ini. .Kemana-mana, kalau kami berdua liputan selalu jadi bahan canda teman-teman. Maklum, kami berdua sama-sama “kelas berat”. Kalau hunting naik motor, bos saya ini selalu komentar “Ibarat truk pertamina berserta tangkinya !” hhihihi…coba bayangin !

Oh ya, foto di Kaliandra ini karya : Bimbim

(dia nggak jadi patner saya lagi, karena mau balik ke dunia fashion pergentongan, ngakunya)

Ke depan, saya pasti butuh patner buat foto dan hunting makanan. Ada yang berminat ????

Thursday, December 13, 2007

Di Sini Ada (Rawon) Setan

Jaman sekarang, setan malah dicari-cari orang. Apalagi pas lapar …

Makanan yang satu ini cukup sensasional, setiap orang dari luar kota, artis, pejabat selalu menyebut Rawon Setan sebagai salah satu makanan yang harus dinikmati saat berkunjung ke Surabaya. Bahkan karena penasaran ada teman saya bertanya, “apa bener, ada setan yang jualan rawon ?Aiih…niat bener setan masak, bathin saya.

Sejarah rawon Embong Malang sudah ada sejak 1953. Dirintis pertama kali oleh Musiyah. Mulai berjualan pukul dua sampai pagi hari. Pembelinya, saat itu adalah pekerja dan pengunjung kafe dan bar-bar yang banyak bertebaran di daerah itu. Mbak Endang, salah satu penerusnya bercerita, karena langganan rawon neneknya kebanyakan pekerja malam, bahkan sempat dijuluki "Rawon Hostes".

Rawon Setan yang ada di Embong Malang, dulu dikelola oleh dua orang, yaitu Bu Mulyadi (Bu Sup) dan Mbak Endang. Musyiah, adalah nenek dari Mbak Endang, dan Bu Mul adalah mantunya. Sejak dua tahun lalu, keduanya sudah tidak akur lagi, dan memutuskan membuka sendiri.Mereka jelas-jelas perang terbuka, di setiap spanduk, terpasang foto wajah mereka ( gaya 3X4, khas foto KTP), sebagai trade mark-nya.


Jika dua tahun lalu, Anda bertanya “ di mana sih rawon setan ?” pasti semua menjawab di depan hotel JW Marriott di jalan Embong Malang. Tapi, kalau sekarang, agak susah menjawabnya, karena rawon setan sudah membuka cabang di mana-mana dan hampir semua mengklaim sebagai "SETANNYA RAWON"

Waktu masih akur, rawon setan tersohor karena, potongan dagingnya besar-besar. Aromanya gurih kaya rempah dan taburan bawang goreng. Kuahnya…sedep bener, kentel nggak pelit ngasih kluwek. Rasanya makin marem, ditambah sambal, kerupuk udang dan taburan tauge pendek. Kurang puas dengan lauk daging, biasanya saya nambah, "telur asin, tempe mendhol, bergedel kentang, gorengan paru, babat, dan usus."

Lalu “setan” yang mana yang direkomendasikan ? Hhmm… agak sulit menurut saya, karena masing-masing setan punya pemuja sendiri-sendiri. Atau, Anda coba sendiri, untuk memutuskan memuja aliran “nikmat” berikut ?


Rawon Embong Malang (Mbahnya Setan)
Jl Embong Malang (depan JW Marriott)

Rawon Bu Sup (Mantunya Setan)
Jl Jemursari 138
Jl KutisariUtara 42
Jl Kedungdoro 22 b
G-Walk CitaRaya

Rawon Mbak Endang (Cucunya Setan)
Jl Simpang Dukuh (Depan Kompleks Andika Plaza)
Jl HR Mohammad
Jl Genteng Kali
Bandara Internasional Juanda

Monday, December 03, 2007

Racikan Seorang Sahabat

Sebuah permintaan ;
Nda, please sempetin ke restoku ya,” pintanya.
“Siap Ndre, diatur jadwalnya deh, aku ngikut aja,” jawabku.

Minggu pertama di bulan Oktober, Andre sudah mewanti-wanti, agar saya meluangkan waktu di hari Sabtu untuk datang ke restonya. Sayangnya, kali ini saya mengecewakannya. Sebuah tugas liputan kuliner harus saya selesaikan. Saya minta maaf.
Pagi-pagi…
Sebuah note, tertempel di atas layar monitor.
“Sabtu minggu depan, please… !”

Aduh, saya merasa bersalah sekali. “Ndree, sorry yaaaaaa !” teriak saya. Teman saya, yang duduknya hanya dibatasi pilar tembok ini tersenyum…”Beres, Nda !”

Ya, ini tentang teman sekantor saya, yang sangat luar biasa. Di kantor boleh jadi iya seorang marketing. Tapi diam-diam, dia juga merintis usaha yang sangat luar biasa. Memiliki resto steak di tiga tempat pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Wow ..!!
“Pokoknya, kamu harus mencicipi dulu menu baru restoku. Kalau kamu bilang enak, aku baru berani jual!” alasan Andre, ketika saya bertanya kenapa saya harus segera datang. Wah, saya benar-benar tersanjung.
Sabtu yang dijanjikan. Saya pun datang. Membawa fotografer saya, yang sama-sama kelas berat. ( Teman saya ini menjuluki kami berdua gentong 1 dan gentong 2 ). Tujuannya, ke Zigana steak. Restoran ini terletak di posisi yang strategis karena membuka tiga gerai di Food Hall Sogo, Golden City Mall dan BG Junction.
Kali ini saya benar-benar surprise sekali lihat penampilan Andre, jika di kantor saya hanya melihat sosoknya yang sibuk menemui klien dan berkutat komputer. Tapi sekarang, dia menggulung lengan kemejanya, pakai celemek. Jemarinya ternyata gemulai meracik aneka saus dan bumbu.

Dia memotong sayur, memanggang daging, menuang saus, menggoreng french fries dan membuat mass potato semua dikerjakan sendiri. Tiga orang pegawainya, hanya menyiapkan piring, dan sayuran untuk garnish. Menunggu sedikit lama memang, kata Andre, biar bumbunya meresap dan sesuai pesanan saya.
Sambil menunggu pesanan matang, Andre menyajikan Kurma Mocktail, dan Fajitas. Lumayan..habis dua untuk ganjel perut. (sebenarnya mau tiga, tapi keburu diembat sama si gentong 2)
Akhirnya, Sirloin Steak, Tenderloin Steak dan Grill Red Snaper, terhidang di hadapan mata.
Saya tak sabar untuk menikmati, dan Andre tak sabar menunggu kometar saya. (Sengaja saya makan pelan-pelan sambil merem –melek. Sorry Ndre!)
Tenderloin Steak rasanya luar biasa. Dipanggangnya pas, tidak terlalu matang tapi juga tidak terlalu mentah. Empuk saat diiris dan dikunyah, apalagi dicocol dengan saus khas Zigana. Sausnya enak sekali, karena saya bolak-balik minta tambah sausnya, akhirnya Andre malah bawain satu botol saus. Enak sih. :)
Untuk minuman, Andre merekomendasikan Avocado Coffe. Paduan alpokat dan kopi ini luar biasa, karena kafein yang ada di kopi dinetralisir jus alpokat. Saya angkat jempol buat Avocado Coffe-nya. Untuk harga, tak perlu khawatir, untuk Zigana Package From The Grill hanya Rp 30 ribu, sudah dapat menikmati Salmon, Sirloin dan BBQ Chiken. Cukup ringan dikantong, khan ?

Oh iya, per tanggal 1 November Andre sudah tidak lagi satu kantor dengan saya. Dia memutuskan untuk total mengelola bisnisnya. Good luck ya Ndre ! Saya bakal sering –sering menyambangi resto-mu. Hehehehe…

Foto by : BimBim

Tuesday, November 27, 2007

Ice Cream Bikin Ngiler

Ice Cream…Siapa yang nggak mau ?
Dulu waktu jamannya saya masih imut, saya paling ngefans dengan yang namanya es bagong. Disebut demikian karena di atas penutup es-nya aga gambar Bagong nungging. Wah, sehari nggak beli es rasanya kayak patah hati. Nggak bisa mikir apa-apa, yang terbayang hanya Mas Bagong seorang. Haiyah…..
Itu pas SD, waktu SMP saya punya langganan es, yang rela ditukar satu gelas dengan bekas botol parfum. Namanya, es galunggung ini paling pas dengan selera saya.
Gimana nggak, tidak sekedar es, karena di dalamnya ada tape ketan hitam, irisan kelapa muda, tape dicampur sama pasrahan es yang dikasih sirup merah. Rasanya ala mak jann….
Sekarang bertambah umur, bergeser pula seleranya. Kalau boleh milih, saya sekarang milih ice cream yang bermerek *sambil sendakep. Bukan bermaksud sombong. Tapi, penampilannya benar-benar menggoda dan testurnya juga lebih lembut.
Ada hiasan cherry merah, potongan cokelat, sama wafer batangan. Rasanya juga bervariasi tidak hanya tape ketan, ama tape putih hehehee… Tapi ada strawberry, vanilla, chocolate, chocolate mint, strawberry raisin, chocolate cookies, atau tutti fruti. Hmm.., semuanya nikmat. Rasanya enak dan dingin, semakin mantap terutama bila dinikmati saat matahari sedang terik bersinar. Benar-benar menggoda.
Jika berkunjung ke Surabaya, Anda bisa mampir ke toko es legendaris ZANGRANDI, aristektur bangunan dan interiornya masih tertata apik. Lokasinya dekat hotel Garden. Nah, diseberang toko es ini, tepat di pojok gedung DPRD Kota Surabaya sering dijadikan tempat kumpul para jurnalis di Surabaya. Duh, kangen banget sama mereka. Maklum, semenjak didapuk megang rubrik kuliner, jarang liputan, kalaupun liputan pasti makan-makan. *ngelusss weteng

Toko Es Krim - Surabaya

Zangrandi; Jl Yos Sudarso 15
Cocofrio; Jl Undaan Wetan 82. Jl Dharmawangsa 113 A
de Boliva; Jl. HR. Mohammad 360. Jl Raya Gubeng 36
Boncafe Steak & ice cream; Jl. Manyar Kertoarjo V/1-5. Jl. Raya Gubeng 46

Sunday, November 18, 2007

Its Manggo Time

Lagi musim mangga sepertinya …
Buah mangga tidak sekedar dimakan biasa, atau dijus. Pas saya diundang Surabaya Plaza Hotel, saya menemukan sajian serba mangga, mulai appetizer sampai dessert. Menu-menu bertema mangga ini disajikan dengan sangat istimewa dan unik. Ada Parfait Manggo, Mahi-mahi sambal Mangga, Panacota Mangga, Terrine Manggo, Mini Manggo Pie, dan Dome Manggo
Sebenarnya tidak ada bosannya, makan buah mangga. Karena jenisnya banyak sekali. Ada beberapa mangga yang sangat familiar dan menjadi favorit saya.

Mangga Gadung(an), ada yang tahu kenapa namanya Gadung ? Padahal ini bukan mangga jadi-jadian, kenapa ya disebut Gadungan ?
Kweni, waduh kalau makan ini saya selalu batuk. Karena serik di tenggorokan. Paling pas dibuat manisan. Lha kalau sudah dibuat manisan..saya baru doyaaaan.
Manalagi – Di depan rumah lagi berbuah lebat mangga ini. Mentahnya enak dibuat rujak, didulit ama garam plus lombok sudah kemeces di mulut. Namanya, dalam sekali…soalnya kalau makan satu kayaknya nggak cukup. Tapi.mau..mau lagi (lha kok kayak iklan momogi) ???

Kalijiwo/lalijiwo, ini mangga yang sering buat saya emosi. Rasanya manis , tapi bentuknya kecil sekali..nggak telaten ngupasnya. Biasanya embok saya telaten ngupasin buat saya, seperti namanya, kalau sudah makan ini seperti lalijiwo, alhasil....satu keresek besar bisa saya habisin sendiri .

Mangga Madu,
ini mangga manissss sekali bak madu. Sayangnya seratnya juga banyak. Embah saya punya cara sendiri menyantap mangga ini. Mangga ini pertama dibanting-banting dulu, atau dipukul ama ulek-ulek.. nggak terlalu keras, asalkan dibuat empuk dagingnya. Lalu di ujung mangga dibuat lubang kecil ..lalu dikenyut. Praktiss..nggak pakai ngupas.

Poh Lanang,
aduh nama Indonesianya saya lupa…yang jelas embok saya, sering nyebutnya Poh Lanang…waktu masih kecil, saya sih cuek aja soal namanya. Tapi ..sekarang kalau diamat-amati ternyata Poh Lanang, bentuknya emang kayak “itu” *ngikikk

Foto by : Tiara-Si Anak Magang

Monday, November 05, 2007

Bubur Manis Obelix



Mencari bubur manis di Surabaya orang pasti mengingat bubur Madura. Bubur ini mempunyai ciri khas, terdiri dari empat macam jenis, seperti ketan hitam, jenang grendul, sum-sum, mutiara lalu disiram larutan gula. Warna-warnanya menarik, diatur berlapis-lapis, di atasnya diberi santan serta gula merah beraroma pandan wangi.

Waktu masih imut-imut, saya masih sering menemui Mbok tukang bubur keliling. Buburnya diletakkan di dalam kendil kecil. Karena jenang grendulnya lengket, si Mbok bubur ini menggunakan sendok yang ujungnya dari karet ban sepeda.Wadoh...!! Bubur kemudian ditata di atas daun pisang, nggak perlu pakai sendok kalau menyantap. Cukup dari daun pisang yang ditekuk jadi dua. Karena bubur lembek, jadi gampang aja diserok dengan sendok daun lalu disantap..uhmmmm rasa manisnya mengugah selera.


Bubur sum-sum dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai syarat untuk mengadakan pesta atau syukuran. Bubur ini dimakan seusai acara, atau hajatan tersebut selesai.
Soal bubur sum-sum ini, dulu simbok saya pernah cerita, kalau saya pernah menjadi korban keganasan bubur.

Waktu saya kecil. Pas ada hajatan di rumah Eyang, di luar pengawasan simbok, iseng –iseng saya ngaduk-ngaduk bubur sum-sum di panci besar, tapi gagang erus-nya berat sekali digerakkan untuk mengaduk, saya pun nggak menyerah begitu saja.
Gara-gara keras kepala ini, saya malah nyemplung ke panci bubur. Dan gemparlah seluruh penghuni rumah. Satu hal, yang saya ingat waktu itu. Kalau simbok saya menyayangkan anaknya yang cantik *jgn protes kecemplung bubur.Eyang saya malah menangisi isi panci yang berisi bubur yang sudah berantakan ke mana-mana ..
*hu .hu..please dong Mbah..!!!.

Mungkin kejadian ini menjadi jawaban, kenapa badan saya kelewat montok *mencari pembenaran 
Yah, jika Si OBELIX, badannya gede gara-gara pas bayi kecemplung jamu buatan Dukun PANAROMIX, terus jadi jagoan. Kalau saya, gara-gara kecemplung bubur sum-sum inilah, badan saya subur dan makmur, lemak melimpah dan kendor dimana-mana*hu tragiss sekaliii !!!

Tuesday, October 23, 2007

Pedas Panas dari Tuban

Ah...pekerjaan saya yang saya cintai ini, ternyata mengundang banyak para blogger ingin turut merasakan bagaimana berwisata kuliner dengan si Jago Makan. :)

Benar-benar tidak menyangka, jika banyak blogger yang tertarik ikutan liputan eh..tepatnya ikutan makan. Nah, kebetulan ada undangan food festival di Tuban. Saya ingat mahluk langsing ini yang pernah beberapa kali merajuk “Ajak aku po’o. Kalau liputan” Iseng-iseng saya telepon, dan ngajak ke Tuban bersama fotografer ini. Awalnya, sok sibuk gitu, akhirnya si Fahmi..nguk-angguk ikutan.


Cuaca panas, tapi agak terobati dengan melihat pemandangan pantai di sepanjang jalan. Ada dua komoditas unggulan utama Tuban, yaitu siwalan dan hasil laut tangkapan nelayan. Sebelum ke sini, saya sudah sudah mendapat indormasi kalau masakan Tuban ini mempunyai ciri khas pedas.

Dan kelezatan masakan Tuban sudah kesohor sejak dahulu. Ada cerita tentang mendaratnya bala tentara Cina pada jaman Majapahit yang disertai para koki atau juru masaknya. Juru masak tersebut ada yang berada di Tuban dan menulari ilmu masaknya kepada penduduk sekitar. Hingga akhir hayatnya sang koki ini tinggal di Tuban dan memperingati jasa dan kepandaiannya, oleh masyarakat sekitar dibangun kelenteng berpintu hias, berbentuk kepiting.


Hidangan laut, tentu yang paling mudah ditemui di Tuban. Pesisir pantainya membawa, aneka segar yang siap memanjakan lidah Anda. Ada cumi masak aneka jamur dan kare kepiting juga menjadi menu khas kota ini Ada dua jenis yaitu Rajungan dan Kepiting. Untuk rajungan paling enak dimasak becek, kalau kepiting biasanya dibuat kare


Secara umum masakan khas Tuban terasa sangat spesifik kaya rasa yang dihasilkan dari aneka bumbu, dipadu dengan rasa pedas panas, yang merupakan kombinasi dari cabai rawit dan lada, menggambarkan jiwa yang menggelegar dari masyarakatnya. Pantas Adipati Ronggolawe hingga para tokoh yang terkenal sebagai individu yang tangguh, keras dan menunjukkan kemampuan berperang yang menakjubkan, berasal dari Tuban. Mungkinkah ini disebabkan oleh makanan yang pedas, panas itu ? Atau jangan-jangan karena minuman tuak yang segar merangsang itu. Wah…Grrhhhhh………

Tuesday, October 09, 2007

Café at House of Sampoerna

Jujur, saya sering bingung kalau ditanya, "kalau ke Surabaya paling enak ke mana ?

Yah, kalau yang nanya Cah Solo, Bojonegoro, Ponorogo atau Semarang.
Paling banter saya ajak ke Tunjungan Plasa. Beres..Dijamin sudah gummun alias termehe-mehe.
Lha, kalau yang nanya orang Jakarte, Bandung ama Jogya. Wah.. masak mau saya ajak ke Mall. Bisa diketawain saya.

Nah, akhirnya saya punya satu tempat favorit, kalau ada narasumber atau saudara ngajak jalan-jalan.
Saya ajak saja ke Café at House of Sampoerna. Kenapa saya milih
tempat ini.?
Kafé ini berbeda dengan resto atau kafe di Surabaya, karena meiliki konsep a dash of history – a splash of beauty. Jadi menggabungkan sejarah dan keindahan. Di lokasi ini ada museum, kafé, galeri seni dan kios cinderamata.

Soal mau makan di café ini, terserah saja. Harganya sih nggak mahal-mahal amat.
Kalau ditanya berapa? Saya jelas nggak bisa bilang. Lh
a saya kalau ke sana pas liputan. Jadi mumpung diundang, saya benar-benar melakukan investigasi terhadap menu –menu spesial.(Tttsahhhhh..asoy ).
Tujuannya, agar tulisan saya nanti kelihatan soul- nya (ciee..bahasanya kemelipen).
Di sini, aneka hidangan selera Barat dan Asia dipersiapkan khusus untuk memuaskan selera pengunjung.

Sesuai dengan konsep the east-west fusion, hidangan yang disajikan merupakan perpaduan citarasa barat dan timur. Menu andalannya; Singaporean Laksa, Rice Paper Rolls khas Vietnam, Beef Black Pepper, daging sapi dengan lada hitam yang dimasak a la Szechuan, ada juga Chicken Teriyaki Jepang. Tersedia pula menu tradisional yang tidak kalah nikmat, seperti Sop Buntut Goreng, Rawon dan Tahu Campur.
Setelah puas mengekslpoitasi maincourse, saya masuk ke desserts ( ini yang paling wuasikkkk), Saya mendapat kehormatan mencicipi Black Forest Builder. Aneh ya, namanya. Menu ini unik, karena kita dipersilahkan menghias Black Forest sendiri. Semua bahan disiapkan secara terpisah, tinggal menghias Sponge Cake dengan simple sirop, cokelat, selai anggur dan krim.
Sangat kreatif, apalagi saya bisa ngasih cokelat sampai meluberrr..huehueuee !!

Oh iya, Ice drink yang ditawarkan oleh café Sampoerna juga tak kalah menarik, ada Hawaian Fruity campuran buah pisang, arbei, madu dan susu yang diblender lembut. Rasanya bikin segar buger kinyis-kinyis.

Café at House of Sampoerna. Taman Sampoerna 6
Surabaya 60163. Telp. +62 31 353-9000
Foto : Anton (thx)
NB : Buat Cah Solo, Bojonegoro, Ponorogo atau Semarang. Ojo nesuuuuu….


Friday, September 21, 2007

Kupang Lontong

Foto : Anton
Sebelum Puasa, saya dapat tugas dari Bos, liputan bandeng asap di Sidoarjo. Selesai liputan dan icip-icip. Pas pulang, saya mengajak Mas fotografer ini untuk mampir ke bursa kupang di pinggir jalan raya Waru-Sidoarjo. Sayangnya si Anton ini lagi puasa Senin- Kemis. Ajakan saya untuk mokel pun ditolak padahal saya bilang bakal mbayarin makan plus kerupuknya. Lagian, masih pukul 3, yang menurut ukuran saya lumayan lama nunggu buko-nya. Tapi Anton, meyakinkan saya bahwa dia tidak bakal kepengen liat saya makan. Oke deh sebagai gantinya, saya paksa dia motoin kupang yang bakal saya makan. :)

Duh, nggak tau yah. Saya kok sukaaaaaa sekali makan kupang . Makanan khas pantai yang terdiri dari lontong dan kuah bercampur kupang sejenis tiram atau kerang kecil, merupakan makanan khas Sidoarjo. Kupang adalah sejenis kerang laut yang direbus dan dihidangkan dengan lontong. Kupang yang digunakan adalah kupang putih, atau dikenal sebagai kupang beras. Petis digerus dengan bawang goreng, diberi sedikit perasaan jeruk. Diulek dengan sendok agar mencampur rata, kemudian disiram dengan kaldu rebusan kupang dan petis. Wueeehhhnak polll !!!!

Bagi orang yang memiliki alergi atau tidak tawar makan kupang bisa saja muntah-muntah dan murus. Bahkan ada teman saya, setiap makan kupang selalu murus alias sakit perut. Tapi Meski banyak yang bilang jorok-lah, jijay-lah, bikin mules perut-lah. Tapi saya tidak gentar tuh…
Kutukan itu nggak berlaku buat saya. Bukannya sakti, atau perut saya sudah terlanjur kebal dengan kuman.
sebab ada penawarnya yaitu air kelapa muda. Minuman ini bukan saja sebagai pelepas dahaga, tetapi juga berfungsi sebagai penawar racun yang terdapat di dalam kupang. Ini sebabnya setiap orang jual kupang pasti jual degan. Menikmati Kupang lontong jadi makin pas, ditambah dengan sate kerang. Penjual Kupang lontong selalu menyediakan sate kerang dengan sambal petis.

Penjual Kupang :
Bursa Kupang Sidoarjo – Jl Raya Waru-Sidoarjo
Pantai Ria Kenjeran
Atau pesen ke saya aja heheheh…


Wednesday, September 12, 2007

Food Festival


Saya masih membahas tentang makanan, kali ini dalam kemasan yang berbeda. Tentang kegiatan food festival yang sedang saya usung bersama teman-teman. Berikut catatan dari teman-teman di Suara Surabaya .net

Sukses Gelar Festival Rujak, Giliran Festival All About Lontong

suarasurabaya.net| Sukses menggelar festival rujak beberapa waktu lalu, BG Junction Surabaya, bekerjasama dengan Suara Surabaya Media, Jumat (07/09) besok menggelar festival lontong. All about lontong yang menampilkan aneka sajian menu dengan lontong.

Beragam sajian dengan menggunakan campuran bahan lontong bakal ditampilkan dalam acara yang diniati untuk melestarikan sajian tradisional tersebut. Menghadirkan berbagai menu yang tidak hanya berasal dari kota Surabaya.

“Kali ini kita memang ingin menghadirkan beragam sajian menu makanan dengan lontong. Mulai dari lontong sayur sampai dengan lontong kikil kita hadirkan dalam all about lontong ini,” ujar MANDA ROSA Personal In Charge (PIC) festival lontong, Kamis (06/09).

Beberapa sajian bersama dengan pedagangnya direncanakan memeriahkan festival ini, diantaranya lontong sayur ‘mak nyus’ Jakarta, lontong balap Garuda, lontong mie, lontong kupang Sidoarjo serta lontong soto pohong Sumenep, Madura.

Festival lontong ini bakal digelar Jumat (07/09) sampai dengan Minggu (09/09) mendatang. “Ini sebuah langkah untuk usaha melestarikan makanan tradisional. Selain itu, juga untuk memperkenalkan keberagaman makanan tradisional kita yang nggak kalah dengan fast food,” tambah MANDA pada suarasurabaya.net.

Ditambahkan MANDA, bersamaan dengan festival lontong di BG Junction itu, pada Sabtu (08/09) digelar aksi donor darah. Kerjasama antara suarasurabaya media, BG Junction, PMI Surabaya dan sejumlah sponsor. “Kepada warga masyarakat yang mengikuti donor darah, pada Sabtu (08/09) itu kami berikan voucher untuk bersantap di festival lontong,” tambah MANDA ROSA.(tok)


-------------------------------
Food Festival Bulan Depan :
Festival Tak’jil

Bagi pemilik warung kaki lima , resto, café di Surabaya yang ingin bergabung dalam Festival Tak’jil, silahkan kirim e-mail ke: lamendol.manda @gmail.com. Acara ini akan digelar di BG Junction- Bubutan. Setiap peserta tidak dikenakan biaya apapun alias FREE. Jumlah Peserta dibatasi.
Jadi ayo cepat daftar
!!

Foto : Dok. Shangri-La Hotel

Friday, August 31, 2007

Ribetnya Lobster


Nggak terasa, puasa mo deket. Kalau sudah begini beberapa resto, dan café harus menghabiskan jatah promosi F&B sebelum Ramadhan tiba. Dalam seminggu ini, saya ada tiga undangan di tempat berbeda, tapi menu yang sama yaitu Lobster !

Menu mahal, pastinya. Dan tidak terjangkau, tapi berhubung demi tugas saya tentu tidak melewatkan undangan ini, lagian saya khan cuman disuruh datang, dan ngincipin. Dan yang penting gratis…(jelaslah nggak terjangkau buat ukuran saya, dan ngeman banget kalau suruh beli menu ini mengingat porsinya yang sedikitttt banget).


Saya pun memenuhi undangan, Shangri-La menawarkan sesuatu yang istimewa bagi penggemar seafood dengan menggelar promo “Lobster: Emperor of the Sea” di 3 outlet restoran sekaligus mulai bulan Agustus. Di Portofino, lobster dihidangkan dalam gaya Eropa. Di restoran Jepang Nishimura, mempersembahkan Lobster Sashimi, Teppanyaki atau Teriyaki. Di Desperados dapat menikmati Lobster Bisque dan Loster Mango salad a la Amerika Latin


Akhirnya disuguhi…
Ada satu yang membuat saya tidak buru-buru makan tampilan garnis-nya cantik. Penampilannya memikat. Penataannya pun nyeni. Terbengong lama, karena sayang kalau buru-buru saya mutilasi.
Sekitar limabelas menit saya terkagum-kagum. Memikirkan bagaimana cara motong, memasak dan yang membuat saya berpikir lebih keras adalah cara makannya yang ribet.
Udah dagingnya dikit, mau makan pun sulit. Meski disediakan garpu, pisau tetap saja ada acara “turun tangan” . Duh mahal kok ribet ya !

Tuesday, August 21, 2007

Kompyang Bikin Kepayang

Foto : Anton

Pernahkah Anda merasa ngilu gara-gara melihat sepotong roti ?
Itu yang saya rasakan ketika melihat roti kompyang. Roti jaman bahuela yang membawa saya pada kenangan masa kecil, ketika masih tinggal bersama Eyang Kakung dan Eyang Putri di Malang.
Setiap sore, Eyang kakung saya seperti biasa membawa roti kompyang ini di teras depan.Bersama satu cangkir teh hangat. Roti kompyang itu lalu dicelup, sampai terasa lembek, kemudian dinikmati. Terlihat cukup nyaman untuk orang yang mulai kehilangan gigi depan.

Satu-satunya alasan eyang tetap menyantap roti aneh ini. Karena, makan roti kompyang gampang membuat kenyang. Benar-benar aneh !


Roti ini di mata saya benar-benar tidak ada istimewanya. Komposisinya sangat sederhana, terdiri dari campuran tepung terigu, garam, gula dan air. Rotinya keras, rasa pun tawar. Roti yang keras ini sempat membuat saya trauma. Dulu karena penasaran, saya mengigitnya kuat-kuat. Aduh…gigi saya sampai ngilu semua. Rasanya senut-senut, tapi roti ini gupil saja tidak. Hebat sekali.


Di sebuah festival makanan, saya menemui lagi roti ini. Kaget sekali, karena pembelinya lumayan banyak. Penjualnya mengatakan, “kompyang sudah dimodifikasi, dan disesuaikan dengan selera masyarakat,” jelasnya. Takut dibohongin, saya cuil sedikit rotinya, ternyata teksturnya lebih lembut dan empuk.

Ini menggugah saya membeli roti kompyang.

Ada pilihan rasa seperti daging ayam, daging sapi, salad tuna dan rumput laut.Di atasnya, ada taburan wijen yang generous. Rasanya gurih, isi daging di dalamnya juga sedap.
Saya menyantap dua buah kompyang, perut saya lumayan kenyang. Sambil menyantap, saya ingat kembali kenangan bersama eyang putri di sebuah teras depan. Dan hebatnya lagi, aihhh..gigi saya nggak ngilu lagi !”



Friday, August 10, 2007

Nasionalisme Segelas Punch



Memasuki bulan Agustus, berbagai undangan juga membanjir di meja saya. Isinya sama. “Promo F &B Menyambut HUT RI 62” yang ada di benak saya, hidangan serba merah putih ; Puding, jajan pasar, bubur sum-sum, cake, nasi goreng, dan steak. Belum lagi minuman; Ice cream, jus, punch yang semuanya bernuansa kemerdekaan. Bisa ditebak, dua warna ini, dijamin laris di toko bahan makanan. Itu juga kalau pengusaha sadar akan bahaya pewarna makanan, takutnya kalau mereka ingin “merubah biasa, menjadi luar biasa “ alias pakai cat EMCO buat olahan makanannya. Wah bisa bahaya !

Dengan semangat 45, saya pun menghadiri undangan promo ini. Baru datang, saya sudah disambut Puding Merah Putih. Aihh... cantiknya, nikmat juga rasanya. Rasa merah strawberry, dan putihnya rasa Leci.


Masuk ke menu utama. Nasi Goreng Merah Putih. Buang jauh-jauh bayangan Anda, jika warna merah-nya menyala bak obat merah. Merahnya tergolong sopan, karena menggunakan warna dari cabe merah besar dan sedikit kecap. Ada hiasan irisan cabe merah dan irisan mentimun. Mungkin maksudnya merah putih. Ssstt...kalau yang ini, cuma tebakan iseng saya.


Sebagai penutup saya sudah ditunggu dengan Ice Cream Merah Putih , ada hiasan cherry centil di pinggiran gelas. Saya pikir cukup sampai di sini saja dessertnya. Tapi saya salah. Mbak, mau coba punch merah putih ?” tawaran menarik, yang sulit ditampik. Boleh, deh Mbak ” jawab saya cepat.

Dalam hitungan detik, sebuah punch, di gelas berleher tinggi di depan saya. Tampilannya cantik.
Bagaimana rasanya ?

Saya menarik nafas dalam-dalam, lalu pelan-pelan ambil sedotan. Sengaja tidak saya aduk dulu. Sekedar ingin menebak, taste apa yang ada di dalam dua warna tersebut. Amazing, ternyata putihnya bukan susu, leci apalagi santan kelapa. Tapi, dari buah sirsak. Tentunya sudah bebas dari bijinya. Rasanya segar sedikit asam. Kini, giliran menebak rasa merahnya, dan merah menggoda itu bukan dari tomat, strawberry, apalagi darah ayam (alias dedeh, yang kata Guru ngaji saya haram). Warna merah diambil dari semangka tanpa biji. Wuah..segar sekali.


Bukan berarti saya tidak hormat kepada founding father negeri ini, atau tidak punya rasa nasionalisme, jika akhirnya dua warna cantik saya aduk dan mencampurnya dengan gula. Warnanya pun berubah keruh dan tampak buram, seolah menggambarkan kondisi negara kita di usia ke 62 ini.

Saturday, August 04, 2007

Digoyang Bakso Bakar

Foto: Anton

Jika Anda terbiasa menikmati bakso dengan kuahnya. Saatnya melirik variasi lain dari bakso Malang, yaitu bakso bakar. Bulatan daging ini ditata seperti sate, lalu dioles bumbu dan kecap.
Aroma gurih dari bakaran dijamin membuat Anda tak sabar untuk segera menikmatinya. Di Festival Jajanan Bango di Surabaya, tanggal 5 Mei lalu, sebuah stand bakso bakar terlihat ramai dipadati pengunjung.
Stand bernama Bakwan Bromo Bakar, ini membuat penasaran, sehingga mereka rela berdesak-desakan untuk antri membeli. Sebuah alat pemanggang terlihat di depan etalasenya, harum aroma sate bakso ini, benar-benar menggoda. “Saya penasaran, gimana sih rasanya bakso kalau dibakar,” kata Ria


Satu tusuknya terdiri dari tiga buah bakso, atau dua bakso dengan satu potong siomay.
Para pembeli juga harus sabar, sebab memanggangnya relatif lama, dioles bumbu berulang kali, sambil dibolak- balik. “Harus sering dibalik, kalau tidak mau cepat gosong, jelas pria yang memanggang. Api yang digunakan juga tidak terlalu besar. Ketika warnanya berubah kecokelatan, bakso ini siap disantap.
Olesan kecap yang diracik bersama bumbu ini, membuat citarasa bakso menjadi lebih spesial. Seorang pengunjung yang sedang menikmati berkomentar, jika bakso bakar ini sangat lezat. “Ada gosong-gosongnya, bikin rasanya mantap, ujarnya.

Bakso yang selesai ini dibakar, bisa dinikmati bersama kuah, atau dimakan langsung. Enak, soalnya sudah berbumbu,” kata seorang pembeli.
Bakso bakar lain yang juga tampil di acara festival ini, milik Agus Prasetyo. Ia menuturkan, bakso bakarnya diadopsi dari Bakso Bakar Malang. “Saya belajar langsung dari Malang,” jelasnya. Warung yang buka tahun 2005 ini, tidak mengkhususkan diri bakso bakar, sebab tersedia pula bakso ikan, tahu goreng dan siomay.

Note :
Kenikmatan bakso bakar, sebenarnya dari bumbu pencelupnya, bumbu berwarna hitam pekat ini, mengandalkan kecap bercitarasa prima, gula merah dan bawang putih yang sudah dihaluskan. Bumbu ini lalu berpadu dengan bulatan daging sapi yang dibakar. Ah… kalau sudah begini, siapa yang bisa kuat menahan godaan bakso bakar.

Bakso Bakar di Surabaya

Bakso Bakar Malang - Jl Arief Rahmat Hakim (Sebelah SMP Negeri 19)
Bakwan Bromo Bakar - Jl Bendul Merisi 93 A


Friday, July 27, 2007

Sate Ponorogo Memang Tidak Ada Duanya








Gang yang satu ini memang sudah tersohor ke mana-mana, sebab di
Gang Lawu- di Kota Ponorogo ini hampir semua penduduknya berjualan sate ayam. Ada satu nama yang terkenal yaitu Sobikun. Inilah pelopor sate Ponorogo di gang ini. Ketiga anaknya kini yang meneruskan yaitu, Tukri, Selamet dan Nandi.

Sate ayam Ponorogo, rasanya gurih dan manis. Potongan dagingnya besar-besar, dan bebas lemak. Setiap irisan dipotong memanjang, dan inilah yang membedakan sate Ponorogo dengan daerah lain. Tidak cuma menyajikan bagian daging ayam saja, biasanya sate ayam Ponorogo, menyediakan kulit ayam, jeroan, dan telur. Sebelum dibakar, daging ayam ini dibumbui lebih dulu. Dan selama proses pembakaran, sate ayam ini dicelupkan dalam larutan gula merah dan kecap berulang-ulang kali sehingga rasanya meresap.

“Sate ayam Ponorogo bisa langsung disantap, rasanya gurih dan manis. Inilah yang membedakan dengan sate-sate lainnya,” jelas Selamet Sodikun.

Jika disantap bersama bumbu kacang, rasanya jelas tambah nikmat. Karena tidak ingin kehabisan, dan berharap dapat bonus hehehe..saya dan Anton pagi-pagi ke kampung ini. Semua penghuni kampung sibuk, ada yang asik merajang sate, memasukkan daging ayam ke tusukan. Sementara laki-lakinya membakar. Melihat saya yang bengong, Pak Selamet menyuruh saya mencicipi sate yang baru saja diangkat dari bakaran.
“Coba aja Mbak, kalau makan di sini gratis,” ujarnya.

Wah, nggak salah neh saya ditawarin …saya tak kuasa menolak (halah..halah),

“Saya ambil dua tusuk, kulit dan jeroan. Ya ampun,
wenak tenan. Pak Slamet turut tersenyum, ketika saya bilang rasanya mantap. “Coba lagi Mbak ?” tawarnya. Aiih…saya mengangguk cepat. Kali ini sate yang daging saja, dua tusuk. Huaah…dagingnya empuk sekali. Bumbunya meresap sampai di dalam daging, terasa sekali manis dan gurih. Sebenarnya saya berharap sate lagi, tapi apa daya nggak ditawarin lagi. Hehehe…
Saya akhirnya membeli satu besek, beserta lontongnya. Niatnya buat oleh-oleh pulang ke Surabaya, tapi nggak jadi, karena akhirnya saya habisin sendiri ..(Foto oleh : An. Berondong )

Sate Ayam Ponorogo
H. Tukri Sobikun
Jl. Lawu I/43 K
Gang Sate
Ponorogo
Telp. (0352) 482362

Sunday, July 22, 2007

Jago Makan di Femina


Setelah diberi kesempatan tampil di Indosiar dalam acara Bango Citarasa Nusantara, dan menjadi moderator milis Bango. Wah saya tampil di majalah Femina No 30 Edisi 26 Juli- 1 Agustus. (Ini majalah sudah saya kenal pas SD, maklum Embah Putri saya langganan Femina, Embah Kakung langganan Intisari, dan saya koleksi Nina)
Back to topic … *sambil jingkrak-jingkrak
Meskipun profesi saya seorang jurnalis, tapi beda rasanya, ketika saya ganti diwawancarai. (terakhir saya diwawancarai satpam di Goci Mal di bawah pentungan. Gara-garanya, asik mencatat tempat makan yang ngasih diskon hihihi…). Wawancara dengan reporter Femina sangat menyenangkan, karena yang ditanyakan adalah seputar hobi makan, dan soal berburu tempat makan enak.
Judulnya “ Sebagian Gaji Habis Untuk Makan” Wadoh ketahuan kalau saya boros, baik dalam segi duit maupun fisik hehehe.
NB: Oh iya, foto saya yang ndutz, sengaja dikaburin.. biasa-lah takut ada yang pingsan hehehe..

Friday, July 06, 2007

PECEL TERONG MAU DOONG !

Nyari tempat makan di Malang, dengan atmosfir yang berbeda ? Mampir aja ke Inggil lokasinya, di jalan Gajah Mada 4- Malang (Sebelah Timur Balai Kota) Inggil memang menghadirkan atmosfir berbeda dengan rumah makan lainnya, foto-foto malang Tempoe Doloe, terpajang rapi.

Masuk ke ruang tengah bagaik
an dipindah ke mesin waktu di jaman kerajaan. Ada wayang yang usianya 100 tahun, cetakan kayu batik cap yang dibuat tahun 1920. Artefak kuno jaman Majapahit yang berusia 700 tahun. Ada juga sejarah peninggalan benda-benda purbakala di Trowulan, Jawa Timur. Tempat makan yang asri, makin prima dengan suguhkan makanan khas tradisional yang lezat. Satu yang spesial yaitu PECEL TERONG, dalam penyajian tidak hanya terong, tetapi juga disertai tempe dan telur ayam rebus. "Rasanya sedap sekali, karena terasa betul bumbunya yang kaya rempah berpadu dengan santan kelapa. Pecel terong ini disajikan di atas cobek….ah benar-benar eksotik !"

Dan Surprise…aku ketemu MENDOL,. Ya, Mendol, olahan dari tempe diremet, diberi bumbu dan dibentuk bulat. Soal nama Mendol yang kusandang ini, juga ada kaitannya. Jadi Mendol ini makanan favorit embahku. Nah, Mendol buatan embahku ini guedeee –guedee kepelannya, dan sangat padat. Ceritanya, pas aku baru lahir, melihat badanku yang metekel, bulet super padet dan sawo mateng ini. Eyang kakungku keprucut bilang, ”Lho, arek iki kok koyok Mendol !” Dan… semenjak itulah aku dipanggil Mendol. Hihihi…

Sebuah catatan, buat Rey, yang mau ke Malang. Buat Mas Inos orang Ngalam yang belum pernah ke sini, dan buat Mas ini yang sering order pecel terong buatanku .

Sunday, July 01, 2007

Aneh Tapi Nyata

Ketiban PR dari Sandy neh….tentang 6 keanehan diri saya ?

1. Yang pertama..Ehmm..sttt….khusus 17 tahun ke atas
2. Bakso Forever : Hampir tiap hari saya makan bakso(Aneh nggak seh ???)
3. Bebek Forever : Duh gusti, menu yang satu ini tak kuat diri ini berpaling. Tapi untunglah nggak separah seperti bakso, cukup seminggu sekali tak apalah. Bebek goreng renyah, sedep apalagi ada siraman kaldunya. Hmmm.. mantaffff.

4. Duren Mania : Jangan...jangan sungkan, jika ingin menyenangkan hati saya, sediakan duren jenis apa saja maka dengan senang hati, saya akan menghabiskan.

5. Gemuk Terus : Dari kecil sampai sekarang ini, nggak pernah ada sejarahnya saya kurus. Di kelas selalu paling besar, kadang di urutan 2 tau 3. Setiap lomba Agustusan selalu ikutan tarik tambang dan posisinya juru kunci alias paling belakang. Jadi kalau mo dah kalah, tali tambangnya tinggal iket ke badanku…aman deh.

6. Rebonding Terus : Rambut ..! Ya, saya benci rambut. Aslinya bergelombang gitu, tapi susah nyisirnya sehingga sejak duduk di bangku kuliah, diriku selalu rajin rebonding. Nah, masalahnya obat rebonding ini cuman nahan 6 bulan paling lama, padahal sekali rebonding menghabiskan waktu sampai 5 jam buat ngelurusinnya. Kebayang khan gimana pegelnya.
Capek rebonding, saya pernah nekat motong rambut ala Kowal, pendek banget. Ngga nyangka gara-gara rambut cepak ini, teman saya Si Munib langsung masuk rumah sakit 3 hari gara-gara nggak bisa berhenti ketawa. (Ini benar-benar terjadi kalau tidak percaya konfirmasi saja ke Mas ini dan Bos-ku ini ). Mulai sejak itu, kalau mau potong rambut harus ijin temen-temen sekantor dulu…biar ngga pingsan katanya. Aneh khan...


Oh iya, sebenarnya mau cerita acara makan-makan pas kopdaran sama si Fahmi, Syahwinda, Anton, Sugeng, dan Mbak Dena. Tapi Fahmi ama Mbak Dena, sudah menceritakan detail. Lengkap dengan foto-fotonya. Tapi, buat yang penasaran ama dengkul saya bisa liat di blog ini .

Tuesday, June 19, 2007

Godaan Sate Kelopo

Sesuai janji, saya datang pagi-pagi. Ya, harus datang pukul enam pagi. Tetep semangat sih, masalahnya saya janjian mo ketemu bakul sate kelopo yang paling ngetop di Surabaya. Di mana lagi kalau bukan Sate Kelopo Ondomohen. Lokasinya berada di pinggir jalan Walikota Mustajab, sebagian besar masyarakat Surabaya menyebut jalan Ondomohen. Bu Asih, rupanya sudah menanti-nantikan kedatangan saya. “Lho, mbak ini khan yang sering makan di sini ?,” kata Bu Asih. Ketika saya berniat mau wawancara. Wah, kaget juga ternyata dia tau pelanggan setianya..hehehe. “Iya Bu, tapi sekarang disuruh kantor buat liputan,” jawab saya.
Saya pun ngobrol, ditengah kepungan asap (maklum disambi ngipas), kadang-kadang mata saya melirik nakal, ke arah panggangan sate yang sedang membakar. Ada sate usus, sum-sum dan daging, atau daging campur gajih.

Tugas kali ini, benar-benar berat buat saya, bangun pagi, belon sarapan sudah digoda bakaran sate kelopo
.
Nggak konsentrasi, karena sesekali ngelek idu, dan menahan nafas, gara-gara aromanya merangsang banget.

Sate kelapa atau kelopo, memang berbeda dengan sate jenis lainnya, karena potongan daging sapi itu, ditaburi parutan kelapa baru dibakar. Inilah yang membuat aroma harum dan rasanya gurih.

Selesai ngobrol, akhirnya saya memesan satu porsi, lima sate daging plus gajih, dan lima, sate sum-sum. Sate kelopo ini, dicampur irisan bawang merah dan bumbu kacang lalu nasinya disiram poya, atau kelapa sangrai yang dtumbuk halus. Pas dimakan, wah anjen enak tenan, dagingnya empuk, rasanya gurih, berpadu dengan bumbu kacang. Duh, rasanya perjuangan bangun pagi, dan ngga sempet mandi ini tuntas sudah.

Nah, Bu Asri ini juga menolak, ketika saya mau membayar. “Wah, kali ini gratis mbak!” katanya. Saya sudah memaksa, ngga enak dilihat orang, Wong lemu mangan’e akeh, kok gratisan…" itu mungkin batin pembeli laen. Tapi tetep dia ngga mau nerima uang saya, padahal saya khan mo pesen lagi, buat di foto taking di kantor sama si mas ini, dan saya pun dibungkus,….eh maksutnya saya dibungkusin sate, buat di foto sama mamuk di kantor. Foto : MATANESIA.COM

Tuesday, June 12, 2007

Saya Pemuja Mi

Duh, kayaknya nggak saya saja yang memuja menu yang satu ini. Paling nggak, dua hari sekali, saya pasti makan mi, apakah itu mi ayam Bambu- Tunjungan, mi pangsit kluntung yang lewat rumah, mi ayam murmer (murah meriah cuma dua ribu ), atau kalau beruntung spesial mi yang tergolong mewah, di Chinesse resto karena diundang buat liputan..he..he. (Thx ya.. Pak Jun).

Rebus atau goreng, mi memang selalu menggoda untuk disantap. Ada pula mi yang digoreng kering lalu disiram kuah kental. Ada beberapa menu olahan mie yang sempet saya cicipin ..ah..:
Mi goreng Hongkong spesial , mi goreng dengan ayam, bakwan, hiwan, kekian, sosis, udang dan (ssttt…kalau pesanan khusus, ditambah potongan babi manis- ini kode dari pelayannya)
Mi amoy, yaitu mi dengan daging ayam dan tahu halus.
Mi hot pot tahu Jepang yaitu mi dengan cumi, udang, ayam, daging sapi, jamur hitam, wortel dan tahu Jepang.
Mi sarang burung, bahannya mi kering, yang digoreng menyerupai sarang burung digunakan sebagai alasnya. Kemudian di tengah diberi sayuran wortel, sawi putih dan beberapa telur puyuh yang kemudian disiram kuah kental. Rasa gurih dari mi dan siraman kuah kental dengan sayuran paling pas disantap selagi hangat. Hmm…kerasa harum uapnya menyapu wajah.

Taburan atas mi bisa beragam. Ayam, jamur, dan pangsit goreng. mi ini didampingi semangkuk kecil kuah bertaburkan irisan daun bawang. Terkadang, kuah bisa bisa ditambah bakso atau pangsit basah. Di menunya, pasti tertulis, mi pangsit dan mie bakso. Kalau saya sih, pasti pesan dua-duanya, “Mi pakai pangsit ayam, sekaligus bakso !”

Btw, urusan perut kadang susah-susah gampang. Sudah diisi mi, tapi tetap merasa kurang sreg jika belum makan nasi. Dan, saya tergolong model orang seperti ini. (Hueheheehe..kelewat jujur kayaknya).
Foto oleh : Ismuntoro