Friday, December 22, 2006

Kampung Jajan

Sebuah features tentang kampung jajan

Saat kebanyakan orang tengah bersiap-siap bergelung di bawah kehangatan selimut. Warga sebuah gang kecil di Keputran Panjungan gang 33 no 66, malah menjadikan malam hari sebagai waktunya mengais nafkah.

Gang kecil yang tak pernah tidur di malam hari, selalu ramai dengan suara-suara bocah kecil berlarian. Inilah sebuah kampung di di tengah kota Surabaya. Sebuah kampung di mana, kaum perempuan membuat jajan pasar, dan kaum laki-laki bekerja sebagai kuli bangunan, buruh pabrik, tukang parkir dan tukang becak.

Keluarga Lepet
Tidak ada yang menjelaskan mulai kapan warga Keputran Panjungan memiliki profesi sebagai pembuat jajan pasar. Seperti cerita keluarga ini, hampir lima belas tahun Bu Umi, bersama suami dan empat orang anaknya melakoni malam dengan berkutat di depan sebuah baskom besar berisi beras ketan, kacang merah dan parutan kelapa. Tangan-tangan mungil anaknya kebagian tugas memasukkan campuran beras ketan ke dalam janur.
Sang suami sibuk memisahan daun janur dari batang lidinya.

Sesekali, wanita ini beranjak dari duduknya, mengambil janur yang telah terisi beras ketan lalu memasukkannya ke dalam panci. Wuss…, uap panas lalu menyembur keluar begitu tutup panci dibuka. Tinggal menunggu lima jam sampai akhirnya lepet itu matang.Rumah kecil ini terasa begitu pengap dan panas karena harus berbagi dengan lima kompor minyak tanah untuk mengukus lepet.

Mendadar Gulung
Kaum perempuan pembuat jajan pasar pasrah dengan nasib yang menggiring mereka bekerja larut malam hingga dini hari. Sepeti nasib Jumaa’ti membuat dadar gulung. Ibu satu anak ini duduk di lorong gang, duduk di atas dingklik, sebelah kanannya baskom besar berisi adonan dadar gulung.
Di depannya dua kompor menyala dengan api sedang, sambil menuang adonan ke wajan teflon mata wanita ini sesekali membagi perhatian ke layar televisi. Adonan yang telah digoreng lalu ditelungkupkan ke dalam piring ceper, kemudian diisi parutan kelapa yang telah diberi gula.Lalu di gulung.
Dalam semalam Ia meyelesaikan sekitar 600 buah dadar gulung. Dadar gulung ini dijual perbuah Rp 250 sampai di pasar harga jualnya menjadi Rp 300. “Untungnya paling banyak dua puluh lima ribu,” kata Jumaa’ti. Keuntungan yang tidak seberapa ini, diakui ibu satu anak tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi sang suami hanya bekerja sebagai tukang parkir di Gramedia.

Hidup dari hari ke hari bertambah berat, minyak tanah langka dan harga-harga terus merangkak membuat beban kian saat dirasakan ibu-ibu pembuat jajan pasar ini. “Saya bekerja pagi, siang dan malam. Mulai subuh berangkat ke pasar, setelah itu menyiapkan adonan. Siang hari, membuat apem, dan perut ayam. Malam hari menggoreng cucur. Saya bekerja terus, tapi kebutuhan tetap saja tidak mencukupi,” keluh Jumaa’ti. Keluhan demi keluhan, yang lebih mirip keputusasaan itu kemudian mengalir, mempersalahkan si pembuat kebijakan atas melambungnya harga-harga sekarang ini. “Mbak titip pesan kalau bisa harga-harga jangan naik, yang menderita orang kecil kayak kita ini,” ucap pilu seorang ibu.

Foto dibingkai cantik oleh Muk's






Thursday, December 14, 2006

Pesugihan Lupis Gunung Kawi

Iya, kalau mau nyari pesugihan ke Gunung Kawi aja !”
Huhh…selalu saja berasumsi seperti itu. Padahal siapa sih yang nyari pesugihan ? Aku khan datang niatnya mo liputan makanan ! Eh… tapi kalau dikutuk jadi sugih ya nggak bakal nolak seh… tul nggak ?

Wisata ziarah ! Itulah kata yang tepat menggambarkan mengapa orang berbondong-bondong ke Gunung Kawi. Gunung Kawi yang tingginya 2.860 m dari permukaan laut terletak di Kabupaten Malang - Jawa Timur, Yang didatangi orang adalah sebuah kompleks pemakaman keramat yang berada di lereng selatan gunung ini. Alih-alih mo wisata ziarah, saya dan juru jepret Anton malah wisata kuliner.

Setelah menempuh perjalanan mendaki sepanjang 3 kilometer sampailah kita pusat kegiatan di gunung ini.
Meski istilahnya naik gunung, jangan bayangkan kalau saya mendaki-nya susah pakai acara panjat –panjatan, dan ber-helm gunung. Wah… jauh deh !
Lha jalannya aja sudah di semen halus, sepeda motor pun bisa lewat. Dan di kanan-kiri perjalanan nggak ada semak atau pohon besar menyeramkan. Yang ada malah warung makan, penjual souvenir, losmen, penjual buah dan gorengan…cihuiiii !

Lupis
Di kaki Gunung Kawi ini, jika hari libur dan hari besar banyak sekali penjual goreng-gorengan. Ada tahu, tempe kacang, tempe menjes, ubi, dan masih banyak lagi.
Adapula jajanan tradisional yang sudah dikenal secara umum, seperti lupis dan tetel. Keduanya menggunakan bahan dasar beras ketan.
Rasa lupisnya kenyal, pedagang lupisnya juga menjamin, lupisnya tidak basi meski sudah dua hari. Rasanya lebih kenyal, karena bahan yang digunakan beras ketan yang punel. Jika ingin disantap di tempat maka, dengan sigap, ia mengiris lupis menggunakan senar, ditata di atas pincuk daun pisang, diberi gendis atau larutan gula jawa, lalu diberi parutan kelapa.


Telo Gunung Kawi


Hasil bumi yang satu ini, sangat mudah dijumpai sepanjang perjalanan menuju ke pesarehan.
Selain dijual mentah, telo Gunung Kawi juga dijajakan dalam keadaan matang.Telo yang telah dikukus, diletakkan dalam wadah baskom dan ditutup dengan daun pisang.
Ketika menawarkan ke pengunjung, biasanya penjaja membuka sedikit daun pisang, sehingga tampak kepulan asap dari telo hangat tersebut.
Untuk menjaga tetap mengepul, penjaja biasa membungkus rapat-rapat baskom dengan tumpukkan daun pisang. Kulit telo terlihat segar mengkilap, menggoda mata untuk mencicipi.

Telo Gunung Kawi, memang terkenal manis rasanya, warna daging dalamnya berwarna kehijauan.. Jika Anda membeli telo matang seharga seribu rupiah, Anda akan menikmati tiga potong telo hangat.

NB : Sebenarnya banyak cerita mistik tentang Gunung Kawi ini tapi berhubung di blognya tukang makan. Maka cerita itu nanti diposting sendiri. (Judulnya : Dunia lainnya…Si Jagomakan..hi..hi).


Sunday, December 10, 2006

Ronde Anget Bikin Kemringet

Dingin ? Duh… Paling pas kalau ada yang hangat-hangat. Gimana kalau coba ronde saja ? Ini minuman tradisional yang berkhasiat bikin seger buger kinyis-kinyis.
Ahh… Benar-benar mengoda. Ssstt….Mestinya Yahya Zaini “dihangatin” ini aja daripada Maria Eva. He..he.he.


Yah, inilah teman halal di malam hari. Tidak berlebihan sebab ronde (bukan rondo lho!) berfungsi menghangatkan dan menyegarkan tubuh. Ronde merupakan adonan dari tepung ketan yang diuleni dengan diberi air panas sedikit demi sedikit hingga adonan bisa dibentuk bulat-bulat seperti biji kelereng. Agar lebih menarik biasanya diberi pewarna. Bulatan-bulatan ketan kemudian dimasak di atas air mendidih sampai mengapung ini pertanda sudah matang. Untuk membuat kuah jahe, dengan merebus air dengan gula. Untuk penyajian hidangkan air jahe dalam mangkuk bersama beberapa bulatan ronde, kolang-kaling dan taburi dengan kacang goreng.


Ronde Made in Jember.
Untuk satu porsi, berisi lima bulatan ronde, irisan kelapa muda kemudian kacang goreng lalu diberi rebusan air jahe. Jumlah ronde tersebut sudah paten, sebab jika lebih terlalu banyak malah membuat perut kenyang. Kacang gorengnya sewaktu digoreng tidak menggunakan minyak tapi cukup disangrai.

Ondomohen – Surabaya
Ronde tanpa Ronde

Minuman hangat yang disebut ronde, karena ada bulatan-bulatan putih yang berisi kacang namun justru di warung ini tidak ada ronde yang dimaksud. Isiannya hanya kolang kaling merah utuh, kacang goreng, kelapa muda disajikan bersama kuah jahe hangat. Ditanya mengenai bulatan sebesar kelereng yang disebut ronde, penjualnya menjelaskan bahwa rondenya khas Surabaya, dan isian ronde sejak dulu hanya itu saja. “Dari pertama kali jualan memang tidak ada rondenya,” jelasnya. Meski tidak ada bulatan berisi kacang, rondenya tetap enak disantap. Satu porsi ronde disajikan di mangkok dengan kuah jahe hangat yang masih mengebul. Sang penjual percaya, yang bikin hangat itu air jahe-nya bukan rondenya.

Ronde khas Jogya
Satu porsi ronde hangat, isiannya berupa kolang-kaling yang dipotong tipis, tiga bulatan ronde dan kacang goreng. kuah jahe yang segar dan pedas karena menggunakan jahe jenis emprit yang berukuran kecil, sedangkan jahe kebo atau jahe yang berukuran lebih besar kurang mengigit pedasnya.